Di bawah rembulan September 1982 yang pucat, bau kematian tidak datang dengan peringatan. Ia datang merayap bersama bayangan di dinding-dinding kamp Sabra dan Shatila yang sempit.
Mariyam, seorang gadis berusia dua belas tahun dengan mata sewarna zaitun matang, sedang duduk di lantai semen rumahnya yang lembap. Di depannya, sepotong roti khubz yang keras dibagi menjadi empat bagian kecil. Ibunya, Amina, mencoba tersenyum meski garis-garis kelelahan di wajahnya lebih dalam dari jurang di Lebanon Selatan.
"Makanlah, Mariyam. Besok ayahmu akan membawakan lebih banyak dari pasar di Beirut," bisik Amina.
Mariyam tahu itu bohong. Ayahnya, Yusuf, sudah tidak pulang sejak sore tadi. Suasana di luar kamp mencekam. Pasukan multinasional baru saja pergi, meninggalkan pengungsi Palestina tanpa perlindungan. Di kejauhan, lampu-lampu suar menyala di langit, menjatuhkan cahaya kuning pucat yang mengerikan, mengubah malam menjadi siang yang sakit.
Tiba-tiba, suara itu datang. Bukan suara bom, melainkan suara geraman mesin truk dan teriakan-teriakan dalam bahasa yang Mariyam kenali sebagai bahasa maut.
"Mereka masuk! Mereka masuk!" teriak seseorang di gang sempit di luar.
Suara tembakan beruntun menyusul. Jeritan wanita membelah malam, disusul oleh suara pintu-pintu kayu yang didobrak paksa. Amina segera menyambar tangan Mariyam dan adik laki-lakinya yang baru berusia lima tahun, Khalid.
"Jangan bersuara. Ke bawah tempat tidur, sekarang!" perintah Amina dengan suara gemetar yang tertahan.
Di bawah tempat tidur besi yang berkarat, Mariyam meringkuk. Ia bisa mencium bau debu dan keringat dingin adiknya. Khalid menangis tanpa suara, air matanya membasahi lengan baju Mariyam. Dari celah lantai, Mariyam melihat sepasang sepatu bot hitam masuk ke dalam ruangan.
Suara itu kasar. "Di mana pria-prianya?"
Amina berdiri di depan tempat tidur, menutupi anak-anaknya dengan keberanian yang hanya dimiliki seorang ibu yang sudah kehilangan segalanya kecuali anak-anaknya. "Tidak ada pria di sini. Hanya aku."
Mariyam melihat melalui celah kecil. Sebuah bayangan besar mengangkat senjata. Suara tak-tak-tak yang memuakkan bergema di ruangan sempit itu. Ia melihat ibunya jatuh. Gaun bunga-bunga Amina yang biasanya berbau kayu manis kini mulai berubah warna menjadi merah pekat yang mengalir di lantai semen, merayap menuju ujung jemari Mariyam.
Mariyam menutup mulut Khalid dengan telapak tangannya sekuat tenaga. Ia ingin menjerit, ia ingin memeluk tubuh ibunya yang masih hangat, tetapi insting bertahan hidup yang purba menahannya. Ia menyaksikan sepatu bot itu melangkah pergi, meninggalkan sunyi yang lebih tajam daripada peluru.
Selama tiga hari berikutnya, Sabra dan Shatila berubah menjadi neraka di bumi. Mariyam dan Khalid tetap berada di bawah tempat tidur itu, ditemani jasad ibu mereka yang mulai dikerumuni lalat. Bau amis darah bercampur dengan bau busuk sampah dan kematian yang menyengat dari luar jendela.
Ketika lampu suar di langit akhirnya padam dan suara tembakan mereda, Mariyam memberanikan diri keluar. Ia memegang tangan Khalid yang gemetar hebat. Saat mereka melangkah ke gang, pemandangan yang menyambut mereka adalah sesuatu yang akan menghantui setiap detik sisa hidup Mariyam.
Mayat-mayat bertumpuk seperti sampah. Di sudut jalan, ia melihat tetangganya, Ummu Hassan, tergeletak dengan perut terbelah. Di tempat lain, anak-anak kecil yang ia kenal—teman-temannya bermain kelereng—kini kaku dengan mata terbuka menatap langit Beirut yang tak peduli.
Mariyam berjalan melewati tumpukan puing, mencari ayahnya. Ia melewati jalan yang kini licin oleh darah. Setiap langkahnya adalah doa yang hancur. Di dekat pintu masuk kamp Shatila, ia melihat sebuah buldoser besar sedang menggali lubang raksasa. Di sana, ratusan tubuh dilemparkan begitu saja tanpa nama, tanpa kain kafan, tanpa doa pemakaman.
Ia melihat sebuah jaket cokelat yang sangat ia kenali mencuat dari tumpukan itu. Jaket Yusuf. Ayahnya.
Mariyam tidak menangis. Air matanya seolah telah menguap oleh panasnya kebencian yang mengepung mereka. Ia hanya berdiri di sana, memeluk Khalid yang terus bertanya, "Mariyam, kapan Ibu bangun? Mariyam, kenapa Ayah tidur di dalam tanah?"
Seorang jurnalis asing yang masuk ke kamp setelah pembantaian berakhir menemukan Mariyam sedang duduk di atas gundukan tanah merah. Gadis itu tidak memegang senjata, tidak memegang spanduk. Ia hanya memegang sebuah kunci besi tua—kunci rumah keluarga mereka di Haifa yang telah mereka tinggalkan bertahun-tahun lalu dengan janji akan kembali.
"Siapa namamu, Nak?" tanya jurnalis itu dengan suara parau.
Mariyam menatap jurnalis itu dengan mata yang sudah tidak memiliki cahaya masa kanak-kanak. "Namaku adalah Palestina. Dan hari ini, mereka mencoba menguburku hidup-hidup."
Tragedi Sabra dan Shatila bukan sekadar catatan sejarah tentang ribuan nyawa yang hilang dalam 43 jam. Bagi Mariyam, itu adalah hari di mana waktu berhenti. Puluhan tahun berlalu, ia kini menjadi seorang nenek di sebuah kamp pengungsian lain, masih memegang kunci tua itu. Ia menceritakan kisah ini kepada cucu-cucunya, bukan untuk menanam dendam, tetapi agar mereka tahu bahwa di bawah aspal jalanan Beirut, ada martabat yang tidak pernah bisa dikubur oleh buldoser mana pun.
Nurani dunia mungkin sempat tertidur selama tiga hari itu di tahun 1982, namun ingatan seorang anak yang melihat darah ibunya mengalir di lantai semen akan tetap terjaga selamanya, menuntut keadilan yang tak kunjung datang.
---
Mariyam memejamkan mata, namun kegelapan di balik kelopak matanya justru lebih mengerikan daripada pemandangan di depannya. Di sana, ia melihat ibunya, Amina, sedang menyisir rambutnya yang kusut sehari sebelum pembantaian. Ia ingat jemari ibunya yang kasar namun lembut, berbau bawang dan sabun murah.
"Jika suatu saat kita terpisah," bisik ibunya waktu itu, "carilah pohon zaitun yang paling tua. Akar mereka lebih dalam dari kebencian manusia. Mereka tidak akan pernah pergi."
Kini, di tengah puing Shatila yang hancur, tidak ada pohon zaitun. Yang ada hanyalah tiang-tiang listrik yang tumbang dan kabel-kabel yang menjuntai seperti urat nadi yang terputus.
Mariyam menarik tangan Khalid yang mulai mendingin. Bocah lima tahun itu tidak lagi bertanya kapan mereka pulang. Ia hanya menatap kosong ke arah tumpukan tubuh di sudut gang. Di sana, seorang bayi masih terlelap dalam gendongan ibunya yang sudah kaku, seolah maut pun tak tega memisahkan pelukan itu.
Tiba-tiba, suara derap bot militer kembali terdengar. Mariyam tersentak. Ketakutan yang murni, yang melumpuhkan tulang, menghantamnya kembali. Ia menyeret Khalid ke balik tembok rumah yang setengah runtuh. Di balik celah batu, ia melihat pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa kemanusiaannya.
Beberapa pria berseragam berdiri di atas gundukan mayat. Mereka tertawa. Salah satu dari mereka menyalakan rokok, asapnya membubung di udara yang berbau besi karat dan daging terbakar. Mereka membicarakan skor pertandingan bola seolah-olah di bawah kaki mereka hanyalah tumpukan kayu bakar, bukan manusia yang punya nama, punya mimpi, dan punya orang-orang yang mencintai mereka.
"Mariyam... aku lapar," bisik Khalid lirih. Suaranya nyaris hilang, seperti kepakan sayap burung yang patah.
Mariyam meraba sakunya. Kosong. Ia teringat sepotong roti khubz di lantai rumah mereka. Roti yang kini pasti sudah terendam darah ibunya. Ia ingin menangis, tapi matanya terasa perih dan kering. Ia hanya bisa memeluk kepala adiknya ke dadanya, mencoba memberikan kehangatan yang ia sendiri tidak miliki.
"Sabar, Khalid. Sebentar lagi malaikat akan datang membawakan madu," bohong Mariyam lagi. Kebohongan yang terasa seperti duri di tenggorokannya.
Ketika malam kembali turun, kesunyian di kamp itu lebih menyakitkan daripada suara tembakan. Kesunyian itu berteriak. Ribuan nyawa yang tak sempat berpamitan seolah berbisik di telinga Mariyam. Ia berjalan tertatih-tatih kembali ke reruntuhan rumahnya.
Ia menemukan tubuh ibunya sudah ditutupi debu putih dari reruntuhan tembok. Mariyam berlutut. Dengan tangan kecilnya yang gemetar, ia mencoba membersihkan wajah ibunya. Ia merapikan jilbab Amina yang tersingkap.
"Ibu... bangunlah sebentar saja," isaknya pecah. "Hanya untuk memberi tahu Khalid bahwa ia tidak sendirian. Hanya untuk memberiku kekuatan memegang kunci ini."
Ia mengambil tangan ibunya yang dingin dan meletakkannya di pipinya. Untuk sesaat, ia berpura-pura bahwa ini hanyalah malam biasa, bahwa sebentar lagi ayahnya akan datang membawa kantong kertas berisi jeruk, dan mereka akan tertawa bersama. Namun, kenyataan menghantamnya saat ia melihat lubang peluru di dada ibunya—tepat di jantung yang selama ini menjadi detak hidup Mariyam.
Mariyam lalu berdiri. Ia mengambil sepotong arang dari sisa kebakaran di dekat sana. Di tembok rumahnya yang masih berdiri, di samping noda darah yang sudah mengering, ia menuliskan satu kalimat dengan huruf Arab yang bergetar:
"Di sini pernah tinggal seorang ibu yang mencintai anak-anaknya lebih dari nyawanya sendiri. Jangan lupakan kami."
Pagi harinya, ketika palang merah akhirnya masuk, mereka menemukan seorang gadis kecil duduk tegak di depan pintu rumah yang hancur. Di pangkuannya, seorang bocah laki-laki tertidur lelap—tidur yang takkan pernah bangun lagi karena kelelahan dan ketakutan yang merenggut napasnya di tengah malam.
Gadis itu tidak meminta air. Ia tidak meminta roti. Ia hanya menatap setiap orang yang lewat dengan tatapan yang seolah bertanya: "Ke mana nurani kalian saat kami berteriak di bawah lampu suar itu?"
Mariyam selamat secara fisik, namun separuh jiwanya tertinggal di bawah tempat tidur besi itu, bersama genangan darah ibunya. Bertahun-tahun kemudian, setiap kali ia mencium bau hujan yang membasahi tanah, ia akan gemetar. Karena baginya, bau tanah basah bukan tentang kesegaran, melainkan tentang aroma kuburan massal yang tak pernah diberi nisan.
Kisah Mariyam adalah satu dari ribuan. Ia adalah saksi bahwa maut bisa merenggut nyawa, tapi ia tidak bisa membunuh ingatan. Selama kunci tua itu masih digenggam, Sabra dan Shatila akan selalu berdarah di dalam hati setiap manusia yang masih memiliki nurani.
---