Di bawah temaram lampu kamar yang mulai meredup, udara selalu berbau sama: perpaduan antara antiseptik yang tajam, aroma minyak kayu putih, dan wangi sisa-isisa parfum mawar milik Salma Santiana yang mulai memudar. Di atas tempat tidur itu, Bagus Eko Putra terbaring seperti sebuah artefak yang rapuh. Lelaki yang dulu pundaknya adalah tempat paling kokoh bagi Salma untuk pulang, kini hanya menyisakan bayang-bayang dari dirinya sendiri.
Sudah lima tahun sejak serangan meningitis itu pertama kali datang. Awalnya hanya sakit kepala yang dianggap sepele, serupa denyut-denyut kelelahan setelah lembur di kantor. Namun, dalam hitungan hari, virus itu merayap, membungkus selaput otaknya, dan mengubah Bagus menjadi sosok yang asing. Ia kehilangan kendali atas tubuhnya, lalu perlahan, ia kehilangan kendali atas dunianya.
Salma tidak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, mencintai Bagus bukan sekadar tentang berbagi tawa di akhir pekan atau merencanakan liburan ke pegunungan. Mencintai Bagus adalah sebuah prosesi ibadah yang tak putus. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menyentuh permukaan bumi, Salma sudah terjaga. Ia akan membasuh tubuh Bagus dengan air hangat, menyisir rambut suaminya yang mulai menipis, dan membisikkan doa-doa kecil di telinganya, berharap ada satu neuron saja yang masih berfungsi untuk menangkap frekuensi cintanya.
“Pagi ini cerah, Gus. Di luar, pohon kamboja yang kita tanam dulu sedang berbunga banyak,” bisik Salma suatu pagi sambil mengusap jemari Bagus yang kaku.
Bagus tidak menjawab. Matanya hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, meski terkadang ada kilatan kecil yang Salma tafsirkan sebagai tanda bahwa suaminya masih ada di sana, terjebak di dalam labirin otaknya sendiri yang sedang runtuh.
Tahun-tahun berlalu seperti pasir yang mengalir pelan di jam pasir yang retak. Biaya pengobatan, terapi yang tak kunjung membuahkan hasil, hingga isolasi sosial perlahan-lahan mengikis tabungan dan energi Salma. Namun, perempuan itu tetap tegak. Ia adalah pusat semesta bagi Bagus. Ia adalah napas, ia adalah ingatan, ia adalah segalanya bagi lelaki yang sudah tak mampu lagi mengingat namanya sendiri.
Namun, meningitis bukan sekadar pencuri memori; ia adalah penghancur syaraf yang kejam. Memasuki tahun kelima, rasa sakit itu mulai menampakkan taringnya secara terang-terangan. Bagus mulai sering mengalami kejang yang hebat. Tubuhnya akan melengkung kaku, dan dari tenggorokannya keluar suara parau yang menyayat hati—suara yang tidak terdengar seperti manusia, melainkan suara penderitaan yang murni.
Salma akan memeluk tubuh itu, menahan guncangannya agar Bagus tidak melukai dirinya sendiri, sambil menangis dalam diam. Di saat-saat seperti itu, Salma menyadari bahwa cinta terkadang harus berhadapan dengan kenyataan yang paling pahit: melihat orang yang paling kita sayangi tersiksa oleh keberadaannya sendiri.
Suatu malam di bulan Maret, ketika hujan turun dengan sisa-sisa kemarahan musim yang lampau, Bagus tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Tidak ada kekosongan di sana. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada kejernihan yang luar biasa dalam tatapannya. Seolah-olah seluruh sisa kekuatan dalam sel tubuhnya berkumpul untuk satu pertunjukan terakhir.
Ia menatap Salma. Bukan tatapan seorang pasien kepada perawatnya, melainkan tatapan Bagus Eko Putra kepada istrinya, Salma Santiana.
“Sal...” suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan di atap.
Jantung Salma berdegup kencang. Ia mendekat, menempelkan telinganya ke bibir Bagus. “Iya, Mas. Aku di sini. Aku selalu di sini.”
“Sakit... Sal. Sudah... cukup,” bisik Bagus lagi. Air mata mengalir dari sudut matanya yang cekung.
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat jantung Salma. Selama ini ia berjuang untuk kesembuhan, untuk keajaiban, untuk satu hari lagi bersama Bagus. Namun ia lupa bertanya, apakah "satu hari lagi" itu adalah anugerah atau justru siksaan bagi Bagus? Bagus sudah tidak tahan lagi menahan badai di dalam kepalanya yang tak pernah reda. Ia ingin menyerah pada gravitasi yang selama ini ia lawan dengan susah payah.
Salma terdiam. Ruangan itu terasa begitu sempit. Ia teringat Dee Lestari pernah menulis bahwa hidup adalah tentang belajar merelakan. Dan malam itu, Salma menyadari bahwa puncak tertinggi dari kesetiaannya bukanlah dengan terus memegang erat tangan Bagus, melainkan dengan berani melepaskannya.
Ia mencium kening Bagus lama sekali. Ia mencium aroma tubuh suaminya yang telah menjadi bagian dari identitasnya selama belasan tahun. Ia merasakan detak jantung Bagus yang lemah di bawah telapak tangannya.
“Mas... kalau Mas lelah, Mas boleh pergi,” bisik Salma dengan suara yang gemetar namun tegas. “Aku akan baik-baik saja. Aku sudah cukup bahagia pernah memilikimu. Jangan dipaksa lagi ya, Sayang. Pulanglah ke tempat yang tidak ada rasa sakit lagi.”
Bagus memejamkan matanya. Sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di bibirnya yang pucat. Ia mengembuskan napas panjang, seolah melepaskan beban berton-ton yang selama ini menghimpit dadanya. Genggaman tangannya yang lemah pada jari Salma perlahan-lahan melonggar.
Detik itu juga, kesunyian yang paling sunyi turun ke dalam kamar. Salma tidak berteriak. Ia tidak meraung. Ia hanya memeluk tubuh suaminya yang mulai mendingin, merasakan jiwanya sendiri ikut terlepas sebagian. Ia tahu, Bagus tidak pergi meninggalkannya; Bagus hanya berpindah ke dalam ruang yang lebih abadi, di mana tidak ada lagi peradangan, tidak ada lagi kejang, dan tidak ada lagi air mata.
Di luar, hujan mereda. Pohon kamboja di halaman menggugurkan satu bunganya yang paling putih ke atas tanah yang basah. Salma duduk di samping tempat tidur, memandangi wajah suaminya yang kini tampak begitu damai, seolah baru saja menyelesaikan perjalanan marathon yang sangat panjang dan akhirnya menemukan garis finisnya.
Cinta memang tidak selalu tentang memenangkan pertempuran melawan maut. Terkadang, cinta adalah tentang memberikan izin bagi kekasih kita untuk beristirahat dalam damai, sementara kita tetap berdiri di sini, merawat sisa-sisa cahaya yang ditinggalkannya dalam ingatan. Dan bagi Salma Santiana, Bagus Eko Putra akan selalu menjadi cahaya yang paling benderang, bahkan setelah malam yang paling gelap ini berlalu.
---