Di sebuah apartemen sempit yang pengap oleh bau mie instan instan dan asap rokok, jemari seorang pria bernama Bagas menari lincah di atas keyboard laptopnya yang kusam. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah layar. Di sana, terpampang foto pasangan artis paling fenomenal tahun ini: Arka dan Clarissa.
Arka, seorang aktor film laga yang rendah hati, dan Clarissa, penyanyi berbakat yang dikenal karena keanggunannya. Mereka adalah definisi couple goals bagi jutaan orang. Sepuluh tahun menikah, tanpa satu pun gosip miring. Mereka sering mengunggah video memasak bersama, kegiatan sosial, dan kemesraan yang tidak dibuat-buat.
Namun bagi Bagas, keharmonisan itu adalah penghinaan bagi hidupnya yang berantakan.
"Nggak mungkin ada manusia sesempurna itu," desis Bagas. "Pasti ini semua cuma konten. Pasti mereka aslinya sudah mau cerai."
Dengan senyum menyeringai, Bagas mulai mengetik di akun gosip anonim miliknya, @FaktaGelapSeleb.
"BREAKING! Kabar burung dari orang dalam: Pasangan AC yang katanya harmonis itu sebenarnya sudah pisah ranjang sejak 3 bulan lalu. C (si penyanyi) kabarnya sudah sewa pengacara karena A (si aktor) main belakang dengan lawan mainnya. Tunggu tanggal mainnya, surat cerai segera masuk pengadilan!"
Tulisan itu pendek, tanpa bukti, dan murni karangan. Namun, di dunia internet yang haus akan drama, fitnah adalah bahan bakar yang paling cepat merambat. Dalam hitungan jam, unggahan itu disukai puluhan ribu orang. Netizen mulai berspekulasi.
"Wah, pantesan Clarissa terakhir posting mukanya agak sembab!" tulis seorang netizen.
"Iya, Arka juga kemarin ke acara gala premiere sendirian. Fix cerai ini mah!" sahut yang lain.
Bagas tertawa terpingkal-pingkal melihat kekacauan yang ia ciptakan. Ia merasa seperti Tuhan yang bisa menentukan nasib orang lain dari balik layar. Selama seminggu penuh, ia terus memproduksi fitnah-fitnah baru. Ia mengedit foto lama Arka yang sedang bersama asistennya seolah-olah mereka sedang bermesraan. Ia membuat testimoni palsu dari "asisten rumah tangga" yang katanya sering mendengar mereka bertengkar hebat.
Opini publik mulai bergeser. Ribuan komentar hujatan mulai memenuhi akun Instagram Arka dan Clarissa.
"Dasar munafik! Di depan kamera sok romantis, di belakang busuk!"
"Kasian Clarissa, punya suami tukang selingkuh."
Bahkan, iklan-iklan yang bekerja sama dengan mereka mulai menanyakan klarifikasi karena merasa citra produk mereka terancam. Arka dan Clarissa yang biasanya diam, mulai merasa privasi dan martabat mereka diinjak-injak.
---
Di rumah mereka yang asri, Arka memeluk Clarissa yang sedang menangis. Clarissa bukan menangis karena percaya pada fitnah itu, melainkan karena ia tidak menyangka manusia bisa sejahat itu memutarbalikkan fakta demi engagement.
"Sudah cukup, Sayang," bisik Arka, matanya yang biasa tenang kini memancarkan api ketegasan. "Kita sudah diam selama seminggu. Sekarang saatnya mereka tahu bahwa jempol mereka punya konsekuensi."
Arka tidak membuat video klarifikasi yang cengeng. Ia tidak membalas hujatan dengan hujatan. Ia menghubungi tim pengacara terbaik dan tim IT forensik yang dipimpin oleh mantan intelijen cyber.
"Cari orang di balik akun
@FaktaGelapSeleb," perintah Arka singkat. "Jangan kasih kendor."
Hanya butuh waktu tiga hari bagi tim profesional itu untuk melacak alamat IP Bagas. Ternyata, pria itu tinggal di sebuah daerah yang tidak jauh dari pusat kota. Arka tidak langsung lapor polisi. Ia punya rencana yang lebih "manis" untuk memberi pelajaran bagi netizen yang hobi menelan fitnah bulat-bulat.
---
Keesokan harinya, Arka dan Clarissa mengumumkan akan mengadakan siaran langsung (Live) di Instagram mereka. Judulnya sederhana: "Langkah Terakhir Kami."
Netizen heboh. Jutaan orang masuk ke ruang siaran langsung itu, termasuk Bagas yang sudah siap-siap merekam layar untuk bahan konten fitnah selanjutnya.
"Halo semuanya," Arka membuka siaran dengan wajah serius. "Seminggu ini kami mendengar banyak sekali cerita tentang rumah tangga kami. Katanya kami cerai, katanya aku selingkuh, katanya Clarissa sudah sewa pengacara."
Bagas tersenyum puas di kamarnya. "Nah, ini dia pengakuannya!" pikirnya.
"Kalian benar tentang satu hal," lanjut Arka. "Kami memang sudah menggunakan jasa pengacara."
Kolom komentar meledak. Ucapan "Tuh kan bener!" memenuhi layar.
"Tapi bukan pengacara cerai," sela Clarissa sambil tersenyum tenang, matanya menatap tajam ke arah kamera. "Tapi pengacara tindak pidana ITE. Dan hari ini, kami tidak akan memberikan klarifikasi, tapi kami akan memberikan siaran langsung spesial."
Kamera tiba-tiba beralih. Arka dan Clarissa ternyata sudah berada di dalam sebuah mobil yang berhenti di depan sebuah gang sempit. Mereka turun diikuti oleh beberapa petugas kepolisian dan tim pengacara.
"Kami sekarang berada di depan kediaman pemilik akun @FaktaGelapSeleb," kata Arka ke arah kamera.
Jantung Bagas seolah berhenti berdetak. Ia melihat layar ponselnya, lalu melihat ke arah jendela kamarnya. Di luar sana, di bawah lampu jalan, ia melihat kerumunan orang dan kilatan lampu kamera. Ia melihat Arka, aktor yang selalu ia fitnah, sedang berjalan menuju pintunya.
Bagas panik. Ia mencoba menghapus akunnya, tapi tangannya gemetar hebat. Ia mencoba lari lewat pintu belakang, tapi petugas kepolisian sudah berjaga di sana.
BRAK!
Pintu kamar Bagas terbuka. Jutaan orang yang menonton Live Instagram itu melihat pemandangan yang memuakkan: seorang pria kusam, di ruangan berantakan, dikelilingi sampah makanan, tertangkap basah dengan laptop yang masih membuka akun fitnahnya.
"Jadi ini orangnya?" tanya Arka, suaranya tenang namun mengintimidasi. Arka berdiri tepat di depan Bagas yang kini berlutut dengan wajah pucat pasi. "Ini orang yang bilang aku selingkuh demi konten?"
Bagas tidak bisa bicara. Ia menangis sesenggukan, mencoba memegang kaki Arka. "Maaf, Bang... Maaf, saya cuma iseng... Saya cuma butuh uang dari iklan akun itu..."
Clarissa mendekat, menyorotkan kamera ponselnya tepat ke wajah Bagas yang penuh ingus dan air mata. "Iseng kamu menghancurkan mental orang, Mas. Iseng kamu membuat anak-anak kami ditanya hal aneh di sekolah. Jutaan orang menontonmu sekarang. Silakan jelaskan 'fakta gelap' yang kamu tulis itu di depan mereka."
Netizen yang tadinya menghujat Arka dan Clarissa mendadak berbalik arah.
"Ya ampun, ternyata pelakunya cupu banget!"
"Malu-maluin! Makan tuh iseng!"
"Penjarakan! Jangan kasih materai!"
Arka menatap ke kamera. "Kepada kalian yang sudah ikut menyebarkan fitnah tanpa bukti, ingatlah wajah ini. Ini adalah sumber informasi yang kalian percaya lebih dari kejujuran kami. Mulai malam ini, tim hukum kami sudah mendata ribuan akun yang berkomentar menghina dan menyebarkan fitnah tersebut. Tidak ada kata damai."
Bagas digiring keluar dengan tangan terborgol, melewati kerumunan warga yang menyorakinya "Huuu!" dan "Tukang fitnah!". Di kantor polisi, Bagas dipaksa membuat video permintaan maaf secara terbuka yang disiarkan oleh seluruh stasiun televisi nasional. Namun, Arka tetap melanjutkan proses hukum. Bagas divonis 4 tahun penjara dan denda miliaran rupiah yang tak mungkin ia bayar.
Tidak hanya Bagas, beberapa netizen "garis keras" yang komentarnya paling kasar juga mendapat surat panggilan polisi. Mereka yang tadinya berani di balik akun palsu, kini menangis-nangis di kantor polisi memohon belas kasihan Clarissa.
"Kalian bilang ini kebebasan berpendapat?" tanya Clarissa pada salah satu netizen yang tertangkap. "Bukan. Ini adalah kejahatan. Dan sekarang, kalian harus membayarnya."
Puas? Sangat.
Satu bulan kemudian, Arka dan Clarissa mengunggah foto mereka sedang berlibur di sebuah pulau pribadi, jauh dari gangguan netizen. Mereka tampak lebih harmonis dari sebelumnya. Fitnah itu justru membuat ikatan mereka semakin kuat dan membuat publik sadar bahwa tidak semua yang viral itu benar.
Sementara Bagas? Ia kini mendekam di sel sempit, tanpa laptop, tanpa internet, dan hanya punya banyak waktu untuk merenungi bagaimana jempolnya telah menghancurkan hidupnya sendiri secara permanen. Ia ingin memeluk dirinya sendiri, tapi yang ada hanya dinginnya jeruji besi. Karma, ternyata, punya cara paling manis untuk membungkam mulut-mulut yang penuh bisa.