“Aku capek, Na.”
Suara itu lirih. Hampir seperti bisikan yang takut didengar oleh dunia.
Nala berhenti menulis. Pensilnya menggantung di udara, lalu jatuh pelan ke meja.
“Kamu capek dari apa?” tanyanya tanpa menoleh.
“Dari pura-pura kuat.”
Sunyi.
Kipas angin di langit-langit berderit pelan. Cahaya sore masuk dari jendela, memotong ruangan menjadi dua warna: terang dan redup.
Nala menghela napas. “Kamu bilang itu hampir setiap hari.”
“Karena rasanya juga hampir setiap hari.”
Nala akhirnya menoleh. “Yaudah… kamu mau aku jawab apa?”
“Jujur aja.”
“Jujur?” Nala menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku juga capek.”
“Kenapa?”
“Karena kamu terus ada.”
Hening yang kali ini terasa berbeda.
Seperti ada sesuatu yang retak, tapi belum jatuh.
---
“Aku nggak pernah minta buat ada, Na.”
Suara itu terdengar… sakit.
Nala menutup matanya. “Tapi kamu ada.”
“Dan itu salahku?”
Nala diam.
“Jawab aku, Na.”
“…nggak.”
“Lalu kenapa kamu marah ke aku?”
“Karena kamu bikin semuanya makin ribet!”
Nala berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser keras.
“Aku udah susah payah buat kelihatan baik-baik aja, ngerti nggak sih?! Tapi kamu selalu muncul, ngomong kayak gitu, bikin aku… goyah lagi!”
“Aku cuma jujur.”
“Dunia nggak butuh kejujuran kayak kamu!”
“Tapi kamu butuh.”
Nala terdiam.
Matanya berkedip cepat.
“Jangan sok tau,” bisiknya.
“Aku tau karena aku kamu.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Nala tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti tawa orang yang hampir menyerah.
“Kalimat klise banget.”
“Tapi bener.”
“Enggak. Kamu beda.”
“Apa bedanya?”
“Kamu lemah.”
“Dan kamu?”
Nala terdiam lagi.
“…aku cuma lebih jago pura-pura.”
---
Hari berikutnya di sekolah terasa normal.
Terlalu normal, malah.
“Nala! Eh, lo ngerjain PR nggak?” tanya Raka sambil nyenggol bahunya.
“Udah.”
“Anjir, rajin banget lo.”
“Biasa aja.”
“Eh nanti istirahat ke kantin bareng ya.”
Nala mengangguk kecil. “Iya.”
Semua berjalan seperti biasa.
Nala tertawa saat teman-temannya bercanda. Ia menjawab guru dengan tenang. Ia bahkan sempat membantu temannya mengerjakan soal.
“Lo tuh enak ya, Na. Kayak nggak pernah punya masalah.”
Nala tersenyum tipis. “Semua orang punya masalah.”
“Iya sih, tapi lo keliatan santai aja.”
“Cuma keliatan.”
“Hah?”
“Gapapa.”
---
Sepulang sekolah, Nala berjalan sendirian.
Langkahnya pelan.
“Aku kangen,” suara itu muncul lagi.
Nala tidak berhenti berjalan. “Kangen apa?”
“Dulu kamu nggak kayak gini.”
“Dulu aku juga nggak harus jadi kuat.”
“Kamu nggak harus jadi kuat sekarang.”
“Aku harus.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku nggak kuat, nggak ada yang bakal nolong aku.”
“Aku ada.”
Nala tertawa kecil. “Kamu bukan ‘orang’.”
“Tapi aku ada.”
“Itu masalahnya.”
---
Malam hari.
Nala duduk di lantai kamar, punggungnya bersandar ke tempat tidur.
Lampu dimatikan. Hanya cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajahnya.
Chat masuk.
Raka: Na, lo kenapa hari ini agak beda ya?
Nala mengetik.
Nala: Biasa aja kok.
“Kenapa bohong?”
Nala menghela napas. “Karena nggak semua orang perlu tau.”
“Tapi dia nanya karena peduli.”
“Peduli nggak selalu berarti ngerti.”
“Kasih dia kesempatan buat ngerti.”
“Kalau dia nggak ngerti, aku bakal capek jelasin.”
“Dan sekarang kamu nggak capek?”
Nala berhenti mengetik.
Lalu layar ponsel dimatikan.
Ruangan kembali gelap.
---
“Aku benci kamu.”
Suara itu terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Kenapa?” tanya Nala.
“Karena kamu selalu nyalahin aku.”
“Karena kamu selalu bikin aku lemah.”
“Aku cuma nunjukin yang sebenarnya.”
“Dan itu nyakitin!”
“Karena kamu nolak itu.”
Nala menutup telinganya.
“Berhenti.”
“Aku nggak bisa berhenti.”
“Berhenti!”
“Aku kamu, Na. Kamu mau berhentiin aku gimana?”
“DIEM!”
Tangis pecah.
Akhirnya.
---
Beberapa hari kemudian, sesuatu berubah.
Nala mulai… mengabaikan suara itu.
“Aku di sini.”
Tidak dijawab.
“Kamu denger aku, kan?”
Tidak ada reaksi.
“Na…”
Nala tersenyum ke teman-temannya. Tertawa lebih keras dari biasanya.
“Ayo foto!” seru salah satu temannya.
Nala ikut berpose.
“1… 2… 3!”
Klik.
Di foto itu, Nala terlihat paling bahagia.
---
“Kamu sengaja ngelakuin ini ya?”
Malam hari.
Sunyi.
“Kamu sengaja pura-pura aku nggak ada.”
Nala tetap diam.
“Aku ngerti kok… kamu mau hidup normal.”
Tidak ada jawaban.
“Tapi aku nggak akan hilang cuma karena kamu ngabaikan aku.”
Nala akhirnya bicara.
“Kalau aku terus denger kamu… aku bakal tenggelam.”
“Dan kalau kamu terus nolak aku… kamu bakal kosong.”
“Lebih baik kosong daripada sakit.”
“Itu bukan hidup, Na.”
“Setidaknya itu tenang.”
---
Hari itu hujan deras.
Sekolah pulang lebih cepat.
Nala berdiri di halte, sendirian.
Air hujan memantul di jalanan, menciptakan suara yang menenangkan sekaligus… sepi.
“Aku takut.”
Nala menatap lurus ke depan.
“Kali ini aku yang takut, Na.”
“Takut apa?”
“Takut kamu bener-bener ninggalin aku.”
“Kamu yang harusnya pergi.”
“Kalau aku pergi… kamu juga bakal hilang.”
Nala tertawa kecil. “Bagus.”
“Na…”
“Aku capek ngerasain semuanya.”
“Itu bagian dari hidup.”
“Kalau hidup cuma bikin sakit, buat apa dipertahanin?”
“Karena ada hal lain juga.”
“Apa?”
Sunyi.
“Kamu tau jawabannya.”
Nala menggeleng. “Nggak ada.”
“Ada.”
“Nggak ada!”
“ADA!”
Suara itu untuk pertama kalinya… berteriak.
Dan Nala terdiam.
---
Hujan semakin deras.
Langit gelap.
Lampu jalan mulai menyala.
“Aku nggak mau kamu hilang,” suara itu melemah.
Nala menutup matanya.
“Kenapa kamu peduli banget sama aku?”
“Karena aku satu-satunya yang tau kamu sebenarnya.”
“Dan itu yang bikin aku benci kamu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tau aku lemah.”
“Bukan lemah… kamu cuma lagi luka.”
“Bedanya apa?”
“Orang lemah nyerah. Orang luka butuh sembuh.”
Nala membuka matanya.
Air mata bercampur dengan hujan.
“…aku nggak tau cara sembuh.”
“Aku bantu.”
“Kamu cuma suara di kepala aku.”
“Justru itu… aku selalu ada.”
---
Tiba-tiba…
Sebuah mobil berhenti di depan halte.
“Kalea?!”
Seorang wanita turun dari mobil.
“Nala?! Kamu di sini dari tadi?!”
Nala mengerjap.
“Ibu…”
“Kamu basah kuyup! Astaga…” Ibunya langsung menariknya mendekat. “Kenapa nggak telpon Ibu?”
“Aku… lupa.”
“Ya ampun… ayo masuk mobil, cepat!”
Nala masuk ke dalam mobil.
Hangat.
Untuk pertama kalinya hari itu.
---
Di dalam mobil, suasana hening.
Ibunya sesekali melirik.
“Kamu… lagi ada masalah?”
Nala diam.
“Di sekolah?”
“…nggak.”
“Teman?”
“…nggak.”
“Lalu?”
Nala menggigit bibirnya.
“Aku…”
Suara itu muncul lagi.
“Katakan.”
Nala menutup matanya.
“…aku capek, Bu.”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Hanya menggenggam tangannya.
“Capek ya?”
Air mata jatuh lagi.
“Iya…”
“Kenapa nggak bilang dari dulu?”
“Aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut nggak ada yang ngerti.”
Ibunya tersenyum kecil. “Coba dulu.”
---
Malam itu.
Untuk pertama kalinya.
Nala bercerita.
Tentang rasa capeknya.
Tentang pura-pura kuat.
Tentang suara di kepalanya.
Tentang semuanya.
Ibunya tidak memotong.
Tidak menghakimi.
Hanya mendengarkan.
---
“Aku masih di sini.”
Suara itu muncul lagi.
Tapi kali ini… terasa berbeda.
Lebih lembut.
Nala tersenyum kecil.
“Aku tau.”
“Kamu nggak benci aku lagi?”
“…nggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku akhirnya ngerti.”
“Ngerti apa?”
“Kamu bukan musuh aku.”
“Lalu?”
Nala menarik napas panjang.
“Kamu… bagian dari aku yang selama ini aku tolak.”
---
Plot Twist
Suara itu tertawa pelan.
“Akhirnya kamu sadar juga.”
Nala tersenyum.
“Selama ini aku kira kamu gangguan.”
“Aku bukan gangguan.”
“Aku kira kamu kelemahan.”
“Aku bukan kelemahan.”
“Kamu itu…”
“…”
“Perasaan aku sendiri yang aku kubur.”
Sunyi.
Hangat.
Untuk pertama kalinya… damai.
---
Moral Cerita
Kadang yang paling kita lawan bukan dunia, bukan orang lain—
tapi bagian dari diri kita sendiri yang kita tolak.
Dan semakin kita mengabaikannya, semakin keras ia berteriak.
Bukan untuk menghancurkan kita,
tapi untuk didengar.
---
Catatan Penulis:
Cerita ini bukan tentang “suara aneh” atau hal mistis.
Ini tentang bagaimana seseorang bisa memisahkan dirinya dari perasaan sendiri karena terlalu sakit untuk dihadapi.
Kadang kita jadi “dua orang”:
yang terlihat kuat di luar
dan yang diam-diam rapuh di dalam
Dan sering kali… kita memusuhi sisi rapuh itu.
Padahal, justru di situlah kita paling butuh didengar.
Kalau kamu pernah ngerasa kayak Nala, capek, tapi nggak bisa cerita…
itu bukan berarti kamu lemah.
Itu berarti kamu manusia.
Dan kamu nggak harus hadapi semuanya sendirian.
---
---
Pertanyaan untuk Pembaca
1. Kalau kamu jadi Nala, kamu bakal memilih mendengarkan suara itu… atau terus mengabaikannya? Kenapa?
2. Pernah nggak kamu merasa seperti punya “dua versi diri”—yang terlihat kuat dan yang diam-diam lelah? Mana yang lebih sering kamu tunjukkan ke orang lain?
3. Menurutmu, kenapa manusia sering menolak perasaannya sendiri, padahal itu bagian dari dirinya?
4. Kalau seseorang di sekitarmu bersikap “baik-baik saja”, apakah itu benar-benar berarti dia baik-baik saja?
5. Apa yang biasanya kamu lakukan saat merasa capek secara emosional, tapi nggak bisa cerita ke siapa-siapa?
6. Menurutmu, lebih berbahaya mana: menyembunyikan perasaan atau menghadapi perasaan yang menyakitkan?
7. Kalau kamu adalah teman Nala, apa yang akan kamu katakan padanya?
8. Apakah menerima sisi rapuh dalam diri itu tanda kelemahan… atau justru kekuatan? Jelaskan pendapatmu.
9. Bagian mana dari cerita ini yang paling kamu rasakan dekat dengan dirimu? Kenapa?
10. Setelah membaca cerita ini, apakah pandanganmu tentang “kuat” berubah? Seperti apa arti kuat menurutmu sekarang?
---