Kabut pagi turun perlahan di hutan sagu Papua Selatan, menutup tanah basah seperti selimut tipis yang tidak pernah benar-benar menghangatkan. Di antara batang-batang sagu yang tinggi dan rapat, cahaya matahari hanya jatuh sebagai garis-garis pucat, seolah takut menyentuh sesuatu yang tersembunyi di bawahnya. Di tempat itu, orang-orang tidak hanya hidup berdampingan dengan alam—mereka tunduk padanya.
Di Kampung Yawer, setiap anak diajarkan satu hal sejak kecil: jangan pernah mengambil sesuatu dari hutan tanpa izin.
Bukan karena takut pada manusia.
Tetapi karena hutan… selalu mengingat.
---
Lano lahir pada subuh yang terlalu sunyi.
Tangisnya tidak pecah seperti bayi pada umumnya. Ia justru terdengar seperti ditahan—pelan, serak, dan pendek, seperti seseorang yang sudah kelelahan sebelum benar-benar hidup.
Mama-mama yang membantu persalinan saling berpandangan saat melihat kakinya.
Di pergelangan kaki kiri Lano, ada pola aneh. Garis-garis halus yang menjalar, melingkar, dan bercabang seperti akar yang mencari jalan di dalam tanah. Tidak merah seperti luka. Tidak hitam seperti noda. Tapi samar, hidup—seolah bergerak pelan di bawah kulit.
Seorang mama tua menarik napas dalam.
“Dia… bukan anak biasa.”
Ibunya menggenggam Lano lebih erat.
“Dia tetap anak saya.”
Mama tua itu mengangguk, tapi matanya tetap tertahan pada kaki bayi itu.
“Kalau begitu… jaga dia baik-baik. Karena kalau hutan sudah mengenalnya… hutan tidak akan lupa.”
---
Tahun-tahun pertama berlalu tanpa kejadian yang terlalu mencolok. Lano tumbuh seperti anak lainnya—berlari tanpa alas kaki, tertawa bersama teman-temannya, dan membantu ibunya mengangkat air.
Namun ada satu hal yang selalu berbeda.
Lano tidak pernah takut hutan.
Ketika anak-anak lain berhenti di batas kampung, Lano justru melangkah lebih jauh. Ia masuk di antara batang-batang sagu yang rapat, menghilang tanpa suara, lalu kembali tanpa luka, tanpa tersesat, seolah ada sesuatu yang membimbingnya pulang.
Suatu sore, ibunya menemukan Lano duduk sendirian di tengah hutan.
Ia tidak bermain. Tidak bergerak.
Hanya duduk, menempelkan telapak kakinya ke tanah basah.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya ibunya, napasnya terengah karena panik.
Lano menoleh perlahan. Wajahnya tenang.
“Mereka bicara, Mama.”
Ibunya menegang. “Siapa?”
Lano menunjuk ke tanah.
“Mereka di bawah.”
Ibunya tidak bertanya lagi. Ia langsung mengangkat Lano dan membawanya pulang, meski anak itu tidak melawan.
Namun saat mereka berjalan menjauh, akar-akar sagu yang muncul di permukaan tanah… bergerak pelan.
Seolah mengikuti.
---
Suara itu mulai datang saat Lano berumur tujuh tahun.
Awalnya hanya bisikan.
Pelan. Tidak jelas. Seperti suara yang terjebak di antara lapisan tanah.
“…ingat…”
“…ingat…”
“…kami…”
Lano tidak mengerti arti kata-kata itu. Tapi setiap kali suara itu muncul, ia merasakan sesuatu yang aneh—hangat di telapak kakinya, menjalar naik ke tubuhnya, seperti ada sesuatu yang mencoba masuk.
Ia tidak pernah menceritakan semua itu pada ibunya.
Karena ia tahu—
Ibunya sudah cukup takut.
---
Masalah sebenarnya datang dari luar.
Sekelompok orang tiba di kampung membawa alat berat, peta, dan janji-janji yang terdengar asing bagi warga.
“Mau buka lahan,” kata mereka. “Untuk proyek.”
Kepala kampung berdiri di depan mereka.
“Ini hutan sagu. Ini tempat hidup kami.”
“Ini juga bisa jadi uang,” jawab salah satu dari mereka dingin.
“Tidak semua bisa dibeli,” kata kepala kampung.
Namun orang-orang itu tidak pergi.
Mereka tetap datang keesokan harinya.
Dan hari berikutnya.
Sampai akhirnya mesin mulai masuk.
Pohon-pohon pertama tumbang.
Tanah pertama dibuka.
Dan sesuatu… mulai bangun.
---
Malam itu, Lano bermimpi.
Ia tidak lagi melihat dunia dari matanya sendiri.
Ia adalah seorang lelaki tua.
Kulitnya gelap dan keriput. Tangannya kasar. Kakinya kuat, tertanam dalam tanah seperti akar.
Ia berdiri di tengah hutan.
Melihat orang-orang menebang.
Menggali.
Mengambil.
Tanpa bicara.
Tanpa izin.
“Berhenti!” teriaknya.
Namun tidak ada yang mendengar.
Ia berlari.
Mencoba menghentikan mereka.
Namun tanah di bawahnya bergetar.
Akar-akar muncul.
Bukan untuk melindunginya.
Tapi untuk menariknya.
Turun.
Masuk.
Kembali.
Gelap menelannya.
Dan sebelum semuanya hilang—
Ia mendengar satu kalimat:
“Kalau mereka lupa… kamu harus ingat.”
---
Lano terbangun dengan jeritan.
Tubuhnya basah.
Namun bukan keringat.
Tanah.
Lengket.
Dingin.
Dan di kakinya—
pola akar itu… semakin jelas.
Menjalar naik ke betisnya.
---
Sejak hari itu, perubahan tidak bisa disembunyikan lagi.
Kulit Lano mengeras di beberapa bagian. Kakinya sering terasa berat, seolah tertarik ke bawah. Ia mulai berdiri lama tanpa bergerak, terutama di tempat-tempat yang baru saja digali.
Suatu pagi, ibunya melihat sesuatu yang membuat napasnya hilang—
Saat Lano berdiri di halaman, akar kecil muncul dari tanah… dan melilit pergelangan kakinya.
Tidak kencang.
Tidak menyakitkan.
Tapi nyata.
Sangat nyata.
---
Di sisi lain kampung, kejadian aneh mulai terjadi.
Seorang pekerja hilang.
Tidak ada jejak.
Tidak ada suara.
Hanya tanah yang tampak… baru saja ditutup kembali.
Hari berikutnya, dua orang lagi hilang.
Mesin berhenti.
Suasana berubah.
Namun orang-orang itu masih keras kepala.
“Ini cuma kebetulan,” kata mereka.
Hutan… tidak menjawab.
---
Malam ketujuh, suara itu berubah.
Tidak lagi pelan.
Tidak lagi samar.
Kini jelas.
Memanggil.
“Lano…”
Ia bangun.
Matanya kosong.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Keluar dari rumah.
Menuju hutan.
Ibunya mencoba menahannya.
“Jangan pergi!”
Namun saat tangannya menyentuh Lano—
ia merasakan sesuatu yang membuatnya melepaskan.
Tubuh anak itu… dingin.
Dalam.
Seperti tanah basah setelah hujan.
---
Lano berjalan tanpa suara.
Masuk ke hutan.
Semakin dalam.
Semakin gelap.
Hingga ia sampai di sebuah tempat yang terasa… berbeda.
Tanah di sana merah.
Basah.
Dan berdenyut pelan.
Seperti jantung.
Di tengahnya, sebuah lubang terbuka.
Gelap.
Dalam.
Dan dari dalamnya—
suara itu datang.
Lebih jelas dari sebelumnya.
“Kamu kembali…”
“Kamu anak kami…”
“Kamu penjaga…”
Ingatan Lano pecah.
Ia melihat semuanya.
Hidupnya yang sekarang.
Dan hidupnya yang dulu.
Ia adalah lelaki tua itu.
Penjaga hutan.
Yang mati karena mencoba menghentikan manusia.
Tubuhnya dikubur.
Namun jiwanya tidak pergi.
Ia masuk ke akar.
Menjadi bagian dari hutan.
Dan kini—
ia dilahirkan kembali.
---
“Kenapa saya harus kembali?” bisik Lano.
Tanah bergetar.
Akar-akar bergerak.
“Mereka lupa…”
“Mereka ambil…”
“Mereka tidak izin…”
“Kamu ingat…”
Air mata jatuh dari mata Lano.
Ia ingin hidup.
Sebagai anak.
Sebagai manusia.
Namun suara itu tidak berhenti.
“Kalau kamu tidak kembali… kami ambil yang lain.”
---
Pagi itu, warga menemukan Lano berdiri di tengah hutan.
Diam.
Tidak bergerak.
Kakinya sudah setengah masuk ke dalam tanah.
Ibunya berlari, menangis.
“Lano! Pulang!”
Lano menoleh.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang untuk anak seusianya.
“Mama… saya tidak bisa.”
“Bisa! Kita pulang!”
Lano menggeleng pelan.
“Kalau saya pulang… mereka akan ambil orang lain.”
Akar-akar mulai naik.
Membungkus kakinya.
Perlahan.
Tidak terburu.
Seperti sesuatu yang sudah menunggu lama.
---
“Jaga hutan… Mama…”
Itu kalimat terakhirnya.
Saat akar mencapai dadanya, napasnya berhenti.
Tubuhnya mengeras.
Kulitnya berubah.
Dan perlahan—
ia tidak lagi manusia.
---
Beberapa hari kemudian, di tempat itu tumbuh pohon sagu baru.
Lebih tinggi.
Lebih kuat.
Dan di batangnya—
terlihat pola yang aneh.
Seperti akar.
Melingkar.
Hidup.
---
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani membuka hutan tanpa izin.
Tidak ada lagi mesin yang masuk.
Tidak ada lagi yang berani mengabaikan adat.
Karena kadang, di malam hari—
jika seseorang berjalan terlalu dalam—
mereka akan merasakan sesuatu di bawah kaki mereka.
Gerakan pelan.
Seperti jari-jari yang mencari.
Dan suara yang sangat halus—
datang dari dalam tanah:
“…ingat…”
“…minta izin…”
Karena di hutan sagu Papua Selatan—
alam tidak hanya hidup.
Ia memilih.
Ia menunggu.
Dan ketika manusia lupa—
ia akan memanggil mereka kembali… bahkan melalui kelahiran.