Sera tahu sejak awal… hubungan ini tidak akan mudah.
Jeny—laki-laki yang lebih muda darinya—datang seperti angin segar dalam hidupnya. Cara Jeny tertawa, cara dia memperlakukan Sera dengan tulus, membuat Sera merasa hidup kembali. Tapi satu hal yang jadi tembok besar: Papa Sera.
Papa tidak pernah setuju.
“Dia terlalu muda. Kamu nggak serius, Ra,” begitu kata papanya waktu pertama kali tahu.
Hari itu, rumah Sera kosong. Mama dan Papa pergi ke acara pernikahan keluarga dari pagi sampai malam. Sera sempat ikut, tapi hanya sebentar. Hatinya gelisah, karena sudah janji bertemu Jeny.
Sore menjelang ketika Jeny akhirnya datang.
Mereka duduk di kamar, awalnya hanya ngobrol ringan. Tapi suasana berubah. Ada rindu yang tertahan, ada cinta yang ingin diluapkan. Jeny menggenggam tangan Sera, menatapnya dalam-dalam.
“Aku kangen,” bisiknya.
Sera tersenyum, meski ada sedikit rasa takut di hatinya.
“Aku juga…”
Waktu seolah berhenti. Mereka larut dalam perasaan masing-masing—pelukan hangat, detak jantung yang semakin cepat, dan dunia yang terasa hanya milik berdua.
Namun tiba-tiba…
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Sera tersentak.
“Sera… buka pintunya.”
Itu suara Mama.
Darah Sera seperti berhenti mengalir.
“Ya Tuhan… Mama…” gumamnya panik.
Dengan cepat, mereka berpisah. Jeny terlihat sama gugupnya. Tanpa pikir panjang, Sera menyuruhnya bersembunyi di bawah ranjang.
“Cepat! Jangan bersuara,” bisik Sera dengan napas memburu.
Ia merapikan diri secepat mungkin, lalu membuka pintu.
Dan benar… Mamanya berdiri di sana.
“Kamu nggak jadi ikut sampai malam?” tanya Mama santai.
Sera mencoba tersenyum normal, meski jantungnya hampir meledak.
“Enggak, Ma… capek.”
Mama masuk sebentar, bercerita tentang acara tadi, tanpa tahu apa yang baru saja hampir terjadi. Sera hanya mengangguk, setengah mendengar, setengah fokus pada rasa takut.
Setelah beberapa menit, Mama keluar kamar.
Sera langsung mengunci pintu dan bersandar, menarik napas panjang.
“Udah aman…” bisiknya.
Perlahan, Jeny keluar dari bawah ranjang, wajahnya campur aduk antara takut dan geli.
“Gila… aku hampir ketahuan jadi ‘hantu bawah kasur’,” katanya pelan.
Sera tertawa kecil, tapi matanya masih menyimpan ketegangan.
Mereka saling menatap.
Ada sesuatu yang berubah.
Bukan lagi sekadar rasa rindu… tapi juga kesadaran bahwa hubungan ini penuh risiko.
“Ra…” kata Jeny pelan, “aku nggak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara aku.”
Sera menggeleng.
“Aku juga nggak mau kehilangan kamu.”
Senja mulai turun di balik jendela kamar. Cahaya oranye masuk, menyinari mereka berdua yang berdiri di antara rasa cinta dan ketakutan.
Pintu sudah terkunci.
Suasana kamar mendadak sunyi, hanya suara napas mereka yang masih belum stabil. Sera bersandar di pintu, memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Jantungnya masih berdetak kencang—antara takut… dan sesuatu yang lain.
Jeny berdiri tak jauh darinya, menatap Sera dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada sisa kepanikan, tapi juga ada rasa rindu yang belum tuntas.
“Kita hampir ketahuan…” bisik Jeny pelan.
Sera membuka mata, menatapnya.
“Iya… tapi kita nggak ketahuan,” jawabnya, suaranya pelan, sedikit gemetar.
Beberapa detik mereka hanya saling diam. Tapi justru dalam diam itu, perasaan mereka semakin terasa kuat. Ketegangan tadi berubah menjadi sesuatu yang hangat… dan dalam.
Jeny melangkah mendekat.
Pelan.
Hati-hati.
Seolah takut kalau semua ini tiba-tiba hilang.
“Sera…” panggilnya lirih.
Sera tidak menjawab, tapi tatapannya cukup. Ia tidak menjauh. Tidak juga menolak. Justru perlahan, ia mendekatkan diri.
Jeny menggenggam tangannya.
Hangat.
Nyaman.
Seolah dunia di luar kamar itu tidak ada.
“Kamu yakin…?” tanya Jeny, kali ini lebih serius.
Sera tersenyum tipis.
“Dari tadi aku nggak pernah mundur, kan?”
Kalimat itu membuat Jeny ikut tersenyum. Ia lalu menarik Sera ke dalam pelukannya. Kali ini lebih pelan, lebih dalam—bukan hanya karena keinginan, tapi juga karena perasaan yang sudah terlanjur tumbuh.
Di luar, suara Mama terdengar samar dari ruang tengah. Membuat suasana makin terasa menegangkan… tapi juga anehnya membuat mereka semakin dekat.
Sera memejamkan mata di bahu Jeny.
“Aku takut…” bisiknya jujur.
Jeny mengusap pelan rambutnya.
“Aku juga. Tapi aku nggak mau ninggalin kamu.”
Kalimat itu membuat Sera terdiam.
Perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap Jeny. Ada keyakinan di mata laki-laki itu—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.
Mereka kembali saling mendekat.
Bukan tergesa-gesa seperti sebelumnya.
Kali ini lebih tenang.
Lebih dalam.
Setiap sentuhan terasa seperti janji. Setiap pelukan terasa seperti pengakuan.
Waktu berjalan pelan.
Senja di luar jendela berubah menjadi malam.
Dan di kamar itu, Sera dan Jeny tidak lagi hanya menyembunyikan hubungan mereka dari dunia… tapi juga mulai memahami bahwa apa yang mereka jalani bukan sekadar rasa sesaat.
Ini lebih dari itu.
Namun di balik semua kehangatan itu, ada satu hal yang tidak bisa mereka hindari—
Cepat atau lambat…
Papa Sera akan tahu.
Dan saat itu tiba, mereka harus memilih—
bertahan… atau melepaskan.
####
Hari itu seharusnya biasa saja.
Sera dan Jeny hanya ingin makan bersama. Duduk berdua di sebuah restoran sederhana, tertawa kecil, berbagi cerita seperti pasangan pada umumnya.
Tidak ada yang istimewa—hanya kebahagiaan kecil yang mereka curi di tengah hubungan yang harus disembunyikan.
Namun mereka lupa satu hal…
Dunia tidak selalu berpihak.
Pemilik restoran itu—teman lama Papa Sera—melihat mereka.
Dan tanpa ragu, kabar itu sampai ke telinga Papa.
Malamnya, rumah Sera berubah jadi tempat paling menakutkan.
Papa berdiri di ruang tengah, wajahnya penuh amarah. Sera berdiri di depannya, menunduk, sementara Mama duduk di sofa dengan wajah cemas.
“Jadi ini yang kamu sembunyikan dari Papa?” suara Papa berat, menahan emosi.
Sera diam.
“Jawab!” bentaknya membuat Sera tersentak.
“Iya, Pa…” jawabnya lirih.
Papa tertawa sinis.
“Kamu masih berani jalan sama dia? Setelah Papa bilang tidak?”
Air mata mulai menggenang di mata Sera.
“Dia baik, Pa…”
“BAIK?” potong Papa keras. “Baik menurut kamu belum tentu baik untuk masa depan kamu!”
Mama akhirnya ikut bicara, suaranya lebih lembut tapi tegas.
“Sera… Mama cuma mau kamu mikir. Hubungan itu nggak cuma soal perasaan. Ada masa depan, ada tanggung jawab…”
Sera menggigit bibirnya.
“Tapi aku sayang dia, Ma…”
Suasana hening sesaat.
Lalu Papa berkata pelan, tapi menusuk—
“Kalau kamu tetap pilih dia… jangan harap Papa restui.”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam dada Sera.
Ia tidak menjawab lagi. Kakinya terasa lemas. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Malam itu, kamar Sera kembali jadi saksi.
Bukan lagi tentang rahasia…
tapi tentang kehilangan.
Sera duduk di lantai, memeluk lututnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Ponselnya ada di tangan. Nama Jeny terpampang di layar.
Tangannya gemetar saat mengetik pesan.
“Kita harus selesai…”
Ia berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
“Maaf… aku nggak bisa lanjut.”
Air matanya jatuh lebih deras.
Akhirnya, dengan hati yang terasa hancur—
ia menekan tombol kirim.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Telepon masuk.
Jeny.
Sera menatap layar itu lama… sangat lama…
lalu menolak panggilan itu.
Ia tahu, kalau ia mengangkatnya, ia tidak akan kuat.
Pesan masuk lagi.
“Sera, kenapa?”
“Aku salah apa?”
“Tolong jangan gini…”
Sera menutup wajahnya, menangis semakin keras.
“Aku yang salah…” bisiknya di sela tangis.
Di luar kamar, Mama berdiri diam di depan pintu. Ia mendengar tangisan anaknya, dan hatinya ikut hancur.
Tapi sebagai orang tua, ia percaya—
ini adalah luka yang harus dilewati Sera.
Malam semakin larut.
Tangisan Sera perlahan mereda, berganti dengan keheningan yang menyakitkan.
Ia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit.
Bayangan Jeny terus muncul di pikirannya—senyumnya, suaranya, cara dia memanggil namanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Sera benar-benar merasa kehilangan.
Beberapa hari kemudian, semuanya berubah.
Tidak ada lagi pesan dari Jeny.
Tidak ada lagi tawa diam-diam di kamar.
Tidak ada lagi pertemuan singkat penuh rindu.
Yang tersisa hanya kenangan…
dan luka yang belum sembuh.
Sera berdiri di depan jendela kamarnya, menatap langit senja.
Pelan, ia tersenyum… meski matanya masih menyimpan sisa kesedihan.
“Aku pernah bahagia…” bisiknya.
Dan itu cukup.
Karena kadang…
cinta tidak harus memiliki untuk terasa nyata.
Kadang…
melepaskan adalah bentuk cinta yang paling menyakitkan—
sekaligus paling tulus.
Tamat.