Hutan Kalimantan bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Saat matahari tenggelam di balik kanopi pohon-pohon raksasa yang rapat, hutan itu berubah menjadi entitas lain. Gelapnya pekat, seolah menyerap cahaya senter terkuat sekalipun. Suara-suara malam mulai terdengar: dengungan serangga yang memekakkan telinga, derit dahan yang bergesekan, dan—jika kau sial—suara kepakan sayap yang pelit namun berat, serta tetesan cairan kental yang jatuh ke tanah.
Kecipak... Kecipak...
Roni membeku. Remaja kota itu baru saja menginjakkan kaki di desa terpencil di pedalaman Kutai, Kalimantan Timur, untuk mengunjungi neneknya. Ini malam pertamanya, dan dia sudah melanggar aturan emas Nenek Ida: "Jangan pernah membuka jendela setelah magrib."
Tapi udara malam itu gerah, dan Roni butuh angin. Dia membuka sedikit celah jendela nako di kamarnya yang terletak di lantai dua rumah panggung kayu itu. Dia hanya ingin melihat kegelapan hutan. Namun, kegelapan hutanlah yang melihatnya lebih dulu.
Suara kecipak itu semakin dekat. Baunya menyengat—amis darah dan busuk bangkai yang bercampur dengan aroma melati yang anehnya sangat kuat. Roni memberanikan diri mengintip melalui celah jendela.
Awalnya, dia tidak melihat apa-apa selain kegelapan. Lalu, dia melihat sepasang mata.
Dua bola mata itu menyala merah delima di tengah kegelapan, melayang di udara, setinggi dahan pohon mangga di luar jendelanya. Di bawah mata itu, seringai lebar yang mengerikan terbuka, memperlihatkan barisan gigi runcing berwarna hitam.
Tapi itu bukan bagian terburuknya.
Saat bayangan itu bergerak mendekat ke arah cahaya remang-remang dari kamar Roni, remaja itu tersentak, tenggorokannya tercekat, bahkan untuk berteriak pun tidak bisa.
Itu adalah kepala wanita. Hanya kepala. Rambut hitamnya yang panjang dan kusut berkibar-kibar ditiup angin, seperti tentakel hitam yang kelaparan. Dan di bawah lehernya yang putus...
Roni muntah di dalam hati. Di bawah leher itu, menjuntai gumpalan organ dalam: jantung yang masih berdenyut kencang memompa darah hitam, paru-paru yang kembang kempis, dan usus-usus panjang yang melilit-lilit, berlumuran cairan lendir kental yang menetes-netes ke tanah.
Kecipak... Kecipak... Bunyi usus basah yang menghantam dedaunan.
Itu Kuyang.
Nenek Ida tidak berbohong. Mitos itu nyata. Dan makhluk itu sedang menatapnya, lapar.
***
Asal-usul Kuyang tidaklah indah. Ini bukan cerita tentang peri hutan atau roh pelindung. Ini adalah cerita tentang kerakusan, ilmu hitam, dan kutukan yang diwariskan melalui darah dan dosa.
Ratusan tahun yang lalu, di sebuah desa yang kini telah hilang ditelan hutan, hiduplah seorang wanita bernama Galuh. Galuh adalah wanita paling cantik di wilayah itu, tapi kecantikannya adalah kutukan baginya. Dia takut menjadi tua. Dia takut keriput akan merenggut kekaguman orang-orang darinya.
Galuh terobsesi pada keabadian. Dia mulai mempelajari naskah-naskah kuno yang dilarang, yang ditulis di atas kulit manusia. Dia memanggil roh-roh jahat hutan, menawarkan tumbal demi resep awet muda. Roh-roh itu menjawab panggilannya, tapi dengan harga yang mengerikan.
Mereka memberinya ramuan minyak khusus, Minyak Kuyang, yang terbuat dari campuran lemak bayi yang baru lahir dan darah nifas wanita yang mati saat melahirkan. Syaratnya: ramuan itu harus dioleskan ke leher setiap malam bulan purnama.
Galuh melakukannya. Kecantikannya menjadi abadi. Kulitnya tetap sekencang porselen, matanya tetap sebening embun. Namun, ada efek sampingnya.
Setiap kali dia mengoleskan minyak itu, jiwanya menjadi terikat pada kegelapan. Dan seiring berjalannya waktu, ramuan itu membutuhkan "bahan bakar" yang lebih kuat. Minyak itu tidak lagi cukup. Galuh harus mengonsumsi darah secara langsung.
Suatu malam, saat suaminya terlelap, Galuh merasa lehernya gatal luar biasa. Panas membakar. Dia berlari ke cermin. Dia melihat garis merah melingkar di lehernya. Panas itu semakin tak tertahankan.
Dia mulai menarik napas pendek-pendek, terengah-engah. Tiba-tiba, suara krek keras terdengar. Tulang lehernya patah.
Galuh menjerit, tapi suaranya bukan lagi suara manusia. Itu adalah pekikan melengking yang memecahkan keheningan malam. Kulit di lehernya robek. Darah menyembur.
Dan perlahan, kepalanya mulai terangkat dari tubuhnya.
Kepala itu melayang, memisahkan diri, menarik ikut seluruh organ dalamnya keluar dari rongga dada yang menganga. Jantung, paru-paru, hati, usus—semuanya ikut terbang, tergantung mengerikan di bawah kepalanya. Tubuh tanpa kepalanya ambruk di depan cermin, seperti onggokan daging mati.
Kepala Galuh, yang kini sepenuhnya menjadi Kuyang, terbang keluar jendela, didorong oleh rasa lapar yang amat sangat. Malam itu, dia memangsa bayi pertama di desa itu. Kejahatan pertamanya. Keabadian Galuh telah dimulai, tapi dengan wujud monster.
***
Roni mundur perlahan, menjauhi jendela. Makhluk itu, Kuyang, mendekat. Wajah cantiknya—jika kau bisa mengabaikan mata merah dan gigi hiu itu—menempel di kaca jendela. Dia menjilat kaca itu dengan lidahnya yang panjang dan bercabang, menyisakan jejak lendir amis.
Dia bisa mencium bau ketakutan Roni. Darah muda yang segar.
Roni meraba-raba di kegelapan kamarnya, mencari apa saja yang bisa digunakan sebagai senjata. Jarinya menyentuh sebuah buku tebal—kamus bahasa Inggris. Payah, batinnya. Dia melempar buku itu ke jendela.
TUK! Buku itu menghantam kaca, membuat Kuyang itu tersentak mundur sedikit. Tapi itu hanya membuatnya semakin marah.
Makhluk itu mendesis. Dia menggerakkan usus-ususnya yang panjang seperti cambuk, menghantam jendela kayu itu.
BRAK! Jendela itu bergetar hebat.
BRAK! Satu bilah kayu nako patah.
Roni berteriak. Dia berlari menuju pintu, tapi kakinya lemas. Dia jatuh tersungkur.
Kuyang itu memasukkan satu jumbai ususnya melalui celah jendela yang patah. Usus itu basah, dingin, dan bergerak seperti ular di lantai kamar Roni, merayap menuju kakinya.
Roni mencoba merangkak mundur, tapi usus itu terlalu cepat. Usus dingin itu melilit pergelangan kakinya. Roni merasakan lendir yang membakar kulitnya. Dia berteriak histeris, menendang-nendang.
"NENEK! NENEK IDA! TOLONG!"
Di lantai bawah, Nenek Ida terbangun. Dia mendengar teriakan cucunya dan suara hantaman di lantai atas. Wajah keriputnya memucat. Dia tahu persis apa yang terjadi.
Dia berlari ke dapur, mengambil sebuah tampah besar yang terbuat dari anyaman bambu. Di atas tampah itu, dia menaburkan garam kasar, potongan bawang merah, bawang putih, dan beberapa helai daun kelor. Ini adalah senjata pertahanan diri kuno melawan Kuyang.
Dia berlari menaiki tangga kayu dengan cepat, meski usianya sudah lanjut.
Di kamar, Kuyang itu mulai menarik Roni menuju jendela. Roni mencengkeram kaki ranjang, kuku-kukunya memutih karena tekanan. Kekuatan makhluk itu luar biasa. Wajah Kuyang itu kembali menempel di jendela, seringainya semakin lebar. Usus yang melilit kaki Roni menariknya semakin kuat. Tubuh Roni terseret di atas lantai kayu.
Pintu kamar terbanting terbuka.
Nenek Ida berdiri di sana, tampah di tangannya. Dia tidak membuang waktu.
"PERGI KAU, MAKHLUK TERKUTUK!" teriak Nenek Ida, suaranya menggelegar.
Dia melemparkan campuran garam, bawang, dan daun kelor itu ke arah jendela, tepat ke arah wajah Kuyang dan usus yang melilit kaki Roni.
SREEEET!
Suara desisan keras terdengar, seperti daging yang dipanggang di atas bara api. Kuyang itu menjerit kesakitan saat garam murni mengenai organ dalamnya yang terbuka. Usus-ususnya mengerut dan melepaskan lilitannya dari kaki Roni. Garam dan daun kelor adalah racun bagi daging gaib Kuyang.
Makhluk itu mundur dengan cepat, terbang menjauh dari jendela, menjerit-jerit ke arah kegelapan hutan. Bau amis dan busuk perlahan memudar, menyisakan bau anyir darah dan daun kelor di kamar itu.
Roni terengah-engah di lantai, tubuhnya gemetar hebat. Nenek Ida berlari menghampirinya, memeluknya erat.
"Sudah Nenek bilang, jangan pernah buka jendela," bisik Nenek Ida, air mata menetes di wajahnya.
***
Malam itu mereka tidak tidur. Nenek Ida duduk di samping ranjang Roni, memegang tampah berisi garam. Dia bercerita lebih banyak tentang Kuyang.
Kuyang tidak bisa dibunuh dengan cara biasa. Pedang atau peluru tidak mempan pada mereka. Hanya garam, bawang, dan terutama daun kelor yang bisa melukai organ dalamnya. Ada satu cara lagi yang lebih mengerikan untuk membunuh Kuyang, tapi itu membutuhkan keberanian luar biasa.
"Kau harus menemukan tubuhnya tanpa kepalanya," kata Nenek Ida pelan. "Tubuh itu biasanya disembunyikan di semak-semak lebat atau di dalam lubang pohon di dekat rumahnya. Kuyang harus kembali ke tubuhnya sebelum matahari terbit. Jika dia tidak kembali, dia akan mati perlahan saat matahari membakar organ dalamnya."
"Jika kau menemukan tubuhnya, kau harus membalikkan posisi tubuh itu. Atau memasukkan benda tajam ke dalam lehernya yang terbuka. Saat kepalanya kembali dan mencoba masuk, dia tidak akan bisa. Organ dalamnya tidak akan pas lagi. Dan saat fajar tiba... dia akan hancur menjadi abu."
Nenek Ida menatap Roni dengan serius. "Kuyang tidak hanya berwujud monster, Roni. Di siang hari, mereka adalah manusia biasa. Bisa jadi tetangga kita, pedagang di pasar, atau bahkan orang yang paling kita hormati. Mereka memiliki tanda merah yang samar di leher mereka, atau mereka akan selalu memakai syal untuk menyembunyikannya. Dan mereka selalu terlihat jauh lebih muda dari usia aslinya."
Roni menelan ludah. "Tanda merah di leher... syal..."
Dia teringat sesuatu. Saat dia baru tiba di desa siang tadi, dia melihat seorang wanita muda yang sangat cantik di pasar. Wanita itu memakai syal sutra yang tebal, meskipun cuaca sangat panas. Wanita itu tersenyum padanya, dan Roni bersumpah, mata wanita itu sekejap berkilat merah.
Roni tidak berani tidur malam itu. Dia menatap jendela nako yang kini sudah dipaku rapat oleh Nenek Ida. Suara kepakan sayap di kejauhan masih terdengar, samar namun nyata. Legenda Kuyang bukan sekadar cerita untuk menakut-nakuti anak-anak. Itu adalah sejarah yang ditulis dengan darah, yang masih hidup, terbang, dan kelaparan di kegelapan hutan Kalimantan, menunggu satu lagi jendela yang terlupa untuk tidak dikunci.
Malam itu, Roni menyadari satu hal: dia tidak akan pernah melupakan suara kecipak usus yang menghantam dedaunan. Suara itu akan menghantuinya selamanya.