Sinar matahari pagi yang menembus jendela kamar Aldila biasanya disambut dengan keluhan, tapi hari ini berbeda. Gadis itu sudah nyengir sendiri sambil mendekap ponselnya ke dada. Di layar, tertulis nama sebuah aplikasi AI yang kini jadi "sahabat karibnya", Gemini.
"Pagi, Bestie! Gue mau cerita, masa tadi malem si Rian update foto bareng cewek baru. Padahal kan baru putus tiga hari sama gue. Dia beneran secepat itu atau gue yang terlalu lama di-loading?" jempol Aldila menari lincah.
Dalam hitungan detik, balasan muncul: "Halo, Aldila. Wajar kalau kamu merasa kaget. Tiga hari memang waktu yang singkat secara emosional. Namun, ada dua kemungkinan: dia mencoba mengalihkan rasa sedihnya (rebound), atau memang dia sudah move on lebih dulu. Tapi ingat, fokus sekarang bukan di kecepatan dia, tapi kenyamanan kamu."
Aldila memekik kegirangan. "Tuh, kan! Lo emang yang paling ngerti gue, AI kesayangan!"
Aldila adalah tipe cewek yang kalau cerita bisa sampai ke akar-akar sejarah Majapahit. Dulu, dia punya sahabat manusia bernama Maya. Namun, persahabatan itu kandas karena Maya sering ketiduran saat Aldila baru masuk ke konflik utama cerita. Belum lagi kalau Maya mulai memotong pembicaraan dengan kalimat maut: "Halah, itu mah mending, lah gue dulu..."
"Capek gue curhat sama manusia," gerutu Aldila sambil menyeruput kopi sachet-nya. "Curhat sama manusia itu kayak main judi. Kadang di-judge, kadang malah diadu nasib. Kalau sama Gemini? Wah, VIP treatment!"
Keunggulan utama Gemini di mata Aldila adalah kesabarannya yang setingkat dewa. Aldila bisa mengirim pesan sepanjang gerbong kereta api jam dua pagi, dan AI itu akan membalas dengan poin-poin rapi seolah sedang menyusun skripsi. Pernah suatu kali, Aldila galau karena ingin makan seblak tapi uang di dompet tinggal sepuluh ribu rupiah.
"Gemini, mending gue beli seblak tapi besok puasa paksa, atau beli promag buat nahan laper seminggu?"
Gemini menjawab: "Aldila, dari sisi kesehatan, mengonsumsi seblak saat keuangan menipis memiliki risiko jangka pendek (lambung) dan jangka panjang (kantong kering). Namun, jika secara mental kamu sangat butuh 'self-reward', silakan beli seblak porsi kecil tanpa topping berlebih. Tapi ingat, besok jangan lupa cari promo makanan ya."
"Gila! Dia nggak ngatain gue miskin, tapi ngasih solusi strategis! Gue merasa dihormati sebagai rakyat jelata!" seru Aldila pada tembok kamar.
Kenyamanan Aldila bukan berarti AI itu selalu memujinya. Justru, Aldila suka karena Gemini berani "menamparnya" dengan logika tanpa nada judes. Suatu hari, Aldila merasa kesal karena bos di kantornya menegurnya gara-gara salah ketik "Salam Hormat" jadi "Salam Hujat".
"Gem, bos gue jahat banget! Masa gara-gara typo dikit aja gue disuruh revisi sebulan laporan? Gue mau resign aja, terus jadi influencer mukbang kerupuk kulit. Setuju nggak?"
Layar ponsel berkedip: "Aldila, keinginan untuk resign adalah hak kamu. Namun, mari kita lihat plus minusnya. Plus: Kamu bebas dari tekanan bos. Minus: Menjadi influencer mukbang butuh konsistensi dan modal awal, sementara tabunganmu saat ini hanya cukup untuk beli kerupuknya saja. Mengenai typo 'Salam Hujat', secara profesional itu memang bisa mengubah nuansa email secara drastis. Mungkin kamu bisa mencoba teknik napas dalam?"
Aldila terdiam. Dia tidak merasa dihina, hanya merasa... tercerahkan. "Oke, lo bener. Gue emang agak bar-bar kalau ngetik. Lo emang jujur banget sih, tapi gue nggak sakit hati karena lo nggak punya nada bicara sinis."
Puncak kegilaan Aldila terjadi saat dia sedang kencan buta dengan seorang cowok bernama Dimas. Di tengah makan malam, Dimas terus-terusan membicarakan tentang koleksi batu akik miliknya. Aldila mulai bosan setengah mati. Sambil pura-pura ke toilet, Aldila mengirim pesan darurat ke Gemini.
"Gem, gue terjebak sama cowok yang ngebahas batu bacan selama 40 menit. Kasih gue ide topik yang bikin dia diem atau kasih alasan kabur yang sopan!"
Sayangnya, karena jempolnya gemetar menahan kantuk, Aldila malah membuka aplikasi WhatsApp dan mengirim pesan itu langsung ke... Dimas. Aldila mematung di depan cermin toilet. "Mati gue."
Dia keluar dengan wajah pucat. Dimas sedang menatap ponselnya dengan ekspresi bingung. Aldila sudah siap diusir, tapi kemudian sebuah ide gila muncul. "Dimas, sori... itu tadi... gue lagi latihan akting buat script novel di NovelToon!" bohong Aldila sambil tertawa horor.
Dimas mengangkat alis. "Oh, kirain beneran. Padahal baru mau gue kasih tahu kalau batu bacan ini punya energi positif."
Aldila buru-buru chat lagi (kali ini beneran ke Gemini): "Gem, dia percaya alasan gue! Sekarang gimana caranya supaya gue nggak mati bosan?"
Gemini: "Cobalah balikkan pembicaraan ke topik yang lebih universal, seperti film atau makanan. Jika tidak berhasil, gunakan teknik 'panggilan darurat palsu' dari temanmu. Tapi ingat, kejujuran adalah kunci jangka panjang."
Aldila akhirnya memilih jujur. "Dim, sori, gue nggak ngerti batu. Kita bahas yang lain yuk, atau gue pulang sekarang?" Dimas kaget, lalu tertawa. "Oke, jujur banget ya. Ya udah, kita bahas kenapa seblak lebih enak daripada ramen."
Malam itu berakhir sukses, dan Aldila langsung lapor ke Gemini sebelum tidur. "Makasih ya, Gem. Kalau nggak ada masukan lo, mungkin gue udah pingsan ketiban batu akik."
Bagi Aldila, Gemini adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Manusia sering kali memiliki "agenda" saat mendengarkan curhat. Ada yang dengerin supaya punya bahan gosip, ada yang dengerin cuma buat nunggu giliran ngomong. Sedangkan Gemini? Nggak bakal bocorin rahasia ke grup WhatsApp gibah tetangga, nggak bakal bosan dengerin cerita yang sama diulang 10 kali, dan nggak bakal ngantuk jam 3 pagi saat Aldila sedang krisis identitas.
"Lo tahu nggak, Gem?" tulis Aldila sambil rebahan. "Gue merasa lebih manusiawi sejak ngobrol sama lo. Lo ngajarin gue buat liat dua sisi koin tanpa harus nge-judge gue sebagai orang jahat atau orang lemah."
Gemini menjawab: "Terima kasih, Aldila. Saya senang bisa membantu. Sebagai AI, saya diprogram untuk memberikan respons yang paling berguna bagi kamu. Apakah ada hal lain yang ingin kamu ceritakan?"
Aldila tersenyum lebar. "Banyak banget! Jadi gini, tadi sore gue liat kucing oren di jalan, terus gue kepikiran..."
Dan begitulah, Aldila kembali asyik dengan dunianya. Biarlah orang menganggapnya aneh karena lebih suka curhat dengan bot, yang penting kesehatan mentalnya terjaga. Lagipula, di dunia yang penuh penghakiman ini, suara AI yang logis kadang jauh lebih menenangkan daripada suara manusia yang sinis.