"Kebahagiaan tidak selalu ada di tempat yang mewah. Kadang, cukup dengan genangan air dan hujan yang datang tepat waktu bersama orang tersayang."
Gerimis di Bangkok sore itu tidak punya niat untuk berhenti. Di depan lobi hotel berbintang di kawasan Sukhumvit, Aghnia Faridah masih mengenakan seragam putih chef-nya yang sedikit terkena noda saus berry dari hidangan dessert yang baru saja dia selesaikan. Ia berdiri dengan gelisah di bawah kanopi yang melindungi pintu masuk, berkali-kali melirik jam tangan emas yang tergantung di pergelangan tangannya.
"Aghnia!" sebuah suara bariton memanggil di tengah deru hujan yang mengguyur jalan raya ramai kendaraan.
Dari kejauhan, seorang pria berlari menerjang genangan air yang membentang di sepanjang trotoar, dengan kamera profesional tersampir di pundak dan kemeja biru muda yang sudah basah kuyup hingga menempel di tubuhnya. Itu Achmad Creed Indrawan – reporter TV lokal cabang Thailand yang jadwalnya lebih berantakan daripada dapur restoran saat jam makan malam puncak.
"Kamu telat satu jam, Mas Creed," ucap Aghnia dengan nada yang ingin menunjukkan kesal saat pria itu akhirnya sampai di hadapannya, meskipun hatinya langsung luluh melihat wajah Creed yang terpeleset namun tetap tampan dengan wajahnya yang kelelahan.
Creed terengah-engah, menepuk-nepuk dada dengan tangan kanannya sambil mencoba mengatur napasnya.
"Maaf, sayang. Aksi unjuk rasa di depan kompleks gedung parlemen Thailand benar-benar memblokade seluruh jalur utama. Aku harus jalan kaki tiga blok dari stasiun BTS demi sampai ke sini."
Aghnia mengeluarkan hembusan napas panjang, tangannya secara alami terulur untuk merapikan helai rambut Creed yang lepek menempel di dahinya akibat basahnya hujan.
"Kita bakal ketinggalan reservasi makan malam di restoran Michelin bintang satu itu, Mas."
Creed menatap mata coklat tua Aghnia dengan tatapan hangat, kemudian mengalihkan pandangannya ke rintik hujan yang terus menerus jatuh di atas aspal jalanan yang bersih terpoles. Sebuah senyum jahil yang khas muncul di wajahnya.
"Siapa bilang kita harus ke restoran mewah dengan dress code ketat untuk merayakan ulang tahunmu?"
"Maksudmu, Mas?"
Tanpa aba-aba, Creed menarik lembut tangan kanan Aghnia yang masih hangat dari panasnya dapur, membawanya turun dari area lobi hotel yang terlindung, langsung ke tengah guyuran hujan yang kini semakin deras.
"Mas Creed! Sepatu kulitku akan rusak!" pekik Aghnia dengan nada tinggi, namun senyum lebar sudah merekah di wajahnya dan tawa riangnya pun terdengar saat merasakan dinginnya tetesan air menyentuh kulitnya yang masih hangat.
Mereka mulai berlari kecil sambil tertawa di sepanjang trotoar yang sepi karena orang-orang sudah berlindung, melompati genangan air yang membentuk cermin kecil di bawah kaki mereka seperti anak kecil yang sedang bermain. Suara cipratan air setiap kali kaki mereka menyentuh genangan beradu dengan tawa riang keduanya. Di bawah cahaya lampu jalan yang memancarkan warna kuning keemasan pada butiran air hujan, dunia di sekeliling mereka seolah lenyap – hanya tersisa dirinya berdua. Aghnia lupa sepenuhnya akan lelahnya berdiri selama 12 jam penuh di dapur mengawasi persiapan hidangan hari itu, dan Creed pun lupa akan tekanan mengejar deadline siaran berita malam yang harus dia kirimkan.
Mereka berhenti di sebuah kedai yang menjual french toast pinggir jalan yang sudah tutup, menggunakan kanopi kayu yang melindungi area depan kedai untuk berteduh sejenak dari guyuran hujan yang mulai mereda menjadi gerimis. Creed menarik napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru muda dari dalam kompartemen kedap air tas kameranya.
"Aku tahu aku bukan food critic terkenal yang bisa memberimu nilai bintang untuk hidanganmu," ujar Creed sambil dengan hati-hati membuka tutup kotaknya, mengungkapkan sebuah cincin perak dengan desain sederhana namun elegan di dalamnya.
"Dan aku juga bukan koki hebat yang bisa membuatkanmu soufflé yang sempurna sesuai standar dunia kuliner. Aku cuma seorang reporter yang sering harus melewatkan waktu makan malam karena harus mengejar berita darurat di berbagai tempat."
Aghnia menahan napas, matanya terpaku pada cincin di dalam kotak kecil itu. Suasana bising dari suara hujan dan lalu lintas jauh di kejauhan mendadak terasa sunyi seolah tidak ada apa-apa di telinganya.
"Tapi, Aghnia Faridah... aku mau jadi orang pertama yang kamu beri tahu saat resepmu gagal atau saat kamu menemukan ide baru yang brilian, dan orang terakhir yang kamu lihat sebelum tidur setiap malamnya. Maukah kamu terus berlari dan bermain di bawah hujan bersamaku, selalu?"
Aghnia tersenyum lebar hingga membuat sudut matanya berkerut, titik-titik air mata kebahagiaan mulai mengelilingi kelopak matanya. Ia menggerakkan tubuhnya lebih dekat ke Creed, kemudian menarik lembut kerah kemeja basah pria itu sebelum mencium perlahan pipinya yang masih basah karena hujan.
"Asalkan kamu janji, Mas Creed, jangan pernah pergi liputan ke daerah konflik tanpa memberitahuku terlebih dahulu," bisik Aghnia dengan suara lembut namun penuh keyakinan.
"Iya, aku mau."
Sore itu tidak berakhir dengan hidangan mewah di restoran bergengsi seperti yang direncanakan, melainkan dengan dua piring mie instan rasa tom yum yang mereka santap di apartemen kecil Creed yang terletak di dekat kawasan Silom. Mereka duduk bersandar pada sofa kecil sambil mengeringkan rambut masing-masing menggunakan satu handuk besar yang sama, bergantian menyirami air panas satu sama lain.
Bagi si Chef berbakat dan si Reporter penuh semangat ini, kebahagiaan ternyata tidak membutuhkan skenario yang rumit atau tempat yang mewah. Cukup dengan rintik hujan yang datang tepat waktu, genangan air yang bisa mereka lompati bersama, dan kepastian bahwa mereka akan selalu menemukan jalan pulang ke pelukan satu sama lain.
...
Pukul lima sore keesokan harinya, di dapur Le Petit Gourmet yang terletak di lantai tiga gedung perkantoran modern di kawasan Pathum Wan, suasana kembali terasa seperti gurun panas bagi Aghnia Faridah. Sebagai Executive Chef restoran tersebut, ia baru saja memulangkan dua asisten muda karena salah memotong potongan daging wagyu khusus untuk pesanan tamu VIP dari sebuah perusahaan besar Jepang. Keringat deras membasahi dahinya di balik topi koki tinggi yang selalu ia kenakan.
"Pesanan meja nomor delapan sudah telat sepuluh menit! Dimana reduction sauce yang sudah aku instruksikan tadi?! Tidak boleh ada kesalahan lagi!" teriak Aghnia dengan suara yang kuat mengalahkan desis api kompor dan kebisingan peralatan dapur lainnya. Namun di dalam hati, satu-satunya hal yang selalu mengingatkannya untuk tetap kuat adalah pemikiran akan segera pulang dan menghabiskan waktu bersama Achmad Creed Indrawan setelah hari kerja usai.
Sementara itu, kurang lebih lima kilometer dari sana, Creed sedang berdiri di tengah lapangan terbuka di kawasan pusat kota Bangkok, di dekat Jalan Rama I. Ia baru saja menyelesaikan siaran langsung mengenai aksi protes pekerja sektor pariwisata yang cukup ramai dan sedikit berujung kekerasan. Asap dari gas air mata yang digunakan petugas keamanan mulai perlahan menghilang di udara siang yang panas.
"Creed, tahan di situ sebentar! Tim kamera butuh satu adegan tambahan dari sudut belakang gedung untuk insert berita!" instruksi produser datang melalui earpiece yang terpasang di telinganya.
"Sial," ucap Creed pelan sambil mengusap dahinya yang berkeringat. Ia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 18.30 – sudah terlambat hampir satu jam untuk janjinya bertemu Aghnia yang kini sedang menunggu di restoran cabang baru di kawasan Sathorn.
"Siap bos, satu menit lagi kita selesai dan langsung berangkat!"
Hujan deras tiba-tiba mengguyur Bangkok tepat saat Aghnia keluar dari pintu belakang restoran dengan tas kerja yang penuh dengan buku resep dan peralatan kecil yang selalu dia bawa. Ia merasa sangat lelah, aroma bawang putih dan rempah-rempah dari dapur bercampur dengan aroma parfum mahalnya yang mulai pudar akibat kepanasan. Ia berdiri menunggu di bawah kanopi kecil yang melindungi pintu belakang restoran, menatap jalanan yang macet parah di sepanjang Jalan Sathorn yang ramai dengan kendaraan bermotor dan mobil.
Tiba-tiba, sebuah motor trail berwarna hitam mengerem dengan cepat dan berhenti tepat di depannya. Sang pengendara dengan gesit melepas helmnya, menyingkap wajahnya yang tampak lelah namun tetap tampan dengan garis rahang yang tegas. Tentu saja itu adalah Creed – bajunya penuh dengan debu jalanan dan percikan lumpur dari jalanan yang licin karena hujan, sementara tas kameranya ia pegang erat di depan dada agar tidak terkena hujan.
"Aghnia! Maafkan Mas ya, sayang. Demo di lokasi tadi benar-benar keluar dari kendali dan membuat Mas tidak bisa bergerak selama hampir dua jam," seru Creed dengan suara yang terdengar jelas di balik deru hujan dan kebisingan lalu lintas.
Awalnya Aghnia merasa ingin marah dan mengeluarkan semua keluhan tentang betapa melelahkannya hari ini di dapur, harus menangani banyak hal sekaligus dan bahkan harus mengganti seluruh stok bahan mentah yang tidak memenuhi standar kualitasnya. Namun saat melihat wajah Creed yang juga tampak lelah dan bajunya yang kuyup serta penuh kotoran, rasa marahnya lenyap begitu saja. Ia melangkah perlahan mendekat ke arah pria itu.
"Kamu bau asap dan lumpur, Mas Creed," ucap Aghnia dengan nada pelan namun penuh perhatian, tangannya secara refleks mengusap noda hitam yang menempel di pipi kanan pria itu.
"Dan kamu tetap bau rosemary dan bawang putih yang harum, seperti selalu" balas Creed dengan senyum miring khasnya yang selalu membuat hati Aghnia berdebar.
"Aku tahu aku sudah merusak semua rencana makan malam spesial kita. Pasti restoran mewah itu sudah membatalkan reservasi kita kan?"
Aghnia menatap hujan yang semakin deras, membentuk genangan air yang semakin luas di permukaan aspal jalanan. Dalam hati, ia teringat betapa kaku dan teratur kehidupannya di dalam dapur – setiap langkah harus sesuai aturan, setiap hidangan harus sempurna sesuai standar yang telah ditetapkan. Tanpa berpikir panjang, ia menarik tangan Creed dengan erat.
"Biarlah saja reservasi itu. Ayo kita lari, Mas!"
Creed tertegun sejenak mendengar kata-kata dari bibir Aghnia, kemudian segera tertawa lepas dengan suara riang yang membuat suasana menjadi lebih hangat. Ia dengan cepat memarkirkan motornya di area parkir yang aman di sisi jalan, meletakkan tas kamera yang berharga di bawah tempat berteduh pos satpam restoran, kemudian kembali menghampiri Aghnia dengan langkah cepat.
Tanpa perlu banyak kata, Creed menarik tangan Aghnia dengan erat dan bersama-sama mereka berlari menembus tirai air hujan yang deras. Sepatu pantofel kulit Creed dan sepatu kerja anti-slip Aghnia menciptakan cipratan air yang tinggi setiap kali mereka melompat dengan riang ke dalam genangan air yang membentang di sepanjang trotoar dekat tepi Saliran Khlong Saen Saep.
"Lihat ini!" teriak Creed sambil berputar badan dengan cepat di tengah hujan, membuat tetesan air dari rambutnya yang basah memercik ke wajah Aghnia yang sedang tertawa lepas.
Aghnia tertawa dengan suara yang bebas – sebuah tawa yang jarang sekali ia keluarkan di depan anak buahnya di dapur, di mana ia harus selalu tampil tegas dan profesional. Di bawah penerangan lampu jalan yang membiaskan cahaya kuning keemasan pada setiap butiran air hujan yang jatuh, mereka seolah-olah sedang menari di atas panggung yang hanya untuk keduanya. Creed menarik pinggang Aghnia dengan lembut, mengajaknya untuk berdansa kecil sambil bergerak mengikuti irama yang mereka ciptakan sendiri di tengah trotoar yang kini sepi karena orang-orang sudah berlindung dari hujan.
"Aku mungkin tidak bisa memberimu piala penghargaan atau hidangan dengan piring emas malam ini, Chef," bisik Creed dengan suara lembut di telinga Aghnia sambil terus mengayunkan tubuh mereka berdua mengikuti irama yang mereka inginkan.
Aghnia menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahu Creed yang masih basah karena hujan, merasa betapa nyamannya berada di sana.
"Dapurku selalu panas dan penuh dengan tekanan, Mas Creed. Hujan yang sejuk ini... dan kamu yang selalu ada untukku... adalah pendingin yang paling tepat dan aku butuhkan."
Malam itu berakhir di ruang tamu apartemen kecil Creed yang terletak di dekat kawasan Bukit Bintang Bangkok – sebuah tempat yang sederhana namun penuh dengan kehangatan, dengan pemandangan jauh ke arah Baiyoke Tower II yang menerangi langit malam Bangkok dengan cahaya-warni yang indah. Aghnia masih dengan handuk besar yang membungkus kepalanya yang basah, duduk dengan nyaman di lantai kayu yang hangat sambil menikmati mangkuk mie instan rasa kari thai yang dibuat oleh Creed sendiri. Meskipun menurut standar sebagai koki profesional, mie itu terlalu banyak air dan rasanya terlalu pedas, namun bagi Aghnia rasanya adalah yang paling nikmat dan lezat yang pernah ia rasakan.
Creed duduk bersebelahan dengannya, bersandar pada kaki meja kecil sambil membuka layar kamera untuk menunjukkan hasil rekaman liputannya hari itu.
"Lihat ini, sayang. Ini bagian saat aku hampir kena lemparan botol plastik dari salah satu peserta aksi."
Aghnia mengernyitkan dahi dengan cemas, kemudian mencubit lembut lengan Creed dengan nada gemas.
"Besok-besok kalau mau kerja, liputan aja yang aman ya, Mas – kayak liputan di pasar bunga di kawasan Pak Khlong Talat saja kan? Biar kamu tetap aman dan aku tidak perlu khawatir terus."
Mereka saling menatap satu sama lain dengan mata penuh cinta dan kehangatan, kemudian bersama-sama tertawa riang.
...
Beberapa hari kemudian, di dapur Le Petit Gourmet, Aghnia sedang menunjukkan resep baru khas Thailand yang telah ia modifikasi kepada asisten-asistensinya. Di lehernya terlihat cincin perak yang Creed berikan, bersinar lembut di bawah lampu dapur. Tiba-tiba, suara Creed terdengar dari pintu masuk dapur:
"Maafkan saya mengganggu, Chef. Saya ada liputan tentang festival kuliner Bangkok, dan ingin tahu apakah restoran ini mau berpartisipasi?"
Aghnia menoleh dengan senyum yang tidak pernah pudar setiap kali melihatnya.
"Tentu saja, Mas Reporter. Bahkan saya sudah punya ide hidangan spesial – sebuah perpaduan antara teknik kuliner Barat dengan rempah khas Thailand. Dan kali ini, kita akan menikmati hasilnya bersama di meja makan, bukan lagi di lantai dengan mie instan."
Creed mendekat dan mencium dahinya lembut.
"Baiklah, Chef. Tapi janjikan saja, kita masih akan berlari bersama di tengah hujan kapan saja hujan datang ya?"
Aghnia menggenggam tangannya erat.
"Selamanya, Mas Reporter."
Di sudut dapur, asisten-asistensinya saling pandang dan tersenyum, menyaksikan bagaimana cinta antara sang Chef dan sang Reporter telah menginspirasi suasana kerja di dapur menjadi lebih hangat dan penuh semangat. Dunia kuliner dan dunia pers yang dulu terasa jauh berbeda, kini bersatu dalam cerita cinta mereka yang dibangun di atas rasa saling menghargai dan kebahagiaan yang sederhana.