"Sedikit lagi, Anjani! Di depan ada tanah landai, kita istirahat di sana sebelum lanjut ke pos terakhir," seru Satya dari depan.
Rinjani hanya membalas dengan anggukan lemah. Satya, kekasihnya sekaligus ketua mapala di kampus mereka, selalu punya energi berlebih jika sudah menyentuh tanah pegunungan. Di belakang Rinjani, tiga teman lainnya Dion, Laras, dan Ghea masih asyik bersenda gurau, tawa mereka pecah sesekali, memecah kesunyian hutan Lawu yang mulai meremang.
Namun, perasaan Rinjani tidak enak. Sebagai pendaki yang sudah menaklukkan belasan puncak di Indonesia, ia punya insting yang tajam. Sore itu, alam terasa berbeda. Kabut yang turun bukan lagi kabut tipis yang biasa menyapa sore hari. Kabut ini putih pekat, bergerak cepat seperti makhluk hidup yang merayap, dan yang paling aneh... kabut itu beraroma melati yang sangat kuat, bercampur dengan bau tanah yang basah kuyup.
"Satya, tunggu!" panggil Rinjani.
Suaranya tertelan angin. Rinjani berhenti sejenak, membungkuk untuk membenarkan tali sepatunya yang sedikit longgar. Hanya butuh waktu sepuluh detik bagi Rinjani untuk mengikat simpul itu. Namun, ketika ia berdiri dan mendongak, dunianya berubah.
Putih. Hanya ada warna putih di depan matanya.
"Satya? Dion?" Rinjani memanggil, kali ini lebih keras.
Sunyi.
Ke mana perginya tawa Ghea yang melengking? Ke mana suara langkah sepatu bot Satya yang berat? Hutan itu mendadak kehilangan suaranya. Bahkan suara angin pun hilang, menyisakan kesunyian yang mencekam seolah telinga Rinjani baru saja disumbat kapas.
Panik mulai merayap di dadanya. Rinjani mencoba melangkah maju, tangannya meraba-raba udara, berharap menyentuh ransel teman di depannya. "Jangan bercanda, ya! Ini nggak lucu!" teriaknya lagi. Suaranya seolah memantul kembali ke wajahnya, tidak sampai ke mana pun.
Rinjani mempercepat langkahnya. Ia yakin Satya hanya beberapa meter di depan. Ia berlari kecil, menembus dinding putih yang dingin itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa jalur setapak yang ia pijak tadi sudah tidak ada. Kakinya menginjak tumpukan daun kering yang tebal, menyembunyikan kenyataan bahwa ia baru saja keluar dari jalur pendakian yang aman.
Krak!
Rinjani menginjak ranting patah, dan di detik berikutnya, pijakannya hilang. Tanah di bawah kakinya gembur, runtuh seketika.
"SATYA...!"
Teriakan itu terputus saat tubuh Rinjani meluncur jatuh. Ia tidak sempat berpegangan. Dunia berputar antara langit kelabu dan pepohonan yang kabur. Punggungnya menghantam dahan besar, rasa sakit yang tajam menghunjam sarafnya, sebelum akhirnya gravitasi membawanya terjun bebas menuju kegelapan di dasar jurang.
Byur!
Air yang sedingin es menyambut tubuhnya. Gelap merengkuh Rinjani sepenuhnya, menyeret kesadarannya ke dasar mata air yang sunyi.
Dingin. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa dirasakan Rinjani. Air sendang itu tidak hanya membasahi kulitnya, tapi seolah menyedot seluruh energi kehidupannya. Dengan paru-paru yang terasa mau pecah, Rinjani mengayunkan tangannya dengan liar hingga kepalanya berhasil memecah permukaan air.
"Hah... hah..."
Ia terengah-engah, menghirup udara malam yang tajam seperti sembilu. Di sekelilingnya, tebing-tebing batu yang tinggi menjulang, mengurungnya dalam sebuah ceruk rahasia yang tak tersentuh cahaya bulan. Dengan sisa tenaga, Rinjani merangkak menuju tepian yang berbatu. Setiap gerakan adalah siksaan, bahu kirinya berdenyut hebat mungkin bergeser saat menghantam dahan tadibdan kakinya terasa mati rasa.
Rinjani ambruk di atas lumut yang licin. Ia mencoba memeriksa tasnya. Carrier itu berat karena basah, namun syukurlah sebagian besar isinya terlindungi kantong kedap air. Namun, apa gunanya peralatan mendaki jika ia berada di dasar lubang yang tak terlihat jalan keluarnya?
Malam mulai mencapai puncaknya. Suhu turun drastis. Rinjani mulai menggigil hebat tahap awal hipotermia yang mematikan. Ia mencoba memantik api, namun jari-jarinya terlalu kaku untuk menekan pemantik. Kayu-kayu di sekitarnya pun lembap oleh embun abadi dasar jurang.
"Tolong..." bisiknya lirih. Suaranya serak, nyaris hilang ditelan suara gemericik air terjun kecil yang jatuh ke sendang.
Di saat itulah, kesunyian itu berubah. Bau melati yang tadi sempat menghilang kini kembali, lebih tajam dan lebih manis. Rinjani merasa ada sesuatu yang bergerak di kegelapan antara pepohonan pakis raksasa di depannya.
Awalnya ia mengira itu adalah macan tutul atau binatang buas lainnya. Ia memejamkan mata, bersiap untuk rasa sakit yang lebih parah. Namun, yang datang bukanlah taring atau cakar.
Sebuah langkah kaki yang ringan terdengar mendekat. Sruk... sruk... Langkah itu tenang, tidak terburu-buru.
Rinjani membuka mata sedikit. Di antara kabut tipis yang menyelimuti permukaan sendang, berdirilah seorang pria. Ia tampak begitu nyata, namun ada sesuatu yang janggal, pakaiannya. Pria itu mengenakan kemeja linen berwarna gading dengan kerah tinggi yang kaku, gaya yang hanya pernah Rinjani lihat di buku-buku sejarah atau museum kolonial.
Pria itu berdiri hanya tiga meter darinya. Wajahnya pucat, namun sangat tampan dengan garis wajah Eropa yang tegas. Matanya yang biru pucat menatap Rinjani dengan tatapan yang sulit diartikan antara kasihan, penasaran, dan... rindu yang amat sangat.
"Siapa?" suara Rinjani bergetar hebat.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju dan berlutut di samping Rinjani. Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa jengkal, Rinjani tidak merasakan hawa dingin mayat yang biasa diceritakan dalam dongeng horor. Sebaliknya, udara di sekitar pria itu mendadak hangat. Rasa hangat yang menjalar seperti saat kita mendekatkan tangan ke perapian di tengah musim dingin.
Tangan pria itu terangkat, seolah ingin menyentuh dahi Rinjani yang penuh luka, namun ia menghentikannya di udara.
"Willem," sebuah suara bergema. Bukan melalui telinga, melainkan langsung di dalam benak Rinjani. Suara itu dalam, tenang, dan memiliki aksen yang asing namun merdu.
Rinjani merasa kelopak matanya semakin berat. Rasa hangat yang dipancarkan pria bernama Willem ini begitu menenangkan. Ketakutannya perlahan luruh, digantikan oleh rasa aman yang tidak masuk akal.
"Willem..." eja Rinjani pelan sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
Cahaya matahari pagi yang malu-malu mencoba menembus lebatnya kanopi hutan saat Rinjani terbangun. Hal pertama yang ia sadari adalah, ia masih hidup.
Tubuhnya masih basah, tapi rasa hangat semalam masih tersisa di tulang-tulangnya. Willem sudah tidak ada di sampingnya. Namun, di atas batu tempatnya berbaring, terdapat beberapa buah hutan yang sudah terkumpul buah arbei hutan dan beberapa jenis kacang-kacangan yang tampak segar.
"Willem?" Rinjani duduk dengan meringis, memegangi bahunya yang kaku.
Tidak ada jawaban. Namun, ia melihat jejak kaki di atas tanah lembap di dekatnya. Jejak itu aneh sangat dangkal, seolah si pemilik kaki tidak memiliki beban berat badan yang nyata.
Hari itu, Rinjani mencoba mencari jalan keluar. Ia mengikuti aliran sungai kecil yang keluar dari sendang, berharap itu membawanya ke pemukiman warga atau jalur pendakian lama. Namun, hutan itu seolah memiliki nyawa sendiri. Setiap kali Rinjani merasa sudah berjalan lurus, ia selalu kembali ke tempat yang sama, Sendang itu.
"Aku tersesat," tangisnya pecah saat matahari mulai terbenam kembali di hari kedua. "Aku tidak bisa keluar dari sini!"
"Jangan menangis, Liefje." (panggilan sayang dalam bahasa Belanda)
Suara itu kembali muncul di kepalanya. Rinjani menoleh dan menemukan Willem sudah berdiri di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti rambut raksasa. Kali ini, sosoknya tampak lebih jelas di bawah cahaya senja yang kemerahan.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Rinjani, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.
Willem berjalan mendekat. Langkahnya tidak menimbulkan suara gesekan daun kering sama sekali. "Karena kamu bisa melihatku," bisik suara itu di benak Rinjani. "Seratus tahun aku berdiri di sini, menunggu seseorang yang memiliki 'frekuensi' yang sama denganku. Gunung ini tidak akan melepaskanmu dengan mudah, Rinjani. Tapi aku... aku akan menjagamu."
Willem duduk di hadapan Rinjani, dipisahkan oleh api unggun kecil yang entah bagaimana caranya sudah menyala, meskipun Rinjani yakin ia tidak berhasil menyalakannya tadi.
"Apa kamu hantu?" tanya Rinjani terus terang, meski ia sudah tahu jawabannya.
Willem tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan duka sedalam jurang tempat mereka berada. "Aku adalah sisa-sisa ingatan yang menolak untuk dilupakan. Aku adalah bagian dari gunung ini sekarang."
Malam itu, Rinjani tidak lagi merasa takut. Ia justru mulai bercerita:tentang dunianya di atas sana, tentang teman-temannya, dan tentang Satya. Willem mendengarkan dengan saksama, meskipun saat nama Satya disebut, udara di sekitar mereka mendadak menjadi sedikit lebih dingin.
Tanpa Rinjani sadari, sebuah ikatan mulai terbentuk. Ikatan yang lebih kuat dari sekadar penyelamat dan yang diselamatkan. Sebuah rasa yang melintasi batas dimensi, tumbuh subur di tengah kengerian hutan rimba. Rinjani mulai merasa bahwa mungkin, tersesat di sini bukanlah sebuah kutukan, melainkan cara takdir mempertemukannya dengan sesuatu yang lebih nyata daripada dunia nyatanya sendiri.
Hari ketiga di dasar jurang terasa seperti berada di ruang waktu yang berhenti. Rinjani mulai kehilangan orientasi tentang dunia luar. Luka di kakinya secara ajaib tidak terinfeksi, justru mengering dengan cepat. Ia tahu, setiap kali ia tertidur, Willem berada di dekatnya, menyalurkan energi yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu medis mana pun.
"Willem, apa kau tidak pernah merasa kesepian?" tanya Rinjani saat mereka duduk bersama di tepi sendang pada sore yang mendung.
Willem menatap permukaan air yang tenang. "Kesepian adalah teman lamaku, Rinjani. Di sini, waktu tidak berjalan melingkar, tapi diam. Aku melihat pohon-pohon ini tumbuh, mati, dan tumbuh kembali. Aku melihat orang-orang sepertimu datang dan pergi, tapi mereka hanya melihatku sebagai embusan angin dingin atau bayangan di sudut mata."
Willem menoleh, mata biru pucatnya tampak berpendar lembut. "Hanya kau yang menatapku seolah aku benar-benar ada."
Rinjani memberanikan diri mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh punggung tangan Willem yang bersandar di atas batu. Namun, jarinya hanya melewati gumpalan udara hangat yang padat. Tidak ada tekstur kulit, hanya sensasi seperti tersetrum aliran listrik halus yang menenangkan.
Willem tampak tertegun. Ia menatap tangannya, lalu menatap Rinjani dengan tatapan yang dalam. "Kau mempertaruhkan kewarasanmu hanya untuk menyentuh bayangan, Liefje."
"Kau bukan sekadar bayangan bagiku," balas Rinjani jujur.
Namun, kedamaian itu terusik. Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung-burung hutan terdengar gaduh. Suhu di sekitar sendang yang tadinya hangat mendadak jatuh ke titik beku. Willem berdiri dengan sigap, wajahnya berubah tegang.
"Mereka datang," bisik Willem. Suaranya kali ini tidak lagi lembut, tapi penuh peringatan.
"Siapa? Tim SAR?" tanya Rinjani penuh harap.
"Bukan. Mereka yang lebih tua dari gunung ini. Mereka tidak suka ada nyawa yang seharusnya sudah diambil, tapi tertahan di sini." Willem menunjuk ke arah barisan pohon tua yang mendadak diselimuti kabut hitam pekat.
Dari balik kegelapan itu, muncul suara-suara geraman rendah dan tawa melengking yang tidak manusiawi. Rinjani menciut, bersembunyi di belakang punggung Willem. Meskipun Willem tidak memiliki raga fisik yang padat, kehadirannya menciptakan semacam perisai cahaya yang menghalangi kabut hitam itu mendekat.
Willem merentangkan tangannya, Rinjani melihat amarah di wajah pemuda Belanda itu. Ia mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti Rinjani mungkin bahasa Belanda kuno atau mantra yang ia pelajari selama seabad di sana.
"Pergilah!" seru Willem.
Gelombang energi menghantam kabut hitam itu hingga tercerai-berai. Suasana kembali sunyi, namun Willem tampak lemas. Sosoknya sedikit memudar, menjadi transparan hingga Rinjani bisa melihat batang pohon di belakangnya.
"Willem! Kau tidak apa-apa?" Rinjani panik.
"Energi di tempat ini... selalu meminta bayaran," bisik Willem lemah. "Besok, mereka akan menemukanmu. Aku sudah membuka 'pintu' agar sinyal dan suara mereka bisa mencapaimu. Kau harus kembali, Rinjani."
"Bagaimana denganmu?"
Willem tersenyum sedih. "Aku akan tetap di sini. Menunggu kabut membawaku kembali ke peristirahatan sementara."
Pagi keempat tiba dengan suara yang sangat dirindukan deru baling-baling helikopter dan teriakan manusia.
"RINJANI! ANJANIII!"
Itu suara Satya. Terdengar parau dan penuh keputusasaan dari arah atas tebing. Rinjani berdiri dengan tertatih, melambaikan tangannya dengan sisa tenaga yang ada.
"DI SINI! AKU DI SINI!" teriaknya.
Dalam hitungan menit, personel tim SAR turun menggunakan tali dari helikopter. Satya ada di antara mereka, wajahnya kuyu dan matanya sembab. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung berlari dan memeluk Rinjani dengan sangat erat.
"Ya Tuhan, Anjani! Aku kira aku sudah kehilanganmu... Maafkan aku, maafkan aku!" Satya terisak di bahu Rinjani.
Rinjani membalas pelukan itu, namun matanya tidak tertuju pada Satya. Di seberang sendang, di bawah naungan pohon beringin yang sama, Willem berdiri. Ia tampak sangat tenang, kedua tangannya disembunyikan di saku celana bahannya yang kuno.
Willem memberikan penghormatan kecil dengan menganggukkan kepalanya sebuah gestur sopan pria Eropa masa lalu. Ia tersenyum, namun matanya memancarkan kesedihan yang sanggup menghancurkan hati Rinjani lebih parah daripada jatuh ke jurang.
"Ada apa, Anjani? Apa ada yang sakit?" tanya Satya menyadari arah pandangan kekasihnya yang kosong.
"Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Rinjani berbohong. Di mata Satya dan tim SAR, sudut itu hanyalah tumpukan semak kering dan bayangan pohon.
Saat petugas mulai memasangkan tandu dan mengikat tubuh Rinjani untuk ditarik ke atas, Rinjani terus menatap Willem. Sebelum tubuhnya terangkat ke udara, Willem membisikkan satu kalimat terakhir yang bergema di hati Rinjani.
"Ini bukan akhir, Rinjani. Karena kau sudah membawa kehangatanku dalam darahmu."
Rinjani ditarik naik. Hutan Lawu perlahan mengecil di bawahnya. Ia selamat. Ia kembali ke dunia nyata. Namun, saat ia melihat telapak tangannya, ada bekas kemerahan kecil yang hangat bekas di mana Willem seolah-olah pernah menyentuhnya.
Rinjani tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia membawa pulang sesuatu yang tidak seharusnya dibawa, cinta seorang penghuni dimensi lain.
Tiga minggu berlalu sejak operasi penyelamatan di Gunung Lawu. Bagi dunia, Rinjani adalah sebuah keajaiban seorang pendaki yang selamat dari maut tanpa luka permanen yang berarti. Namun bagi Rinjani, "selamat" adalah kata yang terasa asing.
Ia kini berada di apartemennya di Jakarta, dikelilingi oleh bising suara klakson dan lampu kota yang tak pernah padam. Satya ada di sana, sedang mengupas apel di sofa. Pria itu menjadi jauh lebih protektif, seolah takut jika ia berkedip, Rinjani akan menghilang lagi ke dalam kabut.
"Anjani, makan ya? Kamu harus mengembalikan berat badanmu," ujar Satya lembut.
Rinjani hanya mengangguk pelan, matanya tertuju pada jendela besar yang menampilkan langit malam Jakarta yang tanpa bintang. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu. Bau melati yang samar. Bau yang tidak mungkin ada di lantai dua belas sebuah apartemen modern di tengah kota.
Rinjani menegang. Suhu di ruang tamu yang tadinya hangat karena pendingin ruangan yang disetel rendah, mendadak berubah. Bukan menjadi dingin, melainkan muncul gelombang hangat yang familiar tepat di belakang pundaknya.
Ia menoleh perlahan. Di sudut ruangan yang remang-remang, di dekat rak buku-buku kuliahnya, berdiri seorang pria. Willem.
Ia masih mengenakan pakaian yang sama. Wajahnya yang pucat tampak lebih kontras di bawah lampu neon apartemen. Ia hanya diam, menatap Rinjani dengan tatapan yang sama seperti saat di gunung penuh perlindungan dan kerinduan.
"Anjani? Kamu lihat apa?" Satya bertanya, nada suaranya mulai cemas. Ia mengikuti arah pandang Rinjani, namun matanya hanya menangkap kekosongan.
"Tidak... aku hanya merasa sedikit pusing," jawab Rinjani, suaranya bergetar.
Rinjani mencoba mengabaikannya, tapi kehadiran Willem sangat nyata. Setiap kali Satya mencoba memegang tangan Rinjani, lampu di atas mereka akan berkedip pelan. Dan ketika Satya membicarakan rencana pernikahan mereka yang sempat tertunda, udara di sekitar Rinjani akan mendadak terasa hampa, seolah oksigen ditarik paksa.
Malam itu, setelah Satya pulang, Rinjani memberanikan diri.
"Kenapa kau di sini, Willem?" bisiknya pada kegelapan kamar.
Willem muncul di kaki tempat tidurnya. Sosoknya kini tampak lebih padat daripada saat di hutan. "Aku tidak pernah berniat mengikutimu, Rinjani," suara itu bergema lembut di kepalanya. "Tapi kau benar-benar membawa 'bagian' dariku. Kehangatan yang kuberikan untuk menyembuhkanmu di gunung... itu adalah nyawaku. Sekarang, aku terikat padamu."
Rinjani merasa air matanya jatuh. "Aku takut, Willem. Aku merasa seperti orang gila. Semua orang mengira aku trauma, padahal aku hanya... aku merindukanmu."
Willem melangkah maju. Ia duduk di tepi tempat tidur. Rinjani merasakan tekanan yang sangat ringan di atas kasurnya. Willem mencoba menyentuh tangan Rinjani, dan kali ini, Rinjani tidak membiarkan tangannya melewatinya. Ia memusatkan seluruh pikirannya, seluruh perasaannya, untuk menangkap energi itu.
Sentuhan.
Dingin namun hangat secara bersamaan. Rasanya seperti menyentuh air yang mengalir namun memiliki bentuk.
"Kita tidak boleh seperti ini," bisik Willem, meski ia tidak menarik tangannya. "Aku adalah debu yang menolak mati, dan kau adalah mawar yang sedang mekar. Jika aku terlalu dekat, aku akan merenggut warnamu."
Kehadiran Willem di kehidupan sehari-hari Rinjani mulai menciptakan kekacauan yang manis sekaligus mengerikan. Willem bukan lagi sekadar pelindung, ia kini menjadi saksi bisu setiap detik hidup Rinjani.
Suatu sore di sebuah kafe, Satya memegang tangan Rinjani dengan erat. "Anjani, aku sudah memesan tempat untuk liburan kita bulan depan. Bukan gunung, janji. Kita ke pantai saja, ya? Kita mulai lembaran baru."
Tiba-tiba, cangkir kopi di depan Satya retak dengan sendirinya. Cairan hitam panas tumpah mengenai meja. Satya tersentak kaget.
"Astaga! Gelasnya pecah sendiri!" seru Satya panik.
Rinjani melihat ke sudut kafe. Willem berdiri di sana, matanya yang biru pucat tampak lebih gelap dari biasanya. Aura di sekitar pria Belanda itu tidak lagi hangat, melainkan terasa seperti badai yang siap meledak.
"Willem, jangan..." bisik Rinjani tanpa suara.
Malamnya, terjadi pertengkaran hebat di apartemen. Bukan antara Rinjani dan Satya, melainkan antara dua dimensi. Willem menunjukkan kekuatannya. Ia membuat seluruh buku di rak jatuh berserakan saat Rinjani baru saja menutup telepon dari Satya.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Rinjani marah. "Kau menyakitinya!"
"Dia tidak melihatmu, Rinjani!" suara Willem menggelegar di pikiran Rinjani. "Dia hanya mencintai bayanganmu yang dulu! Dia mencintai gadis yang tidak pernah jatuh ke jurang itu. Tapi gadis yang ada di depanku sekarang... dia sudah menjadi milikku sejak ia meminum air sendang itu!"
Rinjani terdiam. Ia menyadari kebenaran pahit itu. Sejak kejadian di Lawu, ia tidak lagi bisa menikmati obrolan biasa dengan teman-temannya. Ia tidak lagi peduli dengan karier atau masa depannya. Pikirannya selalu melayang pada kabut, pada aroma melati, dan pada pria yang seharusnya sudah menjadi sejarah.
"Aku mencintaimu, Willem," ucap Rinjani lirih.
Kamar itu mendadak hening. Semua benda yang melayang jatuh perlahan. Willem muncul tepat di depan wajah Rinjani. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Cinta manusia itu fana, Rinjani," bisik Willem, suaranya kini melunak, penuh kepedihan. "Tapi cinta makhluk sepertiku... itu adalah kutukan. Kau akan menua, dan aku akan tetap seperti ini. Kau akan pergi ke cahaya, dan aku akan tetap di kegelapan."
Rinjani memejamkan mata, membiarkan energi Willem menyelimuti wajahnya. "Kalau begitu, tarik aku ke kegelapanmu. Aku tidak peduli."
Willem tidak menjawab. Ia hanya mengecup dahi Rinjani. Rasanya seperti embusan angin musim dingin yang paling lembut, meninggalkan jejak panas yang membekas di jiwa Rinjani selamanya.
Cinta yang melintasi dimensi bukan tanpa pengorbanan. Memasuki bulan kedua sejak kepulangannya, fisik Rinjani mulai menunjukkan tanda-tanda kemerosotan. Wajahnya yang dulu segar kini pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam. Ia sering merasa lemas, seolah-olah setiap kali Willem menampakkan diri, ada sebagian dari daya hidupnya yang tersedot untuk memadatkan wujud pria itu.
Satya menyadari hal ini. Ia membawa Rinjani ke berbagai dokter, namun hasil laboratorium selalu menyatakan Rinjani sehat secara medis. "Kamu cuma butuh istirahat, Anjani. Mungkin ini trauma psikis yang belum tuntas," kata Satya suatu malam dengan nada frustrasi.
Namun, malam itu keadaan memburuk. Saat Satya sedang tertidur di sofa ruang tamu, Rinjani mengalami sesak napas hebat di kamarnya. Willem muncul, wajahnya tampak sangat nyata hampir seperti manusia sungguhan. Ia mencoba memeluk Rinjani untuk memberinya kehangatan, namun kali ini kehangatan itu terasa membakar.
"Willem... hentikan..." rintih Rinjani.
Willem tersentak. Ia melihat telapak tangannya sendiri yang mulai terlihat urat-urat birunya, lalu melihat Rinjani yang semakin melemah. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan, keberadaannya di dunia manusia sedang meracuni wanita yang ia cintai. Ia adalah entitas dari masa lalu yang haus akan energi kehidupan agar tetap bisa terlihat.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Satya berdiri di sana dengan wajah pucat. Ia tidak bisa melihat Willem, tapi ia melihat Rinjani yang melayang sedikit di atas tempat tidur, dikelilingi oleh kabut tipis dan aroma melati yang sangat menyengat.
"ANJANI!" teriak Satya. Ia berlari mencoba meraih Rinjani, namun sebuah kekuatan tak kasat mata melemparnya hingga menghantam lemari.
"WILLEM, CUKUP!" teriak Rinjani dengan sisa tenaganya.
Seketika, cahaya di kamar itu meledak. Willem menghilang, dan Rinjani jatuh terhempas ke kasurnya, pingsan seketika.
Keesokan harinya, Satya tidak lagi membawa dokter. Ia membawa seorang pria tua dengan sorot mata tajam bernama Pak Danu, seorang praktisi spiritual yang biasa menangani gangguan ghaib di daerah pegunungan.
"Ada tamu yang tidak diundang di sini," ucap Pak Danu begitu menginjakkan kaki di apartemen. "Dia berasal dari tanah tua, dari masa kolonial. Dia sangat kuat karena dia mencintaimu, Nak Rinjani. Tapi cinta hantu itu racun bagi manusia."
Rinjani duduk di kursi dengan tubuh bergetar. "Dia menyelamatkanku, Pak. Dia menjagaku di gunung."
"Dia menjagamu agar kau tetap hidup untuk menjadi wadahnya di sini," sahut Pak Danu tegas. "Jika dia tidak dilepaskan, dalam satu purnama, nyawamu akan bertukar dengannya. Kau akan jadi penghuni gunung, dan dia akan mencoba merasuki tubuh manusia."
Satya memegang tangan Rinjani. "Tolong, Anjani. Demi aku. Biarkan Pak Danu membersihkan tempat ini."
Rinjani hanya bisa menangis. Di sudut mata, ia melihat Willem berdiri di belakang Pak Danu. Pria Belanda itu tidak marah. Ia hanya menatap Rinjani dengan kesedihan yang tak terlukiskan. Willem seolah membenarkan kata-kata Pak Danu bahwa cintanya memang membunuh Rinjani.
Pak Danu mulai membakar kemenyan dan merapalkan doa-doa kuno. Suasana apartemen mendadak menjadi sangat dingin. Angin kencang berputar di dalam ruangan, membanting perabotan. Satya bersembunyi di belakang Pak Danu, sementara Rinjani merasa jantungnya seperti diremas.
"PERGI KAU KE ALAMMU!" seru Pak Danu sambil memercikkan air suci ke arah sudut tempat Willem berdiri.
Willem mengerang. Suaranya terdengar nyata kali ini, sebuah teriakan kesakitan yang memilukan hati Rinjani. Wujud Willem mulai berpendar, terdistorsi oleh energi doa Pak Danu.
"WILLEM!" Rinjani berlari, mencoba menembus pagar ghaib yang dibuat Pak Danu.
"Jangan, Anjani! Itu berbahaya!" Satya mencoba menahan Rinjani, namun Rinjani meronta.
Ia berhasil menyentuh Willem tepat sebelum sosok itu memudar sepenuhnya. Kali ini, sentuhan itu terasa nyata. Kulit yang dingin, namun ada detak energi yang lemah di sana.
"Pergilah, Rinjani..." bisik Willem, kali ini suaranya keluar dari bibirnya yang pucat, bukan lagi di pikiran. "Aku sudah cukup hidup seratus tahun hanya untuk menunggumu. Jangan biarkan aku membunuhmu hanya karena aku takut kembali kesepian."
"Aku tidak peduli! Bawa aku bersamamu!" seru Rinjani histeris.
Willem menggeleng pelan. Ia memberikan senyum terakhirnya senyum tulus seorang pemuda Belanda yang jatuh cinta pada seorang gadis di tengah hutan Lawu. Dengan satu dorongan lembut, Willem melepaskan pegangan tangan Rinjani.
Zapp!
Cahaya putih membutakan seisi ruangan. Saat Rinjani membuka mata, Pak Danu sudah terduduk lemas, dan Satya sedang memeluknya. Ruangan itu kembali normal. Bau melati menghilang, digantikan oleh bau kemenyan yang menyesakkan.
Willem sudah pergi.
Enam bulan kemudian.
Rinjani berdiri di kaki Gunung Lawu. Ia sudah memutuskan hubungannya dengan Satya secara baik-baik ia sadar bahwa hatinya sudah tidak lagi milik dunia manusia. Ia kini menjadi seorang pemandu pendaki (guide) profesional yang lebih banyak menghabiskan waktu di gunung daripada di kota.
Tubuhnya sudah kembali sehat, namun ia tidak pernah lagi merasa benar-benar hangat. Ia selalu mengenakan syal wol tua hadiah yang ia temukan di depan pintunya sehari setelah pengusiran Willem, sebuah syal kuno dengan bordiran inisial W.v.D.
Setiap kali ia mendaki, terutama saat kabut turun dan aroma melati samar tercium, Rinjani akan tersenyum. Ia tahu Willem tidak benar-benar pergi. Pria itu menepati janjinya untuk tidak lagi menyerap energinya, namun ia tetap menjaganya dari kejauhan.
Seringkali, pendaki yang ia pandu bertanya, "Mbak Rinjani, kok suhunya tiba-tiba jadi hangat ya di dekat Mbak? Padahal lagi badai."
Rinjani hanya akan menjawab dengan senyum tipis sambil mengusap syalnya.
"Itu hanya kehangatan dari seseorang yang sedang menunggu di dimensi lain," bisiknya pelan, sambil menatap kabut putih di depannya, di mana ia bisa melihat sekilas bayangan Willem disana.
TAMAT.