Menjadi wanita di zaman sekarang itu seperti berdiri di atas seutas tali jemuran sambil membawa dua ember air: satu ember berisi tagihan BPJS orang tua, satu lagi berisi harapan tentang pangeran berkuda putih yang minimal punya slip gaji di atas UMR Jakarta. Namaku Arini. Secara administratif, aku adalah "Anak Berbakti". Namun, secara klinis, aku adalah penderita gejala osteoporosis dini akibat beban hidup yang lebih berat daripada dosa-dosa kecilku saat membatalkan puasa secara diam-diam waktu SD.
Di duniaku, istilah "Tulang Punggung" bukan lagi kiasan. Ini adalah jabatan struktural tanpa tunjangan. Sedangkan "Tulang Rusuk"? Itu adalah cita-cita yang terasa sangat mewah, setara dengan keinginan memiliki jet pribadi atau makan siang bareng Elon Musk untuk membahas investasi gorengan di Mars.
Pagi ini, punggungku berbunyi kretek saat aku mencoba bangun dari kasur tipis yang lebih mirip kerupuk kaleng. Itu adalah suara "notifikasi" dari tubuhku bahwa hari ini ada cicilan motor adikku yang harus dibayar. Satir, memang. Saat perempuan lain sibuk skincare-an agar wajahnya glowing, aku sibuk self-care pakai koyo cabe di seluruh ruas tulang belakang agar tidak roboh saat presentasi di depan klien.
"Arini, token listrik bunyi," suara Ibu dari dapur seperti dentang lonceng kematian bagi saldo rekeningku.
Aku menghela napas. Inilah dilema abadi. Di satu sisi, aku bangga menjadi tulang punggung. Ada rasa heroik saat melihat Ibu bisa beli mukena baru atau adikku tidak putus sekolah. Tapi di sisi lain, aku iri melihat teman-temanku yang sudah bertransformasi menjadi "Tulang Rusuk". Mereka yang tugasnya hanya satu: menjadi cantik, menjaga kesehatan mental suami, dan sibuk memilih warna gorden di rumah hasil KPR atas nama berdua.
Aku sering bertanya pada cermin: "Kapan giliran punggungku istirahat dan posisiku bergeser ke samping, menjadi rusuk yang dilindungi?"
Dilema ini semakin menjadi-jadi saat Satria datang. Satria adalah pria yang terlihat seperti jawaban doa, tapi sayangnya doaku mungkin kurang spesifik. Dia tampan, baik, tapi sayangnya dia juga penganut sekte "Pria yang Sedang Berjuang". Alias, dia sendiri adalah tulang punggung di keluarganya.
Bayangkan, jika dua tulang punggung bersatu dalam pernikahan, apa yang terjadi? Bukan rumah tangga sakinah mawaddah warahmah yang terbentuk, melainkan "Perserikatan Punggung Remuk". Kami akan menghabiskan malam pertama bukan dengan membicarakan masa depan anak-anak, tapi membandingkan daftar utang keluarga masing-masing.
"Rin, aku sayang kamu. Tapi Ibuku butuh biaya operasi, dan adikku yang ketiga mau masuk kuliah," kata Satria suatu sore di kedai kopi paling murah se-kecamatan.
Aku tersenyum getir. "Sama, Sat. Bapakku butuh ganti ban mobil yang sudah gundul sehalus kepala Deddy Corbuzier, dan cicilan rumah tinggal sepuluh tahun lagi."
Di sinilah komedi itu berubah menjadi tragedi yang lucu. Kami berdua saling mencintai, tapi kami sama-sama "pilar" yang tidak boleh rubuh. Jika aku memutuskan menjadi tulang rusuknya—artinya aku berhenti memikul beban keluargaku—maka rumah orang tuaku akan gelap gulita karena listrik dicabut. Jika dia memaksaku jadi rusuknya, dia akan keberatan beban karena dia sendiri sudah membawa beban seberat satu kontainer logistik.
Masyarakat kita itu lucu. Mereka memuji perempuan mandiri, menyebutnya "Wonder Woman". Padahal, kalau bisa memilih, Wonder Woman juga mungkin lebih suka rebahan di daster sambil nonton drakor daripada sibuk menahan runtuhnya langit ekonomi keluarga. Menjadi tulang punggung itu melelahkan karena tidak ada tombol off-nya. Kamu tidak boleh sakit. Sakit bagi tulang punggung adalah kemewahan yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya asuransi kelas VIP atau mereka yang saldo tabungannya punya banyak digit nol di belakang angka selain satu.
Suatu malam, aku menghadiri reuni SMA. Temanku, sebut saja Mawar, duduk dengan anggun memamerkan tas bermerek yang harganya cukup untuk melunasi cicilan motorku tiga tahun ke depan.
"Duh, Rin, jadi tulang rusuk itu capek lho," keluh Mawar sambil membetulkan posisi jam tangannya. "Aku harus menemani suamiku main golf tiap akhir pekan. Kulitku jadi agak gelap, kan?"
Aku menatapnya dengan pandangan yang ingin melempar koyo cabe ke wajahnya. Capek main golf? Bandingkan dengan aku yang harus mengejar bus kota sambil menggendong laptop berisi revisi desain yang diminta klien jam dua pagi. Di situlah aku sadar, dunia ini memang panggung sandiwara, tapi skenarionya seringkali tidak adil bagi mereka yang kebagian peran jadi "penyangga".
Menjadi tulang punggung berarti kamu adalah ATM berjalan yang punya perasaan. Kamu seringkali lupa kapan terakhir kali membeli baju untuk dirimu sendiri karena di kepalamu sudah terpasang kalkulator otomatis. "Harga baju ini 300 ribu, itu setara dengan beras dua karung dan telur tiga kilo untuk di rumah." Akhirnya, baju itu kembali ke gantungan, dan kamu pulang dengan perasaan bangga yang sedikit berdarah-darah.
Lalu, apakah menjadi tulang rusuk itu selalu indah?
Tidak juga. Aku melihat sepupuku yang menjadi tulang rusuk sepenuhnya. Dia tidak punya uang sendiri. Untuk membeli pembalut saja, dia harus minta izin seperti sedang mengajukan proposal proyek ke pemerintah pusat. Dia dilindungi, ya. Tapi dia juga tidak punya suara. Dia adalah rusuk yang harus selalu bengkok mengikuti bentuk dada sang suami. Jika suaminya bilang "A", maka "A" adalah hukum mutlak, meski nuraninya bilang "B".
Jadi, mana yang lebih baik? Osteoporosis karena jadi tulang punggung, atau sesak napas karena terjepit jadi tulang rusuk?
Dilema ini mencapai puncaknya saat ibuku mulai bertanya, "Kapan nikah, Rin? Ibu ingin melihat kamu ada yang menjaga."
Aku ingin menjawab: "Bu, kalau aku nikah dan jadi tulang rusuk orang lain, siapa yang bakal jadi tulang punggung Ibu? Siapa yang bakal bayar tagihan air yang sering telat itu?" Tapi tentu saja, kata-kata itu hanya tertahan di tenggorokan, pahitnya melebihi jamu brotowali.
Aku menyadari bahwa di Indonesia, banyak perempuan yang sebenarnya melakukan keduanya: "Tulang Punggung yang Menyamar Jadi Tulang Rusuk". Di kantor mereka adalah singa yang mencari nafkah, di rumah mereka tetap harus menjadi kucing yang manis di depan suami, sambil tetap menyisihkan gaji diam-diam untuk membantu orang tua di kampung. Itu bukan lagi pahlawan, itu adalah mutasi genetik yang luar biasa.
Suatu hari, aku bicara pada Satria lagi. "Sat, bagaimana kalau kita tidak usah bicara soal punggung atau rusuk? Bagaimana kalau kita jadi sepasang kaki saja?"
Satria bingung. "Maksudnya?"
"Kaki. Berjalan bersama. Bebannya dibagi dua. Kadang kamu yang melangkah lebih berat, kadang aku. Tidak ada yang jadi penyangga tunggal, tidak ada yang jadi hiasan semata. Kita dua orang yang sama-sama punya beban, tapi kalau digabung, beban itu mungkin jadi terasa seperti tas ransel yang dibawa sambil mendaki gunung. Berat, tapi ada pemandangan indah di depannya."
Satria terdiam. Dia memegang tanganku yang kasar karena sering mengetik dan mencuci piring. "Tapi Rin, masyarakat akan bilang aku laki-laki yang gagal kalau tidak bisa membiayaimu sepenuhnya."
"Dan masyarakat akan bilang aku perempuan yang egois kalau tidak mengabdi sepenuhnya pada orang tuaku," timpalku. "Tapi persetan dengan masyarakat. Mereka tidak pernah ikut patungan bayar kontrakan kita nanti, kan?"
Komedi satir ini berakhir di sebuah pelaminan sederhana. Aku tetap bekerja, dia tetap bekerja. Aku tetap mengirim uang ke Ibuku, dia tetap mengirim uang ke Ibunya. Kami tidak menjadi tulang punggung yang kaku, tidak juga menjadi tulang rusuk yang rapuh. Kami adalah dua manusia yang sadar bahwa hidup ini keras, dan romansa tanpa finansial yang stabil hanyalah halusinasi di dalam novel-novel picisan.
Malam harinya, setelah pesta sederhana itu usai, aku duduk di pinggir ranjang. Punggungku kembali berbunyi kretek.
Satria datang membawa selembar koyo cabe yang baru dibuka. "Mau aku tempelkan?"
Aku tertawa. Inilah realita "Novel Toon" versiku. Bukan tentang CEO dingin yang mencintai gadis miskin, bukan tentang pangeran yang membelikan pulau pribadi. Tapi tentang seorang pria yang mengerti bahwa istrinya lelah memikul dunia, dan dia bersedia membantu menempelkan koyo di titik yang paling pegal.
Ternyata, menjadi tulang punggung itu tidak masalah, selama ada tangan lain yang memijatnya saat lelah. Dan menjadi tulang rusuk itu indah, selama kamu tetap punya kekuatan untuk berdiri tegak di kakimu sendiri.
Aku memejamkan mata saat rasa hangat dari koyo itu meresap ke kulitku. Di luar sana, ribuan perempuan mungkin sedang mengalami hal yang sama. Menghitung koin untuk masa depan, sambil tetap berharap pada cinta. Kita adalah pejuang yang seringkali dilupakan dalam lagu-lagu cinta, tapi kita adalah alasan mengapa roda dunia ini tetap berputar.
Punggungku mungkin pegal, tapi hatiku cukup lapang. Karena pada akhirnya, bukan tentang posisi tulang mana yang kita ambil, tapi tentang bagaimana kita memastikan tubuh ini tetap utuh demi orang-orang yang kita cintai. Dan besok pagi, aku akan bangun lagi, mendengar bunyi token listrik, dan tersenyum. Karena setidaknya, sekarang ada suara kretek lain di sebelahku yang menandakan bahwa aku tidak lagi berjuang sendirian.
Dilema itu telah hilang, digantikan oleh kesadaran yang sangat satir: bahwa hidup memang lucu, dan kita hanya perlu tertawa agar bebannya terasa sedikit lebih ringan. Atau minimal, sediakan stok koyo cabe yang banyak di laci meja riasmu. Itulah kunci kebahagiaan yang sesungguhnya.