Suasana pagi pasar yang segar namun juga bercampur berbagai khas aroma antara ikan segar di antara es batu, sayuran yang masih segar hingga bau tanah dari umbi-umbian.
Orang-orang mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing; ada yang sedang menata dagangan, pembeli yang memilih sayuran, mengurus parkiran sepeda motor dan tak heran sering kali terdengar suara teriakan para pedagang untuk menarik pembeli dengan bahasa mereka sendiri.
"Yuk, dimari dimari, ikannya masih seger-seger. Rugi loh ga beli di sini, nanti keburu ikannya lemes!"
"Yang murah yang murah, dimana ada pembeli, disitu ada sayuran seger!"
"Murah meriah! Ayo Bu Ibu, di beli alat-alat masaknya! Panci karatan? Ganti, Wajan menghitam? Ganti!"
Sementara di luar pasar. Pangkalan ojek.
"Woi bro! gua hampir kesiangan, untung lu nelpon gua." Ucap seorang pria yang duduk di atas motor sambil menepuk pundak rekan kerjanya yang juga duduk di atas motor.
"Eh Levin. Gua nelpon lu karna yang lain belum dateng. Gua sendirian, nih."
Pria bernama Levin itu tertawa. "Yaelah, manja banget lu."
"Selamat Pagi, Tuan. Bisakah anda menunjukkan kepada saya dimana lokasi gedung ini?"
Seseorang pria berpakaian rapi namun masih terlihat kasual dan kelihatannya seperti seumuran dengan Levin, datang tiba-tiba dengan menunjukkan layar ponselnya yang terdapat gambar sebuah tempat seperti tempat bersantai sekaligus tempat orang-orang minum minuman sejenis kopi.
"Gedung?"
"Benar, gedung ini. Anda mengetahuinya?"
Levin terlihat mengernyitkan keningnya melirik pria itu—sedikit memperhatikan penampilannya karna cara berbicara yang terdengar sangat baku. Matanya beralih kembali melirik ke sebuah gambar di layar ponsel pria itu.
"Ini mah namanya Kafe."
"Kafe?"
'Seriusan ni orang gak tau Cafe?' Levin mengangguk kecil. "Kedai kopi, tau gak?"
Pria itu berpikir sebentar seolah mengingat nama yang menurutnya familiar didengar. Tak lama alisnya terangkat. "Saya baru mengingatnya. Benar, Kedai kopi."
Levin menghela napas pelan dan raut wajahnya kembali normal—merasa lega ia tak sulit menjelaskan banyak pada pria itu.
"Gua tau sih, gak jauh dari sini. Gua bisa anter lu kalau mau, kebetulan gua lagi ngojek."
Pria itu melirik tulisan sebuah papan kayu di bawah atap rendah di sebuah pos yang bertuliskan "Pangkalan Ojek", lalu beralih menoleh pada Levin—Si tukang ojek. Ia mengangguk, "Baiklah, antarkan saya ke tempat itu."
Di Perjalanan.
"Eh, gua mau nanya. Lu orang mana sih?"
Penumpang pria itu menyebutkan kota asalnya dan Levin terkejut mendengarnya. "Lah, kampung gua itu. Gua juga dari sana." Entah kenapa ia merasa senang ada penumpangnya yang berasal dari kota yang sama dengannya. Tapi seketika ia mengerutkan alis, merasa familiar dengan cara pria itu berbicara sedari tadi. "Eh bentar bentar. Gua ngerasa gak asing sama lu."
"Hm? Tidak asing?"
Levin mengangguk, "iya, gua kayak pernah denger orang yang cara ngomongnya kayak lu gini. Tapi... dimana ya?"
Pria itu hanya diam. Ia merasa bingung dengan ucapan Levin. Ia menyadari jika caranya berbicara sangat berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Dari kecil ia sudah diajarkan berbicara dengan bahasa yang benar hingga saat dewasa pun itu menjadi kebiasaannya.
Levin tak mampu mengingatnya hingga pada akhirnya dia menanyakan nama penumpang pria itu, "Nama lu siapa?"
"Nama Saya Malik. Malik Juanda."
"...Malik?" bisik Levin pelan mengulangi nama itu.
10 tahun yang lalu.
"Malik, cara marah yang bener tuh gini. 'Dasar lu pengecut! bisa-bisanya jago ramean, sini duel sama gua kalau berani!' kayak gitu, bukan yang 'tidak boleh begitu teman-teman'." Levin kecil dan Malik kecil tertawa bersama setelahnya.
Kembali masa sekarang.
"Malik yang waktu SD pernah gua ajarin cara marah ke orang yang jailin lu bukan?"
Motor yang di kendarai oleh Levin berhenti di persimpangan lampu lalu lintas, sementara Malik terlihat mencoba mengingat kenangan lamanya dan tak lama dari itu, matanya melebar saat mengingatnya. Kepalanya sedikit maju di atas bahu Levin. Wajahnya terlihat senang saat mengingat momen masa kecilnya bersama orang ada di depannya kini. "Oh! Anda Levin?"
Levin tertawa kecil sambil mengangguk. "Gak nyangka ya, kita ketemu lagi. Dan lu gak berubah."
Motor itu berjalan lagi menuju ke tempat tujuan Malik saat warna lampu lalu lintas berubah hijau.
"Saya juga tidak menyangka bertemu Levin di kota ini."
"Gua kira lu udah bisa ngomong normal kayak yang gua ajarin dulu."
Malik tersenyum kecil sedikit sendu saat ia memundurkan kepalanya kembali. "Apakah masih terdengar aneh jika saya berbicara seperti ini?"
"Lik, lu gak sadar dari dulu lu tuh di jailin karna cara ngomong lu? mereka ngata-ngatain lu dan bilang cara ngomong lu kayak buku pelajaran." Levin menoleh kesamping sebentar lalu kembali melihat jalanan di depannya.
Malik terkekeh kecil- lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. "Seperti itu, ya?"
Levin mengangguk dan kembali fokus pada jalanan dan tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan Malik— sebuah kafe bernuansa klasik dan terlihat hangat jika di lihat dari luar, sesuai dengan yang ada di gambar pada ponsel Malik sebelumnya.
Malik turun dari motor lalu menyerahkan helm pada Levin.
"Lu kerja disini?" Ucap Levin saat menyangkutkan helm penumpang di gantungan motornya sambil melirik ke arah dalam kafe.
Pertanyaan itu mendapat anggukan dari Malik. "Benar, ini hari pertama saya bekerja disini. Ingin masuk ke dalam tidak? mungkin ingin meminum kopi pagi sebelum Levin berkendara kembali."
Tawa kecil Levin keluar saat mendengar ucapan Malik yang langsung menawarkan kopi tempatnya bekerja. "Bagus, bagus. Marketing lu oke juga."
Malik hanya diam namun tersenyum kecil.
"Boleh deh, gua butuh asupan penguat mata."
Di dalam Kafe.
"Gini Lik, coba lu ikutin ucapan gua. 'Nama gua Malik'."
Malik mendengar ucapan Levin. Ia duduk di depan Levin— di kursi seberang Levin. Kafe itu masih tak begitu ramai, jadi Malik tidak begitu sibuk di hari pertamanya pagi ini.
"Nama sa... gua Malik." Hampir saja Malik salah ucap. Namun itu masih terdengar kaku.
"Ulang," kata Levin singkat.
"Nama gua Malik." Malik mengulangi lagi, namun kali ini sudah sedikit terdengar lebih baik.
"Nah, gitu. lu gua ajarin pakai bahasa sehari-hari kayak gua, gimana?"
Malik tampak bingung, lidahnya masih terasa kelu untuk sekedar berbicara dengan bahasa yang jarang ia gunakan.
"Pelan-pelan aja, nanti lu bakal terbiasa. Percaya sama gua."
1 tahun kemudian
"Vin, anterin gua ke kafe. Ntar gua di omelin kalau telat."
"Santai Lik, ga bakal telat. Kayak sama siapa aja lu."
Malik tersenyum kecil sebelum dia naik ke motor Levin sambil memakai helm.
Selama setahun sejak di hari pertama mereka bertemu kembali dan di kafe itu, Levin mengajarkan Malik cara berbicara seperti dirinya, terkadang sesekali Malik tak sengaja keceplosan mengatakan kata bakunya seperti saat dulu. Cara berbicara Malik kini sudah mulai terdengar seperti Levin yang terdengar santai.
Mereka bahkan menyewa sebuah kontrakan agar Malik bisa belajar bahasa santai lebih banyak seperti Levin.
"Gini kan enak dengernya. Akhirnya gua gak kayak lagi ngomong sama orang bangsawan lagi."
Motor yang di bawa Levin itu melaju melewati jalanan yang ramai pengendara lain dengan kesibukan mereka masing-masing di pagi hari ini seperti biasa.
"Gua juga mulai nyaman ngomong gini. Thanks udah ngajarin gua selama setahun ini. Tapi... gua kayak beda orang gak sih, Vin?"
Levin tampak berpikir. "Hm.... iya sih. Tapi lu yang gini lebih oke. Lebih gaul, kayak gua." Ia terkekeh oleh ucapannya sendiri dan diikuti oleh Malik yang mendengar itu.