“Mami!" panggilku.
Mami berjalan lurus dengan pandangan kosong.
“Kenapa Mami gak nengok?" gumamku.
Tak lama wajahku berseri.
“Papi!" panggilku.
Tapi...
Papi juga berjalan melewatiku dengan pandangan kosong.
Aku terdiam.
"Kenapa pada cuekin gue?” batinku.
Aku tertunduk.
"Bener kan dugaan gue. Mereka emang gak menginginkan gue,” gumamku.
Mataku berlinang.
"Mami! Papi!” panggilku.
Tapi mereka tetap tidak mendengarku.
Aku menangis frustasi.
Aku terus berteriak memanggil mereka.
Tapi.
Mereka bahkan tidak menoleh sedikitpun.
"Mami kenapa?” gumamku.
Aku melihat bahu Mami bergetar.
"Mami... jangan nangis,” ucapku terisak.
"Mami kenapa?” tanyaku.
Anehnya.
Aku tidak bisa berjalan mendekati Mami dan Papi.
Aku melihat Papi memeluk dan mengusap-usap punggung Mami.
Mata Papi terlihat menahan tangis.
“Kalian kenapa?" ucapku.
Wajahku sudah dipenuhi air mata.
Tit... tit... tit... tit...
"Itu suara apa?” batinku.
Aku melihat kesana kemari.
Entah kenapa bunyi itu selalu terdengar jelas di telingaku.
Mami dan Papi berjalan masuk ke dalam lift.
Aku menatap mereka dengan pandangan berharap.
Pintu lift tertutup.
Dan Mami melihat ke arahku.
Aku terkejut.
Tapi aku tidak bisa mendekati mereka.
"Papi, Mami, maaf aku udah bikin kalian menderita selama ini,” ucapku berlinang air mata.
Aku hanya bisa duduk merenung di tempat itu.
Hanya bisa menangis dan berharap.
Berharap bisa keluar dari tempat ini.
"Aku rasa sudah sembilan bulan aku berada di tempat ini. Atau lebih?."
“Entahlah.”
"Aku tidak ingat dengan pasti,” batinku.
Aku berdiri mematung memandangi pintu lift yang tertutup.
Tiba-tiba.
Meong... meong... meong... meong...
“Aku kenal suara ini!" ucapku pelan.
Aku mencari di setiap sudut tempat itu.
Dan tersenyum saat melihatnya.
Kucing berwarna abu-abu, berbulu panjang, bola matanya berwarna hijau, tubuhnya pun sangat gagah.
“Max," ucapku riang.
Mata bulat Max terus memandangiku.
Kedua tanganku langsung memegangi wajahnya dengan lembut.
Max langsung bersikap manja padaku.
“Max, kakak kangen sama kamu," ucapku.
Mataku berkaca-kaca.
“Cuma kamu yang masih memperhatikan kakak," ucapku bergetar.
Aku menggigit bibir menahan air mata.
Aku memangku Max sambil mengelusnya dengan lembut.
Tanganku langsung terhenti.
Aku terdiam melihat Max.
“Max, kenapa kamu ada disini?" ucapku.
Mata Max membulat.
“Aku bisa megang kamu?" gumamku.
“Tapi...."
-Kilas balik Max-
Suara lonceng dari kalung Max berbunyi tanpa henti.
“Max, ati-ati!" teriakku.
Kakiku terus bergerak mengikuti Max.
“Larinya cepet banget sih!" keluhku.
Rutinitas Max dan aku setiap hari Minggu adalah berolahraga di sekitar taman dekat rumah.
Tapi entah kenapa, hari itu Max terus berlari kesana kemari tanpa henti.
Suara nafasku sampai terdengar jelas di telingaku.
Aku terus memegangi tali yang terhubung dengan Max.
"Rusuh banget sih!!” bentak seorang Bapak sambil memukul kepala Max dengan batang pohon berukuran sedang.
Max langsung terjatuh, tubuhnya langsung bergetar tak terkendali.
"Max!!” aku berteriak.
"Toloong!!" aku melihat kesana kemari.
Orang-orang di sekitar langsung menghampiriku dan Max.
Mereka saling berpandangan.
Tak tahu apa yang harus di lakukan.
Bapak yang memukul itu hanya pergi dengan tatapan dingin.
Tubuh Max terdiam.
Nafasnya terdengar memburu.
Aku langsung menggendongnya dan membawanya ke klinik hewan.
Air mataku mengalir deras.
“Max bertahan ya."
“Kakak mohon Max."
Suaraku bergetar.
Tubuhku gemetar.
Suara detak jantungku seperti terdengar jelas di telingaku.
Aku mendengar tarikan nafas berat dari dokter yang memeriksa Max.
Aku menggigit bibirku hingga terluka.
Tak lama tubuhku serasa tidak memiliki tulang.
"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan Max,” ucap dokter sambil mengelus bahuku.
Itu adalah kata-kata yang tidak ingin ku dengar.
Mataku langsung terasa buram.
Suara tangisku menggema di ruangan itu.
Aku memeluk tubuh Max.
"Max, kenapa kamu pergi ninggalin Kakak?”
“Kakak gak rela kamu pergi dengan cara kaya gini."
Aku mengelus, mencium, dan memeluk tubuh Max yang kaku.
“Max, Kakak gak akan pernah memaafkan orang itu!"
“Orang itu bakal mati di tangan Kakak!"
“Dengan cara yang menyakitkan. Bahkan jauh lebih menyakitkan dari yang kamu alami Max!" ucapku histeris.
Mami dan Papi datang ke klinik.
“Mi, Pi, Max udah gak ada," ucapku dengan suara serak.
Mami dan Papi terdiam melihat tubuh kaku Max.
“Maafin Mami Max," ucap Mami dengan suara parau.
“Max maafin Papi," ucap Papi dengan suara pelan.
Air mata jatuh perlahan membasahi pipi mereka.
-Kilas balik Max selesai-
“Kamu sudah mati tiga tahun lalu," ucapku terpaku.
Meong... Meong...
Max terus mendusel manja.
Perlahan air mataku terjatuh.
“Gak mungkin?" bisikku.
-Sembilan bulan lalu-
"Mi, Pi, aku udah nemuin orang yang bunuh Max. Aku akan balas dendam ke orang itu,” ucapku menggebu.
"Jangan Kak! Bahaya!” ucap Mami.
"Kak, orang itu residivis!” teriak Papi.
"Aku harus membalas kematian Max! Aku gak peduli walaupun aku harus mati sekalipun!” ucapku dengan mata membara.
Papi dan Mami menarik nafas berat.
"Lagi Pula kalian gak pernah menginginkan aku! Jadi kalian akan sangat bersyukur kalau aku mati!" bentakku.
Tubuh Papi dan Mami terlihat gemetar.
Papi langsung menamparku.
Aku memegangi pipiku.
Senyum tipis mengembang di wajahku.
“Benarkan dugaanku. Kalian tidak pernah menginginkanku," gumamku.
Mata cantik Mami terlihat basah.
Wajah tampan Papi terlihat memerah.
“Maaf selama ini aku hanya membuat kalian menderita," ucapku datar.
“Aku pamit," ucapku.
Mami dan Papi terdiam melihat kepergianku.
Aku berjalan dengan penuh keyakinan.
Dan tiba di suatu rumah tua.
"Keluar lo pembunuh!” teriakku.
Bapak yang memukul Max keluar dari rumah itu.
Di bawah matanya terlihat bekas luka sayatan yang sudah menahun.
Tangannya dipenuhi tato bergambar naga.
“Siapa lu?" tanya Bapak itu.
“Gue malaikat yang akan mencabut nyawa lo!" ucapku.
Senyum sinis nampak dari wajahku.
Bapak itu hanya memasang ekspresi datar.
Aku langsung berlari ke arahnya.
Dan mengacungkan pisau dengan yakin.
Tapi.
Bapak itu langsung memegang pisau itu dengan tangan kosong.
Senyum mengerikan tampak dari wajahnya.
Tubuhku langsung gemetar.
Ia langsung mencengkram leherku.
Tubuhku terangkat ke udara.
Nafasku tercekat.
Tanganku memukul-mukul tangannya.
Kakiku terus bergerak menendang tubuhnya.
Tiba-tiba tubuhku seperti melayang.
Dan cahaya di mataku…
Langsung lenyap.
-Saat ini-
Terlihat ada dua orang ibu-ibu berjalan melewatiku.
“Pasien di kamar 401 kasian ya,” ucap Ibu berbaju merah.
"Iya, orang tuanya belum bisa mengikhlaskan anaknya sampai sekarang. Padahal anaknya udah gak punya harapan hidup,” ucap Ibu berbaju hitam.
"Iya anaknya juga masih muda banget,” jawab ibu berbaju merah.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Papi dan Mami terlihat berjalan dengan langkah gontai.
Dua ibu tadi saling berbisik.
"Kalo udah mati otak gak mungkin bisa idup lagi kan ya,” ucap ibu baju merah dengan suara pelan.
"Iyalah, harusnya anaknya udah dikubur sejak sembilan bulan lalu,” jawab ibu berbaju hitam.
Tubuhku langsung terasa lemas.
"Gak mungkin aku?” gumamku.
Nafasku memburu.
Tanganku gemetar.
Kakiku tidak sanggup lagi menopang tubuhku.
Air mataku mengalir membasahi pipi.
Aku berusaha bangkit dan berjalan mengikuti Papi dan Mami.
“Gue bisa keluar dari sini?" gumamku.
Aku melihat ke kanan dan ke kiri.
Tit... tit... tit... tit...
“Suara itu makin deket," batinku.
Nafasku terhenti.
Ku lihat tubuhku terbaring di atas ranjang.
Ada banyak alat medis memenuhi tubuhku.
Mami dan Papi menangis sambil memegangi tanganku.
Tak lama seorang pria berjaket kulit masuk ke ruangan itu.
“Sampai saat ini pelaku belum dapat ditemukan," ucapnya.
Papi dan Mami menarik nafas berat.
Mereka hanya mengangguk.
Wajah mereka terlihat pasrah.
Dokter dan perawat terlihat masuk ke dalam ruangan.
Papi terlihat menandatangani suatu berkas.
Dan beberapa menit kemudian
Tiiiiiittttttt.........
“Aku sudah mati," ucapku lemah.
Meong... Meong...
Aku melihat ke bawah.
Max terlihat bercahaya.
Matanya berbinar menatapku.
Aku tersenyum menatap Max.
Wajahku sudah dipenuhi air mata.
“Makasih kamu sudah jemput Kakak," ucapku.
Aku melihat ke arah Mami dan Papi.
“Aku sayang kalian," ucapku.
Jasadku yang terbaring di ranjang mengeluarkan air mata.
Suara tangis Mami dan Papi terdengar mengiringi kepergianku.