------------------------------
Rumah megah di sudut kompleks itu selalu tampak hangat dari luar. Lampu gantung kristalnya berpendar keemasan, memantul pada jendela-jendela besar yang bersih mengkilap. Namun, bagi Rengani, rumah itu tak lebih dari sebuah akuarium besar yang kedap suara. Ia bisa melihat dunia luar, ia bisa melihat suaminya, Bastian, bergerak di dalamnya, namun tak ada satu pun suaranya yang benar-benar menembus dinding-dinding itu.
Rengani sedang menata meja makan. Malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh. Ia telah memasak beff wellington kesukaan Bastian, menghias meja dengan lilin aroma terapi, dan mengenakan gaun satin berwarna marun yang dulu dipuji Bastian membuatnya tampak seperti dewi.
Pukul delapan malam. Bastian belum pulang.
Pukul sembilan malam. Pesan singkat Rengani hanya menunjukkan centang dua abu-abu.
Pukul sepuluh malam. Suara deru mobil terdengar di garasi.
Rengani berdiri dengan jantung berdebar, mencoba mengulas senyum terbaiknya. Pintu terbuka, dan Bastian melangkah masuk dengan jas yang tersampir di lengan. Wajahnya datar, matanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Mas," ucap Rengani lembut, suaranya sedikit bergetar.
Bastian hanya bergumam tanpa mengangkat wajah. "Ya. Maaf telat. Kantor kacau tadi." Ia berjalan melewati meja makan yang tertata rapi itu seolah-olah semua lilin dan aroma makanan itu hanyalah gangguan visual.
"Aku masak makanan kesukaanmu, Mas. Mau makan sekarang?"
"Sudah makan di jalan sama klien," jawab Bastian singkat sambil menaiki tangga. "Aku capek, Re. Mau mandi terus tidur."
Rengani terpaku di samping meja. Lilin-lilin itu mulai meleleh, menciptakan genangan cairan panas yang perlahan membeku. Sama seperti hatinya. Ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering berada di titik ini hingga air mata terasa seperti kemewahan yang sia-sia.
## Bagian 1: Kehadiran yang Terhapus
Bagi Bastian, Rengani adalah bagian dari inventaris rumah. Ia ada di sana untuk memastikan kemeja putihnya terstrika tanpa cela, untuk memastikan kopi hitamnya tersedia setiap pagi pukul tujuh tepat, dan untuk menyambutnya pulang—meski ia tak pernah benar-benar membalas sambutan itu.
Rengani sering merasa dirinya adalah hantu. Ia ada secara fisik, tapi eksistensinya tidak dianggap. Suatu sore, Rengani mencoba memotong rambutnya menjadi pendek sebahu, perubahan drastis dari rambut panjang yang selama ini ia miliki. Ia ingin Bastian menyadarinya.
Malam itu, Bastian pulang dan duduk di depan laptopnya di ruang tengah. Rengani membawakan teh, sengaja berdiri sedikit lebih lama di depan suaminya.
"Ada yang berbeda, Mas?" tanya Rengani penuh harap.
Bastian mendongak sebentar, matanya menyapu wajah Rengani tanpa benar-benar melihat. "Gula di teh ini kurang larut, Re. Tolong ambilkan sendok lagi."
Rengani berbalik dengan dada sesak. Bukan soal rambut, tapi soal ketidakpedulian yang sudah mendarah daging. Ia pun menuliskan sebaris kalimat di buku harian kecilnya:
𝓐𝓴𝓾 𝓪𝓭𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓫𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓽𝓮𝓷𝓰𝓪𝓱 𝓽𝓮𝓻𝓲𝓴,
𝓐𝓭𝓪, 𝓽𝓪𝓹𝓲 𝓽𝓪𝓴 𝓹𝓮𝓻𝓷𝓪𝓱 𝓴𝓪𝓾 𝓼𝓮𝓷𝓽𝓾𝓱.
𝓐𝓴𝓾 𝓪𝓭𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓭𝓮𝓼𝓪𝓱 𝓷𝓪𝓹𝓪𝓼 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓹𝓮𝓵𝓲𝓴,
𝓝𝔂𝓪𝓽𝓪, 𝓽𝓪𝓹𝓲 𝓫𝓪𝓰𝓲𝓶𝓾 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓵𝓾𝓻𝓾𝓱.
## Bagian 2: Luka yang Berbisik
Puncak dari rasa "tak dianggap" itu adalah ketika Rengani jatuh sakit. Suatu pagi, kepalanya terasa berputar hebat. Ia memegangi tepian wastafel, mencoba menahan mual. Bastian masuk ke kamar mandi untuk mencukur jenggot.
"Mas, kepalaku pusing sekali... bolehkah minta tolong ambilkan obat di laci bawah?"
Bastian melirik melalui cermin sambil terus menggerakkan pisau cukurnya. "Kamu kurang tidur saja, Re. Makanya jangan terlalu banyak melamun. Aku harus buru-buru, ada rapat direksi jam sembilan."
Bastian pergi begitu saja. Tanpa kecupan di dahi, tanpa tawaran untuk mengantar ke dokter. Rengani terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Ia menyadari bahwa jika suatu hari ia menghilang dari rumah ini, mungkin Bastian baru akan menyadarinya seminggu kemudian—saat stok kemeja bersihnya habis.
Luka itu bukan lagi tentang rasa marah, melainkan tentang kekosongan yang amat sangat. Rengani mulai bertanya-tanya: Di mana Bastian yang dulu? Pria yang mengejarnya dengan puisi dan janji untuk selalu menjaganya?
## Bagian 3: Puisi untuk Bastian
Suatu malam, saat Bastian sedang tertidur pulas, Rengani duduk di balkon. Ia menatap bulan yang separuh tertutup awan. Ia mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah puisi yang penuh dengan seluruh rasa sakitnya selama tujuh tahun ini.
𝙋𝙪𝙞𝙨𝙞: 𝙋𝙚𝙧𝙟𝙖𝙢𝙪𝙖𝙣 𝙎𝙚𝙥𝙞
𝕯𝖎 𝖒𝖊𝖏𝖆 𝖎𝖓𝖎, 𝖆𝖐𝖚 𝖒𝖊𝖓𝖞𝖆𝖏𝖎𝖐𝖆𝖓 𝖍𝖆𝖙𝖎 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖙𝖊𝖗𝖕𝖆𝖓𝖌𝖌𝖆𝖓𝖌 𝖘𝖊𝖕𝖎,
𝕶𝖆𝖚 𝖉𝖆𝖙𝖆𝖓𝖌 𝖒𝖊𝖒𝖇𝖆𝖜𝖆 𝖕𝖎𝖘𝖆𝖚 𝖉𝖆𝖓 𝖌𝖆𝖗𝖕𝖚 𝖐𝖊𝖙𝖎𝖉𝖆𝖐𝖕𝖊𝖉𝖚𝖑𝖎𝖆𝖓𝖒𝖚,
𝕶𝖆𝖚 𝖘𝖆𝖓𝖙𝖆𝖕 𝖍𝖆𝖇𝖎𝖘 𝖜𝖆𝖐𝖙𝖚𝖐𝖚, 𝖓𝖆𝖒𝖚𝖓 𝖐𝖆𝖚 𝖇𝖎𝖆𝖗𝖐𝖆𝖓 𝖓𝖆𝖒𝖆𝖐𝖚 𝖒𝖆𝖙𝖎,
𝕯𝖎 𝖆𝖓𝖙𝖆𝖗𝖆 𝖙𝖚𝖒𝖕𝖚𝖐𝖆𝖓 𝖉𝖔𝖐𝖚𝖒𝖊𝖓 𝖉𝖆𝖓 𝖆𝖒𝖇𝖎𝖘𝖎 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖒𝖊𝖒𝖇𝖆𝖙𝖚.
𝕬𝖐𝖚 𝖇𝖚𝖐𝖆𝖓 𝖉𝖎𝖓𝖉𝖎𝖓𝖌 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖙𝖆𝖐 𝖇𝖎𝖘𝖆 𝖗𝖊𝖙𝖆𝖐,
𝕬𝖐𝖚 𝖇𝖚𝖐𝖆𝖓 𝖕𝖔𝖗𝖘𝖊𝖑𝖊𝖓 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖍𝖆𝖓𝖞𝖆 𝖚𝖓𝖙𝖚𝖐 𝖉𝖎𝖕𝖆𝖏𝖆𝖓𝖌,
𝕬𝖐𝖚 𝖆𝖉𝖆𝖑𝖆𝖍 𝖒𝖆𝖓𝖚𝖘𝖎𝖆 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖒𝖊𝖗𝖎𝖓𝖉𝖚𝖐𝖆𝖓 𝖏𝖊𝖏𝖆𝖐,
𝕯𝖆𝖗𝖎 𝖈𝖎𝖓𝖙𝖆𝖒𝖚 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖉𝖚𝖑𝖚 𝖕𝖊𝖗𝖓𝖆𝖍 𝖕𝖚𝖑𝖆𝖓𝖌.
𝕹𝖆𝖒𝖚𝖓 𝖐𝖎𝖓𝖎, 𝖐𝖆𝖚 𝖆𝖉𝖆𝖑𝖆𝖍 𝖔𝖗𝖆𝖓𝖌 𝖆𝖘𝖎𝖓𝖌 𝖕𝖆𝖑𝖎𝖓𝖌 𝖆𝖐𝖗𝖆𝖇,
𝕿𝖎𝖉𝖚𝖗 𝖉𝖎 𝖘𝖎𝖘𝖎 𝖞𝖆𝖓𝖌 𝖘𝖆𝖒𝖆, 𝖓𝖆𝖒𝖚𝖓 𝖇𝖊𝖗𝖒𝖎𝖒𝖕𝖎 𝖉𝖎 𝖉𝖚𝖓𝖎𝖆 𝖇𝖊𝖗𝖇𝖊𝖉𝖆,
𝕵𝖎𝖐𝖆 𝖉𝖎𝖆𝖒𝖐𝖚 𝖙𝖆𝖐 𝖑𝖆𝖌𝖎 𝖒𝖊𝖒𝖇𝖚𝖆𝖙𝖒𝖚 𝖌𝖚𝖌𝖚𝖕,
𝕸𝖚𝖓𝖌𝖐𝖎𝖓 𝖆𝖐𝖚 𝖒𝖊𝖒𝖆𝖓𝖌 𝖘𝖚𝖉𝖆𝖍 𝖙𝖎𝖆𝖉𝖆 𝖉𝖎 𝖒𝖆𝖙𝖆𝖒𝖚, 𝖘𝖊𝖑𝖆𝖒𝖆𝖓𝖞𝖆.
Rengani meletakkan kertas itu di atas bantal Bastian yang kosong, tepat di samping ponsel suaminya—satu-satunya benda yang lebih sering disentuh Bastian daripada tangannya sendiri.
## Bagian 4: Keputusan
Esok paginya, Rengani tidak menyiapkan kopi. Ia tidak menyetrika kemeja. Saat Bastian bangun dan mencari-cari kebutuhannya dengan nada jengkel, ia menemukan kertas itu.
Bastian membacanya. Awalnya dengan dahi berkerut, lalu perlahan tangannya gemetar. Ia mencari Rengani ke seluruh penjuru rumah, namun hanya menemukan keheningan. Di atas meja makan, tidak ada makanan. Hanya ada sebuah kunci rumah dan sepucuk surat pengunduran diri sebagai istri.
Rengani tidak pergi karena benci. Ia pergi karena ia ingin dianggap sebagai manusia lagi, meski itu berarti ia harus memulainya dari nol, tanpa kemewahan rumah ini.
Bastian terduduk di kursi meja makan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia benar-benar melihat rumah itu. Ia melihat debu di bingkai foto pernikahan mereka. Ia melihat lilin yang sudah membeku. Dan ia menyadari, ia telah kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya dalam diam, justru di saat ia merasa memiliki segalanya.
------------------------------