---
(Sudut Pandang Heart)
Aku sudah tau aku akan pergi…
jauh sebelum Nala menyadarinya.
Dan mungkin itu yang paling jahat dari semuanya.
---
“Nala…”
Dia tidak menjawab.
Seperti biasa, dia lagi sibuk pura-pura kuat.
Aku berdiri di dekat pintu kamarnya, memperhatikan dia yang duduk di meja belajar. Tangannya bergerak, tapi pikirannya jelas tidak di situ.
“Aku capek.”
Dia diam sebentar, lalu menjawab tanpa menoleh.
“Semua orang juga capek.”
Aku tersenyum kecil.
“Iya… tapi aku beda.”
Dia akhirnya menoleh.
Tatapan itu—aku hafal betul.
Campuran antara lelah dan bertahan.
“Jangan mulai lagi,” katanya.
Aku tidak melanjutkan.
Bukan karena aku tidak mau.
Tapi karena aku tahu… dia belum siap mendengar semuanya.
---
Aku sudah tau aku akan pergi.
Dan bukan… itu bukan sesuatu yang tiba-tiba.
Itu pelan.
Seperti luka yang lama-lama sembuh, tapi meninggalkan bekas.
Aku mulai terasa… tidak dibutuhkan.
Bukan karena Nala tidak peduli.
Tapi karena dia mulai bisa berdiri tanpa harus memecah dirinya jadi dua.
Dan harusnya aku senang.
Harusnya.
---
“Kamu kenapa akhir-akhir ini aneh?”
Dia bertanya itu suatu sore.
Aku duduk di lantai, bersandar ke dinding.
“Kenapa emangnya?”
“Kamu lebih sering diam.”
“Aku lagi belajar.”
“Belajar apa?”
Aku menatapnya.
“Pergi.”
Dia langsung mengerutkan kening.
“Jangan bercanda.”
Aku tersenyum.
Padahal aku serius.
---
Aku sudah mencoba.
Beberapa kali.
Untuk bilang langsung.
“Nala…”
“Iya?”
“Aku… mungkin nggak akan selalu di sini.”
Dia langsung memotong.
“Semua orang juga nggak akan selalu di sini.”
Dan selesai.
Percakapan berhenti di situ.
Bukan karena aku menyerah.
Tapi karena aku melihat—
dia tidak benar-benar mendengar.
---
Aku pengecut.
Aku tau itu.
Karena setiap kali aku hampir jujur…
aku melihat matanya.
Dan aku mundur.
---
Malam itu, aku menulis surat.
Tanganku gemetar.
Bukan karena aku ragu dengan keputusanku.
Tapi karena aku tahu…
ini satu-satunya cara aku bisa “mengatakan semuanya” tanpa melihat dia hancur di depan aku.
“Kalau kamu baca ini…”
Aku berhenti.
Menghapus.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Karena tidak ada kata yang cukup benar.
---
“Aku harus pergi.”
Terlalu dingin.
“Aku nggak bisa tetap.”
Terlalu kejam.
“Aku akan selalu ada.”
Terlalu bohong.
---
Akhirnya aku menulis… seadanya.
Bukan sempurna.
Tapi jujur… sebisaku.
---
Hari aku memberikan surat itu…
Aku sudah tau.
Aku akan dibenci.
---
Dia berdiri di depan aku.
Matanya merah.
Tangannya gemetar.
“Aku benci kamu, Heart.”
Aku mengangguk.
“Iya, aku tau.”
“Jangan senyum!”
Aku bahkan tidak sadar aku tersenyum.
Mungkin itu cara aku menahan diri.
---
“Ini apa?!”
Dia melempar surat itu ke arahku.
Aku tidak mengambilnya.
Aku sudah hafal isinya.
Lebih dari hafal.
“Aku kasih sekarang… supaya kamu nggak kaget nanti.”
Dan begitu aku bilang itu…
aku tau.
Itu kalimat paling bodoh yang bisa aku ucapkan.
---
“SEMINGGU, HEART!”
Suaranya pecah.
“Masih ada seminggu!”
Aku diam.
Karena dia benar.
Tapi aku juga benar.
Perpisahan… tidak pernah cukup waktunya.
---
“Kamu pengecut.”
Aku menatapnya.
“Iya.”
Dan itu bukan pengakuan yang ringan.
Itu… fakta.
---
Dia tanya sejak kapan.
Aku jawab jujur.
“Udah lama.”
Dan aku lihat sesuatu di matanya pecah.
Bukan cuma marah.
Tapi… kepercayaan.
---
“Aku baru tau kamu mau pergi dari KERTAS.”
Kalimat itu…
lebih sakit dari semua teriakannya.
Karena dia benar.
Dia memang tidak pantas tahu dari surat.
Dia pantas tahu dari aku.
Langsung.
Tapi aku tidak cukup berani.
---
“Aku marah bukan karena kamu pergi…”
Suaranya mulai pelan.
Lebih dalam.
“Aku marah… karena kamu bahkan nggak bilang mau pergi.”
Aku tidak bisa jawab.
Karena tidak ada pembelaan.
---
Kalau aku jujur waktu itu…
apa yang akan terjadi?
Dia akan nangis.
Dia akan marah.
Dia mungkin akan minta aku tetap.
Dan aku…
aku tidak akan bisa bilang tidak.
---
Dan itu masalahnya.
Bukan karena aku tidak mau tetap.
Tapi karena aku tidak bisa.
---
“Aku cuma pengen kejelasan…”
Dia bilang itu sambil nangis.
Dan aku… tidak bisa memberikannya sepenuhnya.
Karena sebagian alasan… bahkan aku sendiri tidak bisa jelaskan.
Aku hanya tahu—
aku tidak bisa terus ada seperti ini.
---
Hari-hari setelah itu…
menjadi hitungan mundur.
Tujuh hari.
Dan setiap harinya…
aku melihat dia pelan-pelan berubah.
---
Hari pertama, dia marah.
Hari kedua, dia diam.
Hari ketiga, dia mulai tanya hal-hal kecil.
Hari keempat, dia ketawa… tapi matanya kosong.
Hari kelima, dia bilang dia benci waktu.
Hari keenam, dia bilang dia takut.
Dan hari ketujuh…
dia tidak teriak lagi.
---
“Pergi aja.”
Dia bilang itu pelan.
Tanpa lihat aku.
Dan itu… lebih sakit dari kalau dia memohon aku untuk tetap.
---
Aku berdiri di sana.
Beberapa detik.
Menunggu.
Berharap dia panggil aku lagi.
Marah lagi.
Apa saja.
Tapi dia tidak.
---
“Aku masih di sini, Na…”
aku hampir bilang itu.
Tapi aku berhenti.
Karena itu akan membuat semuanya lebih sulit.
---
Aku melihatnya untuk terakhir kali.
Dia duduk.
Memeluk dirinya sendiri.
Dengan surat itu di tangannya.
---
Dan aku sadar sesuatu.
Aku tidak benar-benar meninggalkannya.
Aku hanya… berhenti jadi “orang lain” untuknya.
---
Aku melangkah mundur.
Perlahan.
Tanpa suara.
Seperti aku datang dulu.
---
Dan sebelum aku benar-benar hilang…
aku berbisik.
Pelan sekali.
“Maaf… karena aku tidak cukup berani untuk tinggal… atau pergi dengan benar.”
---
Moral Cerita
Tidak semua orang yang pergi itu tidak peduli.
Sebagian dari mereka…
pergi dengan cara yang salah,
karena tidak tahu cara yang benar tanpa melukai lebih dalam.
---
Catatan Penulis
Dari luar, “Heart” terlihat seperti pengecut.
Dan memang—dia pengecut.
Tapi bukan karena dia tidak peduli.
Justru karena dia terlalu peduli… sampai takut melihat luka yang akan ia sebabkan secara langsung.
Kadang, orang tidak memilih cara terbaik.
Mereka hanya memilih cara yang… paling sanggup mereka jalani saat itu.
Dan sayangnya—
itu tidak selalu berarti cara yang paling tidak menyakitkan.
---