Suatu hari saat seorang wanita baru saja melahirkan seorang anak di rumah sakit tiba tiba merasa sakit hati ketika melihat suami nya bersama perempuan lain yang juga baru melahirkan.
Hatinya terasa sangat perih dan iya memilih untuk kembali ke ruang rawat inap nya lalu menelepon seseorang yaitu sahabatnya untuk membawa anak nya pergi jauh sampai suami nya tak dapat menemukan mereka.
Sahabat nya yang bernama adelia yang baru saja datang dari rumah sakit pun langsung menghampiri sahabat nya itu dengan khawatir karena setelah menelepon nya perempuan itu pingsan.
Perempuan yang baru saja melahirkan itu bernama hazia azura que'en namyesa putri tunggal dari keluarga hazian wijaya dan namyesa kusuma, que'en demi mempertahankan hubungan nya dengan pria yang iya cintai itu rela putus hubungan dengan keluarga nya dan ikut hidup dalam kesusahan bersama suami nya.
Delia menghampiri Que’en yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dan langsung memegang tangan que'en dengan erat.
"Que’en, kamu kenapa sampai jadi gini sih?". Tanya delia pada sahabat satu satu nya itu.
"Del, aku udah ngak tahan, aku ngak sanggup lagi, aku udah ngak kuat, aku mohon sesuatu sama kamu boleh kan?". Tanya que'en dengan wajah lelah dan lesu.
"Apa aja que'en aku selalu ada buat kamu, masalah pria brengsek itu aku pasti akan balas dia". Ucap delia dan que'en hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Kamu tolong bawa anak aku pergi jauh dari pria biadab itu, jangan sampai iya ketemu dengan anak aku, aku ngak mau anak aku di perlakukan semena mena nanti nya sama mereka". Ucap que'en.
"Iya, aku janji akan bawa anak kamu pergi jauh, aku juga ngak rela anak kamu di liat sama pria bajinga itu apalagi dia sentuh". Ucap delia.
"Makasih del udah baik sama aku dan anak ku, anak ku aku beri nama hazian al varo namyesa, kamu bisa panggil dia al atau varo terserah". Ucap que'en dan delia mengangguk dengan air mata yang mencairkan deras di pipi nya begitu juga que'en.
"Iya aku udah tau, nama dia nama yang bagus seperti wajah nya yang tampan ini". Ucap delia mencoba menghibur dan que'en hanya tersenyum kecil.
"Kalau aku udah ngak ada tolong hubungi nomor ini ya del, bilang kalau aku udah ngak ada tapi jangan bilang kalau aku punya anak, tetap sembuyikan al dari siapa pun, aku ngak percaya dengan orang lain selain kamu, bahkan mamah papah ku aku juga ngak bisa percayakan al sama mereka karena aku udah banyak buat salah sama mereka". Ucap que'en karena iya sudah tak percaya dengan orang tuan nya dulu yang pernah membuat nya sangat menderita dan sakit hati hanya untuk membuktikan bahwa pria yang iya cintai itu salah.
"Iya aku janji sama kamu". Ucap delia dengan banjir air mata sembari menggendong bayi laki laki ke pangkuan nya.
Que'en merasa tenang dan di sela tangis delia iya menghembusakan napas terakhir nya.
Delia panik dan langsung memanggil dokter, dengan cepat dokter masuk dam memeriksa secara keseluruhan dan hasil akhirnya que'en sudah tidak bernapas.
Delia hampir pingsan namun iya tetap kuat dengan cepat iya mengambil handphone Que’en dan menghubungi nomor yang di berikan que'en tadi padanya.
"Hallo siapa ya?". Tanya seorang perempuan dengan suara yang setengah baya di sebrang sana dan di dekat nya duduk lah sang suami.
"Saya bukan siapa siapa, saya hanya ingin menyampaikan bahwa salah satu dari anggota keluarga kalian yang bernama hazia azura que'en namyesa telah meninggal di rumah sakit pusat kota sehabis melahirkan". Ucap delia dan dengan cepat iya menutup panggilan setelah iya sampaikan.
Iya tak ingin mendengar jawaban dari mamah dan papah nya que'en di sebrang sana karena waktu nya sudah sangat mepet untuk melarikan diri sebelum rumah sakit mengumumkan tentang wafat nya que'en.
Orang tua que'en yang mendengar itu pun langsung terdiam seribu bahasa bak di sambar petir mamah que'en langsung berlari ke luar di ikuti sang suami yang juga syok, dengan cepat mereka masuk ke mobil dan pergi ke rumah sakit pusat kota.
Dengan cepat deliam memberikan handphone Que’en pada sang dokter dan langsung pergi setelah berpesan sesuatu.
"Dok, tolong jangan bilang ke siapa siapa kalau anak que'en ada sama saya, bilang aja dengan siapa pun yang bertanya anak que'en sudah meninggal ya dok ya? Kami mohon batuan nya?". Ucap delia dengan mata yang memerah karena sangat sedih.
Dokter itu mengangguk dan dengan senyum kecil delia langsung pergi setelah berterima kasih.
"Makasih ya dok, saya pasti akan balas kebaikan dokter suatu hari nanti". Kata delia dan langsung pergi setelah melihat nama dokter tersebut di jas putih nya.
Delia langsung pergi masuk ke dalam taksi dan langsung pergi ke area perdesaan yang sangat jauh dari kota tersebut karena iya suatu hari nanti akan kembali ke kota itu lagi bersama dengan al.
Satu hari...
Dua hari...
Tiga hari... dan empat hari berlalu...
Delia yang terbelenggu dalam kesedihan pun perlahan lahan menerima kepergian sahabat nya itu dan pokus untuk merawat al varo sebagai keluarga baru nya.
Beberapa tahun berlalu kini al berusia 17 tahun dan duduk di bangku sma kelas 11 sma yang 15 hari lagi adalah hari kenaikan ke kelas 12 namun tiba tiba saja delia di datangi langsung oleh pak kepala sekolah ke rumah nya yang kecil.
"Ada apa ya pak datang ke sini?". Tanya delia penasaran di ikuti al varo yang duduk di samping nya diam mencermati apa yang di bicarakan.
"Begini, al mendapatkan beasiswa khusus jadi saya secara khusus datang mengantarkan sendiri, al di hari kenaikan kelas ini iya akan di pindah kan ke sekolah di pusat kota, yaitu sekolah SMA NEGERI 2 XXX". Ucap pak kepala sekolah.
"Loh ko gitu pak, bapak juga ngak ada kasih tau saya kalau al dapat beasiswa?". Bingung delia sebab pak kepala sekolah tidak ada memberita kan pada nya.
"Iya maaf bu, soalnya saya juga baru dapat kabar tadi dari kantor provinsi, saya harap ibu bisa bekerja sama dengan pihak sekolah karena ini kali pertama nya ada yang dapat beasiswa di sekolah sekarang dan al yang di pilih dari 300 siswa juga siswi". Ucap pak kepala sekolah dan delia langsung terdiam.
"Gimana al?". Tanya delia dengan pelan namun jauh di dalam hati nya iya sangat senang karena juga sudah waktunya iya membalas satu persatu masalah 17 tahun yang lalu.
"Al ikut tante aja, terserah tante mau bilang apa al selalu ikut". Ucap al dengan wajah tersenyum kecil dan delia yang mendengar juga langsung tersenyum laku bergumam pelan.
"Bagus kalau gitu, sudah waktunya juga untuk membalas dendam que'en ". Gumam que'en dengan pelan tanpa dapat di dengar oleh pak kepala sekolah namun terdengar jelas oleh al varo yang duduk di samping nya.
Al juga sempat penasaran dengan ucapan delia namun iya tak berani bertanya sebelum delia sendiri yang memberitahu dirinya.
"Baik, kalau gitu berangkat hari ini juga ngak papa kan pak?". Tanya delia pada pak kepala sekolah dan pak kepala sekolah langsung mengangguk karena iya sudah menyiapkan semua surat menyurat dan berkas yang akan al bawa.
Beberapa puluh menit kemudian pak kepala sekolah pergi setelah menjelaskan semua nya dan al varo menganguk paham.
"Ayo siap siap kota berangkat ke kota hari ini juga, mumpung masih jam 11 an masih sempat buat bersih bersih rumah". Ucap delia pada al yang langsung menurut tak banyak bicara.
"Tante punya rumah di kota?". Tanya al varo yang juga penasaran.
"Iya, rumah punya tante dan alm. Mamah kamu yang kita beli diam diam tanpa di ketahui siapa pun". Ucap delia.
"Oh, tante kan udah 17 tahun lebih ngak ke kota, jangan bilang rumah nya udah tua bangat". Ucap al varo penasaran dengan rumah yang sudah 17 tahun lebih di tinggal kan.
"Ngak tua tua bangat, soal nya rumah itu ada yang bersihin tiap dua minggu sekali". Ucap delia dan dengan penasaran al varo kembali bertanya.
"Terus kalau ada yang bersihin kenapa kita harus bersihin lagi tan?". Tanya al varo lagi.
"Karena tante cuma nyuruh dia bersihin luar nya aja, bagian dalam kamar ngak ada yang boleh masuk". Ucap delia.
"Emang di kamar ada apa tan sampai ngak boleh ada yang lait". Tanya al varo lagi banyak bertanya membuat delia pusing.
"Mendingan kamu berhenti nanya deh al, kamu siap siap aja dulu, ntar pas sampai juga bakalan tau". Ucap delia dan alvaro hanya mengangguk.
Al varo memang anak yang pintar dan cerdas hanya saja iya di luar jarang bicara dan menyapa juga berinterak pada orang orang yang membuat orang orang menganggap nya dingin.
Al varo hanya akan banyak bicara pada tante nya saja karena iya tak dekat dengan orang orang lain nya selain delia, karena iya juga dulu sewaktu kecil sering di bully dan di kucil kan hanya karena tak punya orang tua.
Iya dulu sering ingin memanggil delia dengan sebutan mamah tapi delia selalu melarang al varo sebab iya tak mau membuat perasaan sahabat nya itu sakit walaupun sudah tiada.
Entah lah apa yang di pikirkan delia sampai sampai iya tak ingin di panggil dengan sebutan mamah oleh al varo.
Mereka selesai membereskan barang barang dan langsung pergi dengan membawa dua koper pakaian saja karena si rumah nya di kota sudah ada banyak barang barang bahkan lebih mahal dan mewah.
Sesampainya di kota al varo yang baru pertama kali melihat pemandangan yang begitu indah pun terpukau.
"Kota nya indah bangat tan". Ucap al varo dan delia hanya mengangguk pelan.
"Ayo pergi". Ucap delia setelah memesan taxi online yang iya pesan sudah datang.
Al varo mengangguk dan langsung mengikuti delia, sopir taxi keluar dan langsung mengangkat kedua keper itu laku memasukan nya di bagasi belakang.
"Ke mana bu?". Tanya sopir taxi.
"Jalan persik indah nomor xxx di lingkar kota samping perumahan elit". Jawab delia yang masih ingat dan hapal jalan kota itu.
"Baik". Ucap sopir taxi dan langsung pergi melewati bandara pusat kota ke arah jalan persik indah lingkar kota.
Sesampai nya di jalan itu sopir taxi langsung berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar juga bertingkat.
Dengan cepat delia keluar di ikuti oleh al varo di samping nya dan sopir taxi langsung keluar lalu mengeluarkan kedua koper mereka.
"Bepara pak?". Tanya delia dan pak sopir taxi itu menjawab.
"300.000 bu". Ucap nya dan al varo yang mendengar langsung mengaga karena kaget sakin mahal nya ongkos naik taxi.
"Hahhhh...
Delia terlihat biasa saja dan langsung mentransper uang 300.000 rupiah begitu saja.
"Terima kasih bu". Ucap sopir itu setelah mendapatkan uang ongkos nya dan langsung pergi.
"Tan, itu tadi ongkos nya mahal bangat!". Ucap al varo yang terbiasa hidup hemat.
"Kota emang mahal al, belum lagi bayar listrik dan beli keperluan lain nya". Ucap delia dan langsung membawa satu koper nya begitu juga al varo yang langsung mengikuti nya.
"Ini rumah yang tante maksud?". Tanya alvaro melihat rumah yang besar dan mewah di depan nya.
"Iya, udah lama bangat ngak masuk ke rumah ini". Ucap delia dan al varo hanya tersenyum sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Kira kira, kehidupan tante sama mamah dulu gimana ya sampai bisa beli rumah sebesar ini?". Tanya al varo dengan pelan dan delia yang mendengar tersenyum kecil.
"Dulu kita bahagia bangat bisa beli rumah ini tapi belum juga sebulan mamah kamu udah ninggalin tante duluan sama kamu". Ucap delia dan tanpa sadar air mata nya menetes ke tanah.
"Udah lah ayo masuk dulu, semoga aja ngak ada yang berubah ". Ucap delia yang langsung membuka pintu rumah dan mereka langsung masuk.
Begitu mereka masuk delia langsung tersenyum senang karena benar saj semua barang tetap pada tempat nya 17 tahun yang lalu.
"Syukur lah nggak ada yang berubah, foto foto kita juga". Ucap delia mengusap salah satu poto kenangan nya dengan ayini saat berada di pasar malam.
"Ini foto mamah sama tante?". Tanya al varo sebab al varo baru pertama kali melihat foto mamah nya, di desa delia tak pernah menunjukan foto Que’en karena iya takut al varo akan sedih setiap kali mendengar ejekan teman teman nya di sekolah.
"Iya, yang rambut nya ber poni itu mamah kamu, ini semua foto kita setiap tahun nya dari pertama kali masuk sma dan berteman hingga sampai mamah kamu hamil kamu". Ucap delia yang mengingat masa lalu nya.
"Mamah cantik bangat, andai aja al bisa ketemu mamah, dalam mimpi juga ngak papa al udah bersyukur bangat". Ucap al varo yang tak sadar air mata nya pun juga menitik melihat puluhan foto di hampir semu dinding.
"Udah, kamu ngak boleh nangis, kamu masih ada tante, sekarang bantu tante bersih bersih kamar atas". Ucap delia dengan sedikit lega dan al varo hanya mengangguk.
Mereka masuk ke dalam kamar utama yaitu kamar delia dan ayini, delia terhenti sejenak dan beberapa saat kemudian al varo langsung mengambil sebuah kotak besi yang memiliki kode pin delapan digit.
Dengan cepat iya mengeluarkan nya dan meletakan nya di lantai luar pintu kamar, al varo yang melihat kotak besi itu pun langsung melihat nya.
"Kotak apa ini tan?". Tanya al varo penasaran.
"Kotak tempat menyimpan barang barang penting dan berharga, kamu tau brangkas kan?". Ucap delia bertanya balik dan al varo mengangguk mengerti.
"Tau ngak kode nya apa?". Tanya delia dan al varo mengeleng pelan.
"Kodenya tanggal dan bulan lahir mamah kamu juga tante". Ucap delia dan langsung menekan kode itu yang ternyata masih berfungsi.
"1 4 0 6 3 1 0 5"...
Begitu di buka ternyata barang barang dan yang lain nya masih tersusun rapi di dalam tanpa sedikit debu pun.
Delia mengeluarkan isi dari brangkas itu yang ternyata di dalam brangkas itu berisi, gelang dan kalung emas sepasang milik delia dan que'en yang bertuliska nama mereka lengkap dengan nota pembelian nya.
Jam tangan digital sepasang yang ternyata masih berfungsi setelah daya nya mati bertahun tahun.
Uang tunai sebesar dua ratus juta lebih yang masih tersegel utuh tanpa kerusaka apa pun.
Beberapa kartu bank yang berjumlah ada tujuh kartu, tiga atas nama que'en dan empat atas nama delia. kira kira jumlah nya beberapa ratus juta.
uang itu mereka dapat dengan bekerja di perusahaan top nomor satu secara daring dari luar negeri seperti dari negara Jepang, china, dan Korea yang memberika gaji sebulah bisa di atas lima puluh juta.
Bukan hanya itu waktu usia 19 tahun que'en dan delia juga diam diam ikut bermain saham tanpa di ketahui oleh keluarga atau siapa pun.
"Ini punya mamah sama tante?" Tanya al varo dengan wajah terkejut karena iya baru pertama kali melihat uang sebanyak yang iya lihat sekarang ini.
"Iya, dulu sengaja tante tinggal agar tetap tersimpan aman di sini". Ucap delia dengan pelan.
"Oh gitu". Ucap al varo singkat dan sudah paham dengan apa yang di maksud tante nya itu.
"Yaudah simpan lagi, biar cepat beres beres, nanti kita pikirin masalah uang". Ucap delia dan memasuka kembali semua nya ke dalam brangkas dengan di bantu oleh al.
Mereka dengan cepat membereskan kamar utama yaitu kamar delia dan saat delia keluar untuk membuang kardus dang berisi sampah iya melihat ada beberapa anak yang mengamen di pinggir jalan dan iya langsung memanggil mereka.
"Kenapa bu?". Tanya salah satu anak yang paling muda kira kira usia nya sekitar 14 tahun iya bernama Rio.
"Mau kerja bantu ibu bersih bersih ngak? Nanti ibu beri upah". Ucap delia menawarkan.
"Bersih bersih apa ya bu? Dan kira kita kita di upah berapa! kalau di bawah 200 ribu kita ngak bisa". Ucap salah satu anak yang paling dewasa usia nya berkisar 17 tahun seperti al varo, dia bernama rian.
"Saya kasih satu juta bantu bersih bersih dengan serius ngak ada malas malasan mau?". Ucap delia bertanya balik.
"Seriusan bu?". Tanya salah satu anak yang berusia 15 tahunan iya seorang gadis adik dari rian, namanya alenza.
"Iya, ya kali tua tua gini ngakalin anak anak". Ucap delia dengan senyum lebar.
"Ngak buhongan kan bu?". Tanya gadis yang seumuran dengan alenza namanya laras.
"Ngak lah, kalau ngak percaya saya upah dulu juga bisa". Ucap delia dan dengan semangat semua anak anak pengamen itu langsung mengangguk.
"Yaudah bu kita mau, upah nya nanti aja". Ucap anak yang berusia 16 tahun bernama harun.
"Ya sudah ayo masuk, barang kalian letakin ditu aja dulu". Ucap delia menunjuk kursi taman halaman rumah yang berada di bawah pohon rindang.
"Iya". Jawab mereka dan langsung masuk mengikuti delia menuju ke arah kamar utama membuat al varo bertanya tanya.
"Siapa mereka?". Tanya al varo dengan bingung melihat penampilan luduh mereka tapi bukan karena ilfil atau pun jijik melainkan karena tak terbiasa.
"Mereka yang akan bantu bersihin kamar kamar di rumah ini al". Ucap delia dan al varo hanya mengangguk dengan wajah datar.
"Kenalin ini al varo bisa di bilang anak karena saya yang ngasih dia dari bayi". Ucap delia memperkenalkan al varo dan dengan senyum lebar mereka menyapa al varo.
"Hai kak, aku alenza...
"Aku laras...
"Aku rian, kakak nya alen...
"Aku Rio kak...
"Dan aku harun, salam kenal ya kak". Ucap harun dan al varo mau tah mau harus tersenyum walaupun canggung.
"Halo aku al". Kata alvaro walaupun terpaksa tapi iya tetap menyapa.
"Ya sudah mulai kerjakan, ibu ke bawah dulu buat minuman, al kasih tau mereka ya". Ucap delia dan al varo mengangguk.
Delia berlalu dan langsung turun untuk membuatkan minuman seperti susu hangat untuk mereka semua sedangkan al varo dan yang lain nya sibuk berbagi tugas membersihkan kamar delia dan juga kamar ke dua yang akan menjadi kamar al varo di samping kamar delia dan di bawah ada dua kamar lagi yang merupakan kamar tamu.
Mereka semuabekerja sama membersihkan kamar kamar itu dan setelah selesai mereka semua langsung keluar dan turun menuju ruangan tamu yang teryata sudah delia siapkan susu dab berbagai kue bola juga kue kering yang bermacam macam untuk mereka semua.
"Udah selesai?". Tanya delia dan mereka semua mengangguk begitu juga dengan al varo yang langsung duduk di sopa.
"Yaudah ayo duduk dulu, minum dan makan makanan nya, ibu ngambil uang upah kalian dulu". Ucap delia dan mereka semua mengangguk lalu segera duduk dan minum susu hangat itu juga kue kue kering dan bolu.
Sedangkan al varo dengan wajah datar nya juga ikut mengambil susu nya tapi tidak makan kue kue kering dan bolu karena iya tak menyukai kue kue seperti itu.
Delia keluar dan langsung menghampiri mereka memberikan masing masing satu juta membuat mereka bingung.
"Bu ibu bilang mau kasih kita satu juta kan?". Tanya rian.
"Iya ini udah satu juta". Ucap delia dengan santai sembari memakan kie kering.
"Ibu ini kita di kasih lima juta bukan satu juta, ibu ngak salah itu kan?". Tanya laras lagi memberanikan diri berbicara.
"Ngak, awalnya saya memang bilang kasih kalian satu juta, tapi satu juta yang saya maksud itu satu juta per orang". Ucap delia membut mereka beriman terdiam.
"Bu kita terima satu juta ini aja, kita kerja cuman bersih bersih ngak sepadan dengan empat juta nya, kita ngak mau entar di kira ngerampok lagi". Ucap alenza.
"Mana ada ibu bilang kalian ngerampok, itu ibu kasih dengan ikhlas ngak ada niat lain, kalian terima aja terus beli sesuatu buat keluarga, atau kalau ngak kalian simpan uang nya baik baik". Ucap delia.
"Wah kalau gitu makasih ya bu, udah di kasih uang banyak di kasih minuman sama makanan pula".ucap rio.
"Iya ibu baik bangat, kalau ada apa apa panggil saya aja bu, saya siap ngelakuin apapun deh". Ucap harun yang di angguki ke empat teman nya.
"Iya, sama sama". Ucap delia dengan senyum lebar dan setelah beberapa menit kemudian anak anak pengamen itu pun langsung pergi dari rumah delia.
"Akhirnya kelar juga". Ucap delia.
"Ya pasti kelar lah tan kan ngupah orang ". Ucap al varo lagi sedikit bercanda.
"Itu nama nya cerdas, udah sana kamu pergi ke kamar kamu bersih bersih badan mandi, bau tau". Ucap delia yang juga bercanda.
"Mana ada". Jawab al varo lagi.
"Udah sana mandi, udah waktunya tante kasih kamu sesuatu, rahasia besar yang selama ini mamah dan tante sembunyiin". Ucap delia dan al varo yang penasaran pun langsung bertanya.
"Rahasia apa tan?". Tanya al dengan wajah penasaran nya.
"Mandi dulu al". Ucap delia yang kesal melihat wajah tengil yang di buat buat al varo dan karena itu delia langsung nelempari nya dengan bantal sopa.
"Iya iya, ini al pergi mandi". Ucap al varo dengan senyum lebar sembari berlari ke kamar baru nya yang tiga kali lipat lebih besar dari kamar nya di desa.
SEDANGKAN DI SISI LAIN DALAM CERITA ...
seorang gadis Tiba-tiba saja datang ke dunia nya lagi, ya dia adalah que'en, hazia azura que'en namyesa putri dari keluarga kaya yang terlahir kembali di usia 18 tahun.
Terlahir kembali setelah 17 tahun lalu meninggal dan kini terlahir dalam wujud iya berusia 18 tahun, iya bisa di bilang berengkarnasi ke tempat iya meninggal 17 tahun lalu namun dalam rengkarnasi masa depan.
"Aku, aku terlahir kembali".
"Di usia 18 tahun".
"Dan terlahir ke masa depan di mana usia anak ku sekarang pastinya sudah berusia 17 tahun dan delia pasti nya sudah berusia 38 tahun".
"Lalu mamah papah di tahun ini pasti nya sudah berusia 59 - 60 tahun".
"Aku aku, akhirnya aku bisa meminta maaf walaupun terlambat, aku juga harus menemukan delia dan al". Ucap que'en yang merupakan mamah al varo.
Iya menangis karena senang dan dengan cepat iya pergi menuju rumah mewah tempat tangan nya puluhan tahu lalu dengan berjalan kaki.
Sesampainya di sana iya langsung menekan bel dan satpam yang usia nya juga sekitar 60 an terkejut melihat gadis muda di depan nya itu yang paling iya kenal dari masih bayi.
"Ka-kamu...
Iya hampir tak bisa percaya dengan apa yang dilihat nya dan bahkan iya tak bisa berkata kata melihat Que’en.
"Pak berdi kan?". Tanya que'en yang masih lmenginget wajah pak satpam itu ketika masih muda.
"Non-nona que'en ini,manusia atau hantu?". Tanya pak berdiri mencoba berinteraksi karena iya berpikir gadis fi depan nya adalah hantu gentayangan saat masuk magrib.
"Pak, ini que'en, que'en ini manusia, kali ini que'en datang buat minta maaf sama papah papah juga yang lain karena dulu pernah nyakitin perasaan mereka". Ucap que'en dengan menunduk.
Pak bardi melihat penampilan que'en dari atas sampai bawah dan memberanikan diri untuk bertanya kembali karena seharusnya usia que'en sudah 38 kalau masih hidup.
"Benerang non que'en, tapi kenapa usia nona masih seperti 18 tahun lalu?". Tanya pak bardi.
"Nanti saya ceritain pak, bisa masuk dulu kan?". Tanya que'en dengan memegang tangan kanan nya karena sangat sakit.
"Oh iya non". Ucap pak bardi dan langsung membawa que'en masuk ke dalam rumah mewah itu setelah menutup gerbang.
"Nyonyah!". Ucap pak bardi dengan pelan dan mamah papah que'en yang mendengar panggilan itu menoleh ke belakang begitu juga pembantu lama yang sedang menuangkan teh yang membuat nya terkejut sampai sakintakut nya melihat que'en teh yang iya tuangkan langsung tumpah.
Brangkkkk...
Mamah dan papah que'en berdiri lalu mendekat que'en dengan wajah sedikit takut di sertai terkejut.
"Ka-kamu siapa? Dan kenapa wajah kamu mirip dengan anak saya saat berusia 18 tahun yang lalu?". Tanya papah que'en.
"Kalau aku bilang aku terlahir kembali kalian percaya? ". Tanya que'en membuat kedua orang tua nya terdiam.
"Mah pah, kenalin aku hazia azura que'en namyesa, lahir pada 14 juni... dulu meninggal setelah melahirkan kan al dan berinkarnasi kembali pada tanggal lahir yang sama".
"Aku di lahirin oleh orang lain yang saat usia aku menjadi 18 tahun saat ini, kedua orang tua ky itu meninggal karena kecelakaan tegas saat aku mengingat masa lalu ku".
"Sekarang aku kembali mau minta maaf sama mamah, papah, dan juga yang lain nya karena dulu pernah nentang kalian sampai putus hubungan demi menikah dengan wijaya lelaki brengsek itu".
"Mah, pah Maaf...
Ucap que'en dengan tulus dan akhirnya iya menangis mamah papah nya yang merasakan kehadiran anak tercinta mereka itu pun langsung memeluk nya dengan tangisan pecah.
"Ngak perlu minta maaf, kita sudah memaafkan kamu dari dulu nak". Ucap sang ayah.
"Ya kita percaya sama kamu, yang penting kamu sudah sadar dan kembali ke jalan yang seharusnya". Ucap mamah nya.
"Kalin ngak curiga apa kalau que'en nipu kalian?". Tanya que'en lagi melepas pelukan mereka.
"Ngak, karena kita merasakan bahwa que'en yang dulu udah balik jadi que'en yang sekarang". Jawab sang ayah.
"Makasih ya pah mah". Ucap que'en yang merasa terharu.
"Non...
"Bi dina". Ucap que'en dan bi dina langsung mengangguk, dengan satu gerakan kedua orang itu langsung berpelukan karena que'en juga sangat dekat dengan bi dina sejak usia nya 17 tahun waktu pertama kali bi dina bekerja sebagai art di rumah itu.
"Sukur nona masih ingat sama bibi". Ucap bi dina.
"Iya bi, maaf kalah que'en pernah salah dulu ya bi". Ucap que'en dan bi dina langsung mengangguk karena iya sudah menganggap que'en seperti putri nya sendiri sejak dulu.
Que'en melepas pelukan nya dan langsung menghapus air mata nya, beberapa menit kemudian setelah mamah papah nya mengajah que'en duduk dan banyak mendengar cerita Que’en mereka percaya begitu saja hingga akhirnya que'en mulai menceritakan sebuah rahasia.
"Mah, pah sebenarnya anak que'en dulu masih hidup". Ucap que'en dan dengan terkejut mamah papah nya juga bi dina dan pak bardi langsung terkejut.
"APA...
"Lalu di mana cucu kita berada?". Tanya sang ayah.
"Dan bayi yang meninggal itu dulu bayi siapa?". Tanya mamah nya lagi.
"Sebenarnya que'en Serahin anak que'en sama delia, que'en udah suruh delia bawa dia pergi jauh agar ngak di ketahui siapa pun terutama pria brengsek tak setia itu". Ucap que'en yang mengingat wajah pria yang menghiyanati nya.
"Apa, kamu serahkan anak kamu sama dia dan dia bawa pergi cucu mamah gitu aja tanpa beri tau kita sepetah kata pun?". Tanya sang mamah yang mulai emosi.
"Ya itu que'en yang larang dia kasih tau". Ucap que'en.
"Pokonya papah ngak mau tau kita harus cari anak kamu itu, ngak bisa lagi biarin dia menderita". Ucap papah que'en.
"Tenang aja pah, al pasti ngak kenapa napa. Que'en percaya sama delia, lagian mamah papah juga kenal delia enam tahun lebih, dia ngak pernah tu buat masalah sekecil apa pun". Ucap que'en dan beberapa saat kemudian datanglah seorang wanita usia 38 tahunan dengan seorang anak 17 tahun siapa lagi kalau bukan yang mereka bicarakan.
Delia terhenti do tempat ketika melihat Que’en dan dengan langkah berat iya melangkah dengan mata yang berkaca-kaca.
Que'en yang melihat kedatangan mereka berdua pun langsung berdiri dan dengan mata yang berkaca-kaca iya dan delia langsung berpelukan.
"Delia...
"Que’en akhirnya kamu balik". Ucap delia melepas pelukan nya dan mamah papah Que’en juga bi dina dan pak bardi langsung berdiri menghampiri.
Sedangkan al varo berdiri di belakang delia dengan mata berkaca-kaca melihat kalau orang di depan nya yang terlihat masih muda seperti nya adalah ibu kandung nya.
Que'en menghampiri al varo dan dengan air mata yang jatuh iya langsung memeluk al varo.
"Anak ku, al, kamu anak ku". Ucap que'en dengan berlinang air mata begitu juga al varo yang langsung memeluk balik sang ibu dengan sangat erat.
Que'en melepas pelukan nya dan langsung menghapus air mata sang anak yang menangis tersedu sedu karena akhirnya dia bisa bertemu dengan orang tua kandung nya meskipun dalam persi sangat muda.
"Udah jangan nagis lagi, anak jantan ngak boleh nagis". Ucap que'en namun al varo masih menangis.
"Gimana nggak nangis, ini kali pertama nya aku ngerasain kasih sayang mamah tau...
"Lah terus delia?".
"Tante emang sayang sama al tapi dia ngak pernah kasih al buat panggil dia mamah, alasan tante selalu aja karena dia bukan mamah al". Ucap al varo dengan banjir air mata sampai tersedu sedu.
"Udah jangan nangis lagi, ngak malu apa di liat kakek nenek kamu sama yang lain?". Ucap que'en dengan senyum lebar sembari menghapus air mata al varo.
"Biarin aja"...
Ucap al varo yang tak perduli lagi dan langsung memeluk balik que'en.
"Iya deh dasar anak manja, kamu sih del terlalu manjain dia". Ucap que'en menyalahkan sahabat nya itu.
"Apa sih, aku ngak pernah manjaain al dia aja yang terlalu lembut". Ucap delia dan mereka semua langsung tertawa Ngakak.
HA HA HA HA...
"Al udah dulu nagis nya, salam sama kakek nenek kamu dulu juga sama bi dina dan pak bardi". Ucap que'en dan al varo langsung menghapus air mata nya lalu menyalami kakek dan nenek nya untuk pertama kali.
Begitu juga dengan pak bardi dan bi dina, ya rahasia yang ingin delia katakan tadi nya di rumah adalah tentang keluarga al dan delia sebenarnya ingin menyerah kan al pada mereka agar iya bisa membalas kan dendam que'en namun siapa sangka rencananya berhenti di rumah mewah itu.
Mereka duduk di sopa dan menceritakan semua yang terjadi pada saat itu hingga akhirnya pak bardi masuk ke rumah dengan buru buru memberitahu kan tentang kedatangan suami brengsek que'en.
"Nyonyak, tuan, semua nya. Gawat ada tuan brengsek datang". Ucapnya dengan ngos ngosan.
"Tuan brengsek siapa?". Tanya que'en dengan wajah penasaran.
"Suami kamu". Ucap pak bardi dan dengan tanpa berkata kata dengan cepat que'en menarik tangan al varo juga delia ke kamar tamu dekat situ juga.
"Assalamualaikum bu pak". Ucap wijaya dengan senyum licik membuat que'en yang mendengar dari balik pintu ingin sekali keluar dan menghajar nya.
"Waallaikumsalam, ada apa datang ke sini?". Tanya papah ayini dengan datar.
"Cuman mampir aja, mau nanya kabar kalian". Ucap wijaya dengan senyum lebar.
"Oh kita baik baik aja, sekarang mau apa lagi?". Tanya papah Que’en.
"Ngak kenapa napa ko". Jawab wijaya dengan senyum licik.
Dalam hati wijaya sangat tak suka di perlakukan seperti itu dan dalam hati iya memaki maki orang tua que'en.
"Dasar tua Bangka, udah setengah masuk kubur aja masih sombong, tunggu saja aku pasti akan merebut harta warisan kekayaan kalian". Guman nya dalam hati dan langsung pamit.
"Ya sudah kalau begitu saya kembali dulu soalnya ada kerjaan juga di kantor ". Ucap nya dengan senyum palsu dan langsung pergi begitu saja.
Que'en, dan delia yang mendengar dari balik pintu pun tersenyum lebar, tapi tidak dengan al varo yang bingung.
"Hah, dia papah al kan?". Tanya al varo.
"Dulu iya tapi setelah dia punya anak dari wanita lain udah ngak lagi". Ucap que'en dengan kesal pada sang anak karena al varo menyebut nya papah.
"Yaudah kalau gitu deh". Jawab al varo lagi dengan senyum lebar lalu dengan cepat mereka keluar kamar itu dan langsung duduk.
"Gila, omongan mamah papah pedas juga ya?". Ucap que'en dengan senyum puas.
"Mamah papah kamu gitu loh!". Ucap namyesa pada sang anak dengan kata kata gen z karena melihat usia que'en iya berasa masih muda.
"Iya deh". Jawab que'en lagi dan semua orang langsung tertawa terbahak bahak.
"Hah aku mau ganti identitas bisa kan".
"Serahin aja sama kita masalah kecil itu". Ucap sang ayah.
"Yaudah ubah nama que'en jadi HAZIA AZARA AYINI NAMYESA". Ucap que'en.
"Nama yang bagus, teris nama al gimana mau di ubah ngak?". Tanya sang mamah lagi pada cucu nya itu.
"Ngak usah nama al udah bagus ngak usah di ubah". Jawab al varo.
"Oke kalau gitu, terus kalian mau umumin identitas baru kalian apa ngak?". Tanya papah Que’en.
"Umumin identitas que'en aja, al varo belakangan, ngak papa kan al?".
"Sesuai yang di bilangin mamah al selalu nurut kok". Ucap al varo.
"Bagus kalau gitu". Jawab que'en lagi.
"Yaudah que'en mau naik istirahat dulu ya mah, tubuh ini terlalu lelah". Ucap que'en dan langsung di angguki orang tua nya.
"Mamah al ikut".
"Ngapain?". Tanya que'en dengan wajah bingung.
"Mau ikut bobok sama mamah". Ucap al varo dengan wajah manja nya membuat delia menaiki satu alis nya.
"OMG...
"Del ini anak aku kamu didik nya gimana? Kamu ngak bilang ya kalau anak gadis sama anak laki laki di larang sekamar bersama???". Tanya que'en.
"Udah aku bilang, tapi ngak papa kali Que’en toh anak kamu juga". Ucap delia.
"Lah iya juga ya!". Ucap que'en dengan senyum lebar.
"Yaudah ayo naik, tapi jangan berisik ya mamah butuh ke tenangan buat ngumpulin energi". Ucap que'en dan al varo langsung mengangguk senang lalu segera menghampiri Que’en ke kamar atas.
"Akhirnya tu anak bisa senyum". Ucap delia dengan pelan.
"Maksudnya gimana?". Tanya hazian.
"Ya al itu anak nya ngak punya teman selama di desa, orang orang ngejauhin dia karena dia itu cerdas dari pada orang di usia nya sekarang". Ucap delia.
"Cerdas cermat iya selalu peringkat satu di mana mana, pokonya dia cerdas bangat sekali liat catatan hukum uud aja udah hapal semua dan masih banyak lagi, jadi karena nya dia di jauhin orang orang, cuman yang ngerti aja yang mau dekat sama dia". Ucap delia.
"Oh, kalau gitu kecerdasan nya ngak boleh di sia-sia in dong, kalau gitu perusahaan di serahin sama al aja". Ucap hazian.
"Masih ada que'en om, hati hati tu ibu dan anak berantem gegara perbuatan hak waris". Ucap delia dan mereka semua langsung tertawa gembira.
Sedangkan di kamar que'en, que'en sudah selesai bersih bersih dan langsung duduk di samping al yang sedang membaca buku sekolah nya.
"Lagi baca apa?". Tanya que'en dan al varo langsung menjawab pelan.
"Lagi baca buku sekolah mah". Ucap al varo sembari membaca buku rumus ipa dan que'en yang mendengar pun langsung mengelus pelan kepala sang anak.
Al varo yang merasa elusan lembut tangan sang mamah pun tersenyum dan langsung meletakan buku belajar nya memeluk erat lengan sang mamah.
Tanpa sadar air mata que'en yang elohat langsung menetes dan dengan napas yang tenang iya langsung bicara pelan.
"Al kamu kecewa ngak sama mamah?".
"Kenapa mamah nanya gitu?".
"Mamah cuman mau tau selama ini kamu kecewa ngak sama mamah?".
"Ngak ko mah, al ngak kecewa malahan al bersyukur karena ternyata mamah al itu gadis muda yang sangat cantik jadi al ngak pernah ngeluh tentang apa pun, masalah yang dulu biar lah berlalu". Jelas al varo pada mamah nya.
"Bagus lah kalau begitu, udah malam ayo tidur mamah bacain dongeng mau ngak?". Ucap que'en menghapus air mata nya.
"Ngak usah lah mah, ini udah malam mendingan mamah juga tidur, pasti juga capek kan". Ucap al varo dengan bijak.
"Ngak papa mamah senang ko cuman bacain dongeng ja buat kamu bukan masalah besar". Ucap que'en dengan senyum lebar.
"Yaudah terserah mamah aja deh". Ucap al varo pada que'en dan dengan senang hati al vato langsung melangkah ke kasur mewah milik que'en dulu.
Que'en tersenyum dan berguman dalam hati nya "jadi gini rasanya punya anak, bahagia bangat walaupun aku ngak liat al tumbuh besar tapi seengak nya aku bisa rawat dan manjain dia waktu dewasa". Gumam nya dengan senyum senang dan langsung naik ke atas kasur.
Lalu mulai membacakan sebuah dongeng dengan tangan yang mengelus elus kepala sang anak dengan lembut.
Hingga akhirnya di tengah tengah cerita al varo langsung tertidur nyenyak sembari memegang baju sang mamah.
Que'en tersenyum lebar dan langsung membuka sistem yang sudah iya aktifkan tadi nya.
"Sistem apakah ada pil yang membuat orang menjadi 10 tahun atau 20 tahun lebih muda?". Tanya nya pada sistem yang tak dapat di lihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
"[Kepada tuan rumah pil mengawet muda ada hanya saja poin anda tidak cukup untuk membeli nya, segera selesaikan misi dan dapatkan 100 ribu poin]".
"Apa misi nya?". Tanya Que’en.
"[Misi utama, tuan harus membuat putra dari wijaya dan nisa malu di pesta pengakuan yang akan di adakan, berhasil akan mendapatkan 10 ribu poin, jika gagal maka akan mengurangi 5 ribu poin]".
"Baiklah terlihat mudah, tapi bagaimana cara memperlakukan dia?". Tanya que'en lagi yang bingung sendiri.
"[Sistem tidak busa membantu silahkan pikirkan kembali]".
Ucap sistem itu dan langsung menghilang kembali.
Que’en tampak bingung dan dalam sekajap iya langsung mendapatkan ide, tak berselang lama iya pun langsung istirahat dan tidur.
Masalah pesta, hal tersebut sudah di sepakat dari tadi sebelum naik dan besok tinggal datang saja dengan pakaian mewah dan brendet.
Masalah undangan juga sudah di sebarkan oleh asisten pribadi tuan tua yaitu papah que'en.
PAGI HARI NYA
di pagi hari yang cerah que'en sudah siap dengan penampilan dan identitas baru nya.
Iya turun ke bawah dan langsung duduk di sopa dengan manis begitu juga dengan varo yang dan delia yang berpenampilan selayaknya nya.
"Ayo berangkat". Kata namyesa pada sang anak dan yang lain nya.
Mereka berangkat dan seperti yang sudah di rencanakan identitas varo tidak akan di umumkan sekarang melainkan al varo sekarang berperan menjadi teman que'en saja.
Sesampainya di pesta semua berjalan dengan mulus dan sesuai rencana.
Wijaya yang melihat que'en terdiam sejanak dan setelah mendengar identitas que'en yang baru di umumkan iya akhirnya mengerti dan menghilangkan prasangka yang mustahil itu.
Sedangkan que'en tersenyum lebar dan senang melihat wijaya yang tak mengenalinya.
Bebrapa menit kemudian saat sedang asik asik nya berpesta tiba tiba saja putra wijaya dan nisa membuat kejahilan seperti iya sering menjahili anak anak di sekolah nya.
Tiba tiba saja iya berpura pura tersandung dan gelas yang al varo pegang sengaja iya tumpahkan ke diri nya sendiri tanpa di sadari orang orang.
"Ahhhhh ...
"Ada apa....
"Ayo lihat ada yang jatuh...
"Saya lihat tadi remaja yang berdiri memegang gelas itu sengaja membuat putra tuan wijaya jatuh...
Ucap mereka ada yang sembarang tuduh dan juga ada yang bicara di belakang.
Que'en melangkah maju dan ketika melihat hal itu iya merasa ingin marah karena anak nya di tuduh macam macam.
"Hey kenapa kamu dorong jay dan siam dia".
Ucap teman jayan yang bernama rio.
"Aku ngak dorong dia, dia sendi...
"Jangan bohong, kamu jelas jelas tadi sengaja mau buat aku malu". Ucap jayan lagi.
"Ngak aku....
"Cukup". Ucap que'en dengan tegas dan langsung maju.
"Yakin dia srngaja bikin kamu jatuh?". Tanya que'en dengan kewibawaan nya.
"Tentu aja yakin, jayan ngak pernah bohong". Ucap teman nya yang bernama dito.
"Brnarkah???....
"Tentu saja aku benar untuk apa aku berbohong dan membuat keributan di perta kamu".
"Oke".
"Kamu yakin ngak dorong atau nyiram dia?". Tanya que'en pada varo dan paro hanya mengguk.
"Baik jadi di antara kalian siap yang salah?". Tanya que'en sekali lagi dengan sengaja.
"Tentu saja dia, kedua teman ku saksi nya, kalau aku bohong maka aku akan minta maaf sekarang juga dan berlutut, menggonggong seperti ajing". Ucap jayan dengan percaya diri karena di sana tidak ada cctv atau semacam nya.
"Sepertinya kamu benar, karena kamu sangat percaya diri, dan kamu...
"Aku ngak ngelakuin itu". Ucap varo.
"Kalau begitu bagaimana kalau kalian bertaruh yang salah harus berlutut meminta maaf dang menggoggong seperi ajing, apakah kamu berani?". Ucap que'en pada al varo.
Dan memberi kode pada al varo, al varo paham dan langsug mengguk kan kepala nya.
"Aku tidak salah untuk apa takut!". Jawab al varo menatap tajam pada jayan.
"Ohh astaga, kalau kamu salah kenapa ngak jujur aja si, kalay gini kan rumit jadi nya".
Ucap que'en berpura pura agar para pengunjung pesta mendukung jayan bedasarkan kata kata que'en dan benar saja mereka mendukung jayan.
Kedua orang tua jayan, wijaya dan nisa yang melihat tersenyum lebar sedangkan al varo hanya bisa diam sembari binggung tapi akhirnya iya mengerti maksud mamah nya.
Semakin banyak yang mendukung jayan maka akan semakin malu pula iya nanti nya.
"Pasti dia yang salah...
"Lihatlah penampilan nya itu...
"Pakaian mewah tapi aroma kemiskinan nya terlihat sekali...
"Pasti dia orang yang diam diam masuk pesta kalau tidak kenapa iya sendirian...
"Heh salah harus mengaku biar nanti tidak terlalu malu...
Ucap mereka bergantian dan jayang yang mendengar banyak yang mendukung nya langsung tersenyum angkuh sedangkan al varo yang di maki hanya bisa diam tak bersuara.
"Udah semua nya stop, dari pada saling menyalahkan lebih baik lihat bukti nya saja". Ucap que'en.
"Bukti, buktinya sudah jelas dia yang srngaja buat masalah sama jayan...
"Iya, lebih baik dia segera berlutut di depan ku dan segera minta maaf jangan lupa menggonggong". Kata jayan lagi dengan sombong.
Que'en merasa sangat kesal dengan tuduhan jayan pada sang anak dan dengan cepat iya membuktikan siapa yang salah.
"Bukti yang kalian lihat belum tentu benar, bisa saja kan kalian sengaja ingin mempermalukan nya bersama jadi membuat drama ini". Ucap que'en.
"Aku tidak percaya dengan bukti yang di katakan oleh siapa pun aku percaya pada bukti yang aku lihat sendiri".
Ucap que'en dan langsug mengambil kamera kecil yang sudah di siapkan khusus di area pesta itu.
"Kamera...
Ucap jayan yang tiba tiba saja gugup dan langsung mengalihkan sumber pembicaraan.
"Ngapain pakai liat bukti lain lagi si, langsung aja dia berlutut minta maaf sama aku kan masalah nya beres...
Ucap nya dan que'en yang mendengar tersenyum kecil.
"Mau berlutut minta maaf dan menggonggog seperti anjing kita lihat nanti setelah lihat video ini, jangan ada yang mengingkari perkataan nya karena aku sangat benci dengan orang yang ingkar". Ucap que'en penuh penekanan.
Karena sekarang iya di kenal sebagai cucu penerus satu satu nya keluarga hazian yang hilang, iya membuat karangan bahwa iya adalah putri dari alm.hazia azara qaira namyesa, kembaran nya dulu yang meninggal di usia 21 tagun sedangkan que'en meninggal di usia 22 tahun.
Semua orang percaya begitu saja dengan cerita que'en karena dulu que'en memang memiliki saudara kembar yang menghilang di usia 3 tahun dan di temukan kembali di usia 20 tahun lalu tepat pada usia 21 tahun saat ulang tahun nya iya di bawa oleh pacarnya yang brengsek ke club, dan di perkosa hingga pada saat itu iya di nyatakan hamil namun yang tak di ketahui orang orang sebenarnya anak yang di lahirkan olrh qaira sudah meninggal.
Jadi berdasarkan cerita kehidupann itu que'en menyamar sebagai putri dari kembaran nya yang baru di temukan sekarang.
Que'en memperlihatkan rekaman cctv tersembunyi itu secata terbuka dan sedasemua yang melihat langsug terkejut akan kepolosan anak dari pengusaha wijaya teryata bukan polos melainyinkan licik.
"Ngak semua itu ngak benar semua itu palasu". Ucap jayan dan wijaya juga nina langsung menghampiri nya.
"Minta maaf, berlutut dan menggonggong sekarang". Ucap que'en dengan membentak membuat al varo merasa sedikit terkejut.
"Ma, paaa....
"Ayini, mendingan di bicarakan baik baik ya, bagaimana pun jayan ini sepupu kamu!...
Ucap wijaya dengan senyum manis nya agar que'en tidak mempermasalahkan hal itu.
"Ngak bisa dia harus berlutut minta maaf kalau ngak mau menggonggong, berani berbuat berani bertanggung jawab".
Ucap que'en membuat nisa ingin marah dan menampar nya begitu juga dengan wijaya yang kesal.
"Tapi dia ini sepupu kamu ay". Ucap wijaya.
"Ngak ada hubungan nya dengan keluarga, dia berbuat salah dan mempitnah orang bersama teman teman nya jadi tetap harus bertanggung jawab, dan sekali lagi aku ngak punya sepupu kaya dia". Tegas que'en pada wijaya dan semua orang mengguk setuju.
"Kalian juga minta maaf karena telah menusuh nya". Ucap que'n dan mereka langsung mementa maaf.
Maaf...
Maaf...
Maaf...
Ucap mereka satu persatu dan al varo hanya mengagguk sembari tersenyum kecil dan bergumam dalam hati nya.
"Ini mamah buat rencana apaan sih, kok putar putar gini masalah nya". Gumam al varo dalam hati nya.
"Kamu berlutut dan minta maaf seperti yang kamu katakan tadi". Ucap que'en tak menghiraukan wijaya dan nisa.
Wijaya menjadi sangat kesal dan langsung menghampiri hazian juga namyesa agar membantu nya menyelesaikan masalah tapi hazian mengatakan.
"Yang ayini bilang benar". Ucap nya yang di angguki namyesa.
Wijaya kali ini benar benar pasrah dan malu jadi iya dengan tegas menyuruh sang anak berutut meminta maaf begitu juga dengan kedua teman jayan.
"Maaf...
Ucap nya dengan pelan membuat que'en tersenyum licik.
"Kurang keras, minta maaf itu harus dengan suara keras dan lantang...
Ucap nya membuat nisa emosi dan langsung menampar pipi bagian kiri que'en.
Pakkkk
Que'en terdiam begitu juga semua yang berada di sana membuat delia yang melihat dari kejauhan ingin membalas tamparan nya.
Tanpa menoleh melihat ke arah nisa que'en langsug menampar balik kali ini iya mampar dengan penuh tenaga sampai sampai nisa terjatuh di lantai.
PAKKKK
semua krang kaget melihat keberanian que'en begitu juga dengan wijaya yang tak kalah syok dengan keberanian gadis si depan nya itu.
"Ayini, apa apaan kamu, dia ini tan...
"Ngak, dia bukan siapa siapa, dia cuman orang luar, dia pembantu di rumah om sama tante que'en yang suka diam diam goda om, aku tau itu semua sampai akhirnya tante que'en meninggal setelah melahirkan karena tau kalau om sam pembantu ini punya hubungan sampai punya anak haram yaitu dia...
Ucap que'en dengan lantang membuat orang orang berbisik bisik membicarakan pakta yang baru terungkap.
"Dasar perempuan sialan, berani berani nya kau memukul ku di perta ku sendiri, dasar plakor perebut suami orang, perempuan muraham kau pantai di pukuli...
Maki que'en sembari melempar makanan ke arah nisa.
"Ayini kamu gila ya, berhenti bikin malu di sini, apa apa bicarakan baik baik". Ucap wijaya.
"Tadi aku udah bicara baik baik tapi dia tiba tiba pukul aku emang apa salah nya aku suruh jayan berlutut minta maaf padanya karena dia salah sendiri pitnah orang ngak bersalah?...
"Om tau jayan salah tapi ngak perlu sampai segitunya ayini...
"Aturan tetap aturan om, dan aturan harus di turuti begitu juga dengan perkataan yang sudah iya ucapkan sendiri jadi dia harus lakukan, jika dia ngak bisa lakukan jangan bilang sembaranga". Ucap que'en dengan tegas yang di angguki semua tamu.
"Benar itu...
"Berani berbuat berani bertanggung jawab
...
"Baru tau ternyata jayan yang kita kenal adalah anak....
"Iya, di kira jujur dan polos ternyata licik kaya mamah nya...
"Dari pembantu jadi nya tuan rumah, hebat sih nisa tapi cara nya tercela bangat...
"Dasar rubah...
"Nasib nasib...
"Kasian alm.que'en dulu di sia siakan padahal dia baik bangat...
"Semua gara gara ular berwisa itu...
"Tapi pak wijaya juga salah...
"bisa bisa nya dia tergoda dengan pembantu nya sendiri...
"Norak bangat si...
"Jangan bilang kematian alm.que'en ada hubungan nya dengan mereka lagi...
Ucap mereka satu persatu memancing amarah wijaya yang tak tertahan kan lagi.
"Sudah cukup, hentikan...
"Saya sudah cukup sabar dari tadi dengan semua ini, memang benar kalau jayan anak kandung saya dengan nisa, dan memang benar nisa juga membantu di rumah saya tapi ini semua tidak ada hubungan nya dengan kematial alm. Istri saya...
"Oh ya, kamu kira aku tidak tahu bahwa perempuan licik ini sering memberikan obat pelemah kandungan pada tante que'en?...
"Om kira aku juga ngak tau kalau pembantu ini beberapa kali membuat rencana licik agar tante que'en celaka?...
"Dari numpahin sabun di kamar mandi agar jatuh dan keguguran, ngerusah rem mobil agar tante kecelakaan mobil!, terus suruh bi dita dan bi nina keluar agar dia bisa putusin gas kompor agas saat tante mau masak terjadi kebakaran?...
Ucap que'en membuat wijaya tersenyum lebar.
"Bagus kalau kamu tau, itu semua juga om yang suruh, jadi kamu mau gimana? Ngak ada bukti kalau om bersalh dan terlibar kan, sekarang mau apa?".
Tanya wijaya dengan berbisik di telinga que'en membuat que'en benar benar marah dan tanpa menunggu iya langsung memukuli wijaya tak perduli orang di sekitar nya.
"Dasar manusia bidap, kurang ajar tak tahu di untung, jadi kamu dalang dalam semua kevelakaan itu".
Ucap que'en sembari memukuli eijaya dengan keras dan kasar membuat beberapa tamu agak mundur menjauh takut mereka juga kena sasaran pampiasan.
"Oh astaga jadi wijaya sendiri yang merencanakan semua itu...
"Pantas saja du pukuli...
"Nona muda pukuli yang keras...
"Jangan kasih ampun nona...
"Aduh nona ayini seram juga kalau marah...
"Saya jadi takut sendiri denga anak ini...
"Lebih baik saya agak mundur dari pada nanti juga ikut jadi korban pelampiasan...
Ucap mereka macam macam dan di sisi lain delia yang melihat keseruan itu langsung maju.
"Boleh ikutan ngak? Lagi kesal juga soal nya". Ucap delia dan que'en langsung mengngguk membiarkan delia memukuli nisa dan jayan sampai babak belur.
Setelah puas memukuli mereka tiba tiba saja ada polisi yang datang dan langsung menangkap wijaya, nisa, dan jayan.
"Siapa yang menghubungi polisi?". Tanya que'en binggun karena takut iya juga di salah kan karena melakukan kekerasan.
"Saya,tapi tenang saja saya udah rekam semua kejadian nya dan polisi tidak akan menyalahkan kalian karena memang meraka yang salah". Ucap salah satu pengunjung yang merupakan seorang senior dari para polisi dan militer terlatih.
"Oh makasih ya om". Ucap que'en dengan santai walaupun iya kesal dengan orang tersebut yang ikut campur urusan mereka.
Bukan karena tak ingin mereka masuk penjara selama lebih dari 10 tahun lebih tapi que'en belum puas membalas dendam pada mereka.
Itu juga tidak sesuai rencana nya dan juag keluarga nya.
Iya awalnya ingin mempermalukan anak mereka saja kini menjadi mempermalukan mereka satu keluarga dan akhir nya tugas yang di berikan sistem sudah selesai semua hanya dalam satu hari satu malam yang membuat que'en agak kesal.
TUGAS SELESAI
"[Selamat semua tugas balas dendam anda sudah terselesaikan dan tuan mendapatkan hadiah 100 ribu poin, misteri box, dan juga keahlian di berbagai bidang]".
Que'en yang melihat benar benar kesal dan akhirnya pesta nya selesai begitu saja begitu juga dengan seluruh misi balas dendam nya yang sudah terselesaikan semua.
"Baiklah kalau begitu, tugas dan misi selesai jadi waktunya menikamati hidup normal bersama ayah, ibu, al dan delia".
Ucap que'en dengan senang dan akhirnya mereka melakukan hal seperti yang di lakukan orang di usia mereka.
Que'en memberikan pil kepada mamah, papah, delia, dan juga bibi juga paka satpam agar mereka terlihat lebih muda.
Mamah que'en namyesa yang sekarang berusia 49 tahun dari usia 59, begitu juga dengan bibi.
Papah que'en hazian yang sekarang berusia 50 tahun dari usia 60 tahun, begitu juga dengan pak satpam.
Delia yang sekarang berusia 18 tahun dari usia nya 38, ketika dalam satu minggu minum 2 pil jadi iya 20 tahun lebih muda dari sebelum ya.
Sedangakan untuk que'en tetap pada usia nya sekarang begitu juga dengan al varo yang sebentar lagi berusia 18 tahun.
Mereka semua tesenyum lebar saat sedang poto bersama dan kembali ke dunia mereka yang masih muda di tahun yang sudah tua itu membuat banyak kebahagiaan batu di antara mereka semua.
Cerita sampai di sini.
Terima kasih karena telah membaca....
Bila ada yang salah silahkan komen ya...
Banyak kata kata yang tidak sempurna juga mohon di mengerti saja...
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR TENTANG CERPEN INI YA...
SAMPAI KETEMU LAI DI CERITA SELANJUTNYA...
BAY BAY PEMBACA KU YANG SETIA, DUKUNG TERUS YA...