Angin sepoi dari arah Selat Malaka biasanya membawa kesejukan di pelataran kampus hijau di Bireuen itu, namun bagi Desi, angin itu hanya membawa bisikan masa lalu yang tak pernah selesai ia susun. Ia duduk di kursi baris kedua dari depan, mengenakan kerudung segiempat yang disematkan rapi, persis seperti penampilannya lima tahun yang lalu. Di atas mejanya, sebuah buku tulis bergaris dan sebatang pulpen tertata simetris. Matanya fokus menatap dosen di depan, sesekali jemarinya bergerak lincah mencatat poin-poin tentang metodologi penelitian.
Bagi mahasiswa baru yang tak tahu-menahu, Desi adalah sosok mahasiswi teladan. Ia pendiam, tekun, dan selalu hadir sepuluh menit sebelum kelas dimulai. Namun bagi para dosen senior dan pegawai administrasi yang telah menua bersama gedung-gedung itu, Desi adalah monumen hidup dari sebuah tragedi yang tak berdarah, namun mematikan jiwa.
Semua bermula pada sebuah malam di penghujung semester delapan, tahun yang seharusnya menjadi tahun kemenangan bagi Desi. Desi bukanlah anak orang kaya. Ayahnya hanya seorang buruh tani di pedalaman Bireuen yang menyisihkan tiap rupiah dari hasil peluh di sawah demi melihat putri sulungnya memakai toga. Desi membalas perjuangan itu dengan prestasi. Skripsinya tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal dianggap sebagai salah satu karya paling brilian di angkatannya.
Ia memiliki seorang sahabat karib, sebut saja namanya Rahma. Mereka bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Di mana ada Desi, di situ ada Rahma. Rahma yang sering tertinggal dalam pelajaran, Rahma yang sering menangis karena bimbingannya ditolak, dan Rahma yang selalu mendapat bantuan cuma-cuma dari Desi. Malam itu, di kontrakan kecil mereka, Desi baru saja menyelesaikan revisi terakhir. File itu disimpan dalam sebuah flashdisk berwarna biru, dan draf cetaknya tergeletak rapi di atas meja belajar.
"Sedikit lagi, Rahma. Besok aku setor ke dosen pembimbing, lalu kita bisa sidang bersama," ujar Desi malam itu dengan mata berbinar. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum Rahma, ada rasa iri yang telah lama membusuk menjadi dendam.
Pagi harinya, Desi terbangun dalam kesunyian yang ganjil. Rahma tidak ada. Tas laptopnya kosong. Flashdisk birunya hilang. Bahkan tumpukan kertas draf di meja pun raib tanpa sisa. Desi panik, mengira ada pencuri masuk. Namun, pintu terkunci dari dalam dan barang-barang berharga lainnya tetap utuh. Hanya skripsinya—buah pikirannya selama satu setengah tahun, harapan ayahnya, dan tiket masa depannya—yang hilang.
Dua hari kemudian, kabar itu meledak seperti bom di telinga Desi. Rahma telah menyerahkan skripsi yang identik ke jurusan. Rahma mengklaim itu adalah karyanya yang dikerjakan diam-diam di kampung halaman. Karena Rahma lebih dulu mendaftar sidang, sistem administrasi mencatatnya sebagai pemilik sah ide tersebut. Saat Desi mencoba membela diri, ia tidak punya bukti. Laptopnya telah diformat ulang secara profesional oleh seseorang yang disewa Rahma. Draf fisiknya telah dibakar.
Dunia Desi runtuh seketika. Pengkhianatan itu bukan sekadar pencurian karya, melainkan pembunuhan karakter. Rahma memutarbalikkan fakta, memfitnah Desi sebagai orang yang depresi dan mencoba menjiplak karyanya. Di tengah tekanan itu, Desi melihat ayahnya datang ke kampus dengan jas tua yang disewa, membawa kabar bahwa sawah terakhir mereka telah digadaikan untuk biaya wisuda yang ia kira sudah di depan mata.
Melihat wajah renta ayahnya yang penuh harap, sesuatu di dalam kepala Desi pecah. Ia tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya tersenyum, lalu pingsan.
Sejak hari itu, Desi kehilangan sebagian dari dirinya. Ia didiagnosis mengalami depresi berat yang berujung pada gangguan ingatan disosiatif. Baginya, waktu berhenti di semester delapan. Ia lupa bahwa Rahma sudah lulus dan menghilang entah ke mana. Ia lupa bahwa tahun-tahun telah berganti. Yang ia tahu, ia harus pergi ke kampus, mengikuti kuliah, dan menyelesaikan "revisi" skripsinya.
Pihak universitas di Bireuen itu menunjukkan sisi kemanusiaan yang luar biasa. Para dosen tidak tega mengusirnya. Mereka tahu kebenarannya setelah Rahma menghilang tanpa jejak karena rasa bersalah yang mungkin menghantuinya, atau mungkin karena ia memang ingin melupakan semuanya. Rektorat mengizinkan Desi tetap berada di lingkungan kampus. Ia diberikan kartu mahasiswa khusus yang membolehkannya masuk ke kelas mana saja yang ia inginkan.
Setiap pagi, Desi akan berpamitan pada ayahnya yang kini sudah sangat tua dan bungkuk. Ayahnya, dengan air mata yang disembunyikan, selalu mengangguk dan memberikan uang jajan yang tak seberapa. "Belajar yang rajin, Nak. Cepat selesaikan skripsinya," bisik lelaki tua itu setiap hari, merawat khayalan putrinya agar jiwanya tidak hancur sepenuhnya.
Di dalam kelas, Desi adalah bayangan yang tekun. Suatu hari, seorang dosen muda yang baru bertugas dan belum mengetahui kisah Desi, menegurnya di tengah perkuliahan. "Saudari Desi, kenapa Anda mencatat materi ini? Bukankah Anda sudah mengambil mata kuliah ini bertahun-tahun lalu?"
Satu kelas mendadak hening. Mahasiswa lain yang sudah tahu cerita itu menunduk, tak berani menatap ke depan. Desi mendongak, menatap dosen itu dengan tatapan yang sangat jernih namun kosong. "Saya harus memperbaiki bab empat, Pak. Dosen pembimbing bilang datanya kurang kuat. Kalau saya tidak lulus tahun ini, ayah saya akan sedih."
Dosen muda itu terpaku. Ia melihat buku catatan Desi. Isinya bukan lagi materi kuliah, melainkan coretan-coretan skripsi yang sama, ditulis berulang-ulang selama bertahun-tahun. Kalimat yang sama, paragraf yang sama, harapan yang sama. Ia sedang mencoba menyusun kembali kepingan yang dicuri darinya, namun ingatannya terus berputar seperti piringan hitam yang rusak.
Seringkali, saat jam istirahat, Desi duduk di kantin sendirian. Ia akan memesan dua gelas teh manis. Ia meletakkan gelas kedua di kursi kosong di depannya. "Ayo minum, Rahma. Jangan begadang terus, nanti kamu sakit," ucapnya pada ruang hampa. Ia masih menganggap pengkhianatnya sebagai sahabat yang perlu diperhatikan. Baginya, Rahma masih di sana, masih bersamanya berjuang menuju toga.
Kesedihan yang paling dalam bagi orang-orang di sekitarnya adalah ketika melihat Desi pulang kuliah. Ia akan berdiri di gerbang kampus, menatap jalan raya dengan binar mata yang penuh antisipasi. Ia menunggu seseorang yang tak akan pernah datang menjemputnya dengan kabar bahwa skripsinya telah ditemukan.
Pernah suatu ketika, seorang teman angkatannya yang sudah sukses dan menjadi pejabat di daerah itu berkunjung ke kampus. Ia melihat Desi duduk di bawah pohon beringin, sedang mengoreksi tumpukan kertas kosong dengan pulpen merah. Teman itu mendekat dan memanggil namanya. Desi menoleh, namun tidak mengenalnya.
"Des, ini aku, Anwar. Kamu ingat?"
Desi tersenyum sopan, senyum yang biasa ia berikan kepada orang asing. "Maaf, Kak. Saya sedang sibuk. Skripsi saya hilang diambil orang, jadi saya harus menulisnya dari awal lagi. Jangan beritahu Ayah ya, kasihan beliau."
Anwar berbalik dan menangis di dalam mobilnya. Ia teringat betapa cerdasnya Desi dulu. Ia teringat bagaimana Desi sering mengajari mereka di perpustakaan. Kini, kecerdasan itu terperangkap dalam penjara waktu yang diciptakan oleh rasa sakit yang tak tertanggungkan.
Pihak kampus pernah mencoba membujuk Desi untuk pulang dan beristirahat secara permanen, namun setiap kali mereka mencoba melarangnya masuk kelas, Desi akan berdiri di depan pintu ruang dekan dan menangis dalam diam selama berjam-jam. Ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana, air mata mengalir deras, memegang buku tulisnya seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya. Akhirnya, mereka menyerah. Biarlah Desi menjadi "mahasiswi abadi". Biarlah ia mencari keadilan dengan caranya sendiri, meski itu hanya di dalam pikirannya yang terluka.
Kini, di Kabupaten Bireuen, jika Anda melewati kampus tersebut dan melihat seorang wanita dengan tas punggung yang agak usang namun langkah yang mantap menuju kelas, itulah Desi. Ia adalah pengingat bagi siapa saja bahwa pengkhianatan bukan hanya tentang kehilangan materi atau posisi. Pengkhianatan bisa mencuri kewarasan seseorang, bisa membekukan waktu, dan bisa meninggalkan luka yang bahkan waktu pun enggan menyembuhkannya.
Desi masih di sana, mencatat setiap kata dari dosen, berharap suatu hari nanti, saat ia membuka matanya di pagi hari, flashdisk biru itu kembali ada di atas mejanya, dan Rahma sedang menyeduh kopi sambil meminta maaf. Namun hingga matahari terbenam di ufuk barat Aceh, keajaiban itu tak pernah datang. Yang tersisa hanyalah Desi dan catatan-catatan tak berujungnya, setia menunggu sebuah kelulusan yang sudah lama dirampas darinya. Ia adalah penyintas yang gagal sembuh, yang kebahagiaannya kini hanyalah sebatas bisa duduk di dalam kelas, merasa bahwa masa depannya masih mungkin untuk diraih, setidaknya sampai lonceng kampus berbunyi dan ia harus kembali ke rumah, ke pelukan ayahnya yang renta, membawa beban skripsi yang tak akan pernah selesai diuji.