Krusak!
Ibu memasukkan kantung kresek bekas belanjaan ke dalam kantung kresek besar berwarna merah.
Kantung kresek sedang berwarna kuning transparan. Sedikit lecek. Dilipatnya rapi kantung kresek itu.
Ibu menggantung kembali kantung kresek warna merah pada gantungan paku di dinding tembok dapur yang sudah berjamur. Lalu mulai sibuk memasak sayur lodeh dan menggoreng ikan lele.
Krusak!
Ibu memasukkan sampah makanan ke dalam kantong kresek di dalam tempat sampah. Lihat bagaimana Ibu melemparnya tanpa melihat posisi tempat sampah dan tepat masuk ke dalam.
Kantung kresek berwarna kuning cerah itu sekilas mengingatkanku pada sesuatu. Entah apa. Aku sedikit lupa. Sepertinya tidak terlalu penting.
Malam pun tiba. Aku belajar untuk ulangan besok. Pelajaran yang paling diwaspadai. Matematika. Yang mungkin sulit bagi sebagian besar orang. Termasuk aku.
Ibu masuk ke kamarku dengan wajah panik.
"Kenapa, Bu?" tanyaku.
"Kamu lihat kantung kresek warna kuning yang ibu bawa tadi?" Ibu balik bertanya.
Aku menggeleng. "Tidak."
"Aduh... Dimana, ya ibu meletakkannya. Masa hilang?" Ibu semakin panik.
"Memangnya kenapa kreseknya sampai Ibu panik?" tanyaku penasaran.
"Itu kreseknya mahal. Sayang kalau hilang. Sudah, ibu mau cari lagi. Barangkali Bapakmu tahu." Ibu keluar dari kamarku.
Aku menggaruk kepala yang mulai gatal melihat kepanikan Ibu.
Setelah belajar, aku bermain ponsel sebentar. Men-scroll Tak-Tuk untuk melihat -lihat postingan random orang-orang di media sosial.
Sampai pada satu postingan yang beberapa hari sering lewat di beranda, yang mengingatkanku pada kantung kresek warna kuning yang Ibu cari.
"BALENCIAGA MENGELUARKAN TAS BERBENTUK KANTONG KRESEK WARNA KUNING DENGAN HARGA SEKITAR 30 JUTA RUPIAH"
DEG!
Ah, iya! Kantong kresek warna kuning Ibu seperti tas dari Balenciaga.
Kata Ibu, kantong kresek yang Ibu cari harganya mahal. Apakah mungkin Ibu membeli tas dari Balenciaga itu? Semahal itu Ibu membelinya? Aku minta uang untuk beli cilok saja Ibu bilang tidak punya uang.
Aku menggeleng-geleng keras. Mana mungkin Ibu bisa membelinya. Bapak bukan CEO grup Lukas yang sanggup memberi Ibu kartu ATM hitam tanpa batas.
Sebungkus rokok saja Bapak habiskan dalam 2 hari biar ngirit.
Lagipula, tas kresek buat apa? Ibu bisa membelinya di pasar.
Tapi aku masih penasaran. Aku lantas pergi ke dapur untuk ikut mencarinya. Di dalam kantong kresek hitam besar yang berisi belasan kantong kresek bekas.
Sudah tidak ada kantung kresek warna kuning lagi. Hanya tersisa warna merah-putih, hijau, putih, dan hitam. Bertumpuk rapi dalam lipatan-lipatan kecil.
Kira-kira berapa puluh juta uang yang Ibu habiskan untuk tas-tas kresek itu? Ah, aku mulai berhayal.
Aku pergi ke depan. Ku buka laci meja kayu di ruang tengah. Tak ku temukan kantong kresek yang Ibu cari. Justru aku menemukan sebuah lakban cokelat bening yang sepintas mirip gelang keluaran Balenciaga yang dulu sempat viral.
"Apakah Bapak dan Ibu adalah orang terkaya yang menyamar?" hayalku.
Tiba-tiba Ibu datang dari arah pintu samping.
"Ngapain disitu, Rum?" tegur Ibu.
"Rum bantuin Ibu cari kresek. Tapi Rum nemunya ini."
"Oalah... Ada disitu rupanya. Bapak juga nyariin tadi buat ngikat kardus."
Ibu mengambil lakban dari tanganku.
"Bu..."
"Apa, Rum?"
"Gelang itu Ibu beli berapa?"
"Gelang? Lakban ini?"
Aku mengangguk.
"Ckck... Minum air putih sana. Jangan menghayal terus. Lakban kok dibilang gelang."
"Terus kantung kreseknya kenapa Ibu cari? Itu tas mahal, ya?"
"Iya, mahal. Dulu Ibu dapat gratis kalau belanja. Tapi gak tahu kenapa, sekarang harus bayar untuk dapat kantung kresek."
"Ooh... Sudah ketemu, Bu?"
"Sudah. Dipakai Bapakmu mbungkus lampu motor. Untung anti air jadi gak bocor. Ya, sudah, ibu ke kamar dulu, ya."
"Iya, Bu."
Aku merasa terlalu banyak berpikir. Jadi aku putuskan tidur saja. Kantung kresek itu hanya kantung kresek biasa yang Ibu beli di pasar untuk bungkus belanjaan. Tentu mahal karena sekarang harus beli sendiri, bukan gratis lagi.
...
"Aduh... Untung ketemu. Besok mau arisan sama Ibu-Ibu kompleks ini."
...