Terkadang harpan dan keraguan bisa mempunyai wujud yang sama. Bagi saya, harapan terbesar dalam hidup ini adalah membahagiakan orang tua. Tentunya ini juga harapan bagi setiap anak di dunia ini.
Khalisa Nuraisyah itulah nama saya terlahir dari keluarga yang sederhana namun penuh cinta dan kasih sayang. Saya adalah anak ke 1 dari 4 bersaudara, kedua orang tua saya hanyalah seorang petani desa yang mempunyai mimpi dan cita-cita yang tinggi untuk anak-anaknya. SD Negeri 09 abab adalah sekolahku, tempat dimana masa-masa yang indah dan penuh ceria ada didalamya. Namun hal tersebut sirna seiring berjalannya waktu, semua akan berubah dan terganti begitu juga dengan kehidupan dari anak kecil menuju remaja dan dewasa kemudian selanjutnya tua.
Cerita ini berawal ketika aku sedang menatap mobil yang ada di hadapanku, mobil yang akan menjadi awal dan akhir dari banyak hal. Disaat kelulusan siswa Sekolah baru tentunya adalah hal yang tak mengembirakan bagi sebagian orang, tidak terkecuali aku. Teman baru,lingkungan baru,kehidupan baru Berstaus anak desa tentunya akan semakin sulit untuk beradaptasi dengan hal tersebut. Smp Negeri 15 palembang, disinilah aku sekarang bersama ayah dan paman kami akan mendaftarkan aku di smp ini. Sebelumya aku sudah berdiskusi dengan ayah dan pilihanku jatuh pada smp ini namun, terbesit keraguan dalam hatiku yang aku keluhkesahkan dengan ayah sambil merengek“ayah... batalkan saja pendaftarannya, bagaimana nanti jika aku tidak punya teman? Daftarkan saja aku di sekolah shindy, teman Sd ku dulu” dan msih banyak lagi keluhanku. Tapi ayah hanya diam mendengarkan sembari berpikir lalu berkata “Bagaiman mungkin kau akan merubah dunia sementara kau mencari teman saja tidak bisa? Tidak ada salahnya bergaul dengan orang baru, teman baru adalah pengalam baru dan pengalaman adalah pelajaran maka dari itu carilah teman sebanyak-banyaknya karena untuk apa berilmu kalau kau tak berpengalaman!” aku pun terdiam sambil mencerna kata-kata ayah, yaah... ayah telah menghancurkan keraguannku.
Hari pertama masuk sekolah ayah tidak bisa mengantarkan aku kedepan gerbang sekolah karena harus pulang ke desa, dan menitipkannku pada paman dan bibi. Pertama kalinya berpisah dengan orang tua rasanya itu penuh suka cita, gembira karena tidak ada lagi yang akan ngatur dan mengocehi ini itu. sedih juga karena rindu canda tawanya,omelan-omelan setiap paginya, nasehat-nasehat pendewasaannya kumpul bersama dan juga makan bersamanya. Disaat ingin menyerah selau ingat pesan ayah yang berpesan sesulit apapun hidup jalani saja nisya allah akan membantu anak yang baik.
Hari-hari berlalu dengan begitu cepatnya sekarang aku sudah kelas 8 smp aku sudah punya banyak teman daan mulai hidup dengan baik. Akan tetapi, sekarang Pergi sekolah merupakan hal yang menakutkan bagiku karena untuk pertama kalinya aku pergi kesekolah naik angkutan umum, hal biasa untuk anak-anak lainnya tapi tidak untuk aku. berstatus anak desa nan polos angkutan umum dan jalan raya adalah hal yang paling di waspadai karena tidak adanya pengalaman meyebrang dan rute-rute jalan yang belum terlalu ingat . Bibi yang biasanya mengantarku sekarang dirawat di rumah sakit setelah melahirkan anak ke3 nya. Ayahpun menjadi khawatir dan mulai mencari solusi.setelah beberapa hari Akhirnya aku bergabung bersama jasa antar jemput anak sekolah yang menjamin keselamatan anak-anak saat pergi maupun pukang sekolah. Semenjak itu aku tidak jadi anak yang pendiam lagi aku jadi lebih mudah bergaul maupun bersosialisai karena teman-teman yang juga tergabung dalam jasa antar jemput itu anaknya asyik-asyik. Dari sanalah aku mengenal teman-temanku yang bernama bebeg dan suci yang kemudian menjadi sahabat bahkan saudaraku sampai detik ini. Bersama mereka aku menjalankan hari-hari yang menyenangkan kami lulus SMP bersama dan melanjutkan SMA ditempat yang sama juga. Bebeg dan suci selalu menemaniku dikala susah dan senang menasehatiku walupun dengan kata-kata kasar dan selalu mendengarkan keluh kesahku, tiada hari tanpa mereka. bagaikan rantai makanan kami selalu bergantung atau mungkin ketergantungan dan membutuhkan satu sama lain. Sekarang kami sudah kelas 12 SMA yang artinya sebentar lagi akan menapaki kehidupan yang baru, menjadi dewasa karena tuntutan. Cita-cita yang selama ini yang terukir seakan semakin sulit untuk digapai itu Kedengaran sulit bahkan sangat sulit untuk dilakuakan tetapi lagi-lagi ayah memberikan motivasinya dan ayah berkata “orang lain bisa kenapa kamu tidak? Kunci kesuksesan hanya
satu jujur apa adanya” disaat terpuruk dan bahkan diambang kegagalan ayah selalu memberikan dorongannya memberikan do’an dan bahunya walau terkesan biasa tapi aku bisa merasakannyya
Sesulit apa pun hidup di kota, aku lebih memilih untuk menangungnya sendiri. Aku tidak pernah mau mengabarkan kesulitan yang aku alami kepada ayah dan ibu. Bagiku menjadi anak rantau berarti jauh dari keluarga, yang berarti keluarga di rumah tidak perlu tahu apa yang sedang aku hadapi. Aku tahu bahwa ayah dan ibu sudah susah, dan tak perlu ditambah susah lagi. Berani merantau sejauh ini harus berani pula menanggung kesulitan semacam apa pun.
Di desa, rupanya ayah dan ibu juga melakukan hal yang sama. Mereka tak pernah mengabarkan kesusahan yang harus mereka hadapi agar bisa mengirimkannku uang tepat waktu. Aku harus tenang dan fokus pada sekolah, tidak boleh terganggu oleh keadaan dirumah, begitu prinsip yang selalu dipegang teguh oleh ayah dan ibu.
Hidup ini selalu penuh pengharapan dan keraguan atas harapan tersebut. Ragu akan apa yang dilakuakan selama ini sia-sia, ragu atas kegagalan yang menghantui setiap saat, ragu atas kesuksesan yang telah didepan mata, ragu atas sia-sianya pengorbanan orang tua dan masih banyak keraguan-keraguan lainnya. Akan tetapi Cuma ada satu harapan yang tanpa ada keraguan, harapan yang selalu diidam-idamkan yaitu membahagiakan kedua orang tua. Itulah sebutir harapan dari setiap anak yang terlahir ksdunia