Sejak kecil, aku sudah tahu bahwa orang tuaku hanya berpihak pada kakakku. aku sudah paham satu hal di rumah ini, aku bukan orang yang di inginkan di rumah ini.
Namaku Livi. Anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku, Dea, selalu jadi pusat segalanya, yang di sayang dan di banggakan oleh kedua orang tuaku. Selalu di manja dan selalu di turuti semua keinginannya. Bukan karena dia lebih tua saja, tapi karena… entah bagaimana, dia selalu dianggap lebih pantas untuk segalanya.
“Dea itu contoh yang baik, Livi. Kamu harus seperti dia.”
Aku bosan tiap hari selalu mendengar kalimat itu. Kalimat itu seperti lagu yang diputar berulang-ulang di rumah kami. Dari hal kecil seperti cara berbicara, cara duduk, sampai nilai sekolah, semuanya harus dibandingkan dengan Dea.
Dan anehnya, Dea tidak pernah menolak semua itu.
Justru dia menikmatinya.
“Livi, ambilkan air minum buat Kakak,” suara Dea terdengar dari ruang tamu, tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.
Aku yang sedang mengerjakan PR di meja makan menghela napas pelan.
“Ambil sendiri, Kak. Aku lagi belajar.”
Lalu langkah kaki terdengar mendekat.
“Livi.”
Nada suaranya berubah dingin, tegas, seperti seseorang yang terbiasa diperintah, bukan meminta.
“Aku bilang ambilkan.”
Aku menatapnya kemudian menolak.
“Livi! Dengerin Kakakmu!” suara Ibu tiba-tiba menyela dari dapur.
Aku menunduk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku bangkit dan mengambilkan segelas air untuknya.
Dea menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih. Seolah itu memang sudah seharusnya.
Dan mungkin… di rumah ini, memang begitu adanya.
Di sekolah, semuanya berbeda.
Aku punya teman. Aku bisa tertawa. Aku bisa jadi diriku sendiri tanpa harus dibandingkan dengan siapa pun.
“Livi, kamu ikut lomba menulis, kan?” tanya Shiva, sahabatku.
Aku ragu. “Aku pengen sih… tapi—”
“Tapi apa?”
Aku diam sejenak. Lalu tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa.”
Aku tidak bilang kalau di rumah, semua keputusan selalu harus lewat dea. Bahkan untuk hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan dia.
Dan biasanya, jawabannya selalu sama.
“Ngapain ikut lomba begitu? Nggak penting.”
Malam itu, aku memberanikan diri bicara saat makan malam.
“Ibu… Ayah… aku mau ikut lomba menulis di sekolah.”
S
endok di tangan Ayah berhenti sejenak. Ibu menatap Dea, bukan aku.
“Kamu gimana, Dea?” tanya Ibu.
Aku menggenggam tangan di bawah meja.
Kenapa… selalu dia?
Dea mengangkat alis. “Lomba menulis? Dia aja nilainya biasa-biasa.”
Hatiku seperti ditusuk pelan.
“Tapi aku”
“Kalau mau ikut, pastikan menang,” potongnya. “Jangan bikin malu keluarga.”
Ayah mengangguk. “Iya. Kalau cuma ikut-ikutan, nggak usah.”
Aku menunduk. Nafasku terasa berat.
“Baik,” jawabku pelan.
Tapi dalam hati, aku sudah membuat keputusan.
Aku akan ikut.
Tanpa izin mereka.
Setiap malam, setelah semua orang tidur, aku menulis.
Di bawah cahaya lampu, dengan suara jam dinding yang berdetak pelan, aku menuangkan semua yang selama ini kupendam.
Tentang rasa diabaikan.
Tentang menjadi nomor dua.
Tentang luka yang tidak pernah terlihat.
Aku tidak tahu apakah tulisanku bagus.
Meski hanya oleh diriku sendiri.
Hari pengumuman lomba tiba.
Aku tidak berharap banyak. Bahkan aku hampir tidak datang ke aula saat nama-nama pemenang diumumkan.
“Livi Aditya, juara pertama.”
Aku terdiam.
Shiva menjerit kecil di sampingku. “LIVI! ITU KAMU!”
Tanganku gemetar saat aku naik ke panggung. Tepuk tangan terdengar, tapi semuanya terasa seperti mimpi.
Untuk pertama kalinya aku ikut lomba menulis, aku memberanikan diri ikut lomba,dan pertama kalinya aku tidak dibandingkan dengan siapa pun, tterlebih dibandingkan dengan kakakku Dea.
Pertama kalinya Aku pulang dengan sertifikat di tangan.
Hatiku campur aduk—bahagia, gugup, takut.
Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka.
Saat aku masuk rumah, Dea sedang duduk di ruang tamu. Ibu di sampingnya.
“Aku… menang lomba menulis,” kataku pelan, menunjukkan sertifikat.
Ibu mengambilnya. Membaca sekilas.
“Oh,” katanya datar.
Ayah keluar dari kamar. “Menang apa?”
“Lomba menulis,” jawabku.
Ayah mengangguk pelan. “Bagus.”
Hanya itu.
Lalu semua kembali seperti biasa.
Seolah pencapaianku tidak lebih dari sekadar catatan kecil.
Aku berdiri di sana, memegang sertifikat yang tiba-tiba terasa di sepelehkan semua usahaku.
“Nggak penting juga,” suara Dea memecah keheningan. “Menulis doang.”
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya… aku tidak menunduk.
“Buat aku, ini penting,” kataku.
Dea terdiam. Mungkin kaget.
Aku melangkah masuk ke kamar.
Di balik pintu yang tertutup, air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena sedih.
Tapi karen aku dapat juara, aku akhirnya berani.
Hari-hari setelah itu tidak langsung berubah.
Dea masih sama. Orang tuaku juga.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam diriku.
Aku tidak lagi menunggu pengakuan mereka.
Aku mulai menulis lebih banyak. Mengirimkan karya ke berbagai tempat. Beberapa ditolak, beberapa diterima.
Dan setiap kali aku berhasil, sekecil apa pun itu, aku belajar satu hal
Nilai diriku tidak ditentukan oleh siapa yang lebih dipilih.
Suatu malam, saat aku sedang menulis, pintu kamarku terbuka.
Dea berdiri di sana.
“Apa?” tanyaku tanpa menoleh.
Dia tidak langsung menjawab. Langkahnya pelan mendekat.
“Kamu… serius sama ini?”
Aku berhenti menulis. Menoleh padanya.
“Iya.”
Dia menatap buku di tanganku.
“Aku baca tulisanmu yang kemarin,” katanya.
Aku terdiam.
“Kamu… nulis tentang aku?”
Aku tidak menjawab.
Karena jawabannya jelas.
Dia menarik napas panjang.
“Aku nggak tahu kamu ngerasa seperti itu.”
Aku tersenyum tipis. “Kamu nggak pernah mau tahu.”
Untuk pertama kalinya, Dea tidak punya jawaban.
“Aku cuma…,” dia berhenti, seperti kesulitan mencari kata. “Aku terbiasa jadi yang harus sempurna.”
Aku menatapnya.
“Mereka selalu berharap banyak ke aku,” lanjutnya. “Dan aku pikir… kalau aku turun sedikit, semuanya bakal hancur.”
Aku menghela napas pelan.
“Dan aku… jadi bayangannya,” kataku.
Dea menunduk.
“Maaf.”
Satu kata itu… terasa asing. Tapi juga hangat.
Aku tidak langsung memaafkan. Luka tidak hilang secepat itu.
Tapi setidaknya… ada celah.
Hidup kami tidak berubah jadi sempurna setelah itu.
Masih ada perbandingan. Masih ada sikap yang menyakitkan.
Tapi sekarang, aku tidak lagi diam.
Aku bicara. Aku menolak saat perlu. Aku memilih jalanku sendiri.
Dan perlahan, Dea juga berubah.
Tidak sepenuhnya. Tapi cukup untuk membuatku percaya… bahwa bahkan seseorang yang memakai “mahkota” pun bisa belajar untuk turun dari singgasananya.
Di rumah ini, mungkin mahkota itu masih untuk kakakku.
Tapi aku tidak lagi terluka seperti dulu.
Karena sekarang aku tahu
Aku tidak butuh mahkota untuk menjadi berharga. Tapi percaya dirilah dan keberanian yang bisa membuat aku lebih di hargai dan di hormati orang lain.
Mungkin keluargaku tidak menerima kehadirankku tapi masih ada orang lain yg bisa menerima dan menghargai semua usahaku.