Jefry berdiri di depan pintu besar rumah ayahnya. Usianya dua puluh lima tahun. Dia baru saja menyelesaikan studi tingkat magister di bidang manajemen bisnis. Jefry membawa dua koper besar. Dia menekan bel rumah. Seorang pria berpakaian seragam penjaga membuka pintu pagar dan menyapa Jefry dengan sopan. Jefry masuk ke dalam halaman rumah yang luas. Di sana terdapat banyak tanaman hijau yang tertata dengan rapi.
Pintu utama rumah terbuka. Seorang wanita berdiri di sana. Wanita itu adalah Yona. Dia adalah istri baru ayahnya, yang berarti Yona adalah ibu tiri Jefry. Yona berusia tiga puluh tiga tahun. Dia memiliki rambut hitam yang lurus dan panjangnya sampai ke bahu. Kulitnya bersih dan dia mengenakan pakaian rumah yang sederhana namun terlihat sangat pas di tubuhnya. Jefry memandang Yona selama beberapa detik sebelum akhirnya menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Selamat datang, Jefry. Ayahmu sudah memberitahu bahwa kamu akan datang hari ini," kata Yona. Suaranya terdengar lembut dan jelas. Dia tidak menggunakan nada bicara yang berlebihan.
"Terima kasih, Tante Yona," jawab Jefry. Dia merasa sedikit canggung memanggil wanita yang hanya terpaut usia delapan tahun darinya dengan sebutan Tante, tetapi dia merasa itu adalah sebutan yang paling sopan saat ini.
Yona membantu Jefry menunjukkan arah menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Kamar itu sangat luas. Jendela kamarnya menghadap langsung ke arah kolam renang di bagian belakang rumah. Jefry meletakkan koper-kopernya di samping tempat tidur yang sudah dilapisi kain sprei berwarna abu-abu gelap.
"Ayahmu, Pak Bonar, sedang berada di kantor. Dia bilang dia akan pulang pukul tujuh malam agar kita bisa makan malam bersama," Yona menjelaskan sambil berdiri di ambang pintu. Dia tidak masuk ke dalam kamar Jefry, dia menjaga jarak yang sopan.
"Baik, Tante. Saya akan beristirahat sebentar sebelum mandi," kata Jefry.
Yona mengangguk. "Jika kamu butuh sesuatu, aku ada di lantai bawah. Aku sedang menyiapkan bahan makanan untuk makan malam nanti."
Setelah Yona pergi, Jefry berbaring di tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi. Jefry sudah tidak tinggal di rumah ini selama dua tahun. Ibunya meninggal lima tahun yang lalu karena sakit. Ayahnya, Bonar, adalah pria berusia lima puluh tahun yang sangat disiplin dan fokus pada pekerjaan. Bonar mengelola perusahaan konstruksi yang besar. Keputusan Bonar untuk menikah lagi setahun yang lalu sempat mengejutkan Jefry, namun Jefry mencoba menerima kenyataan bahwa ayahnya membutuhkan teman hidup.
Pukul tujuh malam, sebuah mobil mewah masuk ke dalam garasi. Itu adalah Bonar. Jefry turun ke lantai bawah untuk menyambut ayahnya. Bonar terlihat masih segar meskipun dia baru saja pulang kerja. Dia mengenakan kemeja formal dan membawa tas kerja. Bonar memeluk Jefry dengan singkat.
"Kamu terlihat lebih dewasa, Jefry. Baguslah kamu sudah pulang. Mulai lusa, kamu harus ikut ke kantor untuk mempelajari sistem kerja di sana," kata Bonar dengan suara berat.
"Baik, Yah," jawab Jefry singkat. Dia selalu merasa segan jika berbicara dengan ayahnya. Bonar adalah orang yang sangat praktis dan tidak suka berbasa-basi.
Mereka bertiga duduk di meja makan. Yona telah menyiapkan nasi, sayur sup, ayam goreng, dan sambal. Tidak ada pelayan yang membantu di meja makan karena Yona lebih suka melayani suaminya sendiri. Jefry memperhatikan bagaimana Yona mengambilkan nasi untuk Bonar dengan gerakan yang sangat teliti. Yona juga memastikan gelas minum Bonar selalu terisi penuh.
Selama makan malam, Bonar lebih banyak berbicara tentang perkembangan ekonomi dan proyek perumahan yang sedang dia kerjakan. Dia jarang bertanya tentang bagaimana perasaan Jefry atau bagaimana kabar Yona hari itu. Yona hanya mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali mengangguk. Jefry merasa suasana di meja makan itu sangat kaku. Dia merasa kasihan pada Yona karena ayahnya tidak memberikan banyak ruang bagi Yona untuk berbicara tentang hal-hal di luar pekerjaan.
Setelah makan malam selesai, Bonar segera masuk ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pemeriksaan dokumen. Jefry tetap berada di ruang makan. Dia melihat Yona mulai merapikan piring-piring kotor.
"Biar saya bantu, Tante," kata Jefry.
Yona menoleh dan tersenyum kecil. "Tidak perlu, Jefry. Ini sudah menjadi tugasku setiap hari. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh."
"Saya tidak lelah. Saya lebih suka bergerak daripada hanya duduk diam," Jefry bersikeras. Dia mengambil beberapa piring dan membawanya ke wastafel dapur.
Mereka berdua berdiri di dapur. Jefry membantu membilas piring sementara Yona mencucinya dengan sabun. Di ruang dapur yang tenang itu, Jefry bisa mencium aroma sabun pencuci piring yang bercampur dengan aroma parfum yang dipakai Yona. Aroma itu sangat lembut, tidak menyengat.
"Bagaimana perasaanmu kembali ke rumah ini setelah dua tahun?" tanya Yona sambil menggosok sebuah piring.
"Rasanya agak berbeda. Rumah ini terasa lebih rapi sekarang," jawab Jefry jujur.
"Aku mencoba yang terbaik untuk mengurus rumah ini. Ayahmu adalah orang yang sangat teliti. Dia tidak suka melihat ada barang yang diletakkan tidak pada tempatnya," kata Yona.
Jefry menatap Yona dari samping. Dari jarak dekat, Yona terlihat sangat cantik. Garis wajahnya tegas namun tetap menunjukkan sisi feminin. Jefry merasa ada sesuatu yang menarik dari cara Yona berbicara. Dia tidak pernah meninggikan suaranya.
"Apakah Ayah sering membiarkan Tante sendirian di rumah?" tanya Jefry. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Yona berhenti sejenak dari kegiatannya. Dia menatap air yang mengalir dari keran. "Ayahmu adalah pria yang sibuk, Jefry. Dia bekerja keras untuk keluarga ini. Aku menghargai kerja kerasnya. Memang benar, aku sering sendirian, tapi aku sudah terbiasa dengan hal itu. Aku mengisi waktu dengan membaca buku atau mengurus taman."
Jefry merasa ada kesedihan yang disembunyikan oleh Yona di balik kata-katanya. Dia tahu bahwa ayahnya bukan orang yang romantis. Bonar memberikan uang dan fasilitas yang mewah, tetapi dia tidak memberikan banyak waktu atau perhatian emosional.
Keesokan harinya, Bonar sudah berangkat ke kantor sejak pukul enam pagi. Jefry bangun agak siang. Dia turun ke bawah dan menemukan Yona sedang duduk di teras belakang sambil membaca sebuah buku tebal. Sinar matahari pagi mengenai wajah Yona, membuatnya terlihat sangat bersinar.
Jefry berjalan mendekat. "Tante sedang baca buku apa?"
Yona menutup bukunya. "Hanya buku tentang sejarah seni. Aku dulu sangat ingin menjadi pelukis, tapi sekarang aku hanya menyimpannya sebagai hobi."
"Kenapa Tante tidak melanjutkan hobi itu?" tanya Jefry sambil duduk di kursi kayu di samping Yona.
"Banyak hal yang harus dikerjakan di rumah ini. Selain itu, ayahmu merasa bahwa melukis hanya akan membuat rumah menjadi kotor karena noda cat. Jadi, aku lebih banyak membaca sekarang," jawab Yona dengan nada datar.
Jefry merasa tidak suka mendengar alasan itu. Dia merasa ayahnya terlalu membatasi keinginan Yona. "Jika Tante mau, saya bisa membelikan peralatan lukis yang tidak berbau dan mudah dibersihkan. Tante bisa melukis di ruangan atas yang kosong."
Yona menatap Jefry dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit binar di matanya yang sebelumnya tidak ada. "Kamu sangat baik, Jefry. Tapi aku tidak ingin membuat ayahmu merasa tidak nyaman."
"Ayah tidak perlu tahu jika Tante tidak ingin memberitahunya. Itu bisa menjadi kegiatan Tante saat Ayah tidak ada di rumah," kata Jefry.
Percakapan itu membuat hubungan antara Jefry dan Yona mulai mencair. Jefry merasa bahwa Yona bukan hanya sekadar ibu tiri, melainkan seorang wanita yang memiliki pemikiran yang menarik namun tertekan oleh keadaan. Sepanjang hari itu, mereka banyak mengobrol tentang berbagai hal. Jefry menceritakan pengalamannya saat kuliah, dan Yona menceritakan masa kecilnya yang sederhana di desa.
Jefry baru menyadari bahwa Yona berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dia menikah dengan Bonar karena dijodohkan oleh kerabatnya. Yona menerima pernikahan itu demi membantu ekonomi keluarganya. Jefry merasa dadanya terasa sesak mendengar cerita itu. Dia merasa Yona telah mengorbankan masa mudanya untuk orang lain.
Sore harinya, hujan turun dengan sangat deras. Bonar menelepon dan mengatakan bahwa dia akan menginap di hotel dekat lokasi proyek karena jalanan banjir dan tidak bisa dilewati. Kabar itu berarti Jefry dan Yona hanya akan berdua saja di rumah malam itu.
Mereka makan malam dalam suasana yang lebih santai. Jefry tidak lagi merasa kaku. Dia bahkan berani menggoda Yona dengan cerita-cerita lucu tentang teman-temannya. Yona tertawa, dan itu adalah pertama kalinya Jefry melihat Yona tertawa dengan lepas. Gigi Yona terlihat rapi saat dia tertawa. Jefry merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat pemandangan itu.
Setelah makan malam, listrik di rumah itu tiba-tiba padam karena sambaran petir di dekat gardu listrik. Seluruh rumah menjadi gelap gulita. Jefry segera mengambil ponselnya dan menyalakan lampu senter.
"Tante, Anda di mana?" tanya Jefry dengan suara yang sedikit keras.
"Aku di sini, Jefry. Di dekat lemari makan," jawab Yona. Suaranya terdengar sedikit gemetar.
Jefry berjalan mendekati arah suara tersebut. Dia melihat Yona berdiri sambil memegang pinggiran meja. Wajahnya terlihat pucat di bawah cahaya lampu senter ponsel Jefry.
"Tante takut gelap?" tanya Jefry lembut.
"Iya. Sejak kecil aku tidak suka berada di tempat yang gelap sendirian," jawab Yona.
Jefry mendekati Yona. Tanpa sadar, dia memegang lengan Yona untuk menenangkannya. Kulit lengan Yona terasa sangat halus dan sedikit dingin. Yona tidak menarik lengannya. Dia justru merasa aman dengan kehadiran Jefry di dekatnya.
"Jangan khawatir. Saya ada di sini. Kita akan mencari lilin di gudang," kata Jefry.
Mereka berjalan bersama menuju gudang kecil di bawah tangga. Karena lantai yang licin dan kondisi yang gelap, Yona hampir saja terpeleset. Dengan sigap, Jefry menangkap pinggang Yona agar dia tidak jatuh. Posisi mereka menjadi sangat dekat. Jefry bisa merasakan napas Yona di lehernya. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Jefry merasa ketertarikannya pada Yona bukan lagi sekadar rasa kasihan. Dia merasa sangat tertarik secara fisik dan emosional kepada wanita itu.
Yona perlahan melepaskan diri dari pegangan Jefry setelah dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya. "Terima kasih, Jefry," bisiknya.
Jefry tidak menjawab. Dia merasa tenggorokannya kering. Dia segera menemukan lilin dan menyalakannya. Cahaya lilin yang remang-remang menciptakan bayangan besar di dinding rumah. Mereka kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa yang sama.
Keheningan malam itu terasa sangat berbeda. Hujan di luar masih terdengar sangat deras, tetapi di dalam rumah itu, ada ketegangan yang tidak terucapkan antara Jefry dan Yona. Jefry menyadari bahwa perasaannya sudah mulai melampaui batas yang seharusnya. Dia tahu bahwa mencintai ibu tirinya adalah sebuah kesalahan besar, tetapi dia tidak bisa mengontrol rasa suka yang terus tumbuh di dalam hatinya setiap kali dia melihat wajah Yona.
...
Jefry dan Yona duduk di sofa dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh satu batang lilin. Suasana sangat sunyi. Hanya terdengar suara rintik hujan yang mulai mengecil di luar rumah. Jefry memperhatikan bayangan wajah Yona yang terpantul di dinding. Meskipun hanya dengan cahaya terbatas, Jefry bisa melihat bahwa Yona sedang melamun.
"Apa yang sedang Tante pikirkan?" tanya Jefry dengan suara rendah agar tidak merusak suasana tenang.
Yona menoleh ke arah Jefry. "Aku hanya berpikir tentang masa lalu. Dulu, di desaku, listrik sering padam seperti ini. Aku sering duduk di teras bersama ibuku sambil menunggu ayahku pulang dari sawah. Hidup saat itu sangat sederhana, tapi aku merasa tenang."
"Apakah sekarang Tante tidak merasa tenang?" Jefry bertanya lagi. Dia ingin tahu lebih banyak tentang apa yang dirasakan Yona selama setahun tinggal di rumah ini.
Yona terdiam sejenak. Dia menggerakkan jarinya di atas permukaan meja kayu. "Rumah ini sangat bagus, Jefry. Semua fasilitas tersedia. Aku tidak perlu bekerja keras secara fisik. Tapi, terkadang aku merasa seperti benda pajangan di rumah ini. Ayahmu sangat baik secara materi, tapi dia sangat jarang bicara padaku tentang hal-hal selain urusan rumah atau jadwal makannya."
Jefry merasa ada dorongan di dalam dirinya untuk menghibur Yona. "Ayah memang orang yang kaku sejak dulu. Bahkan setelah ibu meninggal, dia hampir tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan saya. Dia hanya terus bekerja setiap hari."
"Aku tahu dia pria yang bertanggung jawab," kata Yona. "Tapi terkadang, seorang wanita hanya ingin didengarkan ceritanya. Dia ingin ditanya bagaimana perasaannya hari itu."
Jefry memberanikan diri untuk menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat ke arah Yona. "Tante bisa bercerita apa saja kepada saya. Saya akan mendengarkan. Saya punya banyak waktu di rumah ini setelah pulang kerja nanti."
Yona tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat lebih santai. "Terima kasih, Jefry. Kamu sangat berbeda dengan ayahmu. Kamu lebih bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat olehnya."
Tiba-tiba, lampu di seluruh ruangan menyala kembali. Listrik sudah normal. Cahaya lampu yang terang membuat mereka berdua refleks menjauhkan jarak duduk. Ada rasa canggung yang kembali muncul karena situasi mendadak terang benderang. Yona segera berdiri.
"Sudah larut malam. Kita harus istirahat. Besok adalah hari pertamamu bekerja," kata Yona sambil meniup lilin hingga padam.
"Selamat malam, Tante," kata Jefry.
"Selamat malam, Jefry," jawab Yona sebelum berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai bawah, berdekatan dengan ruang kerja Bonar.
Keesokan paginya, Jefry bangun pukul lima pagi. Dia mempersiapkan diri dengan sangat rapi. Dia mengenakan kemeja formal dan dasi. Di meja makan, Bonar sudah menunggu sambil membaca koran dan meminum kopi hitam. Yona sedang meletakkan piring berisi roti bakar di depan Bonar.
"Ayo sarapan, Jefry. Kita berangkat pukul enam tepat. Saya tidak suka terlambat masuk ke kantor," kata Bonar tanpa melihat ke arah Jefry.
Jefry duduk dan mulai makan. Yona berdiri di dekat dapur, memperhatikan mereka berdua. Jefry sesekali melirik ke arah Yona, tetapi Yona lebih banyak menundukkan kepala atau melihat ke arah lain. Jefry merasa bahwa Yona sedang berusaha menjaga jarak karena kejadian semalam.
Perjalanan ke kantor berlangsung sunyi. Di dalam mobil, Bonar hanya menjelaskan tentang struktur organisasi perusahaan dan siapa saja orang yang harus Jefry hubungi untuk belajar. Jefry mendengarkan dengan saksama, tetapi pikirannya sesekali kembali ke wajah Yona saat mereka duduk bersama di bawah cahaya lilin.
Di kantor, Jefry diberikan ruangan kecil di dekat ruangan ayahnya. Dia mulai mempelajari banyak dokumen kontrak dan laporan keuangan. Pekerjaan itu sangat membosankan bagi Jefry, namun dia mencoba tetap fokus. Sepanjang hari, ayahnya masuk ke ruangannya hanya untuk memberikan tumpukan dokumen baru. Tidak ada percakapan pribadi di antara mereka.
Pukul lima sore, Bonar memanggil Jefry. "Saya ada janji temu dengan mitra bisnis di sebuah restoran. Kamu pulanglah lebih dulu dengan supir. Saya akan pulang larut malam lagi."
Jefry mengangguk. "Baik, Yah."
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Jefry memikirkan tentang Yona. Dia membayangkan Yona sedang sendirian lagi di rumah itu. Jefry meminta supir untuk berhenti sebentar di sebuah toko peralatan seni yang besar di pinggir jalan. Jefry turun dan masuk ke toko itu. Dia membeli beberapa kanvas dengan ukuran berbeda, satu set cat minyak yang lengkap, berbagai macam kuas, dan penyangga kanvas atau palet.
"Ini semua tolong dibungkus dengan rapi agar tidak terlihat dari luar," kata Jefry kepada pelayan toko.
Setelah mendapatkan barang-barang itu, Jefry kembali ke mobil. Dia menyembunyikan peralatan lukis itu di dalam bagasi. Sesampainya di rumah, dia menunggu supir pergi ke area belakang sebelum membawa peralatan itu masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.
Jefry menemukan Yona sedang berada di taman belakang, sedang menyiram bunga. Jefry menghampirinya.
"Tante, saya membawa sesuatu untuk Anda," kata Jefry.
Yona menoleh dengan wajah terkejut. "Apa itu, Jefry?"
Jefry menunjukkan beberapa bungkusan besar. Dia membawanya ke sebuah ruangan kosong di lantai dua yang jarang digunakan. Yona mengikuti Jefry dari belakang dengan rasa penasaran. Jefry meletakkan barang-barang itu di tengah ruangan dan membukanya satu per satu.
Mata Yona membelalak saat melihat peralatan lukis yang sangat lengkap itu. Dia menutup mulutnya dengan tangan. "Jefry, ini sangat banyak. Kenapa kamu membelikan ini semua?"
"Tante bilang kemarin bahwa Tante suka melukis tapi tidak ingin mengotori rumah atau membuat Ayah tidak nyaman. Ruangan ini letaknya jauh dari ruang kerja Ayah. Pintunya bisa dikunci. Tante bisa melukis di sini saat Ayah tidak ada. Saya ingin Tante memiliki kegiatan yang membuat Tante bahagia," jelas Jefry.
Yona mendekati kanvas yang masih putih bersih. Dia menyentuh tekstur kain kanvas itu dengan ujung jarinya. "Ini sangat indah. Aku sudah bertahun-tahun tidak memegang kuas."
"Silakan dicoba, Tante," kata Jefry sambil tersenyum.
Yona menatap Jefry dengan tatapan yang sangat dalam. "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Jefry? Kamu sangat peduli padahal kita baru saja berinteraksi kembali."
Jefry merasa detak jantungnya meningkat. Dia ingin mengatakan bahwa dia merasa sangat tertarik pada Yona, tetapi dia menahan dirinya. "Saya hanya ingin rumah ini terasa lebih menyenangkan bagi Tante. Tante sudah mengurus rumah ini dan Ayah dengan sangat baik. Ini adalah tanda terima kasih saya."
Yona tidak berkata apa-apa, tetapi Jefry melihat mata Yona sedikit berkaca-kaca. Yona mulai menyusun cat-cat itu di atas meja kecil. Mulai hari itu, sebuah rahasia kecil terbentuk di antara mereka.
Setiap hari setelah Jefry pulang kerja dan sebelum Bonar pulang, Jefry akan pergi ke ruangan di lantai dua itu untuk melihat kemajuan lukisan Yona. Yona mulai melukis pemandangan desa tempat asalnya. Dia terlihat sangat bahagia saat sedang melukis. Wajahnya yang biasanya terlihat datar kini penuh dengan semangat.
Suatu sore, Jefry duduk di lantai sambil memperhatikan Yona yang sedang mencampur warna cat di palet. "Warna hijau itu sangat pas untuk bagian pohonnya," komentar Jefry.
Yona menoleh sambil memegang kuas. Ada sedikit noda cat berwarna biru di pipi kirinya. Jefry melihat noda itu. Tanpa berpikir panjang, Jefry mendekat dan mengusap pipi Yona dengan ibu jarinya untuk membersihkan noda tersebut.
Gerakan Jefry membuat Yona mematung. Jefry juga menyadari bahwa tindakannya terlalu berani. Namun, alih-alih menjauh, Jefry justru membiarkan tangannya tetap menyentuh wajah Yona selama beberapa detik. Mereka saling menatap. Di dalam ruangan yang tenang itu, Jefry bisa merasakan tarikan yang sangat kuat terhadap wanita di depannya.
"Jefry, kita tidak boleh melakukan ini," bisik Yona. Suaranya terdengar tidak yakin.
"Saya tahu," jawab Jefry dengan suara yang juga berbisik. "Tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan Tante sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
Yona menurunkan kuasnya. "Aku adalah istri ayahmu, Jefry. Ini adalah hal yang salah."
"Saya tahu ini salah. Setiap hari saya merasa bersalah kepada Ayah. Tapi setiap kali saya melihat Tante sendirian dan tidak diperhatikan oleh Ayah, saya merasa ingin berada di samping Tante untuk memberikan perhatian itu," kata Jefry dengan jujur. Dia menggunakan bahasa yang sangat langsung, tanpa menggunakan perumpamaan.
Yona memalingkan wajahnya. Dia tidak marah, tetapi dia terlihat sangat bingung. "Ayahmu adalah orang yang keras. Jika dia tahu tentang ini, dia akan sangat marah padamu. Dan aku tidak punya tempat tujuan lain jika dia mengusirku."
Jefry memegang kedua pundak Yona. "Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Saya hanya ingin Tante tahu bagaimana perasaan saya yang sebenarnya. Saya tidak meminta Tante untuk meninggalkan Ayah sekarang, tapi saya ingin Tante tahu bahwa Tante tidak sendirian di rumah ini."
Tiba-tiba, terdengar suara pintu garasi terbuka di bawah. Itu adalah tanda bahwa Bonar sudah pulang. Mereka berdua segera merapikan peralatan lukis dan menutup ruangan tersebut dengan cepat. Yona segera turun ke bawah untuk menyambut suaminya, sementara Jefry masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri.
Selama makan malam, suasana terasa sangat berbeda bagi Jefry. Dia merasa seperti sedang menyimpan sebuah bom yang bisa meledak kapan saja. Bonar sedang menceritakan tentang rencana perjalanan bisnis ke luar kota selama satu minggu yang akan dilakukan mulai besok pagi.
"Yona, saya akan pergi ke Singapura besok pagi. Ada pameran konstruksi internasional di sana. Jefry akan menjaga rumah selama saya pergi," kata Bonar sambil memotong daging di piringnya.
"Baik, Pak," jawab Yona dengan suara yang sedikit bergetar.
Jefry hanya diam. Dia tahu bahwa satu minggu ke depan akan menjadi waktu yang sangat krusial bagi hubungannya dengan Yona. Dengan tidak adanya ayahnya di rumah, batasan di antara mereka akan semakin tipis. Jefry merasa senang sekaligus takut dengan apa yang mungkin terjadi.
Setelah makan malam, Jefry kembali ke kamarnya. Dia mencoba membaca buku, tetapi dia tidak bisa fokus pada tulisan di buku tersebut. Dia hanya memikirkan Yona. Di sisi lain, dia merasa seperti pengkhianat karena telah menyatakan perasaannya kepada istri ayahnya sendiri. Jefry tahu bahwa ayahnya sangat mempercayainya untuk menjaga rumah, tetapi Jefry justru memiliki keinginan untuk mendekati ibu tirinya lebih jauh.
Keesokan harinya, Bonar berangkat sangat pagi menuju bandara. Setelah mobil Bonar menghilang di ujung jalan, suasana rumah kembali menjadi sangat sunyi. Jefry tidak pergi ke kantor hari itu dengan alasan ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah.
Dia menemukan Yona sedang berada di ruang tengah, duduk di sofa sambil menatap jendela yang terbuka. Jefry berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berada di seberang Yona.
"Kenapa Tante terlihat sangat gelisah?" tanya Jefry.
Yona menatap Jefry. "Aku tidak bisa tidur semalam. Aku memikirkan apa yang kamu katakan kemarin di ruang lukis."
"Apakah kata-kata saya membuat Tante merasa terganggu?" tanya Jefry lagi.
"Bukan terganggu, Jefry. Tapi aku merasa takut. Aku takut karena aku menyadari bahwa apa yang kamu katakan ada benarnya. Selama setahun ini, aku merasa sangat sepi. Dan kehadiranmu di sini membuat kesepian itu berkurang. Tapi ini tetap salah," kata Yona dengan nada bicara yang sangat serius.
Jefry bangun dari kursinya dan berlutut di depan Yona agar posisi mata mereka sejajar. "Tante, saya sudah dewasa. Saya tahu risiko dari apa yang saya rasakan. Saya mencintai Tante bukan karena Tante adalah istri Ayah, tapi karena Tante adalah wanita yang luar biasa. Saya tidak peduli dengan perbedaan usia kita."
Yona menyentuh rambut Jefry dengan ragu-ragu. "Kamu masih muda, Jefry. Masa depanmu masih panjang. Kamu bisa menemukan wanita lain yang lebih pantas dan tidak memiliki ikatan dengan keluargamu."
"Saya tidak menginginkan wanita lain. Saya menginginkan Tante," jawab Jefry dengan tegas.
Yona menarik napas panjang. Dia terlihat sedang berjuang melawan perasaannya sendiri. Akhirnya, dia tidak lagi mencoba menjauh. Dia membiarkan Jefry menggenggam tangannya. Hari itu, mereka menghabiskan waktu bersama di dalam rumah tanpa rasa takut akan kedatangan Bonar secara tiba-tiba. Mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari musik favorit hingga rencana masa depan yang sebenarnya mustahil untuk mereka capai bersama.
Namun, di tengah kebahagiaan sesaat itu, Jefry tetap merasakan ada beban yang berat di dalam hatinya. Dia tahu bahwa hubungan ini tidak memiliki jalan keluar yang mudah. Setiap kali dia melihat foto ayahnya yang terpajang di dinding ruang tamu, rasa bersalah itu muncul kembali. Tapi setiap kali dia melihat senyum Yona, rasa bersalah itu seolah tertutup oleh keinginan untuk memiliki wanita itu sepenuhnya.
...
Hari pertama setelah keberangkatan Bonar ke Singapura terasa sangat berbeda bagi Jefry dan Yona. Rumah besar itu biasanya terasa sangat kaku karena kehadiran Bonar yang sangat dominan. Namun sekarang, suasana terasa lebih bebas. Jefry memutuskan untuk tidak pergi ke kantor sama sekali. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Yona.
Pukul sepuluh pagi, Jefry melihat Yona sedang berada di dapur. Yona sedang memotong buah-buahan untuk camilan siang. Jefry menghampirinya dan berdiri di samping meja dapur.
"Tante, apakah Tante ingin pergi keluar hari ini? Kita bisa pergi ke galeri seni atau sekadar jalan-jalan ke taman yang sepi," tawar Jefry.
Yona menghentikan kegiatannya memotong buah. Dia menatap Jefry dengan ragu. "Aku tidak tahu, Jefry. Aku jarang sekali keluar rumah tanpa ayahmu. Biasanya supir akan melaporkan ke mana pun aku pergi jika aku menggunakan mobil rumah."
"Kita tidak perlu menggunakan mobil rumah. Saya akan menyewa mobil lain atau kita bisa menggunakan taksi daring. Ayah tidak akan tahu," kata Jefry memberikan solusi.
Yona tampak berpikir sejenak. Akhirnya dia mengangguk. "Baiklah. Aku merasa sangat jenuh berada di dalam rumah terus-menerus. Aku akan bersiap-siap."
Satu jam kemudian, mereka pergi menuju sebuah taman kota yang letaknya cukup jauh dari lingkungan rumah mereka. Di sana, mereka berjalan di bawah pepohonan yang rindang. Jefry sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai agar mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Jefry," kata Yona sambil menghirup udara segar. "Aku merasa lebih tenang melihat pohon-pohon ini daripada melihat dinding rumah yang tinggi."
"Tante seharusnya lebih sering keluar. Tante masih muda. Tidak sehat jika Tante hanya mengurung diri di rumah menunggu Ayah pulang," ujar Jefry.
Mereka duduk di sebuah bangku kayu yang menghadap ke arah danau buatan. Jefry memperhatikan Yona dari samping. Angin meniup pelan rambut Yona yang hitam. Jefry merasa ingin menggenggam tangan Yona, namun dia menahan diri karena mereka sedang berada di tempat umum.
"Jefry, aku ingin bertanya sesuatu padamu," kata Yona tiba-tiba. Wajahnya terlihat sangat serius. "Apa yang sebenarnya kamu harapkan dari perasaanmu ini? Kita berdua tahu bahwa hubungan ini tidak mungkin memiliki ujung yang baik."
Jefry menarik napas dalam-dalam. Dia sudah memikirkan pertanyaan ini berkali-kali di dalam kepalanya. "Saya tidak tahu apa ujungnya, Tante. Saya hanya tahu bahwa saat ini saya merasa sangat peduli pada Tante. Saya ingin Tante merasa bahagia. Saya ingin Tante merasa dihargai sebagai seorang wanita, bukan hanya sebagai pengurus rumah tangga Ayah."
"Tapi aku adalah istri sah ayahmu. Jika orang-orang tahu, mereka akan menghina kita. Terutama kamu. Karirmu bisa hancur sebelum dimulai karena dianggap mengkhianati ayahmu sendiri," Yona mencoba memberikan pengertian secara logis.
"Saya tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Saya hanya peduli dengan apa yang Tante rasakan. Apakah Tante merasa bahagia hidup bersama Ayah selama setahun ini?" Jefry balik bertanya dengan pertanyaan yang sangat langsung.
Yona terdiam. Dia menatap air danau yang tenang. Cukup lama dia tidak menjawab. Akhirnya, dia menggelengkan kepala perlahan. "Aku tidak bahagia, Jefry. Tapi aku merasa memiliki hutang budi pada ayahmu. Dia menanggung semua biaya pengobatan ibuku di desa sampai ibuku sembuh. Dia juga membantu biaya sekolah adik-adikku. Bagiku, pernikahan ini adalah bentuk balas budi. Aku tidak punya pilihan lain selain tetap berada di sampingnya."
Mendengar pengakuan itu, Jefry merasa sangat sedih sekaligus marah. Dia marah karena ayahnya menggunakan kekayaan untuk mendapatkan seorang istri yang jauh lebih muda tanpa memikirkan kebahagiaan wanita tersebut. Jefry meraih tangan Yona dan menggenggamnya dengan erat. Kali ini Yona tidak melepaskannya.
"Balas budi tidak harus dilakukan dengan mengorbankan seluruh hidup Tante. Tante berhak memiliki perasaan sendiri," kata Jefry.
Yona menatap tangan Jefry yang menggenggam tangannya. "Kamu sangat berani, Jefry. Keberanianmu itu terkadang membuatku merasa takut sekaligus merasa kagum."
Mereka kembali ke rumah saat hari sudah mulai sore. Di dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih hangat. Mereka tidak lagi merasa seperti anak tiri dan ibu tiri. Mereka merasa seperti dua orang yang saling memahami kesedihan masing-masing.
Malam harinya, Jefry menemani Yona di ruang lukis. Yona melanjutkan lukisannya yang hampir selesai. Jefry duduk di sebuah kursi di sudut ruangan sambil membaca buku, tetapi pandangannya lebih sering tertuju pada Yona yang sedang asyik bekerja.
"Kenapa kamu terus memperhatikanku?" tanya Yona tanpa menoleh, dia seolah tahu sedang diperhatikan.
"Tante terlihat sangat cantik saat sedang fokus melukis. Ada cahaya yang berbeda di mata Tante," jawab Jefry jujur tanpa menggunakan kata kiasan.
Yona berhenti melukis dan meletakkan kuasnya. Dia berjalan mendekati Jefry. Dia berdiri tepat di depan Jefry yang masih duduk di kursi. Yona mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Jefry.
"Jefry, aku mulai merasa bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama padamu. Dan itu membuatku merasa seperti wanita yang sangat jahat," kata Yona. Suaranya terdengar sangat rendah dan hampir berbisik.
Jefry berdiri sehingga mereka berdiri sangat dekat. "Tante tidak jahat. Perasaan tidak bisa dipaksakan. Tante hanya merespons perhatian yang tidak Tante dapatkan dari orang lain."
Jefry kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yona. Dia bisa merasakan napas Yona yang hangat. Jefry mencium kening Yona dengan sangat lembut. Itu adalah ciuman yang penuh dengan rasa hormat dan kasih sayang. Yona memejamkan matanya. Dia tidak menolak. Dia justru menyandarkan kepalanya di bahu Jefry.
Selama sisa malam itu, mereka hanya berdiri berpelukan di dalam ruang lukis yang terkunci. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Mereka hanya menikmati kehadiran satu sama lain. Jefry merasa bahwa ini adalah momen paling bahagia di hidupnya, meskipun dia tahu ada bahaya besar yang mengintai mereka jika Bonar kembali.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cara yang sama. Jefry dan Yona semakin dekat. Mereka sarapan bersama, makan siang bersama, dan menghabiskan malam dengan mengobrol. Jefry mulai memanggil Yona dengan namanya saja, tanpa sebutan "Tante", saat mereka sedang berdua. Hal itu membuat hubungan mereka terasa lebih setara.
Namun, pada hari kelima Bonar pergi, sebuah telepon masuk ke ponsel Jefry saat mereka sedang makan siang. Itu adalah telepon dari supir pribadi Bonar yang mengantar Bonar ke bandara tempo hari.
"Halo, Den Jefry. Saya hanya ingin memberitahu bahwa Bapak sudah mendarat di Jakarta lebih awal. Bapak bilang ingin memberikan kejutan untuk Ibu Yona dan Den Jefry. Sekarang Bapak sedang dalam perjalanan menuju rumah. Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi sampai," kata supir itu.
Jefry merasa jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak. Dia segera menutup telepon. Wajahnya terlihat sangat pucat.
"Ada apa, Jefry?" tanya Yona dengan nada khawatir.
"Ayah sudah sampai di Jakarta. Dia akan sampai di sini dalam tiga puluh menit. Dia pulang lebih awal dari jadwal yang seharusnya," kata Jefry dengan terburu-buru.
Yona langsung berdiri dengan panik. "Ya Tuhan, kita harus merapikan semuanya. Ruang lukis! Kita harus memastikan ruang lukis itu terkunci dan tidak ada tanda-tanda kita sering menghabiskan waktu di sana."
Mereka berdua segera berlari ke lantai dua. Yona merapikan cat-cat yang masih berantakan, sementara Jefry menyembunyikan kanvas yang baru setengah jadi ke balik lemari besar. Setelah memastikan ruangan itu terlihat rapi dan terkunci, mereka segera turun ke bawah. Yona masuk ke dapur untuk berpura-pura sedang sibuk memasak, sementara Jefry duduk di ruang tamu sambil membuka laptopnya, berpura-pura sedang bekerja.
Tepat tiga puluh menit kemudian, mobil Bonar masuk ke halaman rumah. Bonar masuk ke dalam rumah dengan wajah yang terlihat sangat lelah namun senang.
"Selamat siang semuanya! Saya pulang lebih awal karena kontrak kerja sudah ditandatangani lebih cepat dari perkiraan," seru Bonar sambil meletakkan tasnya di meja.
Yona keluar dari dapur dengan senyum yang dipaksakan. "Selamat datang kembali, Pak. Kenapa tidak memberi kabar sebelumnya?"
"Sengaja, supaya jadi kejutan," kata Bonar. Dia mencium pipi Yona dengan singkat, lalu menepuk bahu Jefry. "Bagaimana pekerjaan di kantor, Jefry? Kamu menjaga rumah dengan baik, kan?"
"Semua baik, Yah. Saya menyelesaikan beberapa laporan dari rumah hari ini," jawab Jefry dengan suara yang mencoba tetap tenang. Dia tidak berani menatap mata ayahnya terlalu lama karena takut ayahnya bisa melihat kebohongan di matanya.
Bonar duduk di sofa. "Baguslah. Saya sangat lapar. Yona, tolong siapkan makan siang yang spesial untuk saya. Saya bosan dengan makanan hotel di Singapura."
Yona segera kembali ke dapur. Jefry tetap berada di ruang tamu bersama ayahnya. Bonar mulai bercerita tentang kesuksesannya di Singapura. Dia berbicara dengan sangat bangga tentang berapa banyak keuntungan yang akan didapatkan perusahaan. Jefry hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk, namun pikirannya terus tertuju pada Yona yang berada di dapur.
Selama makan siang, suasana kembali menjadi kaku. Bonar adalah pusat dari segala pembicaraan. Dia tidak menyadari bahwa ada ketegangan yang hebat antara istri dan anaknya. Jefry melihat Yona sangat pendiam. Yona hanya memberikan jawaban-jawaban singkat jika ditanya oleh Bonar.
Setelah makan siang, Bonar memutuskan untuk tidur siang di kamarnya. Jefry tetap berada di ruang tengah. Tidak lama kemudian, Yona menghampirinya saat Bonar sudah masuk ke kamar.
"Jefry, kita harus berhenti. Ini terlalu berbahaya," bisik Yona. Wajahnya penuh dengan ketakutan. "Melihat ayahmu kembali membuatku sadar bahwa aku tidak bisa terus melakukan ini. Aku merasa sangat bersalah saat dia menciumku tadi."
Jefry merasa hatinya sakit mendengar kata-kata Yona. "Apakah Tante ingin kembali ke kehidupan yang sepi itu lagi? Kehidupan di mana Tante hanya dianggap sebagai pelayan rumah?"
"Bukan itu keinginanku, Jefry. Tapi aku tidak punya kekuatan untuk melawan semua ini. Ayahmu adalah orang yang sangat berpengaruh. Dia bisa menghancurkan kita berdua jika dia mau," kata Yona sambil menundukkan kepala.
"Saya akan melindungi Tante. Saya berjanji," kata Jefry sambil mencoba meraih tangan Yona, namun Yona menarik tangannya kembali.
"Jangan, Jefry. Ayahmu bisa keluar kapan saja. Mulai sekarang, tolong bersikaplah seperti anak tiri yang baik. Jangan bicara padaku kecuali jika perlu. Ini demi kebaikan kita bersama," kata Yona dengan tegas sebelum dia pergi meninggalkan Jefry sendirian.
Jefry merasa sangat hancur. Dia baru saja merasakan kebahagiaan yang nyata selama beberapa hari terakhir, dan sekarang kebahagiaan itu diambil kembali secepat kilat. Dia menyadari bahwa tembok yang memisahkan mereka berdua jauh lebih tinggi dari yang dia bayangkan. Tembok itu bernama status sosial, norma keluarga, dan kekuasaan ayahnya.
Sore harinya, Jefry pergi keluar rumah dengan alasan ingin bertemu teman kuliahnya. Sebenarnya dia hanya ingin menenangkan pikirannya. Dia menyetir mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Dia memikirkan semua kemungkinan yang ada. Dia bisa saja mengajak Yona pergi dari rumah itu, tetapi dia tahu Yona tidak akan mau karena beban hutang budi pada keluarganya. Dia juga memikirkan untuk menceritakan semuanya pada Bonar, tetapi itu hanya akan membuat situasi menjadi kacau dan menyakiti Yona lebih dalam.
Saat Jefry kembali ke rumah pada malam hari, dia melihat lampu ruang kerja ayahnya masih menyala. Dia berjalan melewati ruangan tersebut dan melihat ayahnya sedang duduk di meja kerja sambil memegang sebuah benda. Jefry berhenti dan mengintip sedikit melalui celah pintu yang terbuka.
Ayahnya sedang memegang sebuah foto tua. Itu adalah foto ibu kandung Jefry. Bonar terlihat mengusap foto itu dengan ibu jarinya. Wajah Bonar yang biasanya keras dan tegas kini terlihat sangat rapuh dan sedih.
"Aku merindukanmu," bisik Bonar dengan suara yang sangat pelan sehingga hampir tidak terdengar.
Jefry tertegun melihat pemandangan itu. Dia baru menyadari bahwa ayahnya ternyata masih sangat mencintai almarhum ibunya. Pernikahan ayahnya dengan Yona mungkin benar-benar hanya sebuah usaha untuk menutupi rasa sepi yang luar biasa, namun hati ayahnya tetap tertinggal di masa lalu.
Hal ini membuat Jefry merasa semakin bersalah. Dia merasa telah mengkhianati ayahnya yang sebenarnya juga merupakan pria yang kesepian. Namun di sisi lain, Jefry juga merasa kasihan pada Yona karena Yona dinikahi hanya untuk menjadi pengganti atau sekadar pengisi kesepian tanpa benar-benar dicintai dengan tulus.
Jefry masuk ke kamarnya dengan perasaan yang sangat berat. Dia berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit. Dia sampai pada sebuah kesimpulan bahwa dia tidak bisa terus tinggal di rumah itu. Jika dia terus berada di dekat Yona, perasaan itu akan terus tumbuh dan suatu saat akan meledak. Dia harus mengambil keputusan yang sulit demi kebaikan semua orang.
Keesokan paginya, saat sarapan, Jefry membuka pembicaraan dengan suara yang tenang.
"Ayah, saya ingin menyampaikan sesuatu," kata Jefry.
Bonar meletakkan cangkir kopinya. "Apa itu, Jefry?"
"Saya mendapatkan tawaran pekerjaan untuk mengelola cabang perusahaan rekanan kita di luar kota. Lokasinya ada di Surabaya. Saya pikir ini adalah kesempatan bagus bagi saya untuk belajar mandiri dan tidak selalu berada di bawah perlindungan Ayah di kantor pusat," kata Jefry.
Bonar menatap Jefry dengan saksama. Dia tampak sedang menimbang-nimbang permintaan anaknya. Yona yang duduk di samping Bonar terlihat sangat terkejut, namun dia tetap diam dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa mendadak sekali? Kamu baru saja pulang ke Jakarta," tanya Bonar.
"Saya merasa saya akan lebih berkembang jika saya ditempatkan di lingkungan yang baru. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa bekerja dengan baik tanpa bantuan langsung dari Ayah setiap hari," Jefry memberikan alasan yang masuk akal.
Bonar mengangguk perlahan. "Jika itu memang keinginanmu untuk belajar, saya tidak akan melarang. Kamu adalah laki-laki, kamu memang harus memiliki pengalaman yang luas. Kapan kamu harus berangkat?"
"Lusa, Yah. Saya sudah mengonfirmasi bahwa saya bersedia," jawab Jefry.
Yona meletakkan sendoknya dengan pelan. Dia tidak berani menatap Jefry. Jefry bisa melihat tangan Yona sedikit bergetar di bawah meja.
"Baiklah. Saya akan membantu mengurus perpindahanmu. Kamu bisa menggunakan apartemen milik perusahaan di sana," kata Bonar.
Setelah sarapan selesai, Bonar segera berangkat ke kantor. Jefry sedang merapikan beberapa barang di ruang tengah ketika Yona menghampirinya.
"Kenapa kamu melakukan ini, Jefry?" tanya Yona. Matanya terlihat merah seperti menahan tangis.
"Ini adalah satu-satunya jalan agar kita berdua selamat, Yona," jawab Jefry tanpa sebutan Tante. "Jika saya tetap di sini, saya akan terus mengejarmu. Dan itu hanya akan membuat hidupmu hancur. Saya ingin kamu tetap aman di sini. Saya ingin kamu tetap memiliki nama baik."
"Tapi aku akan kembali sendirian lagi di rumah ini," bisik Yona.
"Tante tidak sendirian. Tante punya lukisan-lukisan itu. Teruskanlah melukis. Jadikan itu sebagai caramu untuk bicara pada dunia. Saya akan menyimpan semua kenangan tentang kita selama satu minggu kemarin di dalam hati saya," kata Jefry.
Yona mendekat dan memeluk Jefry untuk terakhir kalinya. Kali ini adalah pelukan perpisahan. "Terima kasih, Jefry. Terima kasih karena sudah memberikan warna di hidupku yang sangat membosankan ini. Kamu adalah pria yang sangat baik."
"Jaga dirimu baik-baik, Yona," kata Jefry sambil melepaskan pelukan itu.
Dua hari kemudian, Jefry sudah siap dengan koper-kopernya. Bonar mengantar Jefry sampai ke depan pintu rumah.
"Bekerjalah dengan keras di sana. Jangan permalukan nama ayah," kata Bonar sambil menjabat tangan anaknya dengan kuat.
"Saya akan berusaha yang terbaik, Yah," jawab Jefry.
Jefry kemudian menoleh ke arah Yona yang berdiri di samping Bonar. Yona mengenakan pakaian yang rapi dan tampak anggun seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda kesedihan yang berlebihan di wajahnya, sesuai dengan permintaan Jefry agar mereka bersikap normal di depan Bonar.
"Selamat jalan, Jefry. Semoga sukses di tempat yang baru," kata Yona dengan suara yang stabil.
"Terima kasih, Tante Yona," jawab Jefry.
Jefry masuk ke dalam mobil. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah, Jefry melihat melalui kaca spion. Dia melihat ayahnya merangkul pundak Yona dan mereka berdua masuk kembali ke dalam rumah besar itu. Jefry tahu bahwa di dalam rumah itu, Yona akan kembali menjadi istri yang patuh, dan ayahnya akan kembali menjadi pengusaha yang sibuk.
Namun Jefry juga tahu bahwa ada sebuah ruangan di lantai dua yang menyimpan rahasia tentang cinta yang terlarang. Ada sebuah kanvas yang berisi perasaan yang tidak akan pernah bisa diungkapkan kepada siapa pun.
Jefry menghela napas panjang. Dia merasa sedih, namun dia juga merasa lega. Dia telah melakukan hal yang paling benar meskipun itu sangat menyakitkan. Dia pergi membawa cintanya yang tidak sempat tumbuh sepenuhnya, demi menjaga keutuhan rumah tangga ayahnya dan demi melindungi wanita yang dia sayangi dari kehancuran sosial.
Mobil terus melaju menuju bandara. Jefry menatap jalanan Jakarta yang macet dan penuh dengan gedung-gedung tinggi. Dia sadar bahwa hidup harus terus berjalan. Cinta tidak selalu harus berakhir dengan kebersamaan. Terkadang, bukti cinta yang paling nyata adalah keberanian untuk pergi agar orang yang dicintai tetap dalam keadaan baik-baik saja.
...
Jefry tiba di Surabaya pada sore hari. Kota ini terasa sangat panas, hampir sama dengan Jakarta, namun Jefry merasa suasana di sini jauh lebih asing baginya. Dia langsung menuju sebuah apartemen yang sudah disediakan oleh perusahaan ayahnya. Apartemen itu terletak di lantai sepuluh dan memiliki pemandangan ke arah gedung-gedung tinggi di pusat kota Surabaya.
Jefry meletakkan koper-kopernya di ruang tamu. Dia duduk di sofa dan menatap ruangan yang masih sangat bersih dan kosong itu. Tidak ada foto keluarga, tidak ada aroma masakan Yona, dan tidak ada suara ayahnya yang sedang berbicara di telepon. Jefry merasa sangat kesepian, namun dia tahu bahwa rasa sepi ini jauh lebih baik daripada rasa bersalah yang terus menghantuinya jika dia tetap berada di Jakarta.
Keesokan harinya, Jefry mulai bekerja di kantor cabang. Tugasnya adalah mengawasi distribusi material bangunan untuk proyek-proyek perumahan di Jawa Timur. Jefry menyibukkan diri dengan bekerja dari pagi hingga larut malam. Dia sengaja mengambil banyak lembur agar dia tidak punya waktu untuk memikirkan Yona saat dia berada sendirian di apartemen.
Satu bulan berlalu. Hubungan Jefry dengan ayahnya hanya terbatas pada pembicaraan profesional tentang laporan bulanan. Sesekali, Bonar akan bertanya apakah Jefry membutuhkan uang tambahan atau fasilitas lain, namun Jefry selalu menolak. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa hidup mandiri.
Suatu malam, saat Jefry sedang memeriksa email di apartemennya, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu berasal dari nomor Yona. Jefry merasa jantungnya berdetak kencang saat melihat nama pengirimnya.
"Halo Jefry, apa kabarmu di Surabaya? Aku harap kamu sehat. Aku baru saja menyelesaikan lukisan tentang desa yang pernah aku ceritakan padamu. Aku teringat saat kamu membelikan peralatan lukis itu. Terima kasih kembali untuk dukungamu waktu itu," tulis Yona dalam pesan singkat tersebut.
Jefry membaca pesan itu berkali-kali. Dia merasa sangat rindu ingin mendengar suara Yona secara langsung. Namun, dia sadar bahwa dia harus tetap menjaga jarak. Dia hanya membalas pesan itu dengan kalimat yang sangat sopan dan formal.
"Kabar saya baik, Tante. Saya senang mendengar lukisan Tante sudah selesai. Tetaplah melukis karena itu adalah bakat Tante yang sangat bagus. Semoga Tante dan Ayah selalu sehat di Jakarta," balas Jefry.
Setelah mengirim pesan itu, Jefry segera meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Dia tidak ingin menunggu balasan lain yang mungkin akan membuatnya goyah. Jefry berdiri dan berjalan menuju jendela apartemen. Dia melihat lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Dia merasa bahwa meskipun jaraknya ratusan kilometer dari Yona, perasaannya masih tetap tertinggal di rumah besar di Jakarta.
Bulan-bulan berikutnya, Jefry mulai mencoba untuk bersosialisasi. Rekan-rekan kerjanya sering mengajaknya makan malam atau pergi ke tempat hiburan. Ada beberapa wanita di kantor yang menunjukkan ketertarikan pada Jefry. Jefry mencoba untuk menanggapi ketertarikan mereka. Dia sempat pergi beberapa kali dengan seorang wanita bernama Sari, seorang staf keuangan di kantornya.
Sari adalah wanita yang baik, pintar, dan memiliki usia yang hampir sama dengan Jefry. Namun, setiap kali Jefry sedang bersama Sari, dia selalu teringat pada Yona. Dia membandingkan cara Sari tertawa dengan cara Yona tersenyum. Dia membandingkan ketenangan Yona dengan sikap Sari yang lebih ceria dan aktif. Jefry menyadari bahwa hatinya sudah tertutup bagi wanita lain karena bayangan Yona terlalu kuat di dalam pikirannya.
"Kenapa kamu sering melamun saat kita sedang makan?" tanya Sari suatu malam saat mereka sedang berada di sebuah restoran.
"Maaf, Sari. Saya hanya sedang memikirkan pekerjaan yang belum selesai di kantor," bohong Jefry. Dia merasa tidak enak pada Sari karena tidak bisa memberikan perhatian sepenuhnya.
"Kamu terlalu keras bekerja, Jefry. Kamu butuh liburan," kata Sari sambil tersenyum.
Jefry hanya mengangguk setuju, meskipun dia tahu bahwa liburan ke mana pun tidak akan bisa menghilangkan kegelisahan di hatinya. Setelah beberapa kali bertemu, Jefry akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Sari. Dia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada wanita yang baik seperti Sari.
Enam bulan telah berlalu sejak Jefry pindah ke Surabaya. Suatu pagi, Bonar menelepon Jefry. Suara ayahnya terdengar sangat serius, tidak seperti biasanya yang selalu bicara tentang bisnis.
"Jefry, bulan depan adalah ulang tahun pernikahan Ayah dan Yona yang kedua. Ayah akan mengadakan acara makan malam keluarga yang besar di Jakarta. Ayah ingin kamu pulang. Jangan menolak, karena ini adalah acara penting bagi Ayah," kata Bonar dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Jefry merasa dadanya sesak. Dia sangat takut untuk kembali ke rumah itu. Namun, dia juga tidak punya alasan yang kuat untuk menolak permintaan ayahnya. "Baiklah, Yah. Saya akan mengatur jadwal kantor agar bisa pulang selama dua hari."
Hari yang ditentukan pun tiba. Jefry mendarat di Jakarta pada sore hari. Dia merasa sangat gugup saat menaiki taksi menuju rumah ayahnya. Saat taksi memasuki gerbang rumah, Jefry melihat bahwa rumah itu sudah dihiasi dengan banyak bunga dan lampu-lampu hias. Banyak tamu yang mulai berdatangan. Sebagian besar adalah mitra bisnis ayahnya dan keluarga besar mereka.
Jefry masuk ke dalam rumah. Dia melihat ayahnya sedang berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan jas hitam yang sangat mewah. Di samping ayahnya, berdiri Yona. Yona mengenakan kebaya modern berwarna emas yang membuatnya terlihat sangat cantik dan berkelas. Jefry merasa jantungnya berdebar sangat keras saat melihat Yona kembali.
"Ah, itu dia anak saya sudah pulang!" seru Bonar sambil melambai ke arah Jefry.
Jefry berjalan mendekat. Dia menyalami ayahnya dan kemudian menyalami Yona. Saat tangan mereka bersentuhan, Jefry merasa ada aliran listrik yang sama seperti enam bulan yang lalu. Dia melihat mata Yona juga sedikit berkaca-kaca saat melihat Jefry, namun Yona segera mengalihkan pandangannya.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Yah. Selamat, Tante Yona," kata Jefry dengan suara yang sedikit bergetar.
"Terima kasih, Jefry. Ayah senang sekali kamu bisa datang. Lihatlah istrimu, Jefry, dia sudah menyiapkan semua acara ini dengan sangat detail," kata Bonar sambil merangkul pundak Yona dengan bangga.
Acara makan malam dimulai. Jefry duduk di meja yang sama dengan ayah dan ibu tirinya. Dia harus melihat bagaimana ayahnya memberikan perhatian kepada Yona di depan banyak orang. Bonar beberapa kali mencium tangan Yona dan memuji masakannya. Jefry merasa sangat tersiksa melihat pemandangan itu. Dia merasa cemburu, namun dia sadar bahwa dia tidak punya hak untuk merasa cemburu.
Di tengah acara, Jefry memutuskan untuk keluar sebentar ke taman belakang untuk mencari udara segar. Taman itu sepi karena semua tamu berada di dalam rumah yang menggunakan pendingin ruangan. Jefry berdiri di tepi kolam renang, menatap air yang tenang.
"Kamu terlihat sangat tidak nyaman di dalam," sebuah suara lembut terdengar dari belakang Jefry.
Jefry menoleh. Itu adalah Yona. Yona berjalan mendekati Jefry dengan pelan agar suara sepatunya tidak terdengar keras.
"Tante kenapa keluar? Ayah pasti mencari Tante," kata Jefry.
"Ayahmu sedang sibuk mengobrol dengan rekan bisnisnya di ruang depan. Dia tidak akan menyadari aku keluar selama beberapa menit," jawab Yona. Dia berdiri di samping Jefry, menatap kolam renang yang sama.
"Bagaimana hidupmu di Surabaya, Jefry? Apakah kamu sudah menemukan seseorang?" tanya Yona tanpa menoleh ke arah Jefry.
"Tidak ada siapa pun, Yona. Saya tidak bisa melupakan apa yang terjadi di sini," jawab Jefry jujur. Dia tidak lagi memanggilnya Tante karena mereka sedang berada di tempat yang sepi.
Yona menghela napas panjang. "Aku juga merasakan hal yang sama. Setiap hari aku melukis di ruangan itu, dan setiap kali aku memegang kuas, aku selalu ingat saat kamu membersihkan noda cat di pipiku. Rumah ini terasa sangat hampa bagiku meskipun banyak tamu di dalam sana."
Jefry menatap Yona dengan dalam. "Kenapa kita harus terjebak dalam situasi seperti ini? Seandainya Tante bukan istri Ayah, semuanya akan lebih mudah."
"Tapi kenyataannya tidak seperti itu, Jefry. Aku terikat pada ayahmu. Dan ayahmu sangat mencintaiku dengan caranya sendiri. Dia memang tidak romantis, tapi dia pria yang sangat baik padaku," kata Yona.
"Apakah Tante mencintai Ayah?" Jefry bertanya dengan nada yang sedikit mendesak.
Yona terdiam lama sekali. Dia menatap bulan yang terpantul di permukaan air kolam. "Aku menghormatinya. Aku menyayanginya sebagai orang yang sudah menyelamatkan keluargaku. Tapi perasaan yang aku miliki padamu... itu adalah sesuatu yang berbeda. Itu adalah perasaan yang membuatku merasa hidup kembali. Namun, perasaan itu tidak bisa kita pelihara, Jefry. Itu hanya akan membakar kita berdua."
Jefry mendekati Yona dan memegang tangannya. "Yona, ikutlah denganku ke Surabaya. Kita mulai hidup baru di sana. Saya akan bekerja keras untuk menanggung semua kebutuhan Tante dan keluarga Tante di desa."
Yona menatap Jefry dengan tatapan sedih. Dia melepaskan tangan Jefry dengan lembut. "Itu mustahil, Jefry. Kamu adalah anak Bonar. Jika aku pergi bersamamu, itu akan menjadi skandal yang menghancurkan nama baik ayahmu selamanya. Ayahmu tidak berhak mendapatkan pengkhianatan seperti itu dari anak kandungnya dan istrinya sendiri."
Jefry menyadari bahwa kata-kata Yona sangat benar. Keinginan pribadinya tidak boleh mengorbankan kehormatan ayahnya. Jefry menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat tidak berdaya melawan kenyataan ini.
"Malam ini adalah malam terakhir kita membicarakan hal ini, Jefry," kata Yona dengan suara yang mulai tegas. "Setelah acara ini selesai, aku ingin kamu kembali ke Surabaya dan benar-benar mencoba membuka hatimu untuk wanita lain. Aku tidak ingin kamu menghabiskan masa mudamu hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak mungkin."
"Bagaimana dengan Tante?" tanya Jefry.
"Aku akan tetap di sini. Aku akan menjadi istri yang baik bagi ayahmu sampai akhir. Ini adalah takdirku. Kita harus menerima bahwa pertemuan kita hanya untuk saling memberikan kenangan, bukan untuk saling memiliki," ujar Yona.
Tiba-tiba terdengar suara Bonar memanggil nama Yona dari arah pintu belakang. Yona segera menghapus air mata yang sempat jatuh di pipinya. Dia memberikan senyum terakhir yang penuh kesedihan kepada Jefry.
"Aku harus masuk sekarang. Selamat tinggal, Jefry. Tolong jangan kembali lagi untuk waktu yang lama. Itu akan lebih mudah bagi kita berdua," bisik Yona sebelum dia berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Jefry berdiri terpaku di tepi kolam renang. Dia melihat Yona kembali ke sisi ayahnya. Dia melihat ayahnya merangkul pinggang Yona dengan penuh kasih sayang. Jefry menyadari bahwa perjalanannya ke Jakarta kali ini adalah untuk memberikan penutupan pada perasaannya.
Keesokan paginya, Jefry berangkat kembali ke bandara tanpa berpamitan secara khusus kepada Yona. Dia hanya meninggalkan catatan singkat untuk ayahnya yang mengatakan bahwa dia harus kembali lebih cepat karena ada masalah mendadak di kantor Surabaya.
Di dalam pesawat, Jefry melihat ke luar jendela. Dia melihat awan yang putih dan luas. Dia merasa dadanya yang selama ini sesak mulai terasa sedikit lebih lega, meskipun rasa sedih itu masih ada. Dia menerima kenyataan bahwa mencintai ibu tirinya adalah sebuah pelajaran tentang kedewasaan dan pengorbanan.
Sesampainya di Surabaya, Jefry tidak langsung menuju apartemennya. Dia pergi ke sebuah toko buku dan membeli beberapa buku tentang manajemen bisnis dan pengembangan diri. Dia bertekad untuk menjadi pria yang lebih sukses dan kuat. Dia tidak ingin lagi terpuruk dalam kesedihan.
Dua tahun kemudian, Jefry sudah menjadi direktur utama di kantor cabang Surabaya. Dia berhasil meningkatkan keuntungan perusahaan secara signifikan. Ayahnya sangat bangga padanya. Jefry juga akhirnya mulai membuka diri. Dia bertemu dengan seorang wanita bernama Anita, seorang arsitek yang bekerja sama dengan perusahaannya. Anita adalah wanita yang memiliki kepribadian yang kuat dan mandiri.
Jefry tidak membandingkan Anita dengan Yona. Dia mencintai Anita karena Anita adalah dirinya sendiri. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada sebuah sudut kecil yang menyimpan nama Yona. Sudut itu tidak lagi berisi rasa sakit, melainkan berisi rasa terima kasih karena Yona pernah hadir dan mengajarinya tentang arti cinta yang tulus namun tidak harus memiliki.
Jefry menikah dengan Anita setahun kemudian. Acara pernikahannya diadakan di Surabaya. Ayah dan Yona datang menghadiri pernikahan tersebut. Saat menyalami Yona di pelaminan, Jefry melihat Yona terlihat sangat bahagia dan tenang. Yona datang dengan membawa sebuah kado besar. Saat Jefry membukanya di rumah, ternyata isinya adalah lukisan desa yang pernah Yona ceritakan dulu. Di sudut lukisan itu tertulis sebuah kalimat kecil: "Untuk Jefry, terima kasih karena telah membiarkanku melukis kembali."
Jefry menggantung lukisan itu di ruang kerjanya. Setiap kali dia melihat lukisan itu, dia teringat akan garis yang pernah dia coba lalui namun akhirnya dia putuskan untuk tidak dilanggar. Dia tersenyum kecil, merasa damai dengan masa lalunya, dan kemudian kembali melanjutkan hidupnya bersama istrinya.
...
Lima tahun telah berlalu sejak Jefry menikah dengan Anita. Kehidupan Jefry di Surabaya berjalan dengan sangat stabil. Dia sekarang sudah memiliki seorang anak laki-laki yang berusia tiga tahun. Jefry menamai anaknya dengan nama Arlo. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Jefry selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan Arlo di halaman rumah mereka yang asri.
Anita adalah istri yang sangat pengertian. Dia bekerja sebagai arsitek lepas, sehingga dia memiliki banyak waktu untuk mengurus Arlo di rumah. Anita tahu bahwa Jefry adalah pria yang sangat tertutup mengenai masa lalunya di Jakarta, terutama mengenai hubungannya dengan ayahnya yang kaku. Namun, Anita tidak pernah memaksa Jefry untuk bercerita lebih banyak. Dia menghargai privasi suaminya.
Di ruang kerja Jefry, lukisan pemandangan desa pemberian Yona masih tergantung dengan rapi. Suatu hari, Anita masuk ke ruang kerja Jefry untuk membawakan secangkir teh. Dia menatap lukisan itu cukup lama.
"Jefry, lukisan ini sangat indah. Kamu bilang ini pemberian dari ibu tirimu, kan?" tanya Anita sambil menyentuh bingkai kayu lukisan tersebut.
Jefry meletakkan pena yang sedang dia pegang. Dia menatap lukisan itu dengan pandangan yang tenang. "Iya, Anita. Tante Yona memberikan itu sebagai hadiah pernikahan kita. Dia yang melukisnya sendiri."
"Dia memiliki bakat yang sangat besar. Kenapa dia tidak mencoba menjual lukisannya atau mengadakan pameran?" Anita bertanya dengan rasa penasaran yang murni.
"Dia adalah wanita yang sangat sederhana. Baginya, melukis adalah cara untuk menenangkan pikiran, bukan untuk mencari uang atau ketenaran," jawab Jefry dengan jujur.
Jefry merasa bahwa sekarang dia bisa membicarakan Yona tanpa merasa sesak lagi di dadanya. Perasaan cintanya yang dulu menggebu-gebu kini telah berubah menjadi rasa hormat yang mendalam. Dia menganggap Yona sebagai bagian penting dari proses pendewasaannya.
Suatu sore, Jefry menerima telepon dari Jakarta. Nama yang muncul di layar ponselnya adalah "Rumah Jakarta". Jefry mengangkat telepon itu dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi tidak enak. Ternyata yang menelepon adalah salah satu asisten rumah tangga senior di sana.
"Den Jefry, mohon segera pulang ke Jakarta. Bapak terkena serangan jantung dan sekarang sedang berada di ruang gawat darurat rumah sakit," kata asisten rumah tangga itu dengan suara yang gemetar.
Jefry segera mengemasi barang-barangnya. Dia memberitahu Anita tentang kondisi ayahnya. Anita bersikeras untuk ikut, namun Jefry meminta Anita untuk tetap di Surabaya bersama Arlo karena perjalanan mendadak ini akan sangat melelahkan bagi anak kecil. Jefry berjanji akan memberikan kabar setiap jam.
Tiga jam kemudian, Jefry sudah sampai di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Pusat. Dia berlari menuju ruang tunggu di depan ruang perawatan intensif. Di sana, dia melihat Yona sedang duduk sendirian di sebuah kursi panjang besi. Yona terlihat sangat lelah. Dia mengenakan pakaian rumah yang sepertinya dipakai dengan terburu-buru. Wajahnya pucat dan matanya sembab karena menangis.
Jefry berjalan mendekat. "Bagaimana kondisi Ayah?"
Yona mendongak. Dia terlihat lega melihat Jefry datang. "Dokter sedang berusaha melakukan tindakan operasi, Jefry. Tekanan darahnya sangat tinggi saat jatuh tadi di kamar mandi."
Jefry duduk di samping Yona. Dia memberikan jarak yang sopan. "Kapan kejadiannya?"
"Sekitar pukul empat sore tadi. Ayahmu baru saja pulang dari kantor dan mengeluh kepalanya sangat pusing. Sebelum aku sempat mengambilkan obat, dia sudah jatuh pingsan," Yona menjelaskan dengan suara yang pelan.
Mereka menunggu selama hampir lima jam di depan ruang operasi. Selama waktu itu, mereka tidak banyak bicara. Jefry menyadari bahwa Yona telah merawat ayahnya dengan sangat baik selama bertahun-tahun ini. Meskipun Bonar adalah pria yang keras dan sering mengabaikan perasaan istrinya, Yona tetap setia menjalankan perannya.
Pukul dua pagi, dokter keluar dari ruang operasi. Wajah dokter itu terlihat sangat lelah. Dokter menjelaskan bahwa operasi berjalan lancar, namun kondisi Bonar masih kritis karena faktor usia dan kerusakan pada pembuluh darah di jantungnya.
"Kita hanya bisa menunggu dan berdoa selama dua puluh empat jam ke depan. Ini adalah masa yang paling menentukan bagi Bapak Bonar," kata dokter tersebut.
Yona diperbolehkan masuk ke ruang perawatan untuk melihat Bonar selama sepuluh menit. Setelah Yona keluar, giliran Jefry yang masuk. Jefry melihat ayahnya terbaring lemah dengan banyak peralatan medis menempel di tubuhnya. Pria yang dulu terlihat sangat kuat dan dominan itu kini terlihat sangat kecil dan tidak berdaya.
Jefry memegang tangan ayahnya yang terasa dingin. "Yah, ini Jefry. Ayah harus kuat. Saya sudah di sini," bisik Jefry.
Meskipun matanya tertutup, Jefry melihat jari ayahnya bergerak sedikit. Jefry merasa sangat sedih. Dia menyadari bahwa meskipun dia pernah merasa marah pada ayahnya karena mengabaikan Yona, ayahnya tetaplah orang tua satu-satunya yang dia miliki.
Dua hari berlalu, kondisi Bonar mulai stabil meskipun dia belum bisa bicara dengan lancar. Bonar dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Yona hampir tidak pernah meninggalkan sisi tempat tidur Bonar. Dia menyuapi Bonar, membantu membersihkan tubuhnya, dan membacakan koran untuknya.
Suatu siang, saat Yona sedang pergi keluar untuk membeli makanan, Jefry sedang berdua saja dengan ayahnya di dalam kamar. Bonar memberikan isyarat dengan tangannya agar Jefry mendekat.
"Jefry..." suara Bonar terdengar sangat parau.
"Iya, Yah. Jangan terlalu banyak bicara dulu, Ayah harus istirahat," kata Jefry.
Bonar menggelengkan kepala perlahan. "Ayah tahu... Ayah bukan suami yang baik untuk Yona. Ayah terlalu sibuk dengan uang dan perusahaan."
Jefry terkejut mendengar pengakuan jujur dari ayahnya. Selama ini, Bonar tidak pernah mengakui kesalahannya.
"Yona adalah wanita yang sangat sabar. Dia tetap tinggal meskipun Ayah sering mengabaikannya. Ayah ingin kamu berjanji satu hal," lanjut Bonar dengan napas yang pendek.
"Apa itu, Yah?"
"Jika suatu saat nanti Ayah sudah tidak ada, pastikan Yona tetap hidup dengan baik. Berikan dia bagian dari aset perusahaan agar dia bisa mandiri. Jangan biarkan dia kembali ke desanya dalam keadaan susah. Dia sudah mengabdi pada keluarga ini dengan tulus," kata Bonar.
Jefry merasa tenggorokannya tersumbat oleh rasa haru. "Saya berjanji, Yah. Saya akan menjaga Tante Yona seperti keluarga saya sendiri."
Bonar tersenyum tipis, lalu dia tertidur kembali karena pengaruh obat. Jefry keluar dari kamar dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Dia merasa bahwa ayahnya sebenarnya menyadari segala kekurangan dalam pernikahannya, namun ayahnya terlalu gengsi untuk mengatakannya saat kondisinya sehat.
Satu minggu kemudian, Bonar diperbolehkan pulang ke rumah. Dia harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu dan menjalani terapi fisik secara rutin. Jefry memutuskan untuk tinggal di Jakarta selama dua minggu lagi untuk membantu proses pemulihan ayahnya dan mengatur manajemen perusahaan agar bisa berjalan tanpa kehadiran Bonar di kantor.
Selama dua minggu itu, Jefry dan Yona bekerja sama mengurus Bonar. Hubungan mereka sekarang benar-benar murni sebagai anak dan ibu tiri yang saling mendukung. Tidak ada lagi ketegangan romantis di antara mereka. Jefry melihat Yona sebagai sosok kakak perempuan yang sangat bijaksana, dan Yona melihat Jefry sebagai pria dewasa yang bertanggung jawab.
Malam sebelum Jefry kembali ke Surabaya, dia duduk bersama Yona di teras belakang rumah. Mereka minum teh bersama sambil melihat taman yang dulu menjadi saksi bisu percakapan rahasia mereka.
"Terima kasih untuk semuanya, Jefry. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika kamu tidak ada di sini selama seminggu ini," kata Yona.
"Ini sudah menjadi kewajiban saya, Tante. Ayah juga sangat menghargai semua yang Tante lakukan untuknya," jawab Jefry.
Yona menatap Jefry dengan senyum yang tulus. "Kamu sudah menjadi pria yang sangat luar biasa. Istrimu pasti sangat beruntung memilikimu. Sampaikan salamku untuk Anita dan Arlo. Aku harap suatu hari nanti kalian bisa datang ke sini untuk berlibur."
"Tentu, Tante. Kami akan datang saat kondisi Ayah sudah lebih kuat," kata Jefry.
Jefry kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari saku kemejanya. Dia meletakkannya di atas meja. "Ini adalah dokumen pengalihan sebagian saham perusahaan atas nama Tante. Ini adalah keinginan Ayah. Beliau ingin Tante memiliki jaminan masa depan sendiri."
Yona terkejut. Dia membuka amplop itu dan membaca isinya. "Jefry, ini terlalu banyak. Aku tidak meminta ini semua."
"Ini bukan tentang meminta atau memberi, Tante. Ini tentang keadilan. Tante sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk rumah ini. Ayah ingin Tante merasa tenang. Terimalah ini sebagai bentuk penghargaan dari kami," Jefry menjelaskan dengan lembut.
Yona menutup matanya sejenak. Air mata jatuh di pipinya. Kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan karena merasa akhirnya dia benar-benar diterima sebagai bagian dari keluarga, bukan hanya sebagai orang asing yang dibayar untuk mengurus rumah.
Keesokan harinya, Jefry berangkat menuju bandara. Bonar mengantar Jefry sampai ke depan pintu dengan kursi rodanya. Yona berdiri di belakang Bonar sambil memegang pundak suaminya.
"Hati-hati di jalan, Jefry. Bekerjalah dengan jujur," pesan Bonar.
"Baik, Yah. Jaga kesehatan Ayah," kata Jefry.
Jefry melambaikan tangan saat mobilnya mulai bergerak. Dia melihat ke arah rumah besar itu. Dulu, rumah itu terasa seperti penjara bagi perasaannya. Namun sekarang, rumah itu terasa seperti tempat yang penuh dengan kedamaian. Dia telah berhasil menyelesaikan konflik batinnya yang paling besar.
Sesampainya di Surabaya, Jefry disambut oleh Anita dan Arlo di bandara. Arlo langsung berlari dan memeluk kaki Jefry. Jefry menggendong anaknya dan mencium kening istrinya.
"Bagaimana keadaan di Jakarta?" tanya Anita saat mereka berjalan menuju tempat parkir mobil.
"Semua sudah baik-baik saja, Anita. Ayah sudah mulai pulih, dan Tante Yona sedang menjaganya. Saya merasa beban di pundak saya sudah benar-benar hilang," jawab Jefry dengan senyum lebar.
Malam itu, Jefry kembali ke ruang kerjanya. Dia melihat lukisan pemandangan desa itu lagi. Dia merasa lukisan itu kini memiliki makna yang lebih mendalam. Lukisan itu bukan lagi tentang cinta yang terlarang, melainkan tentang harapan dan awal yang baru.
Jefry menyadari bahwa hidup adalah tentang membuat pilihan. Dia pernah memilih untuk jatuh cinta pada orang yang salah, namun dia juga memilih untuk pergi demi melakukan hal yang benar. Dan sekarang, dia mendapatkan hasil dari pilihannya itu—sebuah keluarga yang bahagia, hubungan yang baik dengan ayahnya, dan rasa hormat yang tulus kepada Yona.
Jefry mematikan lampu ruang kerjanya. Dia berjalan menuju kamar tidurnya di mana istri dan anaknya sudah menunggu. Dia merasa hidupnya sudah lengkap. Dia tidak lagi dihantui oleh bayangan masa lalu. Dia sudah melangkah maju dengan hati yang bersih.
Tamat.