Kamar apartemen itu terasa sangat sunyi, hanya menyisakan deru AC yang seolah mengejek kehampaan di hati Riana. Di tangannya, sebuah undangan pernikahan mewah dengan aksen gold tampak mengilap. Nama pria di sana adalah alasan mengapa Riana sempat berhenti percaya pada cinta, dan nama wanita di sampingnya adalah alasan mengapa Riana merasa dunia ini tidak pernah adil.
Dua tahun lalu, Riana adalah seorang wanita yang telah menutup rapat pintu hatinya. Ia baru saja bangkit dari pengkhianatan masa lalu yang membuatnya hampir kehilangan kewarasan. Ia tidak ingin jatuh cinta lagi. Energinya kosong. Ia merasa sudah cukup hidup untuk dirinya sendiri, dengan pekerjaan yang stabil dan kedamaian yang ia bangun dengan susah payah.
Sampai Arlan datang.
Arlan adalah pria yang gigih. Ia yang memilih Riana. Ia yang mengetuk pintu itu setiap hari, meyakinkan Riana bahwa tidak semua pria itu sama. Arlan hadir saat Riana sedang di titik terendah, menawarkan bahu, memberikan perhatian yang begitu manis hingga benteng pertahanan Riana perlahan runtuh.
"Berikan aku satu kesempatan, Ri. Aku akan membuktikan bahwa kamu layak dicintai tanpa syarat," kata Arlan saat itu, di bawah rintik hujan yang membuat suaranya terdengar begitu tulus.
Riana akhirnya menyerah. Ia memberikan sisa-sisa energi cintanya yang terakhir. Ia belajar percaya lagi, ia membuka diri, ia mengizinkan Arlan masuk ke dalam ruang paling rapuh di hidupnya. Namun, begitu Riana sudah jatuh sejatuh-jatuhnya, begitu ia sudah menggantungkan seluruh dunianya pada pria itu, Arlan membuangnya.
Tanpa alasan yang jelas. Tanpa belas kasihan.
"Aku merasa kita sudah tidak sejalan," hanya itu kalimat yang diucapkan Arlan sebulan lalu, sebelum menghilang dan tiba-tiba mengirimkan undangan pernikahan dengan mantan kekasihnya, seorang sosialita bernama Shinta.
Riana merasa seperti sampah yang dibuang setelah digunakan untuk mengisi kekosongan hati Arlan sementara waktu. "Ga fair, sumpah," bisiknya pada bayangan di cermin. Air matanya sudah kering, digantikan oleh bara api yang mulai menyala di dadanya.
---
Tiga bulan kemudian.
Hari pernikahan Arlan dan Shinta digelar di sebuah hotel bintang lima paling megah di Jakarta. Arlan tampak gagah dengan tuksedo hitamnya, namun jika diperhatikan lebih dekat, matanya tampak gelisah. Pernikahan ini bukan didasari cinta murni, melainkan kesepakatan bisnis antara keluarganya dan keluarga Shinta demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang sedang di ambang bangkrut.
Shinta, sang mempelai wanita, adalah sosok yang dominan dan temperamental. Di balik layar, ia terus menghina Arlan, menganggap pria itu hanya "proyek penyelamatan" keluarganya.
"Ingat Arlan, tanpaku, kamu dan keluargamu akan tidur di kolong jembatan," desis Shinta di ruang rias. Arlan hanya bisa menunduk, menelan harga dirinya bulat-bulat. Saat itulah, ia mulai merindukan kehangatan dan ketulusan Riana. Namun, ego dan ambisi telah membuatnya membuang permata demi sebuah takhta dari kaca.
Acara resepsi dimulai. Saat tamu-tamu penting berkumpul, pintu besar *ballroom* terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan sangat anggun. Ia mengenakan gaun merah *maroon* yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, rambutnya disanggul modern, dan auranya begitu kuat hingga membuat beberapa tamu berhenti bicara.
Wanita itu adalah Riana. Tapi bukan Riana yang rapuh dan hancur. Ini adalah Riana yang telah menemukan kembali kekuatannya.
Arlan terpaku. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Riana berjalan menuju pelaminan. Shinta menyipitkan mata, merasa terancam oleh kecantikan tamu yang tak diundang itu.
Riana naik ke atas pelaminan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya tapi sangat mematikan.
"Selamat, Arlan," kata Riana tenang. Suaranya terdengar jelas karena kebetulan musik pengiring sedang mengecil. "Terima kasih sudah membuangku. Karena tanpamu, aku tidak akan pernah sadar bahwa aku jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa kamu tawarkan."
Riana kemudian beralih ke Shinta. "Dan untukmu, Shinta... Selamat menikmati sisa-sisa hidup dengan pria yang bahkan tidak punya keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri. Kalian benar-benar pasangan yang serasi: yang satu tidak punya hati, yang satu tidak punya harga diri."
Wajah Shinta merah padam. "Siapa kamu?! Beraninya kamu bicara begitu di hari pernikahanku!"
Riana hanya terkekeh pelan. "Aku? Aku hanyalah wanita yang energinya pernah dikosongkan oleh pria ini, tapi sekarang aku berdiri di sini untuk melihat karma bekerja dengan cara yang paling manis."
Sebelum Shinta sempat memanggil keamanan, seorang pria paruh baya yang merupakan investor utama proyek keluarga Shinta dan Arlan melangkah maju. Dia adalah Pak Surya, orang yang selama ini menjadi mentor bisnis Riana setelah Riana bangkit dari keterpurukannya.
"Shinta, Arlan," suara Pak Surya terdengar berat. "Saya di sini sebagai tamu, tapi juga sebagai rekan bisnis Riana. Saya rasa kalian perlu tahu, bahwa perusahaan yang kalian banggakan itu... saham terbesarnya baru saja dibeli oleh firma investasi milik Riana pagi ini."
Seluruh ruangan mendadak hening. Arlan hampir jatuh terduduk. Riana bukan lagi sekadar mantan kekasih yang sakit hati. Dia sekarang adalah pemilik masa depan mereka.
Riana menatap Arlan yang kini tampak kecil dan malang di matanya. "Dulu kamu membuangku tanpa belas kasihan saat aku sedang berjuang mempercayaimu. Sekarang, aku yang memegang kendali atas hidupmu, Arlan. Tapi tenang saja, aku tidak sepertimu. Aku akan membiarkanmu tetap bekerja di perusahaan itu sebagai bawahan, agar kamu bisa melihat setiap hari bagaimana wanita yang kamu buang ini memimpin dengan kepala tegak."
Riana berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Suara ricuh dan bisik-bisik di belakangnya terdengar seperti simfoni yang indah. Ia keluar dari hotel itu, menghirup udara malam yang segar.
Dulu, ia dipaksa untuk jatuh cinta saat hatinya kosong. Sekarang, hatinya penuh—bukan oleh cinta untuk pria lain, tapi oleh rasa cinta untuk dirinya sendiri yang telah berhasil menang atas rasa sakit. Pengkhianatan Arlan bukan akhir hidupnya, melainkan batu loncatan menuju kejayaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Malam itu, Riana merasa sangat puas. Karena ia tahu, tidak ada balas dendam yang lebih elegan daripada menjadi sukses dan membiarkan mereka yang membuangmu memohon di bawah kakimu. Karma memang tidak pernah salah alamat.