Aku tidak pernah menyangka aku akan mencintai seorang iblis berwajah manusia, sosok nya yang nyaris tanpa cela, menarik aku dalam cinta berlumur dosa.
💘💘💘
"TOLONG.....!" aku berlari dari kejaran beberapa preman yang hendak menodai kehormatan ku, napas ku memburu seiring degupan jantung yang berpacu dengan cepat, lelehan keringat membanjiri seluruh tubuh ku. Srak....Brukkkk....aku terperosok jatuh karena menginjak daun-daun kering hingga aku jatuh dengan posisi tersungkur.
"Ku mohon Tuan, jangan lakukan ini, tolong biarkan aku pergi," ucap ku dengan tubuh bergetar, kerongkongan ku terasa mengering dan perih.
Ketiga orang preman itu terus mendekat dan semakin mendekat membuat aku semakin menggigil ketakutan, aku beringsut mundur. Grep...kaki ku di tarik oleh salah satu dari mereka.
"LEPASKAN AKU....LEPASKAN...!" teriak ku sekencang kencang nya, namun siapa yang akan mampu mendengar jeritan ku ini, ini hutan bukan kota, disini tak ada siapa pun kecuali kami, aku menangis ketakutan sambil menghentak-hentakan kaki ku, yang di cengkram kuat oleh preman itu.
Merka tertawa terbahak-bahak melihat diriku yang begitu ketakutan, aku memejamkan mata ku, kini aku pasrah dengan apa yang akan terjadi pada ku selanjutnya, namun aku terkejut ketika mendengar suara mereka mengerang kesakitan dan cengkraman tangan di kaki ku pun sudah terlepas, aku membuka mata ku perlahan.
Arghhh...teriak ku, ketika aku melihat seorang pria tengah menghajar preman itu dengan membabi buta, sedangkan dua pria yang lainnya sudah terkapar berismbah darah di atas tanah.
Aku menutup mulut ku, ketika aku hampir kembali menjerit ketika melihat sang pria menusuk dada preman itu yang telah berhasil ia lumpuhkan.
'Lari Kania...lari..,' suara dalam hati ku memerintahkan ku untuk lari, namun kaki ku tak mampu bergerak, lutut ku terasa lemas apa lagi ketika aku melihat darah, jujur aku selalu mual dan pusing jika melihat darah, penglihatan ku mulai kabur dan aku pun tak ingat apa-apa lagi.
***
Aku meringis merasai seluruh tubuhku seolah remuk tak bersisa sakit, uh...ku buka mata ku perlahan, aku mengerjap karena cahaya silau yang belum bersahabat dengan mata ku.
(Deg..) "dimana aku?" ku edarkan pandangan ku ke setiap penjuru hingga berakhir pada sosok pria yang tengah dudu di sofa dengan segelas minuman di tangannya, aku tak mampu menjangkau nya dengan kedua netra ku, karena di sana minim pencahayaan.
"Kau sudah bangun," ucapnya seraya berdiri, namun wajah nya masih belum terlihat.
"Siapa kau? kenapa kau membawa ku kemari," aku beranjak duduk dan menyandarkan punggung ku di kepala ranjang, perlahan pria itu mendekat ke arah ku, kini wajah nya mampu ku jangkau dengan bola mata ku, sosok yang begitu sempurna nyaris tanpa cela dia tengah tersenyum miring ke arah ku.
Bulu mata lentik nya mengerjap seiring arah pandangannya, hidung nya mancung bak perosotan, serta kulitnya mulus dengan rahang yang tegas tak lupa juga dengan alis nya yang hampir bertautan satu sama lain.
'Bukan kah dia ini..' glek, aku menelan saliva ku, kini aku tau siapa dia, dialah pembunuh berantai yang tengah di buru para polisi dan aku terperangkap bersama nya di ke diaman nya.
'Ya Tuhan, selamat kan aku dari iblis ini,' mata ku tak dapat beralih dari sosok di depan ku ini, mata ku menatap waspada, aku takut dia akan membunuh ku ketika aku lengah.
"Kau tak ingin berterima kasih pada ku, aku lah yang telah menyelamatkan mu dari para preman tadi," ucapnya seraya tersenyum simpul.
"A-aku..." tenggorokan ku terasa tercekat tak mampu berucap, jantung ku berpacu dengan cepat, namun tak dapat di pungkiri aku mengagumi dirinya, sosok nya bak malaikat tanpa sayap, namun pada kenyataannya dia bukan lah malaikat melainkan iblis yang telah banyak merenggut nyawa.
"Kau takut pada ku? apa kau tau siapa aku?"
"A-aku tau kau adalah..."
"Pembunuh berantai, itu yang ingin kau ucapkan bukan dan itu memang benar," ucapnya seraya tersenyum, glek...aku kembali menelan saliva ku.
"Tenanglah, aku tak akan menyakiti mu," dia lantas duduk di tepi ranjang tempat ku saat ini, aku mencengkram seprai yang membungkus tempat tidur ini namun, tak mampu beranjak sorot mata nya seolah mampu menghipnotis diri ku membuat aku jatuh dalam perangkap nya.
***
Satu bulan berlalu, semenjak aku bertemu dengannya, aku memutuskan untuk tinggal bersama nya, dia selalu memperlakukan ku dengan lembut tak pernah sekali pun dia berlaku kasar pada ku hingga aku lupa jika dia adalah buronan yang telah menelan banyak nyawa tak berdosa, namun apa daya ku cinta tlah membutakan hati ku.
"Sayang aku akan pergi sebentar, tak apa kan," ujar ku padanya dia mendongak menatap ku dari balik bulu mata lentik nya, jujur aku sangat iri padanya bagaimana bisa seorang laki-laki bisa memiliki wajah seperti ini.
"Kemana?" ucapnya, tatapan matanya tajam dan menusuk.
"Aku mau beli sesuatu untuk mu," ucap ku seraya tersenyum lembut.
"Apa? kau mau beli apa? biar aku saja yang pergi aku tak mau jika kau sampai kenapa-kenapa dan bertemu pria lain nanti kau akan meninggalkan aku," ucapnya mulai berspekulasi dengan pikiran buruk nya.
"Hey sayang, kau jangan khawatir aku akan baik-baik saja, lagi pula untuk apa aku mencari pria lain dirimu saja sudah lebih dari cukup bagi ku hem," ucap sambil mengelus pucuk kepala nya yang berada di pangkuan ku.
Setelah berdebat cukup lama akhirnya dia pun mengijinkan ku pergi.
***
Aku berjalan sambil membawa kotak persegi yang sengaja aku bawa untuk Andra kekasih ku, aku benar-benar tak sabar ingin segera bertemu dengannya dan memberikan kejutan ku untuk nya, aku berharap setelah ini dia akan berubah dan tak lagi menghabisi nyawa orang lain lagi.
(Deg..Deg) 'Kenapa banyak mobil di depan ruamah Andra, dan ada mobil polisi juga," seketika aku berlari menerobos segerombolan orang yang berdiri di depan rumah, aku menepis lengan orang-orang yang berusaha manahan diriku, aku menggigit tangan seorang polisi yang menangkap ku hingga aku terlepas dan masuk rumah tanpa hambatan.
"ANDRA...!" teriak ku lantang, aku begitu panik aku berlari ke sana kemari tak perduli dengan orang-orang yang berusuha menghentikan diri ku dan meneriaki ku dengan kata-kata bodoh dan cemoohan.
Aku naik ke lantai atas dan mendapati segerombol orang tengah menodongkan senjata pada seorang pria di hadapannya, aku berlari dengan sigap menabrak tubuh para polisi itu tanpa peduli apa pun.
"Andra..." ucap ku dengan derai air mata, lelehan darah segar nampak mengucur dari beberapa luka tembak yang ia dapat dari para polisi itu.
"Hey nona, apa yang kau lakuan disini, ini sangat berbahaya pergi lah dari sini jika kau masih sayang akan nyawa mu," ucap salah satu polisi yang menodongkan senjata pada Andra.
"Ja-jangan bicarrra buruuk pa-danya diiia ti-tidak tau apppa pun," lirihnya, sorot matanya hampir melemah.
"Andra...jangan tinggalkan aku," lirih ku, seraya mendekat dan memeluknya dia merogoh sesuatu dari saku celana yang ia kenakan, sebuah kotak merah berbentuk hati ia keluar kan dan ia berikan pada ku.
"A-aku ingin melammar mu, sssaat kau puulang tapi, kematian tlah datang mennjemput kkku lebbih dulu, maaf kan a-aku Kannnia sayyyang, a-aku sangat mennncintai mu," lirihnya.
"Aku juga membawa sesuatu untuk mu," ucap ku, aku membuka kotak yang tadi aku bawa, itu adalah kue ulang tahun yang sengaja aku beli untuknya karena aku tau ini adalah hari ulang tahun nya, tadi nya aku ingin memberi kejutan untuk nya namun, kejutan ini lebih dari membuat ku terkejut, ini adalah sebuah pukulan yang akan mampu merenggut separuh nyawa ku.
Ku nyalakan lilin di tengah kue tersebut dan membantu Andra untuk meniup lilin tersebut, Andra tersenyum lembut walau cahaya kehidupan perlahan menghilang dari bola mata hitam nya.
"Te-terima kkkasih Kania, I Love You..!" itulah kata-kata terakhir yang ia ucapkan yang mampu memporak poranda kan hati ku, seketika tangis ku pecah aku memeluk tubuh Andra yang sudah tak bernyawa lagi, ku peluk dengan erat aku sudah tak perduli dengan darah Andra yang sudah memenuhi sekujur tubuh ku, aku meraung mengeluarkan segala bentuk rasa sakit yang mendera hati ku, hingga tubuh ku lemas dan kepala ku berputar, Bruk...aku pun hilang ke sadaran.
***
Aku berjongkok di depan batu nisan, yang bertuliskan nama kekasih ku Andra, ku usap batu nisan tersebut sambil ku pandangi cin-cin yang ku kenakan, ini adalah cin-cin pemberian nya.
'I Love You to Andra. Semoga kau tenang di sisi nya."
Tamat.