Di sebuah kota kecil di Sulawesi, senja selalu datang dengan cara yang sederhana—langit jingga, suara adzan magrib dari kejauhan, dan angin sore yang membawa aroma tanah dan gorengan dari pinggir jalan.
Alam duduk di bangku kayu tua di tepi danau, tempat yang hampir setiap hari ia datangi. Di tangannya ada segelas kopi hangat dari warung madura di dekat sana. Tapi yang ia tunggu bukanlah kopi itu.
Ia menunggu seseorang.
Hana.
Dulu, mereka sering menghabiskan waktu bersama di tempat itu. Sepulang sekolah, dengan seragam yang belum sempat diganti, mereka duduk berdampingan, menikmati senja tanpa perlu banyak bicara.
“Senja di Indonesia itu beda ya,” kata Hana suatu hari, sambil menatap langit yang perlahan berubah warna.
“Bedanya di mana?” tanya Alam.
Hana tersenyum kecil. “Rasanya lebih dekat… kayak nggak cuma dilihat, tapi juga dirasain.”
Alam tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia tahu satu hal—setiap kali bersama Hana, senja memang terasa lebih hidup.
Di kejauhan, suara anak-anak bermain bola di lapangan tanah bercampur dengan suara penjual keliling yang lewat membawa gerobak. Suasana yang sederhana, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa berarti.
Hari-hari mereka dipenuhi hal-hal kecil seperti itu. Berbagi cerita tentang mimpi, tentang masa depan, atau kadang hanya duduk diam sambil mendengarkan suara alam (Alam Lingkungan).
Namun, seperti senja yang tidak pernah bertahan lama, kebersmaan mereka juga harus berakhir.
Suatu sore, Hana datang dengan wajah yang tidak biasa. Ia duduk di samping Alam, tapi tidak langsung berbicara.
“Aku mau pindah,” katanya akhirnya, pelan.
Alam terdiam. Suara adzan mulai terdengar dari masjid, seolah menjadi latar dari kabar yang tidak ingin ia dengar.
“Ke mana?” tanyanya.
“Ke kota lain. Ikut orang tua.”
Langit semakin gelap, tapi Alam merasa semuanya sudah lebih dulu redup.
Ia ingin mengatakan sesuatu. Menahan Hana, atau setidaknya mengungkapkan apa yang selama ini ia simpan. Tapi kata-kata itu terasa berat, tertahan di tenggorokan.
“Aku bakal kangen senja di sini,” lanjut Hana, mencoba tersenyum.
Alam hanya mengangguk. Lagi-lagi, ia memilih diam.
Dan hari itu, senja menjadi saksi perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Sejak saat itu, Alam tetap datang ke danau. Ia masih membeli kopi di warung yang sama, masih duduk di bangku yang sama, masih menatap langit yang sama.
Tapi semuanya terasa berbeda.
Tanpa Hana, senja hanya menjadi warna yang indah—tanpa makna.
Waktu terus berjalan. Kota kecil itu tetap sederhana, tapi Alam tidak lagi sama. Ia belajar bahwa diam tidak selalu kuat. Kadang, diam justru membuat seseorang kehilangan hal yang paling berharga.
Hingga bertahun-tahun kemudian, di sebuah kota yang lebih ramai, di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan lampu jalan, Alam kembali bertemu dengan senja.
Dan tanpa ia duga, ia juga bertemu dengan masa lalunya.
Hana.
Ia berdiri di trotoar, menatap langit yang mulai berubah warna, sama seperti dulu.
Alam ragu sejenak, tapi kali ini ia tidak ingin kehilangan kesempatan.
“Hana?”
Perempuan itu menoleh. Wajahnya sedikit berubah, tapi senyumnya masih sama.
“Alam…”
Suara klakson kendaraan dan hiruk-pikuk kota seakan hilang. Yang tersisa hanya mereka berdua dan langit jingga yang perlahan memudar.
“Aku masih suka senja,” kata Hana pelan.
Alam tersenyum. “Aku juga. Tapi sekarang aku ngerti kenapa.”
Hana menatapnya, penasaran.
“Karena senja ngajarin aku satu hal… kalau sesuatu yang indah nggak akan nunggu kita siap.”
Hana terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.
Kali ini, Alam tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
“Aku dulu takut ngomong,” lanjutnya. “Tapi sekarang aku cuma takut kehilangan kamu lagi.”
Senja hampir hilang, digantikan malam.
Namun untuk pertama kalinya, Alam tidak merasa kehilangan.
Karena di bawah langit yang sederhana itu, ia akhirnya berani—
dan Hana masih ada di sana.