Hujan turun tanpa aba-aba sore itu. Langit yang sejak siang tampak muram akhirnya menyerah, menumpahkan segala yang ditahannya. Rintiknya jatuh pelan di kaca jendela, menciptakan suara yang selalu berhasil membuat Aluna terdiam lebih lama dari biasanya.
Ia berdiri di sana, memeluk secangkir teh yang sudah tak lagi hangat. Matanya menatap kosong ke luar, tapi pikirannya jauh melayang ke masa lalu—ke seseorang yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatannya.
Arka.
Nama itu datang lagi, seperti biasanya. Selalu datang bersama hujan.
“Aneh…” gumam Aluna pelan. “Kenapa harus hujan?”
Seolah menjawab, angin berembus sedikit lebih kencang, membuat tirai tipis di samping jendela bergerak. Hujan semakin deras. Dan di antara suara rintiknya, Aluna merasa mendengar sesuatu.
Samar.
Lembut.
Seperti seseorang memanggilnya.
“...Luna…”
Jantungnya berdegup kencang. Tangannya yang memegang cangkir sedikit bergetar.
“Halusinasi lagi,” bisiknya cepat, mencoba menenangkan diri.
Ini bukan pertama kalinya. Setiap hujan turun, suara itu selalu datang. Suara yang begitu ia kenal, tapi juga begitu mustahil untuk kembali.
Karena Arka sudah pergi.
Tiga tahun lalu.
Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Tanpa perpisahan.
Mereka dulu tidak pernah menyangka bahwa hujan akan menjadi saksi awal sekaligus akhir dari segalanya.
Hari itu, hujan juga turun. Arka datang dengan jaket basah dan senyum yang selalu membuat dunia Aluna terasa lebih ringan.
“Kalau aku tiba-tiba hilang, kamu bakal nyariin aku nggak?” tanya Arka waktu itu, setengah bercanda.
Aluna tertawa. “Kamu ini aneh banget. Ngapain mikirin hal kayak gitu?”
“Tapi jawab dulu.”
Aluna menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Aku bakal nunggu.”
Arka diam. Senyumnya memudar sedikit, digantikan oleh sesuatu yang tidak sempat Aluna pahami saat itu.
“Jangan nunggu terlalu lama, Luna,” katanya pelan.
Dan keesokan harinya, Arka benar-benar menghilang.
Suara petir membuyarkan lamunan Aluna. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir kenangan yang kembali menghantui.
“Udah cukup,” gumamnya.
Namun saat ia hendak menjauh dari jendela, matanya menangkap sesuatu.
Seseorang berdiri di seberang jalan.
Di tengah hujan.
Tanpa payung.
Siluetnya samar, tertutup derasnya air yang jatuh dari langit. Tapi entah kenapa, Aluna merasa tubuhnya membeku di tempat.
Hatinya berdegup semakin cepat.
Tidak mungkin.
Itu tidak mungkin.
Tapi langkahnya bergerak sendiri. Ia membuka pintu, membiarkan udara dingin dan basah menyambutnya tanpa ampun. Hujan langsung membasahi rambut dan bajunya, tapi ia tidak peduli.
“Arka…?” suaranya hampir tak terdengar.
Sosok itu tidak bergerak.
Aluna melangkah lebih dekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai akhirnya wajah itu mulai terlihat lebih jelas.
Dan dunia seolah berhenti berputar.
Itu benar Arka.
Wajah yang sama. Tatapan yang sama. Bahkan cara berdirinya pun tak berubah.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Matanya.
Dulu hangat. Sekarang dingin… dan terasa asing.
“Luna,” ucap Arka pelan.
Nama itu—cara ia mengucapkannya—membuat dada Aluna sesak. Antara rindu dan luka yang belum sempat sembuh.
“Kamu…” Aluna kesulitan mencari kata. “Kamu ke mana aja?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aluna, seolah mencoba memastikan sesuatu.
“Aku kembali,” katanya akhirnya.
Jawaban yang terlalu sederhana untuk tiga tahun kehilangan.
Aluna tertawa kecil, tapi suaranya bergetar. “Kembali? Setelah tiga tahun? Tanpa kabar?”
Hujan semakin deras, seolah ikut menekan suasana di antara mereka.
“Aku nggak punya pilihan waktu itu,” jawab Arka pelan.
“Klasik,” potong Aluna cepat. “Semua orang juga bilang gitu.”
Arka menunduk sebentar. Untuk sesaat, ia tampak seperti Arka yang dulu—rapuh dan penuh beban.
“Aku tahu kamu marah,” katanya.
“Bukan marah,” Aluna menggeleng. “Aku cuma… capek nunggu.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa ditahan lagi.
Arka mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah, ada sesuatu di sana—penyesalan, mungkin… atau sesuatu yang lebih dalam.
“Aku kira kamu nggak akan nunggu,” katanya pelan.
Aluna tersenyum pahit. “Aku juga kira gitu.”
Hening.
Hanya suara hujan yang tersisa.
Lalu, tanpa sadar, Aluna bertanya, “Kenapa sekarang?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat Aluna bisa melihat jelas raut wajahnya.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu,” katanya.
Nada suaranya berubah. Lebih serius. Lebih berat.
Aluna merasakan firasat buruk merayap pelan di dalam dadanya.
“Apa?” tanyanya.
Arka menatapnya dalam-dalam. “Semua yang terjadi tiga tahun lalu… bukan kebetulan.”
Aluna mengernyit. “Maksud kamu?”
Arka membuka mulut, tapi sebelum ia sempat melanjutkan—
Kilatan petir menyambar langit, diikuti suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Dan dalam sepersekian detik itu…
Arka menghilang.
Begitu saja.
Seolah tidak pernah ada.
“Arka!” teriak Aluna panik.
Ia berputar, mencari ke segala arah. Jalanan kosong. Hanya hujan yang tersisa.
Napasnya memburu. Jantungnya seperti ingin keluar dari dadanya.
“Ini… apa…” bisiknya.
Tangannya gemetar. Air hujan bercampur dengan air mata yang entah sejak kapan jatuh.
Tiba-tiba—
“...Luna…”
Suara itu kembali.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
Tapi kali ini… bukan dari depan.
Melainkan dari belakang.
Perlahan, dengan rasa takut yang menjalar hingga ke ujung tubuhnya, Aluna menoleh.
Dan di sana—
Arka berdiri.
Tepat di belakangnya.
Dengan senyum tipis… yang sama sekali tidak terasa seperti Arka yang ia kenal.
Hujan terus turun.
Dan untuk pertama kalinya, Aluna menyadari—
Bahwa mungkin…
Yang kembali bukanlah Arka yang dulu.
Hujan turun tanpa aba-aba sore itu. Langit yang sejak siang tampak muram akhirnya menyerah, menumpahkan segala yang ditahannya. Rintiknya jatuh pelan di kaca jendela, menciptakan suara yang selalu berhasil membuat Aluna terdiam lebih lama dari biasanya.
Ia berdiri di sana, memeluk secangkir teh yang sudah tak lagi hangat. Matanya menatap kosong ke luar, tapi pikirannya jauh melayang ke masa lalu—ke seseorang yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatannya.
Arka.
Nama itu datang lagi, seperti biasanya. Selalu datang bersama hujan.
“Aneh…” gumam Aluna pelan. “Kenapa harus hujan?”
Seolah menjawab, angin berembus sedikit lebih kencang, membuat tirai tipis di samping jendela bergerak. Hujan semakin deras. Dan di antara suara rintiknya, Aluna merasa mendengar sesuatu.
Samar.
Lembut.
Seperti seseorang memanggilnya.
“...Luna…”
Jantungnya berdegup kencang. Tangannya yang memegang cangkir sedikit bergetar.
“Halusinasi lagi,” bisiknya cepat, mencoba menenangkan diri.
Ini bukan pertama kalinya. Setiap hujan turun, suara itu selalu datang. Suara yang begitu ia kenal, tapi juga begitu mustahil untuk kembali.
Karena Arka sudah pergi.
Tiga tahun lalu.
Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Tanpa perpisahan.
Mereka dulu tidak pernah menyangka bahwa hujan akan menjadi saksi awal sekaligus akhir dari segalanya.
Hari itu, hujan juga turun. Arka datang dengan jaket basah dan senyum yang selalu membuat dunia Aluna terasa lebih ringan.
“Kalau aku tiba-tiba hilang, kamu bakal nyariin aku nggak?” tanya Arka waktu itu, setengah bercanda.
Aluna tertawa. “Kamu ini aneh banget. Ngapain mikirin hal kayak gitu?”
“Tapi jawab dulu.”
Aluna menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Aku bakal nunggu.”
Arka diam. Senyumnya memudar sedikit, digantikan oleh sesuatu yang tidak sempat Aluna pahami saat itu.
“Jangan nunggu terlalu lama, Luna,” katanya pelan.
Dan keesokan harinya, Arka benar-benar menghilang.
Suara petir membuyarkan lamunan Aluna. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir kenangan yang kembali menghantui.
“Udah cukup,” gumamnya.
Namun saat ia hendak menjauh dari jendela, matanya menangkap sesuatu.
Seseorang berdiri di seberang jalan.
Di tengah hujan.
Tanpa payung.
Siluetnya samar, tertutup derasnya air yang jatuh dari langit. Tapi entah kenapa, Aluna merasa tubuhnya membeku di tempat.
Hatinya berdegup semakin cepat.
Tidak mungkin.
Itu tidak mungkin.
Tapi langkahnya bergerak sendiri. Ia membuka pintu, membiarkan udara dingin dan basah menyambutnya tanpa ampun. Hujan langsung membasahi rambut dan bajunya, tapi ia tidak peduli.
“Arka…?” suaranya hampir tak terdengar.
Sosok itu tidak bergerak.
Aluna melangkah lebih dekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai akhirnya wajah itu mulai terlihat lebih jelas.
Dan dunia seolah berhenti berputar.
Itu benar Arka.
Wajah yang sama. Tatapan yang sama. Bahkan cara berdirinya pun tak berubah.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Matanya.
Dulu hangat. Sekarang dingin… dan terasa asing.
“Luna,” ucap Arka pelan.
Nama itu—cara ia mengucapkannya—membuat dada Aluna sesak. Antara rindu dan luka yang belum sempat sembuh.
“Kamu…” Aluna kesulitan mencari kata. “Kamu ke mana aja?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aluna, seolah mencoba memastikan sesuatu.
“Aku kembali,” katanya akhirnya.
Jawaban yang terlalu sederhana untuk tiga tahun kehilangan.
Aluna tertawa kecil, tapi suaranya bergetar. “Kembali? Setelah tiga tahun? Tanpa kabar?”
Hujan semakin deras, seolah ikut menekan suasana di antara mereka.
“Aku nggak punya pilihan waktu itu,” jawab Arka pelan.
“Klasik,” potong Aluna cepat. “Semua orang juga bilang gitu.”
Arka menunduk sebentar. Untuk sesaat, ia tampak seperti Arka yang dulu—rapuh dan penuh beban.
“Aku tahu kamu marah,” katanya.
“Bukan marah,” Aluna menggeleng. “Aku cuma… capek nunggu.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa ditahan lagi.
Arka mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah, ada sesuatu di sana—penyesalan, mungkin… atau sesuatu yang lebih dalam.
“Aku kira kamu nggak akan nunggu,” katanya pelan.
Aluna tersenyum pahit. “Aku juga kira gitu.”
Hening.
Hanya suara hujan yang tersisa.
Lalu, tanpa sadar, Aluna bertanya, “Kenapa sekarang?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat Aluna bisa melihat jelas raut wajahnya.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu,” katanya.
Nada suaranya berubah. Lebih serius. Lebih berat.
Aluna merasakan firasat buruk merayap pelan di dalam dadanya.
“Apa?” tanyanya.
Arka menatapnya dalam-dalam. “Semua yang terjadi tiga tahun lalu… bukan kebetulan.”
Aluna mengernyit. “Maksud kamu?”
Arka membuka mulut, tapi sebelum ia sempat melanjutkan—
Kilatan petir menyambar langit, diikuti suara gemuruh yang memekakkan telinga.
Dan dalam sepersekian detik itu…
Arka menghilang.
Begitu saja.
Seolah tidak pernah ada.
“Arka!” teriak Aluna panik.
Ia berputar, mencari ke segala arah. Jalanan kosong. Hanya hujan yang tersisa.
Napasnya memburu. Jantungnya seperti ingin keluar dari dadanya.
“Ini… apa…” bisiknya.
Tangannya gemetar. Air hujan bercampur dengan air mata yang entah sejak kapan jatuh.
Tiba-tiba—
“...Luna…”
Suara itu kembali.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
Tapi kali ini… bukan dari depan.
Melainkan dari belakang.
Perlahan, dengan rasa takut yang menjalar hingga ke ujung tubuhnya, Aluna menoleh.
Dan di sana—
Arka berdiri.
Tepat di belakangnya.
Dengan senyum tipis… yang sama sekali tidak terasa seperti Arka yang ia kenal.
Hujan terus turun.
Dan untuk pertama kalinya, Aluna menyadari—
Bahwa mungkin…
Yang kembali bukanlah Arka yang dulu.