Hujan di Desa Pulerejo bukanlah berkah, melainkan kutukan purba yang mengubah topografi desa menjadi adonan kue cokelat raksasa. Tanah di sini memiliki kepribadian ganda; saat kemarau ia berdebu setebal bedak pengantin yang gagal makeup, namun begitu langit memeras air, ia berubah menjadi bubur pekat yang posesif—siap menelan sandal jepit, roda motor, hingga harga diri siapa pun yang nekat melintasinya.
Jalan poros desa itu bukan sekadar rusak. Kata "rusak" terlalu sopan dan tidak memadai untuk menggambarkan kewingitan geografis sepanjang tiga kilometer tersebut. Jalan itu adalah sebuah simbol kegagalan. Lubang-lubang di sana bukan lagi sekadar cekungan aspal yang mengelupas, melainkan kawah-kawah abadi yang memiliki ekosistemnya sendiri. Konon, di lubang depan Balai Desa yang diameternya setara meja makan bundar itu, Pak RT pernah kehilangan motor bebek Astrea Grand miliknya. Motor itu terperosok saat banjir bandang kecil melanda usai salat Isya, dan baru ditemukan dua hari kemudian ketika surut, sudah menjadi fosil berlumpur yang dihuni tiga ekor lele dumbo.
Di desa inilah, Solihin, sang Kepala Desa, sedang menatap nanar ke arah kalender dinding. Wajahnya pucat pasi, seputih kertas laporan pertanggungjawaban dana desa yang isinya fiktif belaka.
Solihin adalah pria paruh baya dengan perut yang sedikit membuncit—bukan karena kemakmuran, melainkan karena kembung akibat terlalu banyak menelan angin janji manis politisi. Hari ini, keringat dingin sebesar biji jagung berjatuhan dari pelipisnya. Di tangannya, selembar surat berlogo Garuda Emas gemetar hebat seolah terkena gempa lokal.
Surat itu singkat, padat, dan mematikan:
"Kunjungan Kerja Bapak Direktur Jenderal Infrastruktur Pedesaan. Agenda: Gunting Pita Peresmian Jalan Poros Desa Pulerejo yang telah rampung 100% (Hotmix)."
Jantung Solihin serasa merosot ke usus besar.
"Hotmix ndasmu..." umpatnya lirih, nyaris tanpa suara.
Di laporan tahun lalu, memang tertulis hitam di atas putih bahwa jalan itu sudah mulus. Dana satu miliar rupiah sudah turun. Tapi, seperti sulap ilusionis papan atas, uang itu menguap dalam serangkaian pos anggaran gaib: biaya tak terduga, setoran ke 'atas', uang pelicin administrasi, hingga biaya 'syukuran' yang entah kenapa menghabiskan separuh anggaran. Sisanya? Hanya cukup untuk membeli batu kricak yang kini sudah hanyut terbawa hujan pertama bulan Desember.
Besok pagi, Pak Dirjen akan datang. Jika beliau melihat bahwa "Jalan Hotmix" itu hanyalah kubangan lumpur setinggi betis kerbau, Solihin tahu masa depannya bukan lagi di kursi empuk Balai Desa, melainkan di balik jeruji besi Lapas Sukamiskin.
Malam itu, Balai Desa Pulerejo dipenuhi asap rokok klembak menyan dan aroma kopi hitam yang pekat. Suasana tegang. Solihin mengumpulkan para pemikir terbaik—dan terburuk—di desanya untuk Rapat Darurat Penyelamatan Leher Pak Kades.
"Kita pasang terpal saja, Pak," usul Lek Man, hansip desa yang idenya seringkali sependek sumbu petasan. "Kita gelar terpal biru dari gapura sampai balai desa. Bilang saja ini aspal model baru. Aspal sintetis."
Solihin memijat pelipisnya. "Dua kilometer, Man? Kamu mau bungkus jalan apa mau bikin tenda hajatan buat jin se-kabupaten? Lagipula kalau mobil Pak Dirjen lewat, robek itu terpal!"
Di pojok ruangan, Mbah Gendon, tetua desa yang usianya diperkirakan lebih tua dari proklamasi kemerdekaan, terkekeh. Suaranya serak dan basah, seperti gesekan amplas kasar.
"Kalian ini panik kok ndak pakai logika," gumam Mbah Gendon sambil menyemburkan asap rokok. “Jalan itu sudah rusak sejak zaman Agresi Militer Belanda kedua. Dulu tank NICA saja nyangkut di depan poskamling. Itu lubang bersejarah. Harusnya kita bangga. Lubang itu warisan budaya."
"Mbah, tolong jangan bikin saya makin struk," potong Solihin putus asa. "Saya butuh solusi. Besok Pak Dirjen datang. Kalau ketahuan uangnya saya pakai buat 'biaya koordinasi', tamat riwayat saya."
Mbah Gendon mendengus. "Ya sudah. Saya ada kenalan dukun di Gunung Kawi. Kita gendam saja pejabatnya. Biar di mata dia, lumpur itu kelihatan kayak lantai marmer istana. Tapi biayanya mahal, butuh ayam cemani tiga ekor."
Hening. Solihin mulai menimbang-nimbang opsi gila itu. Saat itulah, dari pintu belakang, muncul Paijo.
Paijo adalah pemuda desa lulusan sarjana pengangguran yang kerjanya tiap hari nongkrong di warkop sambil berdebat soal konspirasi global. Matanya berbinar licik, senyumnya mencurigakan.
"Pak Kades," kata Paijo lantang. "Masalah kita bukan di jalannya. Masalah kita ada di mindset."
"Maksudmu?" tanya Solihin.
"Pejabat pusat itu orang kota, Pak. Mereka itu orang-orang stres. Tiap hari lihat aspal, lihat beton, kena macet. Mereka itu rindu alam. Rindu yang natural ala ndeso." Paijo melangkah maju, mengambil kapur tulis, dan mencoret papan tulis hitam di dinding.
"Kita jangan sembunyikan lumpurnya. Kita jual lumpurnya," seru Paijo berapi-api. "Kita rebranding."
"Rebranding gundulmu itu," cibir Mbah Gendon.
"Dengarkan dulu! Di laporan tertulis jalan sudah jadi, kan? Nah, kita bilang saja ke Pak Dirjen, bahwa aspal hotmix itu teknologi kuno. Desa Pulerejo menerapkan inovasi terbaru: Eco-Road Therapy. Jalan ramah lingkungan yang didesain khusus untuk terapi saraf kaki dan penyerapan air maksimal demi mencegah desa banjir!"
Solihin ternganga. "Kamu gila, Jo. Mana ada orang percaya jalan becek dibilang terapi?"
Paijo tersenyum lebar, menampakkan gigi gingsulnya. "Pak, pejabat itu paling suka istilah rumit yang mereka sendiri nggak paham, asalkan terdengar ilmiah dan ada kata 'ramah lingkungan'. Percaya sama saya. Malam ini kita kerja bakti. Kita sulap neraka ini jadi surga wisata."
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam sejarah Desa Pulerejo. Di bawah komando Paijo, seluruh warga dikerahkan. Bukan untuk mengaspal jalan—mustahil itu dilakukan dalam semalam—tapi untuk memanipulasi realitas.
Para pemuda menyablon papan-papan kayu dengan cat fosfor. Ibu-ibu PKK sibuk merangkai janur kuning. Bapak-bapak memindahkan batu-batu besar bukan untuk menambal lubang, tapi untuk menata "artistik" di sekitar kubangan.
Lubang raksasa tempat motor Pak RT hilang dulu kini diberi pagar bambu mini dan dipasangi papan nama megah: "Kawah Candradimuka: Zona Refleksi Lumpur Vulkanik".
Kubangan panjang yang biasanya membuat truk terguling, kini dihiasi lampu tumblr bertenaga baterai dan diberi nama: "Jalur Sutra Konservasi Cacing Tanah Endemik".
Tidak berhenti di situ, Paijo melatih warga.
"Ingat!" teriak Paijo menggunakan toa masjid. "Besok kalau Pak Dirjen lewat, jangan ada yang cemberut atau mengeluh sakit pinggang karena jalan rusak. Kalian harus senyum! Kalau perlu, copot sandal kalian. Berjalanlah di atas lumpur itu seolah-olah kalian sedang menikmati spa mewah di Bali. Ekspresi wajah harus healing, mengerti?!"
"Mengerti, Ndan!" jawab warga serempak, setengah karena takut Pak Kades dipenjara, setengah lagi karena ini adalah hiburan paling menarik dalam satu dekade terakhir.
Solihin menatap kesibukan itu dengan perasaan campur aduk. Antara takjub pada kebodohan massal ini, dan harapan tipis bahwa kebohongan ini akan menyelamatkan nyawanya.
***
Pagi tiba dengan matahari yang malu-malu, seolah enggan menjadi saksi penipuan publik yang akan terjadi.
Pukul 09.00 tepat, rombongan dari pusat tiba. Tiga mobil Toyota Fortuner hitam mengkilap berplat merah merayap masuk ke gerbang desa. Namun, baru sepuluh meter dari gapura, mobil terdepan berhenti mendadak. Rodanya amblas setengah jengkal.
Pintu mobil kedua terbuka. Keluarlah sosok Pak Dirjen.
Ia adalah pria yang tampak terlalu bersih untuk berada di alam terbuka. Kemeja putihnya licin tanpa kerutan, rambutnya tertata kaku oleh pomade mahal, dan sepatunya—oh Tuhan—sepatu pantofel kulit buaya seharga motor matic itu berkilau menantang lumpur.
Solihin berlari kecil menyambutnya, diikuti Paijo yang kini bertindak sebagai "Konsultan Ahli Infrastruktur Desa".
"Selamat datang, Pak Dirjen! Selamat datang di Desa Inovasi Pulerejo!" sapa Solihin dengan napas tersengal.
Pak Dirjen mengernyitkan hidung, menatap jalan di depannya dengan jijik. "Pak Kades, ini bagaimana? Laporannya jalan sudah hotmix 100 persen. Kok ini mobil saya tidak bisa lewat? Ini bubur kacang hijau atau jalan raya?"
Keringat dingin Solihin menetes lagi. Ia menoleh ke Paijo.
Paijo maju dengan percaya diri selangit. "Mohon maaf, Bapak Dirjen yang terhormat. Laporan itu memang menyebutkan 'selesai', tapi mungkin staf Bapak salah mengartikan spesifikasi teknisnya. Kami di sini tidak menggunakan aspal kimiawi. Itu kuno, Pak. Bikin panas bumi, bikin global warming."
Pak Dirjen menaikkan alisnya. "Oh?"
"Benar, Pak," sambung Paijo cepat. "Kami menggunakan konsep Earth-Pores Connectivity. Kami membiarkan tanah bernapas. Ini adalah instruksi rahasia untuk mendukung program Sustainable Development Goals. Mobil Bapak tidak bisa masuk karena getaran mesin diesel bisa merusak ekosistem cacing tanah yang sedang kami budidayakan di bawah jalan ini untuk menyuburkan tanah Desa Pulerejo!"
Pak Dirjen terdiam. Kata-kata "instruksi rahasia" dan "Sustainable Development Goals" sepertinya memicu sesuatu di otaknya. Ia tidak mau terlihat kudet (kurang update).
"Ah... begitu ya," Pak Dirjen mengangguk ragu. "Jadi... ini sengaja?"
"Sangat sengaja, Pak!" seru Solihin, mulai masuk ke dalam peran. "Tapi jangan khawatir. Demi menjaga sepatu Bapak yang indah itu tetap suci, kami sudah siapkan kendaraan ramah lingkungan VVIP."
Paijo memberi kode. Dari balik tikungan, munculah Wahana Tandu Kehormatan.
Itu sebenarnya adalah gerobak sapi bekas pengangkut rumput yang sudah dicuci bersih, dilapisi karpet merah bekas masjid, dan dihiasi janur kuning serta bunga melati. Sapinya, si Ponirah, bahkan diberi pita merah di tanduknya.
"Silakan naik, Pak. Ini sensasi back to nature," kata Paijo sambil membungkuk hormat.
Pak Dirjen tampak ragu sejenak. Namun, melihat ajudan-ajudannya yang sudah siap memotret untuk dokumentasi media sosial, ia merasa perlu menjaga citra sebagai pejabat yang "merakyat". Dengan kikuk, ia naik ke atas gerobak sapi itu.
Perjalanan sejauh dua kilometer itu menjadi teater komedi yang tragis.
Gerobak sapi berguncang hebat setiap kali roda kayunya menghantam lubang. Tubuh Pak Dirjen terombang-ambing seperti boneka dashboard. Namun, setiap kali gerobak berguncang keras dan Pak Dirjen hampir terlempar, Paijo yang berjalan di samping gerobak akan berteriak memberikan penjelasan ilmiah.
Gubrak! Roda masuk lubang dalam.
"Awas Pak! Itu Zona Kejut Alami. Fungsinya untuk melancarkan peredaran darah di bagian pinggang Bapak. Terapi getar!" seru Paijo.
Pak Dirjen yang wajahnya sudah memerah menahan mual, hanya bisa tersenyum kecut sambil membetulkan letak kacamata. "Oh, ya... terasa... khasiatnya."
Di sepanjang jalan, warga desa yang sudah di-breafing berdiri berjejer. Mereka tidak menuntut perbaikan jalan. Sebaliknya, mereka melambai-lambaikan tangan dengan kaki telanjang yang penuh lumpur.
"Terima kasih Pak Dirjen! Jalan ini sehat! Kaki kami kuat!" teriak seorang ibu sambil menggendong anaknya, padahal dalam hati ia ingin melempar sandal ke arah rombongan itu.
Mereka tiba di "Kawah Candradimuka", lubang terbesar di tengah desa. Paijo meminta rombongan berhenti.
"Ini, Pak, adalah masterpiece kami," kata Solihin, menunjuk kubangan air keruh itu. "Ini bukan banjir, Pak. Ini adalah teknologi Water Catchment Area terintegrasi di tengah jalan. Kalau hujan, air masuk sini semua, jadi tidak lari ke mana-mana. Kami berkorban demi sekecamatan, Pak."
Pak Dirjen turun dari gerobak, dibantu tiga ajudan agar kakinya tidak menyentuh tanah. Ia memandang kubangan itu dengan tatapan filosofis palsu.
"Luar biasa," gumam Pak Dirjen. Ia menoleh ke staf pencatatnya. "Catat ini. Kearifan lokal berbasis mitigasi bencana. Ini bisa jadi percontohan nasional. Kenapa kita harus buang uang triliunan untuk aspal kalau kita bisa pakai lumpur untuk menyelamatkan bumi?"
"Betul sekali, Pak!" seru Mbah Gendon yang tiba-tiba muncul di sampingnya, menyeringai memamerkan gusi ompongnya. "Di sini, Pak, kalau jatuh dari motor itu ndak sakit. Jatuhnya empuk. Langsung luluran. Kami warga desa jadi awet muda semua."
Pak Dirjen tertawa, tawa renyah khas orang yang perutnya kenyang. "Hebat, hebat. Saya suka semangat desa ini. Tidak manja, tidak cengeng minta pembangunan fisik, tapi mengedepankan pembangunan mental dan lingkungan."
***
Acara puncak pun tiba. Pita merah dibentangkan di atas dua tongkat bambu yang ditancapkan di pinggir kubangan lumpur.
Pak Dirjen berdiri di atas papan kayu agar sepatunya aman. Mikrofon disodorkan. Suasana hening, hanya suara mooo dari sapi Ponirah yang terdengar sesekali.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian," suara Pak Dirjen menggema, memantul di dinding-dinding rumah warga yang kusam.
"Hari ini, saya melihat masa depan Indonesia. Desa Pulerejo telah mengajarkan kita bahwa kemajuan tidak harus berupa beton dan aspal. Kemajuan adalah bagaimana kita berdamai dengan alam. Jalan ini..." ia menunjuk lumpur cokelat di bawahnya, "...adalah simbol perlawanan kita terhadap modernisasi yang merusak. Dengan ini, saya resmikan Kawasan Konservasi Jalan Alami Desa Pulerejo!"
Cekrek! Cekrek! Kamera ajudan dan wartawan lokal bayaran berbunyi sahut-menyahut.
Pak Dirjen menggunting pita. Potongan pita itu jatuh perlahan, mendarat dengan anggun di atas permukaan lumpur, lalu perlahan tenggelam ditelan bumi, menyusul dana desa yang sudah lebih dulu hilang.
Tepuk tangan membahana. Solihin bertepuk tangan paling keras, saking kerasnya telapak tangannya panas. Ia bukan bertepuk tangan karena bangga, tapi karena lega lehernya masih menyatu dengan badan.
Sebelum pulang, Pak Dirjen menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada Solihin. "Ini ada sedikit apresiasi untuk inovasi desa. Teruskan, Pak Kades. Jangan sampai jalan ini diaspal. Hilang nanti nilai estetikanya."
"Siap, laksanakan, Pak!" Solihin membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan senyum getirnya.
Rombongan pun pulang. Mobil-mobil mewah itu berjuang keras memutar balik, bannya mencipratkan lumpur ke wajah para warga yang masih tersenyum palsu. Setelah mobil terakhir hilang di tikungan, desa kembali hening.
***
Seminggu kemudian.
Hujan kembali turun dengan derasnya, mengubah "Kawasan Konservasi" itu kembali menjadi neraka duniawi. Papan nama "Kawah Candradimuka" sudah miring dan hampir roboh.
Pagi itu, tukang pos datang mengantarkan surat baru dari Kementerian Pusat. Solihin membukanya di teras Balai Desa, ditemani Mbah Gendon dan Paijo yang sedang menikmati kopi hasil traktir amplop Pak Dirjen kemarin.
Mata Solihin membelalak membaca surat itu.
"Apa isinya, Pak? Proyek baru?" tanya Paijo antusias.
Solihin lemas. Surat itu jatuh ke lantai.
"Surat Keputusan Menteri," baca Solihin dengan suara parau. "Menetapkan Desa Pulerejo sebagai Situs Cagar Budaya Jalan Tanah. Melarang segala bentuk pengerasan jalan, pengaspalan, atau betonisasi demi menjaga keaslian ekosistem."
Paijo tersedak kopinya. Mbah Gendon tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar menyakitkan.
"Dan..." lanjut Solihin, "Anggaran pembangunan jalan tahun depan DIHAPUS. Diganti dengan anggaran 'Pemeliharaan Kubangan dan Budidaya Cacing' sebesar lima juta rupiah per tahun."
Suasana hening. Hanya suara hujan yang menghantam atap seng balai desa.
"Selamat, Pak Kades," kata Mbah Gendon sambil menepuk bahu Solihin. "Sampeyan sukses besar. Sekarang kita resmi jadi museum kemiskinan. Lubang di depan itu akan abadi. Anak cucu kita nanti bisa piknik di situ sambil mengenang betapa pintarnya pejabat kita."
Di luar, seorang pengendara motor terperosok ke dalam lubang "Kawah Candradimuka". Bunyi gubrak terdengar keras, diikuti sumpah serapah.
"Woy! Siapa yang naruh kolam lele di tengah jalan ini?!" teriak pengendara itu.
Solihin tidak menjawab. Ia hanya menatap nanar ke arah hujan, membayangkan sepatu mengkilap Pak Dirjen, dan menyadari bahwa di negeri ini, kadang-kadang menjadi kreatif adalah satu-satunya cara untuk menertawakan nasib buruk yang tak kunjung usai.
Jalan itu tetap becek. Tetap berlubang. Dan sekarang, berkat stempel resmi pemerintah, lubang itu dilindungi undang-undang.
Selesai