Bagian 1: Luminaria yang terkutuk (Usia 5 Tahun)
Namanya Luminaria Avis Papilio. Sejak lahir, dunianya hanya selebar ruang pengap dan dinginnya tatapan dua orang yang seharusnya melindunginya. Ia terlahir dari rahim yang tidak menginginkannya, dari pasangan yang menyebutnya "anak iblis", "pembawa sial", dan "anak terkutuk".
Di usia lima tahun, Luminaria tidak mengenal pelukan hangat atau cerita pengantar tidur. Yang ia tahu hanyalah suara bentakan dan isak tangisnya sendiri yang tertahan di sudut ruangan. Ia tidak memiliki teman. Baginya, hidup adalah ruang tunggu yang kelabu menuju sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.
Hingga suatu hari, seorang laki-laki muncul. Usianya sekitar dua puluh lima tahun, dengan aura misterius yang sulit dijelaskan. Berbeda dengan yang lain, laki-laki itu tidak melempar batu, tidak melontarkan makian. Ia hanya duduk di kejauhan, lalu perlahan mendekat.
Hari demi hari, laki-laki misterius itu datang. Ia menghibur Luminaria, berbicara dengan lembut, mendengarkan keluh kesah gadis kecil yang bahkan tidak tahu bagaimana caranya tersenyum.
Suatu sore, laki-laki itu bertanya, nadanya seperti hendak membisikkan sebuah rahasia alam semesta.
"Luminaria, apakah kau tahu tentang legenda Dewa Kebebasan?"
Gadis kecil itu menggeleng, matanya yang sayu mulai menangkap setitik cahaya penasaran.
Laki-laki itu melanjutkan, "Dewa Kebebasan adalah ia yang datang kepada mereka yang tertindas, namun masih menyimpan secercah harapan di dalam hatinya. Ia akan membebaskan orang itu, lalu memberikannya pilihan apa pun yang ia inginkan."
Mata Luminaria yang berusia lima tahun itu tiba-tiba berbinar. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang lucu. Senyum yang kontras dengan luka memar di lengannya.
"Benarkah?" tanyanya penuh antusias. "Apakah... Dewa Kebebasan itu akan datang kepadaku juga, kalau aku masih punya harapan?"
Tanpa menunggu jawaban, Luminaria mengepalkan tangan kecilnya di depan dada dan berteriak lantang ke langit-langit rumah yang reyot itu. Ini bukan permintaan harta atau takhta. Ini adalah jeritan hati paling murni dari seorang anak:
"Aku ingin di tempat di mana aku diterima dan dicintai oleh orang tuaku! Aku ingin bisa bermain bersama mereka dan... dan aku ingin bahagia!"
Laki-laki misterius itu hanya diam. Matanya berkaca-kaca, basah oleh sesuatu yang tidak dipahami Luminaria kecil. Di dalam hatinya, ia berbisik lirih, nyaris tak terdengar oleh angin: "itu... itu bukan keinginan. Itu adalah hak fundamental yang seharusnya dimiliki setiap anak."
Beberapa hari setelah pernyataan itu, takdir memutar lelucon yang paling kejam. Luminaria tidak mendapatkan pelukan orang tua. Ia justru dijual ke tempat perbudakan oleh orang yang melahirkannya. Laki-laki misterius itu pun lenyap, menghilang tanpa jejak seperti asap yang ditelan badai.
Bagian 2: Rahim yang Melahirkan Harapan (Usia 10-15 Tahun)
Di tempat perbudakan, neraka benar-benar menjadi nyata. Luminaria kecil dijadikan alat pemuas nafsu, objek siksaan fisik, dan hiburan bagi mereka yang haus akan kekuasaan. Tubuh mungilnya remuk, jiwanya retak seribu kali. Ia sering menangis sendiri, berbisik pada dinding sel yang dingin, "Aku lelah... aku ingin mati saja."
Di usia sepuluh tahun, tubuhnya yang belum sepenuhnya berkembang itu mengandung sebuah nyawa. Sebelas tahun, ia melahirkan seorang bayi laki-laki dalam jeruji besi dan bau pesing. Ia beri nama Zero Avis Papilio.
Saat menatap wajah mungil Zero yang merah dan menangis kelaparan, keinginan untuk mati dalam diri Luminaria tiba-tiba padam. Tergantikan oleh naluri kebinatangan yang jauh lebih kuat: Anaknya harus hidup.
Namun, di tempat terkutuk itu, susu dan makanan adalah kemewahan. Luminaria yang kelaparan tidak mampu memproduksi cukup ASI. Maka, ia melakukan hal yang paling hina yang bisa dibayangkan seorang manusia.
Ia bersujud di kaki pemilik budak. Dahinya membentur lantai batu hingga berdarah.
"Tuan... tolong beri anakku makanan. Aku akan melakukan apa saja."
Pemilik budak itu tersenyum sadis. Maka dimulailah ritual harian penghancuran harga diri Luminaria. Setiap hari, di depan kerumunan orang, ia harus telanjang bulat. Ia harus berteriak sekencang-kencangnya:
"Aku bangga menjadi budak! Aku lebih hina dari hewan! Ini adalah takdirku!"
Tubuhnya bergetar menahan malu, air matanya mengalir deras, tetapi mulutnya tetap berteriak lantang. Sebab, di kejauhan, di balik tirai lusuh, Zero kecil mengunyah roti basi pemberian majikan. Demi roti itu, Luminaria rela membunuh harga dirinya setiap hari.
Bagian 3: Legenda dewa kebebasan untuk anakku tercinta(Usia 19 Tahun)
Bertahun-tahun berlalu. Zero kini berusia empat tahun. Anak itu tumbuh cerdas, namun jarang tertawa karena melihat ibunya selalu bermuram durja.
Suatu malam, saat hujan deras mengguyur atap bocor sel mereka, Luminaria memeluk Zero erat-erat. Ada firasat buruk di dadanya. Ia teringat kenangan paling indah dalam hidupnya: pertemuan dengan laki-laki misterius dua puluh tahun silam.
"Zero," bisiknya. "Apakah kau tahu tentang legenda Dewa Kebebasan?"
Ia menceritakannya persis seperti yang pernah ia dengar. Tentang harapan, tentang pembebasan, tentang pilihan.
Zero kecil mendengarkan dengan mata berbinar-binar, persis seperti Luminaria dulu.
"Benarkah, Bu?" tanya Zero polos. "Kalau begitu... aku ingin bebas! Aku ingin main sama Ibu sepuasnya di padang rumput yang luas!"
Tak lama kemudian, terjadilah pemberontakan para budak. Situasi kacau balau. Ini adalah kesempatan emas untuk melarikan diri. Namun, Luminaria sadar, dengan kondisi tubuhnya yang ringkih dan Zero yang masih kecil, mereka berdua tidak akan bisa lolos bersama.
Luminaria mendorong Zero ke dalam lubang sempit di balik tumpukan kayu.
"Sembunyi di sini. Jangan bersuara," perintahnya tegas.
"Ayo ikut, Bu! Ayo!" Zero menangis tersedu-sedu, jemarinya menggenggam erat jubah lusuh ibunya.
Luminaria mengguncang bahu Zero pelan. Untuk pertama kalinya, ia menatap putranya dengan tatapan yang sangat kuat dan tenang. Tatapan seorang Dewi.
"Dengar, Zero. Kau adalah masa depanku. Selama kau masih punya harapan, Dewa Kebebasan akan datang. Bentuknya bisa apa saja, kapan saja. Jika kau berhasil bebas dari sini... maka Ibu juga ikut bebas. Mengertilah..."
Dengan paksa, ia melepaskan genggaman tangan mungil itu. Zero merangkak pergi ke dalam gelap, air matanya jatuh membasahi tanah.
"Bu...," lirihnya. "Tunggulah aku di kehidupan selanjutnya. Lahirkan aku lagi sebagai anakmu. Aku masih ingin jadi anak Ibu..."
Zero tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu sepenuhnya, bahwa selama ini roti yang ia makan dibayar dengan kehancuran martabat ibunya di hadapan khalayak ramai.
Bagian 4: Legenda dewa kebebasan untuk ibuku tercinta(Zero, Usia 25 Tahun)
Waktu berlalu. Zero selamat. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan genius di dunia yang kejam. Suatu hari, Zero berhasil menciptakan mesin waktu setelah beberapa tahun ia terus mencoba, zero menamainya: Kronokinesis, sebuah mesin waktu yang zero ciptakan setelah kesekian kalinya ia gagal.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Zero melangkah menembus pusaran waktu. Ia tidak pergi untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan atau mengubah garis takdir yang pahit. Itu akan menghapus eksistensinya sendiri, dan lebih dari itu, akan mengkhianati pengorbanan Luminaria.
Ia pergi ke masa yang lebih lampau. Masa ketika seorang gadis kecil berusia lima tahun meringkuk sendirian di sudut rumah, dipenuhi luka dan keputusasaan.
Di sanalah Zero berdiri. Sebagai Laki-laki Misterius berusia 25 tahun.
Ia duduk di samping Luminaria kecil. Ia tidak mengubah masa lalu; ia hanya mengisi kekosongan di dalamnya. Ia memberikan apa yang tidak dimiliki ibunya semasa kecil: validasi, perhatian, dan harapan.
Saat ia menceritakan legenda "Dewa Kebebasan", ia menyadari lingkaran sempurna itu. Kisah yang ia ceritakan adalah kisah yang sama yang dulu ibunya bisikkan saat hujan menderas di sel tahanan.
Saat Luminaria kecil berteriak meminta cinta orang tua, Zero menahan tangisnya. Ia ingin memeluk bocah itu dan berbisik, "maafkan aku bu, maafkan aku karena aku tidak bisa melakukan apapun untukmu, maafkan aku atas segalanya, aku baru sadar sekarang, ternyata harapan bisa memperpanjang penderitaan orang orang tertindas. Maafkan aku bu"
Ia melihat ibunya tersenyum lebar di hari itu. Senyum yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya di perbudakan. Misi Zero selesai. Ia telah menjadi "Dewa Kebebasan" yang dimaksud dalam legenda itu—bukan dengan membebaskan Luminaria dari penjara fisik, tetapi dengan membebaskan jiwanya dari ketiadaan harapan.