Malam itu hujan turun pelan di luar jendela kamar.
Indonesia sedang masuk musim hujan, dan suara air yang jatuh dari atap rumah terdengar seperti ketukan lembut yang membuat siapa pun ingin cepat tertidur. Di atas tempat tidur, seorang remaja bernama mesya masih menatap layar ponselnya.
Usianya enam belas tahun. Rambutnya sedikit berantakan karena baru selesai belajar. Buku pelajaran matematika masih terbuka di samping bantal, tapi pikirannya sudah jauh ke mana-mana.
Besok ada ujian.
Besok juga ulang tahun ibunya.
Dan besok, seperti biasa, ia harus bangun pagi, membantu menyiapkan sarapan, lalu berangkat sekolah.
Namun malam itu, entah kenapa, mesya merasa gelisah.
Ia menutup ponsel, mematikan lampu kamar, lalu menarik selimut sampai ke dagu.
"Aneh sekali..." gumamnya pelan.
Suara hujan makin pelan.
Matanya mulai berat.
Dan beberapa menit kemudian, ia tertidur.
---
Ketika membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah cahaya matahari.
Bukan cahaya lampu kamar.
Bukan langit-langit kamarnya yang biasa.
Yang terlihat justru atap putih dengan kipas angin besar berputar perlahan.
Nara langsung duduk.
"Ini... di mana?"
Ia menoleh ke kanan.
Di sana ada meja kayu kecil.
Di atasnya terdapat kalender digital.
Tertulis:
17 Agustus 2034
Mesya membeku.
"2034?"
Ia meloncat turun dari tempat tidur.
Ruangan itu bukan kamarnya.
Lebih luas.
Lebih rapi.
Ada jendela besar dengan pemandangan gedung-gedung tinggi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Mobil-mobil di jalan bergerak hampir tanpa suara.
Beberapa melayang sedikit dari permukaan jalan.
Mesya mendekat ke jendela.
Jantungnya berdetak cepat.
"Ini mimpi?"
Ia mencubit tangannya.
Sakit.
Benar-benar sakit.
Lalu terdengar suara dari pintu.
"Mesya? Kamu sudah bangun?"
Suara perempuan dewasa.
Pintu terbuka.
Seorang wanita sekitar tiga puluh lima tahun masuk sambil membawa nampan sarapan.
Wajahnya... sangat mirip dirinya.
Bukan.
Lebih tepatnya...
Wajah itu seperti versi dirinya yang lebih dewasa.
Wanita itu tersenyum.
"Kamu tidur sangat larut lagi semalam."
Mesya mundur satu langkah.
"Siapa... Anda?"
Wanita itu berhenti.
Ekspresinya berubah bingung.
"Mesya?"
Nara merasa tenggorokannya kering.
Wanita itu meletakkan nampan.
Lalu mendekat pelan.
"Hei... kamu bercanda?"
"Aku... benar-benar tidak tahu ini di mana."
Wanita itu menatapnya lama.
Kemudian berkata pelan:
"Kalau begitu... sepertinya efeknya muncul lagi."
"Efek apa?"
Wanita itu menarik napas.
"Perjalanan memori."
Mesya tidak mengerti satu kata pun.
---
Beberapa menit kemudian, mesya duduk di ruang tamu apartemen besar sambil memegang segelas air hangat.
Wanita tadi memperkenalkan diri:
"Aku kamu."
Mesya hampir tersedak.
"APA?"
"Aku mesya juga. Tapi versi sepuluh tahun setelahmu."
Mesya menatap kosong.
Di depan meja terdapat bingkai foto.
Foto wanita itu.
Foto seorang pria muda.
Dan... seorang anak kecil tersenyum.
Mesya makin bingung.
"Aku... transmigrasi ke masa depan?"
Wanita itu tersenyum tipis.
"Kurang lebih begitu."
"Kenapa bisa?"
"Karena semalam mesin sinkronisasi waktu aktif."
"Mesin apa?"
Wanita itu menunjuk ruangan kerja di sudut apartemen.
Ada perangkat aneh seperti lingkaran cahaya besar berdiri di sana.
Mesya menelan ludah.
"Aku membuat itu?"
"Ya. Sepuluh tahun lagi kamu jadi peneliti."
Mesya langsung tertawa pendek.
"Mustahil."
"Aku juga dulu bilang begitu."
---
Sepanjang pagi, mesya terus melihat dunia baru di luar jendela.
Semua tampak modern.
Drone kecil mengantar paket.
Layar digital muncul di halte.
Orang-orang memakai gelang transparan yang bisa menampilkan hologram.
Tapi yang paling membuatnya tidak tenang adalah satu hal:
Kalender tetap menunjukkan tahun 2034.
Benar-benar masa depan.
Dan di sini, dirinya sudah dewasa.
"Apa aku akan kembali?" tanya Nara pelan.
Versi dewasanya menatap keluar jendela.
"Mungkin. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus kamu lihat."
Ia menyerahkan tablet tipis.
Di layar tertulis:
Proyek Hari Yang Hilang
Mesya membaca perlahan.
Lalu matanya melebar.
Di sana tertulis bahwa dua hari lagi, akan terjadi gangguan besar pada jaringan kota.
Sesuatu yang bisa membuat seluruh sistem mati total.
"Ini serius?"
"Sangat serius."
"Kenapa tunjukkan padaku?"
Wanita itu menatap langsung ke matanya.
"Karena orang yang pertama kali menemukan cara menghentikannya adalah kamu."
"Aku?"
"Versi remaja."
Mesya merasa kepalanya semakin penuh.
Ia baru saja bangun dari tidur.
Sekarang ia berada di masa depan.
Dan tiba-tiba harus menyelamatkan kota.
---
Siang itu mereka pergi keluar.
Lift apartemen bergerak tanpa suara.
Begitu pintu terbuka di lantai bawah, Nara melihat dunia yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Gedung kaca menjulang tinggi.
Jalan dipenuhi kendaraan otomatis.
Langit biru cerah.
Namun di kejauhan, ada menara besar dengan lampu merah berkedip.
"Itu pusat energi kota," kata versi dewasanya.
"Masalah akan mulai dari sana."
Saat mereka berjalan, mesya melihat banyak hal asing.
Mesin penjual minuman tanpa tombol.
Peta hologram.
Robot kecil pembersih trotoar.
Ia hampir lupa bahwa semalam ia tidur sebagai siswi biasa.
Tiba-tiba, gelang di tangan versi dewasanya berbunyi.
Sebuah pesan muncul.
Wajah wanita itu berubah tegang.
"Mereka mulai lebih cepat."
"Siapa?"
Wanita itu menatap menara jauh di depan.
"Seseorang sedang mencoba mengubah masa depan."
Mesya ikut menoleh.
Entah kenapa, bulu kuduknya merinding.
Di puncak menara, cahaya merah tiba-tiba berubah biru.
Dan tepat saat itu—
Jam tangan digital di pergelangan tangan Nara menyala sendiri.
Padahal ia yakin tadi tidak memakai jam apa pun.
Di layar kecil itu muncul tulisan:
SELAMAT DATANG, PENGGUNA ASAL: 2026
Mesya membeku.
Lalu layar berubah lagi:
Sinkronisasi dimulai dalam 60 detik
"Apa ini?!"
Versi dewasanya langsung menggenggam tangannya.
"Kita harus cepat."
"Ke mana?!"
"Sebelum kamu ditarik ke waktu lain."
"Waktu lain lagi?!"
Namun sebelum sempat bergerak lebih jauh—
Cahaya putih besar tiba-tiba menyelimuti tubuh mesya.
Suara kota menghilang.
Angin berhenti.
Semuanya menjadi putih.
Dan suara terakhir yang ia dengar adalah:
"Jangan percaya semua ingatanmu!"
---
Ketika cahaya itu hilang...
Mesya berdiri di lorong sekolah.
Ia menatap sekitar.
Seragam sekolah.
Suara bel.
Anak-anak berjalan sambil tertawa.
Ia kembali?
Tapi ada satu hal aneh.
Di papan pengumuman tertulis:
Tanggal: 17 Agustus 2026
Hari yang belum pernah ia jalani.
Hari yang seharusnya belum datang.
Dan dari ujung lorong...
Seorang siswa laki-laki menatapnya sambil berkata:
"Akhirnya kamu datang juga."
---
(°_°)
/ \
| |
..........
IG:monyet_49