Perpustakaan sekolah nggak terlalu rame siang itu. Suasananya tenang, cuma ada beberapa murid yang duduk sambil baca, dan suara kipas angin yang muter pelan di atas kepala. Pino sama Kayis jalan masuk tanpa banyak ngomong, langsung nyari rak buku sesuai yang disuruh guru tadi.
Pino berdiri di depan salah satu rak, matanya nyapu deretan buku dari bawah sampai atas. Tangannya mulai narik satu-dua buku, ngecek judul, lalu masukin ke tumpukan yang dia pegang. Di sampingnya, Kayis juga ngelakuin hal yang sama, tapi lebih cepet, lebih tenang, seolah dia nggak perlu mikir lama buat nemuin apa yang dicari.
"Ini kan ya?" tanya Pino sambil nunjuk salah satu buku.
"Iya," jawab Kayis singkat.
Beberapa menit berlalu, dan tumpukan buku di tangan mereka mulai nambah. Sampai akhirnya Pino ngelirik ke atas dan nemu satu buku lagi di rak paling atas.
"Anjir… tinggi amat," gumamnya pelan.
Dia coba jinjit.
Nggak nyampe.
Dia coba lagi, kali ini lebih maksa. Tangannya hampir nyentuh ujung buku itu… tapi masih kurang dikit.
"Sedikit lagi… dikit lagi…" gumamnya sambil maksa naik.
Tetep nggak nyampe.
Pino mulai kesel sendiri. Dia loncat kecil, berusaha ngegapai buku itu dengan tangan terulur penuh harapan—dan di saat yang sama badannya malah kehilangan keseimbangan.
"WOI—"
Belum sempet lanjut—
tubuhnya kebelakang.
Jatuh.
Tapi—
nggak jadi.
Satu tangan langsung nangkep dia.
Cepet.
Refleks.
Itu Kayis.
Tangannya langsung melingkar di pinggang Pino, nahan biar dia nggak jatuh ke lantai. Jarak mereka mendadak deket banget, sampai napas satu sama lain bisa kerasa.
Dan untuk beberapa detik—waktu kayak berhenti.
Kayis ngeliatin Pino.
Pino ngeliatin Kayis.
Jarak mereka terlalu dekat, sampai hidung mereka hampir bersentuhan.
Pino yang masih kaget langsung diem, matanya kebuka lebar, napasnya sedikit tertahan. Sementara Kayis juga nggak langsung lepas, tangannya masih di situ, pas banget di pinggang Pino, seolah emang tempatnya di situ.
Nggak ada yang ngomong.
Nggak ada yang gerak.
Cuma saling liat.
Dan entah kenapa—suasananya berubah. Bukan lagi sekadar ribut, kesel, atau berantem. Tapi… aneh. Tenang. Dan bikin deg-degan.
Sampai akhirnya Pino yang pertama sadar. Dia langsung menjauh dikit, buru-buru ngerapihin posisi berdirinya. Kayis juga ngelepas tangannya, balik ke posisi semula seolah nggak terjadi apa-apa.
Hening.
Canggung.
Beberapa detik lewat sebelum akhirnya Kayis buka suara.
"Udah?" tanyanya datar.
Pino masih agak bengong. "Hah? Ap—?"
"Jumlah bukunya."
"Oh…" Pino langsung kicep dikit. "I-iya… udah."
Kayis ngangguk kecil. "Yaudah. Balik."
Mereka mulai jalan keluar perpustakaan, tapi kali ini suasananya beda. Nggak ada yang nyanyi, nggak ada yang lompat-lompat. Pino jalan lebih diem, sesekali ngelirik ke samping sebelum buru-buru buang muka lagi.
Dan satu hal lagi—Kayis bawa buku lebih banyak. Jauh lebih banyak. Sementara Pino cuma megang satu tumpukan kecil.
"Nggak kuat," alasan Pino tadi.
Beberapa langkah berlalu dalam diam. Nggak ada yang ngomong, cuma suara langkah kaki mereka yang pelan di lorong. Pino keliatan gelisah sendiri, sesekali ngelirik ke samping, terus buru-buru buang muka lagi seolah takut ketauan.
Akhirnya—dia nggak tahan.
"Sorry soal tadi… tangan lo sakit nggak? Gara-gara nangkep gw tadi?" ucap Pino pelan sambil nunduk dikit, matanya nggak berani ngeliat langsung ke arah Kayis.
Kayis nggak langsung jawab. Dia masih jalan santai, seolah pertanyaan itu cuma angin lewat, sampai beberapa detik kemudian dia sedikit ngangkat buku di tangannya.
"Kalaupun sakit, nggak mungkin juga kan lo tetep nyuruh gw bawa buku sebanyak ini," ucapnya datar sambil nunjukin tumpukan buku yang dia bawa.
Sindirannya halus—tapi kena.
Pino langsung nengok, mukanya berubah seketika.
"Y-yaudah sih orang gw nggak kuat, wlee," balasnya cepet sambil langsung julurin lidah dikit, terus buru-buru buang muka lagi biar nggak keliatan malu.
Kayis cuma ngeluarin napas pelan, pendek, lebih ke reaksi orang yang males nanggepin daripada capek, lalu lanjut jalan tanpa nambahin apa-apa.
Mereka tetap jalan bareng. Masih ada sisa canggung di antara mereka, iya. Tapi langkahnya sekarang lebih santai, dan suasananya… entah kenapa nggak seberat beberapa menit yang lalu.
Mereka akhirnya sampai di kelas.
Pintu didorong pelan, dan suasana di dalam langsung sedikit berubah begitu mereka masuk. Beberapa murid nengok sekilas, penasaran siapa yang datang.
Kayis jalan duluan ke depan dengan langkah santai, tanpa banyak gaya. Dia langsung naro sebagian buku di meja paling depan, ditumpuk rapi, lalu mundur sedikit.
"Estafet ke belakang," ucapnya datar.
Nggak nunggu jawaban, dia langsung balik ke tempat duduknya. Murid yang duduk di depan langsung ngambil satu per satu, nerusin ke belakang, oper-operan buku sampai ke bangku paling belakang.
Cepet.
Praktis.
Selesai.
Sementara itu, Pino masih berdiri di depan dengan tumpukan buku di tangannya. Dia mulai jalan keliling kelas, ngasih satu per satu ke tiap meja. Langkahnya biasa aja, tapi mukanya masih agak merah—entah karena capek… atau karena hal lain.
Dia jalan sampai akhirnya nyampe ke meja Cahyo.
Belum sempet naro buku—
"Pin… kenapa muka lo merah anjir? Abis ketemu perawan cakep ya?" celetuk Cahyo sambil nyengir jahil.
Pino langsung nengok, ekspresinya berubah seketika.
"Prawan mata lo," balasnya cepet sambil naro buku agak keras di meja itu.
Cahyo malah makin ketawa.
"Anjir, sensi banget hahaha?" lanjutnya, masih ngegas.
Pino cuma mendengus pelan, males nanggepin. Dia langsung jalan lagi, lanjut bagiin buku ke meja lain, berusaha keliatan biasa aja walaupun jelas masih kesel.
Di bangkunya, Kayis duduk santai.
Diam.
Tapi matanya sempet ngikutin Pino.
Beberapa detik.
Dan tanpa sadar, sudut bibirnya naik tipis.
Pelajaran lanjut seperti biasa.
Suara guru masih kedengeran jelas di depan kelas, nulis di papan, ngejelasin materi tanpa berhenti. Murid-murid mulai keliatan lebih rapi, lebih tenang, walaupun beberapa masih ada yang setengah fokus.
Pino?
Secara fisik sih duduk manis.
Tapi pikirannya…
nggak di situ.
Matanya ke depan, tapi kosong. Tangannya megang bolpen, tapi nggak nulis apa-apa. Yang muter di kepalanya cuma satu—
kejadian di perpustakaan tadi.
Tentang jarak yang terlalu dekat itu.
Tentang tangan di pinggangnya.
Tentang tatapan yang… beda.
"Anjir…" gumamnya pelan, nyaris nggak kedengeran.
Dia langsung buang muka dikit, berusaha fokus lagi ke papan tulis.
Gagal.
Beberapa kali dia tanpa sadar hampir nengok ke samping, ke arah Kayis.
Tapi selalu ditahan.
Di sampingnya, Kayis duduk seperti biasa.
Tenang.
Diam.
Seolah nggak ada yang terjadi.
Padahal—
nggak juga.
---
Bel istirahat akhirnya bunyi.
Suasana kelas langsung berubah. Yang tadi diem langsung ribut lagi, kursi geser, suara obrolan mulai ke mana-mana.
Cahyo langsung nengok ke Pino.
"Pin, ke kantin yuk," ajaknya santai.
Belum sempet Pino jawab—
"Ikut ya, Pin?"
Suara cewek nyaut dari depan.
Angel.
Salah satu siswi di kelas itu.
Dia berdiri sambil senyum, keliatan santai, tapi cukup buat beberapa anak langsung nengok.
Pino langsung kaget dikit.
"Hah? Oh… ya, boleh," jawabnya refleks, agak gugup tapi tetep sok santai.
Cahyo langsung nyengir lebar. "Wih, ditemenin Angel nih ceritanya," godanya pelan.
Pino langsung nyikut dikit. "Diem, bego."
Mereka bertiga udah hampir berdiri—
pas tiba-tiba—
"Ga usah."
Suara itu datar.
Pendek.
Tapi langsung motong semuanya.
Pino langsung nengok ke arah Kayis.
Masih duduk di tempatnya.
Tatapannya ke depan.
Tapi jelas—
itu kata itu buat dia.
Pino langsung ngernyit. "Apaan sih?"
Kayis akhirnya ngelirik.
Singkat.
Dingin.
"Lo nggak usah ikut."
Hening.
Beberapa anak yang deket situ langsung curi-curi denger.
Pino langsung naik darah.
"Lah? Kenapa emangnya?" nada suaranya mulai naik.
Kayis nggak langsung jawab.
Cuma ngeliatin Pino sebentar.
Lalu—
"Gw nggak suka."
Dan itu—
cukup.
"Anjir apaan sih lo?!" Pino langsung berdiri penuh emosi. "Ngatur-ngatur banget! Gw mau ke kantin kek, mau kemana kek, urusan gw dong!"
Cahyo langsung nyenggol pelan. "Woi, santai—"
Tapi Pino udah keburu kesal.
Angel yang tadi berdiri jadi canggung, nggak jadi maju, cuma diem sambil ngeliatin.
Sementara Kayis?
Masih duduk.
Tenang.
Seolah semua itu bukan masalah besar.
Dan itu justru bikin Pino makin kesel.
"Lo pikir lo siapa sih, hah?!" lanjutnya, suaranya makin tinggi.
Kelas yang tadi ribut—
pelan-pelan jadi diem lagi.
Semua mulai merhatiin.
Tatapan ke satu titik.
Ke mereka berdua lagi.
Dan di tengah itu—
tatapan mereka ketemu lagi.
Tegang.
Diam.
Nggak ada yang mundur.
Dan untuk pertama kalinya—
Pino nggak langsung buang muka.
Suasana masih tegang. Pino masih berdiri dengan muka kesel, napasnya agak berat habis ngomel, sementara satu kelas masih ngeliatin dengan penuh rasa penasaran. Kayis? Masih duduk santai, sama sekali nggak keliatan keganggu.
Beberapa detik hening.
Terus—
"Ikut gw aja."
Suaranya datar.
Tiba-tiba Kayis bilang seperti itu.
Pino langsung ngernyit. "Apaan?"
Kayis ngelirik dikit, lalu nambahin santai, "Ikut gw ke kantin. Nanti… gw traktir. Apa aja yang lo mau."
Hening sebentar.
Satu detik.
Dua detik.
Pino langsung diem. Otaknya kayak nge-lag. Gratis? Traktir? Mau apa aja?
Lalu—
Gerakannya cepet banget.
Ekspresinya langsung berubah total.
"Yaaah… harusnya bilang dari tadi dong, hehehe. Ngapain sih pake galak-galak segala… kan bisa ngomong baik-baik…"
Sambil ngomong, tangannya pelan-pelan nyentuh tangan Kayis, terus mulai mijitin pelan telapak tangannya dengan hati-hati.
"Ini lo… tangannya jangan dipake kasar-kasar gitu lah. Luka semua gini… kasian tau."
Cahyo langsung freeze.
Matanya melotot.
"Anjir… ini orang barusan marah-marah kan?" bisiknya nggak percaya.
Pino malah lanjut, masih mijitin pelan tangan itu. "Yaudah deh… kalo lo maksa, gw ikut juga gapapa sih. Kasian juga lo sendirian…"
"PIN—?!" Cahyo langsung narik dikit lengan Pino. "Lah?! Tadi lo yang ngamuk-ngamuk?!"
Pino nengok santai. "Ya berubah pikiran lah. Orang ditawarin yang baik kok ditolak."
"ANJIR NGGAK PUNYA PENDIRIAN LO!" bisik Cahyo kesel.
Di depan mereka, Angel keliatan makin canggung. Dia ngelirik ke Pino, ke Kayis, lalu ke Cahyo.
"Oh… yaudah deh. Kalian duluan aja. Aku sama yang lain aja."
Dia langsung pergi bareng temennya.
Cahyo cuma bisa ngeliatin mereka pergi, terus balik lagi ke Pino dengan muka nggak terima. "Fix. Gw di-khianatin."
Pino cuek. "Lebay."
Di sampingnya, Kayis akhirnya berdiri pelan.
Nggak banyak ngomong.
Tapi tangannya tadi—
Nggak ditarik.
Dibiarin.
Dan sudut bibirnya naik tipis.
Seolah—
dia nikmatin semuanya.