Lampu-lampu jalanan Bandung berpendar seperti mutiara yang tercecer di atas aspal basah. Hujan sisa sore tadi masih menyisakan aroma tanah yang khas—aroma yang selalu berhasil mengetuk pintu kenangan di hati Fatma. Di sudut ruang tamu rumah panggung yang asri itu, aroma opor ayam dan sambal goreng ati mulai merayap, memenuhi udara dengan janji kemenangan. Esok adalah Idul Fitri.
Namun, bagi Fatma, Lebaran bukan sekadar tentang ketupat atau baju baru. Lebaran adalah tentang langkah-langkah kaki yang pulang, dan tentang pintu yang selalu terbuka bagi mereka yang kehilangan arah jalan pulang.
"Neng, tolong ambilkan sajadah panjang di lemari atas. Kursi-kursi di depan sudah disusun, besok tamu pasti ramai," suara Ayah memecah lamunan Fatma.
Ayah, seorang dosen tua dengan kacamata yang selalu bertengger di ujung hidung, adalah sosok yang mengajarkan Fatma bahwa rumah bukanlah sekadar koordinat GPS. Rumah adalah rasa aman.
"Yah," panggil Fatma sambil membentangkan sajadah beludru berwarna hijau lumut. "Fatma jadi ingat Kak Haikal. Apa kabar ya dia di Aceh sekarang?"
Ayah menghentikan aktivitasnya menata stoples rengginang. Matanya menerawang, senyum tipis terukir di wajahnya yang mulai dihiasi kerutan bijaksana. "Hakim Haikal? Ah, dia sudah jadi 'orang'. Tapi bagi Ayah, dia tetap mahasiswa kurus yang dulu menangis di pojok perpustakaan karena tak bisa pulang mudik."
Ingatan Fatma melompat ke sepuluh tahun silam. Saat itu, ia masih duduk di bangku SMA. Haikal adalah mahasiswa bimbingan Ayah yang sedang bergelut dengan skripsi hukumnya. Aceh saat itu terasa begitu jauh, bukan hanya oleh jarak ribuan kilometer, tapi juga oleh keadaan yang memaksa Haikal untuk tetap meringkuk di kamar kosnya yang sempit di kawasan Dipati Ukur.
"Kenapa tidak pulang, Kal?" tanya Ayah suatu sore di teras rumah.
Haikal menunduk, jemarinya memainkan ujung map biru berisi draf skripsi yang sudah lecek. "Nanggung, Pak. Dana terbatas, dan penelitian saya sedikit lagi selesai. Kalau saya pulang sekarang, saya takut semangatnya hilang. Tapi... ibu saya di sana terus bertanya kapan saya sampai di Serambi Mekkah."
Suara Haikal bergetar. Fatma yang saat itu sedang membawakan teh manis, bisa melihat ada genangan rindu yang nyaris tumpah di mata pemuda itu.
Ayah hanya menepuk bahu Haikal pelan. "Lebaran ini, kamu jangan di kosan. Ikut Ayah. Kita mudik ke rumah Nenek di Garut, lalu jalan-jalan ke Ciwidey. Anggap kami keluargamu."
Dan begitulah, Haikal menjadi bagian dari foto keluarga mereka selama bertahun-tahun. Saat wisuda sarjana, Haikal tidak berdiri sendirian. Ayah dan Ibu Fatma berdiri di sampingnya dengan bangga, seolah-olah Haikal adalah putra kandung yang mereka lahirkan sendiri. Bahkan ketika seluruh keluarga Haikal datang dari Aceh untuk merayakan keberhasilannya, mereka semua menginap di rumah Bandung ini. Rumah yang sempit itu tiba-tiba terasa luas karena dipenuhi doa dan tawa dalam bahasa yang campur aduk antara Sunda dan Aceh.
"Dia benar-benar seperti abang sendiri, Yah," gumam Fatma. "Bahkan saat Fatma kuliah S1 dulu, Kak Haikal yang sudah lanjut S2 di kampus yang sama sering membawakan camilan ke kantin kalau tahu Fatma belum makan."
Ibu masuk dari arah dapur, menyeka tangannya yang basah ke celemek. "Ingat tidak, Fat? Pas dia wisuda S2, keluarganya datang lagi jauh-jauh dari Aceh. Mereka bawa kopi Gayo dan kain selendang indah sekali. Katanya, silaturahmi ini tak boleh putus meski raga sudah beda pulau."
Malam semakin larut. Takbir mulai berkumandang dari masjid di ujung gang, menyelinap masuk lewat celah jendela, menggetarkan sanubari siapa pun yang mendengarnya. Di tengah gema takbir itu, ponsel Ayah bergetar di atas meja jati.
Sebuah panggilan video. Nama yang tertera: Haikal (Aceh).
Ayah segera mengangkatnya. Di layar, tampak seorang pria gagah dengan kemeja koko putih bersih. Di belakangnya, terlihat interior rumah yang hangat dengan ornamen khas Aceh. Haikal tidak sendirian; ada istri dan anak-anaknya yang melambai riang.
"Assalamualaikum, Ayah... Ibu... Neng Fatma," suara Haikal terdengar berat, menahan haru.
"Waalaikumussalam, Pak Hakim," canda Ayah, namun matanya berkaca-kaca.
"Ayah, mohon maaf lahir batin. Seharusnya saya yang sujud di kaki Ayah malam ini. Tapi tugas di pengadilan dan jarak membuat saya hanya bisa mengirim doa," ujar Haikal. "Terima kasih sudah menjadi 'rumah' bagi saya saat saya kehilangan arah jalan pulang sepuluh tahun lalu."
Haikal kemudian mengarahkan kameranya ke arah ruang tamunya. Di sana, di atas meja makannya, tersaji opor ayam dan sambal goreng ati, persis seperti yang sering ia makan di rumah Bandung.
"Anak-anak, lihat ini Kakek dan Nenek di Bandung yang dulu menjaga Papa," Haikal memperkenalkan anak-anaknya ke layar.
Tangis Ibu pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis syukur. Bahwa kebaikan yang ditanam dengan tulus, meski hanya berupa tumpangan menginap atau sepiring nasi di saat Lebaran, akan tumbuh menjadi pohon persaudaraan yang akarnya menghujam bumi dan dahannya mencapai langit.
Setelah panggilan berakhir, rumah kembali hening, namun kehangatannya berlipat ganda. Fatma menatap sajadah yang tadi ia siapkan. Ia menyadari satu hal: mudik bukan hanya tentang berpindahnya tubuh dari satu kota ke kota lain.
Mudik adalah kembalinya hati kepada mereka yang mencintai kita tanpa syarat.
Haikal mungkin tidak ada secara fisik di Bandung malam ini. Namun, setiap doa yang ia panjatkan di Aceh, setiap keadilan yang ia putuskan di ruang sidang sebagai hakim, ada jejak kasih sayang Ayah di sana. Ada sepotong doa dari rumah di Bandung yang ikut terbawa dalam langkahnya.
"Yah, besok kita siapkan kursi lebih banyak lagi ya?" ujar Fatma sambil tersenyum.
"Kenapa, Neng?"
"Siapa tahu, ada mahasiswa Ayah yang lain, atau siapa pun yang sedang rindu rumah namun tak bisa pulang, yang akan mengetuk pintu kita. Fatma ingin rumah ini selalu jadi tempat siapa pun bisa merasakan hangatnya pelukan seorang Ibu dan nasehat seorang Ayah."
Ayah mengangguk mantap. Takbir terus berkumandang, merajut rindu antara Bandung dan Aceh, antara masa lalu dan masa depan. Di bawah langit Idul Fitri, tak ada yang benar-benar asing bagi mereka yang memiliki cinta di hatinya. Karena pada akhirnya, kita semua adalah musafir yang sedang mencari jalan pulang ke haribaan-Nya.
---