Bukan deras, bukan pula rintik yang menyenangkan. Hanya jatuh… pelan, dingin, seperti sesuatu yang tidak ingin diperhatikan siapa pun.
Athala Parmadya berdiri di bawah atap halte sekolah, menatap jalanan yang mulai basah. Seragamnya rapi, tasnya tergantung di bahu kanan, dan wajahnya, tenang. Terlalu tenang untuk ukuran seorang siswi.
Orang-orang di sekitarnya tidak benar-benar memperhatikannya.
Memang tidak pernah.
Ala sudah terbiasa.
Ia bukan tipe murid yang mencolok. Tidak terlalu pintar di mata guru, tidak terlalu aktif di kelas, tidak punya lingkaran pertemanan besar. Ia hanya… ada. Duduk di bangku belakang, berbicara seperlunya, dan pulang tanpa meninggalkan kesan.
“kamu tidak dijemput?”
Suara itu datang dari samping, membuat Ala sedikit menoleh.
Seorang siswi lain berdiri di sana, memegang payung transparan. Rambutnya diikat rapi, wajahnya lembut, dan senyumnya… terlalu hangat untuk pagi yang dingin seperti ini.
Ala tidak langsung menjawab.
“...Nunggu,” ucapnya singkat.
Gadis itu mengangguk kecil, seolah jawaban itu sudah cukup.
“Kalau hujannya makin deras, boleh bareng,” katanya lagi, santai. “Aku bawa payung gede.”
Ala menatapnya sebentar.
Aneh.
Orang biasanya tidak menawarkan hal seperti itu ke orang yang bahkan tidak mereka kenal.
“Gak usah,” jawab Ala datar.
Tidak kasar. Tapi cukup untuk membuat batas.
Namun gadis itu tidak terlihat tersinggung.
“Okay,” balasnya ringan. “Tapi kalau berubah pikiran, bilang aja.”
Ia tersenyum lagi.
Dan entah kenapa, itu mengganggu.
Bukan karena tidak tulus, justru karena terlalu tulus.
Dan mungkin itu terasa aneh.
Ala memalingkan wajahnya kembali ke jalan.
Hujan masih turun.
---
Sekolah sudah mulai ramai saat mereka masuk.
Koridor dipenuhi suara langkah kaki, tawa, dan obrolan yang saling bertabrakan. Bau buku, parfum, dan udara dingin dari pendingin ruangan bercampur jadi satu.
Ala berjalan tanpa terburu-buru. Seperti biasa, ia memilih jalur yang tidak terlalu ramai.
Ia tidak suka keramaian.
Bukan karena takut.
Hanya… tidak tertarik.
Saat melewati papan pengumuman, sekelompok murid berkumpul di sana. Nama-nama siswa berprestasi terpampang besar.
Ala melirik sekilas.
Tidak ada namanya.
Ia tidak peduli.
Namun, matanya berhenti pada satu nama.
Estelle Sabiru.
Nama yang sama dengan gadis di halte tadi.
Peringkat satu.
Lagi.
Ala mengalihkan pandangannya tanpa ekspresi.
“Pantes aja keliatan santai,” gumam seseorang di dekatnya. “Dia mah emang jenius.”
“Cantik lagi. Paket lengkap.”
“Soft banget orangnya, enak diajak ngomong.”
Ala berjalan melewati mereka tanpa menoleh lagi.
Jenius, ya.
Ia tersenyum tipis.
Kalau saja mereka tahu.
---
Kelas XI-3.
Ruangan itu sudah setengah penuh saat Ala masuk. Seperti biasa, ia langsung menuju bangku paling belakang, dekat jendela.
Tempat yang sempurna untuk tidak terlihat.
Ia duduk, mengeluarkan buku, dan menatap keluar.
Hujan belum berhenti.
Tetesannya membentuk garis-garis panjang di kaca, seperti sesuatu yang perlahan menghapus dunia di luar sana.
Tenang.
Hening.
Ala menyukai itu.
Sampai suara kursi ditarik di sebelahnya.
Ia menoleh.
Gadis dari halte tadi.
“Boleh duduk di sini?” tanyanya.
Padahal kursinya sudah ditarik.
Ala menatapnya beberapa detik.
“...Terserah.”
Gadis itu tersenyum.
“Terima kasih. Aku Estelle,” katanya, sambil duduk. “Tapi biasanya dipanggil Elle.”
Ala tidak langsung menjawab.
“...Athala.”
“Boleh panggil Ala?”
Ala mengangguk kecil.
Diam kembali mengambil alih.
Namun bukan diam yang canggung.
Lebih seperti… diam yang menunggu sesuatu.
Elle membuka bukunya, rapi dan teratur. Setiap hal tentangnya terlihat terkontrol—cara ia duduk, cara ia menulis, bahkan cara ia bernapas.
Ala memperhatikannya sekilas.
Lalu kembali menatap jendela.
“kamu suka hujan?” tanya Elle tiba-tiba.
Pertanyaan yang aneh.
Ala tidak langsung menjawab.
“Kenapa nanya?”
Elle tersenyum kecil, matanya masih pada buku.
“Karena kamu keliatan nyaman.”
Ala terdiam.
Kata-kata itu… tepat.
Terlalu tepat.
“Biasa aja,” jawabnya akhirnya.
Elle mengangguk, seolah tidak butuh penjelasan lebih.
“Kalau aku suka,” katanya pelan. “Hujan itu kayak… nyembunyiin banyak hal.”
Ala menoleh.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat gadis itu.
“Nyembunyiin apa?”
Elle mengangkat bahu ringan.
“Banyak. Perasaan orang, suara hati, atau… sesuatu yang gak mau dilihat orang lain.”
Ala menatapnya lebih lama.
Ada sesuatu di cara Elle bicara.
Tenang.
Tapi dalam.
Seperti ia tahu lebih banyak dari yang seharusnya.
Belum sempat Ala menjawab, pintu kelas terbuka.
Guru masuk.
Pelajaran dimulai.
---
Jam berjalan lambat.
Ala tidak benar-benar mendengarkan. Bukan karena tidak bisa, justru karena ia sudah tahu sebagian besar materi itu.
Matanya sesekali melirik ke arah Elle.
Gadis itu mencatat dengan rapi, sesekali menjawab pertanyaan guru dengan suara lembut. Tidak mencolok, tapi selalu tepat.
Semua orang menyukainya.
Terlalu mudah.
Saat bel istirahat berbunyi, kelas langsung ramai.
Beberapa murid keluar, beberapa tetap di dalam.
“Elle!”
Seorang gadis mendekat dengan langkah cepat. Rambutnya sedikit berantakan, matanya berbinar.
“Aku boleh duduk sini?” tanyanya.
Elle tersenyum. “Ya, Tentu.”
“Aku Casya… tapi biasanya dipanggil Yaya,” katanya, agak gugup. “Maaf ya, aku… agak gak biasa mulai duluan.”
“Gak apa-apa,” jawab Elle lembut.
Ala hanya diam, memperhatikan.
Beberapa detik kemudian, seorang gadis lain ikut bergabung tanpa izin.
“Wah, kumpul-kumpul tanpa aku nih?” katanya dengan nada bercanda.
Ia duduk begitu saja di meja depan mereka.
“Gw Nasera. Panggil Itha aja, lebih gampang,” ujarnya santai.
Energinya kontras dengan Yaya yang canggung.
“Lo anak baru ya?” tanya Itha ke Ala.
Ala menggeleng.
“Cuma gak keliatan aja,” tambahnya datar.
Itha tertawa kecil. “Wah, misterius.”
“Dia bukan misterius,” potong Elle lembut. “Dia cuma… belum banyak ngomong.”
Ala menatap Elle.
Lagi.
Kenapa dia selalu,
“Eh, serius deh,” kata Itha, menyela. “Kita makan yuk? Kantin hari ini katanya enak.”
Yaya terlihat ragu.
“Ramai gak?”
“Ramai sih,” jawab Itha jujur.
Yaya langsung terlihat cemas.
Elle menyentuh tangannya pelan.
“Kita cari tempat yang agak sepi, ya,” katanya.
Yaya mengangguk pelan.
Ala memperhatikan interaksi itu.
Cara Elle bicara.
Cara Elle menenangkan.
Cara Elle… memahami.
Tanpa banyak tanya.
Aneh.
“Lo ikut?” tanya Itha ke Ala.
Ala sebenarnya ingin menolak.
Seperti biasa.
Namun entah kenapa,
“...Iya.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
---
Kantin memang ramai.
Tapi mereka berhasil menemukan meja di sudut.
Itha langsung memesan banyak makanan.
“Ini buat jaga-jaga lapar,” katanya santai.
Yaya tertawa kecil.
Elle hanya tersenyum.
Ala duduk diam, memperhatikan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia berada di tengah orang lain… tanpa merasa ingin pergi.
“Eh,” suara lain muncul.
Seseorang berdiri di samping meja mereka.
Glencha Nayyar.
Senyumnya manis. Ya bagi sebagian orang mungkin manis namun bagi Athala itu seperti racun.
“Boleh gabung?” tanyanya.
Itha langsung mengangguk. “Boleh banget!”
Echa duduk di sebelah Ala.
Terlalu dekat.
Ala tidak bergerak.
Namun matanya sedikit berubah.
Dingin.
“Seru ya kalian,” kata Echa. “Baru awal udah akrab.”
“Namanya juga cocok,” jawab Itha.
Echa tertawa kecil.
Namun ada sesuatu di matanya.
Sekilas.
Tajam.
Cepat.
Hilang sebelum siapa pun sadar.
Kecuali Ala.
Dan… Elle.
Elle menatap Echa beberapa detik.
Senyumnya tetap ada.
Tapi matanya tidak ikut tersenyum.
---
Hari itu berakhir seperti biasa.
Atau setidaknya… terlihat biasa.
Namun saat Ala berjalan pulang, hujan masih turun.
Ia berhenti sejenak di gerbang.
Menatap langit.
Lalu,
Sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Kaca jendela turun perlahan.
“Masuk.”
Suara itu dingin.
Ala membuka pintu tanpa ragu.
Dunia lain menunggunya di dalam sana.
Dunia yang tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun di sekolah itu.
Sementara itu, di tempat lain,
Elle duduk di kamarnya, menatap layar laptop.
Baris-baris kode bergerak cepat.
Sebuah sistem terbuka.
Data.
Nama.
Informasi.
Termasuk satu nama
Glencha Nayyar.
Elle berhenti mengetik.
Matanya tenang.
Tapi dalam.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Di luar, hujan masih turun.
Dan tanpa mereka sadari
Cahaya dan hujan sudah bertemu.
Dan ketika keduanya bergerak…
Tidak semua orang akan selamat.
........