“Aku gak ada mood mau nikah.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Wani, seperti napas yang terlalu lama ditahan. Ia menatap layar ponselnya, membaca ulang pesan yang baru saja ia kirim ke grup teman-teman kuliahnya. Beberapa detik kemudian, notifikasi berdenting.
“Serius?”
“Lah, kenapa?”
“Umur kita udah segini, Wan.”
“Jangan kebanyakan mikir, nanti keburu tua.”
Wani tersenyum tipis. Ia sudah hafal reaksi seperti itu. Dunia seolah punya satu garis lurus yang harus diikuti: sekolah, kerja, menikah, punya anak, lalu hidup tenang. Tapi Wani merasa ia berdiri di luar garis itu, memandangnya dari kejauhan, tanpa keinginan untuk masuk.
Ia mematikan layar ponselnya, lalu berjalan ke jendela. Kota di bawah apartemennya berdenyut dengan lampu-lampu malam. Ia hidup sendiri, di lantai sembilan, dengan dua tanaman hias, satu meja kerja kecil, dan rak buku yang hampir roboh. Tidak ada suara lain selain kipas angin dan detak jam.
Sunyi.
Dan ia menyukainya.
Hidup sendiri membuatnya bebas. Tidak ada yang bertanya pulang jam berapa. Tidak ada yang mengomentari pilihan makanannya. Tidak ada yang mengeluh karena ia terlalu sibuk bekerja. Tidak ada yang menuntut perhatian ketika ia ingin diam.
Ia ingat ibunya pernah berkata, “Hidup sendiri itu sepi, Nak.”
Tapi Wani tidak merasa sepi.
Ia merasa lega.
Sejak kecil, ia terbiasa menjaga hati orang lain. Ayahnya temperamental. Ibunya sensitif. Setiap kalimat harus dipilih hati-hati. Setiap langkah harus diperhitungkan. Rumah yang seharusnya jadi tempat pulang, terasa seperti medan ranjau.
Ia tumbuh menjadi anak yang pandai membaca suasana. Tapi itu juga membuatnya lelah.
Ketika kuliah, ia pernah jatuh cinta. Namanya Raka. Pria yang sabar, hangat, dan penuh perhatian. Mereka bertahan hampir lima tahun. Semua orang bilang mereka cocok.
Sampai suatu hari, Raka berkata, “Aku capek, Wan. Aku selalu nunggu kamu siap, tapi kamu kayaknya gak pernah benar-benar mau.”
Wani terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Raka tidak salah. Ia hanya takut.
Takut terikat.
Takut mengecewakan.
Takut kehilangan ruang bernapas.
“Aku cuma butuh waktu,” kata Wani pelan.
“Kamu udah minta waktu lima tahun.”
Dan hari itu, Raka pergi.
Sejak saat itu, Wani tidak pernah benar-benar membuka hatinya lagi. Ia bekerja, berpindah kota, dan akhirnya menetap di apartemen kecil itu. Hidupnya sederhana, tapi tenang.
Malam itu, ia membuat kopi, lalu duduk di lantai. Hujan mulai turun, mengetuk kaca jendela. Ia menyalakan playlist instrumental, lalu membuka laptop. Ia ingin menulis, seperti biasanya.
Tapi pikirannya kembali ke kalimat tadi.
“Aku gak ada mood mau nikah.”
Apakah itu benar? Atau hanya alasan untuk menutupi sesuatu yang lebih dalam?
Ponselnya kembali berbunyi. Pesan dari ibunya.
“Teman kamu, Sinta, sudah lahiran. Kamu kapan?”
Wani menarik napas panjang. Ia tidak langsung membalas. Ia tahu ibunya tidak bermaksud menekan, tapi setiap pertanyaan itu terasa seperti beban yang pelan-pelan menekan dadanya.
Ia mengetik:
“Belum kepikiran, Bu. Wani lagi fokus kerja.”
Beberapa detik kemudian, ibunya membalas.
“Ibu cuma takut kamu sendirian nanti.”
Kalimat itu membuat jari Wani berhenti. Ia menatap layar lama sekali. Kata “sendirian” selalu terdengar seperti ancaman bagi orang lain. Tapi bagi Wani, itu justru pilihan.
Namun malam itu, entah kenapa, kata itu terasa berbeda.
Sendirian nanti.
Saat semua teman sibuk dengan keluarga.
Saat orang tua sudah tiada.
Saat usia tak lagi muda.
Ia menutup laptopnya. Hujan semakin deras. Ada perasaan aneh yang merayap pelan di dadanya.
Bukan takut.
Bukan juga sedih.
Hanya… kosong.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Wani bekerja, pulang, membaca buku, memasak, tidur. Hidupnya rapi seperti daftar tugas. Tidak ada drama, tidak ada pertengkaran, tidak ada air mata.
Sampai suatu sore, ia bertemu Raka.
Tidak sengaja. Di toko buku.
Raka terlihat lebih dewasa. Rambutnya sedikit lebih pendek, wajahnya lebih tenang. Di sampingnya berdiri seorang perempuan hamil, menggenggam lengannya.
Raka melihat Wani. Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, dunia terasa diam.
“Wani?” Raka tersenyum.
Wani membalas senyum itu. “Hai.”
Raka memperkenalkan istrinya. Namanya Mira. Perempuan itu ramah, hangat, dan matanya berbinar. Mereka berbicara sebentar. Tentang pekerjaan. Tentang kota. Tentang cuaca.
Tidak ada yang canggung.
Tidak ada yang dramatis.
Tapi ada sesuatu yang pelan-pelan mengiris.
Saat mereka berpisah, Mira berkata, “Senang ketemu kamu. Raka sering cerita.”
Wani hanya tersenyum.
Ia berjalan keluar toko buku sendirian. Tangannya memeluk buku yang bahkan tidak ia ingat judulnya. Langit mulai senja. Orang-orang berjalan berpasangan. Tertawa. Berbagi payung.
Ia pulang ke apartemen.
Sunyi menyambutnya seperti biasa. Tapi kali ini, sunyi itu terasa lebih besar. Ia menaruh buku di meja, lalu duduk di sofa.
Ia membayangkan Raka. Pulang ke rumah. Disambut istrinya. Mendengar detak kecil bayi dalam kandungan. Ada seseorang yang menunggunya.
Wani menatap tangannya sendiri.
Kosong.
Air mata tiba-tiba jatuh tanpa suara. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan ia menangis.
“Aku gak ada mood mau nikah,” bisiknya lagi.
Tapi sekarang, kalimat itu terdengar seperti pertahanan. Bukan keyakinan.
Ia tidak takut menikah.
Ia takut kehilangan dirinya.
Ia takut suatu hari harus mengorbankan mimpi.
Takut harus selalu mengalah.
Takut harus kembali hidup dalam medan ranjau emosi seperti masa kecilnya.
Namun malam itu, ia sadar sesuatu.
Hidup sendiri memang bebas.
Tapi bebas tidak selalu berarti hangat.
Beberapa hari kemudian, Wani menerima kabar ayahnya sakit. Ia pulang ke rumah. Ibunya terlihat lebih tua. Rambutnya memutih. Rumah itu terasa lebih kecil dari ingatannya.
Ia membantu ibunya memasak. Menemani ayahnya di ruang tamu. Tidak banyak yang berubah, tapi ada ketenangan baru.
Suatu malam, ibunya berkata pelan, “Ibu dulu juga takut menikah.”
Wani terkejut. “Kenapa?”
“Ibu takut kehilangan diri sendiri. Takut harus selalu mengalah.”
“Terus?”
Ibunya tersenyum. “Ternyata menikah bukan soal kehilangan. Tapi belajar berbagi ruang.”
Wani menunduk. Kata-kata itu mengendap pelan.
“Ibu gak maksa kamu nikah,” lanjut ibunya. “Ibu cuma berharap, kalau suatu hari kamu capek sendiri, ada seseorang yang kamu izinkan duduk di sebelahmu.”
Malam itu, Wani tidak bisa tidur. Ia memikirkan semua pilihan hidupnya. Ia tidak menyesal hidup sendiri. Ia menikmati kebebasan itu.
Tapi ia juga mulai mengerti, kebebasan bukan berarti menutup pintu.
Beberapa minggu kemudian, Wani kembali ke apartemennya. Ia menyiram tanaman. Membuka jendela. Udara pagi masuk.
Ia masih sendiri.
Masih bebas.
Masih tenang.
Tapi kali ini, ia tidak lagi menutup kemungkinan.
Ia membuka aplikasi pesan. Mengetik ke temannya.
“Aku belum pengin nikah. Tapi mungkin… aku gak harus sendirian selamanya.”
Ia tersenyum. Ada sesuatu yang ringan di dadanya.
Wani akhirnya mengerti. Ia tidak menolak cinta. Ia hanya ingin cinta yang tidak mengurung. Cinta yang memberi ruang. Cinta yang tidak membuatnya kehilangan diri.
Dan untuk pertama kalinya, hidup sendiri tidak lagi terasa seperti benteng.
Melainkan seperti rumah… yang pintunya boleh dibuka kapan saja.