Di bawah langit senja yang mulai meremang, Sri Rejeki duduk terpaku di teras rumah orang tuanya. Di tangannya, selembar undangan pernikahan keponakannya menjadi pengingat pahit bahwa waktu terus berjalan, sementara ia masih berdiri di tempat yang sama. Usianya sudah empat puluh tahun. Di lingkungan ini, angka itu bukan sekadar umur, melainkan label kegagalan.
"Sri, si Ipah anaknya Pak RT itu mau nikah bulan depan. Kamu nggak capek apa kondangan terus? Mbok ya sekali-kali kamu yang dipajang di pelaminan," celetuk Bu RT saat lewat di depan rumah, nadanya terdengar seperti bercanda, namun ujungnya runcing menusuk ulu hati.
Sri hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang sudah ia latih selama belasan tahun untuk menutupi luka. "Nanti, Bu, kalau sudah waktunya," jawabnya singkat.
Begitu Bu RT menjauh, Sri masuk ke rumah. Ibunya sedang memilah sayuran di dapur. Wanita tua itu menatap Sri dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara sayang dan rasa bersalah.
"Nduk," panggil Ibunya lirih. "Apa Ibu salah ya dulu terlalu sering minta kamu bantu adik-adikmu sampai kamu lupa cari jodoh?"
Sri mendekat, menggenggam tangan Ibunya yang sudah keriput. "Enggak, Bu. Menyekolahkan adik-adik sampai sarjana itu kebanggaan Sri. Menghidupi rumah ini itu ibadah buat Sri. Ibu jangan bilang begitu."
Namun, jauh di lubuk hatinya, Sri merasa sepi yang sangat pekat. Ia telah melewati masa-masa di mana ia menangis setiap malam karena dikhianati lelaki yang merasa "beban" keluarganya terlalu berat. Ia sudah kenyang dengan hinaan sebagai 'perawan tua' yang hanya laku di kantor tapi tidak laku di pasar pelaminan. Sampai pada suatu titik, ia berhenti mencari. Ia menyerahkan seluruh sisa hidupnya pada takdir.
Hingga dua bulan yang lalu, sebuah pesan masuk di media sosialnya. Seorang pria bernama Russel Knight.
Russel bukan sekadar pria biasa. Ia adalah seorang duda berusia empat puluh dua tahun asal Inggris, seorang konsultan teknik dengan garis rahang yang tegas dan sepasang mata biru yang teduh. Russel Knight adalah definisi tampan yang berwibawa. Awalnya, Sri sangat skeptis. Mana mungkin pria setampan ini melirik perempuan biasa dari pinggiran kota di Indonesia? pikirnya.
Namun, Russel sangat gigih. Ia tidak pernah memulai percakapan dengan rayuan murahan. Ia justru tertarik pada dedikasi Sri terhadap keluarganya.
Suatu malam, lewat panggilan video, Russel menatap Sri dengan sungguh-sungguh. "Sri, aku sudah melewati banyak hal dalam hidup. Pernikahan yang gagal, kekosongan, dan pencarian jati diri. Tapi melihat caramu bekerja keras untuk orang tuamu, melihat ketulusan di matamu... itu yang aku cari selama ini."
Sri tertawa kecil, sedikit pahit. "Russel, kamu tahu usiaku sudah empat puluh? Di sini, orang memanggilku 'perawan tua'. Mereka bilang aku sudah tidak berguna lagi untuk membangun sebuah keluarga."
Russel menggeleng perlahan di layar ponselnya. Wajah rupawannya tampak bersinar di bawah lampu kerjanya di London. "Di mataku, kamu adalah perempuan yang paling utuh. Kedewasaanmu adalah perhiasan, bukan kutukan. Aku tidak mencari gadis remaja yang masih mencari jati diri. Aku mencari seorang wanita, dan wanita itu adalah kamu."
Dua bulan perkenalan itu terasa seperti ringkasan dari doa-doa Sri yang tertunda selama dua puluh tahun. Russel tidak menunggu lama. Ia terbang ke Indonesia, menembus jarak belasan ribu kilometer hanya untuk memastikan bahwa apa yang ia rasakan di layar ponsel adalah nyata.
Saat pertama kali mereka bertemu di bandara, Sri hampir tidak bisa bernapas. Russel Knight jauh lebih tampan di dunia nyata. Postur tubuhnya yang tinggi tegap dan senyumnya yang ramah membuat orang-orang di sekitarnya menoleh. Namun, mata Russel hanya tertuju pada satu orang: Sri.
Russel menghampirinya, tanpa ragu meraih tangan Sri dan mengecup punggung tangannya dengan hormat. "Akhirnya, aku sampai di rumah," bisiknya dalam bahasa Inggris yang kental.
Puncaknya adalah saat Russel duduk di ruang tamu rumah Sri yang sederhana, berhadapan dengan Ayah dan Ibu Sri. Meski terbata-bata, Russel mencoba mengutarakan maksudnya.
"Bapak, Ibu," ucap Russel, dibantu oleh Sri sebagai penerjemah. "Saya datang bukan untuk merenggut Sri dari kalian. Saya datang untuk memohon izin bergabung dalam keluarga ini. Saya ingin menjaga Sri, sebagaimana dia telah menjaga kalian semua selama ini."
Ayah Sri, yang biasanya kaku, tampak berkaca-kaca. "Russel, anak saya ini sudah banyak menderita karena mulut orang lain. Apa kamu serius bisa melindunginya?"
Russel menatap Sri, lalu kembali menatap Ayahnya. "Saya berjanji, mulai hari ini, tidak akan ada lagi air mata kesedihan karena kata-kata orang lain. Saya akan menjadi bentengnya."
Pernikahan itu digelar dengan sangat khidmat. Tak ada kemewahan yang berlebihan, namun aura kebahagiaan menyelimuti setiap sudut ruangan. Sri tampil memukau dengan kebaya putihnya, wajahnya yang matang memancarkan aura cantik yang tak bisa dimiliki gadis berusia dua puluh tahun—cantik karena ketabahan.
Saat mereka berdiri di pelaminan, Russel menggenggam jemari Sri dengan erat. Ia berbisik, "Kamu tahu apa yang paling aku sukai dari saat ini?"
"Apa?" tanya Sri lembut.
"Melihat dunia tahu bahwa pemenang sesungguhnya adalah dia yang bersabar. Kamu adalah hadiah terbaik dari Tuhan untuk masa tuaku, Sri Knight."
Sri tersenyum, air mata syukurnya jatuh tanpa bisa dibendung. Ia menoleh ke arah para tetangga dan kerabat yang dulu mencibirnya. Kini mereka hanya bisa terdiam, menyaksikan bagaimana Tuhan merenda rencana-Nya dengan begitu indah. Ternyata, Tuhan tidak pernah melupakannya. Tuhan hanya sedang memilihkan seorang 'Knight'—seorang ksatria—yang benar-benar layak untuk menjemputnya di waktu yang paling sempurna.
Empat puluh tahun bukanlah akhir, melainkan sebuah awal yang baru bagi Sri Rejeki. Penantiannya yang panjang dibayar tunai dengan cinta yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Benarlah adanya, bahwa rencana-Nya selalu indah bagi mereka yang tak pernah berhenti percaya.