Angin musim gugur di Srebrenica selalu membawa bisikan yang tidak bisa diterjemahkan oleh telinga biasa. Ia membawa aroma tanah basah, sisa-sisa logam yang berkarat, dan gema langkah kaki yang tak pernah sampai ke pintu rumah. Di sebuah beranda kayu yang mulai lapuk, seorang wanita bernama Hatidža duduk memandangi tiga batang pohon pinus yang berdiri tegak di halamannya. Baginya, pohon-pohon itu bukan sekadar tumbuhan; mereka adalah napas yang tersisa dari dunianya yang hancur berkeping-keping pada Juli 1995.
"Selamat pagi, Azmir. Selamat pagi, Almir. Apa semalam kalian kedinginan?" Hatidža berbisik, jemarinya yang mulai berkerut mengusap batang pohon yang paling muda. Pohon itu mewakili Almir, si bungsu yang baru berusia delapan belas tahun saat seragam-seragam militer itu menyeretnya pergi dari dekapan ibunya. Di sampingnya berdiri pohon untuk Azmir yang berusia dua puluh satu, dan yang paling kokoh adalah simbol untuk suaminya, Abdulah.
Ingatannya selalu kembali ke hari ketika langit Srebrenica berubah menjadi kelabu oleh asap dan debu. Ia masih bisa merasakan genggaman tangan Azmir yang gemetar, namun berusaha tetap kuat untuk melindunginya. Ia masih mendengar suara Almir yang memanggil "Ibu" untuk terakhir kalinya sebelum kerumunan pria bersenjata memisahkan mereka di tengah kekacauan Lembah Potočari. Saat itu, Hatidža tidak tahu bahwa ia sedang menatap punggung anak-anaknya untuk terakhir kali. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam ke depan, tawa mereka akan dibungkam oleh dinginnya peluru dan senyum mereka akan terkubur di bawah lapisan tanah yang tidak bernama.
Tahun-tahun setelah perang adalah siksaan yang lebih kejam daripada peluru mana pun. Hatidža hidup dalam ruang hampa, menunggu telepon yang tak kunjung berdering, menunggu ketukan pintu yang ia khayalkan adalah kepulangan mereka. Setiap kali ia melihat pemuda di jalan dengan jaket yang mirip milik suaminya, jantungnya berhenti berdetak sejenak. Namun, keajaiban tidak pernah datang. Yang datang hanyalah keheningan yang semakin pekat.
Pada tahun 2002, ketika banyak orang memilih untuk melupakan dan menjauh dari tanah penuh trauma itu, Hatidža melakukan sesuatu yang dianggap gila: ia kembali ke rumah lamanya. Rumah itu sunyi, dinding-dindingnya menyimpan lubang peluru dan bayang-bayang masa lalu. Tetangganya bertanya, "Bagaimana kamu bisa tahan tinggal di sana sendirian, Hatidža?" Ia hanya menjawab dengan senyum tipis yang menyayat hati, "Aku tidak sendirian. Mereka ada di sini, di setiap sudut udara yang kuhirup." Di halaman itulah ia menanam tiga pohon pinus tersebut, berbicara kepada mereka setiap pagi, menceritakan masakannya, atau mengeluhkan lututnya yang mulai sakit. Baginya, merawat pohon-pohon itu adalah cara terakhirnya menjadi seorang ibu dan seorang istri.
Hingga suatu hari, sebuah panggilan dari tim identifikasi jenazah internasional memaksanya menghadapi kenyataan yang paling getir. Setelah lebih dari satu dekade mencari di antara ribuan tulang yang tercerai-berai di berbagai kuburan massal, tim forensik menemukan sesuatu. Hatidža datang ke ruang otopsi dengan harapan yang rapuh, namun yang ia temukan di atas meja putih hanyalah potongan-potongan kecil. Dari Azmir, putra sulungnya, mereka hanya menemukan dua tulang kaki. Dari Almir, si bungsu yang ceria, mereka hanya menemukan satu tulang kecil dari bagian tangan.
Dunia seolah runtuh sekali lagi di pundaknya yang ringkih. "Hanya ini?" bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar. Petugas forensik itu menunduk, tak berani menatap mata seorang ibu yang dunianya kini hanya tinggal beberapa gram tulang. Hatidža memandangi tulang tangan Almir. Ia teringat bagaimana tangan itu dulu sering memegang tangannya saat mereka berjalan ke pasar. Ia teringat bagaimana tangan itu dulu membantunya memetik apel di kebun. Sekarang, tangan itu tidak lagi utuh. Tubuh anak-anaknya telah dicerai-berai oleh mesin-mesin penghancur, dibuang ke lubang-lubang gelap untuk menghilangkan jejak kejahatan manusia.
Ia dihadapkan pada pilihan: menguburkan tulang-tulang itu sekarang, atau menunggu entah berapa belas tahun lagi sampai sisa tubuh lainnya ditemukan—jika memang masih ada. Hatidža memeluk kotak kecil berisi tulang-tulang itu. Ia menangis bukan karena amarah, tapi karena kerinduan yang tak terperikan. "Setidaknya sekarang aku tahu di mana mereka beristirahat," katanya dengan ketabahan yang luar biasa. "Meskipun mereka tidak lagi utuh, aku akan membaringkan mereka di tempat yang layak, agar bumi bisa memeluk mereka lebih hangat daripada dunia ini memeluk mereka."
Ia menguburkan "dua tulang kaki" dan "satu tulang tangan" itu di Memorial Center Potočari. Di atas nisan-nisan putih yang berderet ribuan, ia berdiri tegak. Ia tidak mencari dendam. Di tengah rasa sakitnya yang melampaui logika, Hatidža memilih jalan yang berbeda. Ia menjadi pendiri Mothers of Srebrenica, sebuah gerakan para ibu yang menuntut keadilan tanpa pernah menyerukan kekerasan balasan.
"Aku tidak membenci bangsa mereka," ucapnya dalam sebuah perenungan di depan makam anak-anaknya. "Aku hanya ingin tidak ada ibu lain—siapa pun dia, apa pun agamanya—yang harus mencari tulang anaknya di dalam lumpur. Aku ingin dunia tahu bahwa satu nyawa yang hilang adalah semesta yang hancur bagi ibunya."
Seorang relawan muda, yang kita sebut saja Hana, sering berkunjung ke rumah Hatidža untuk sekadar menemaninya minum kopi. Hana bertanya suatu kali, "Bagaimana Anda bisa memaafkan mereka yang merampas segala yang Anda miliki?" Hatidža menatap ke arah tiga pohon pinusnya yang bergoyang tertiup angin. "Memaafkan bukan berarti melupakan, Hana. Memaafkan adalah caraku agar hatiku tidak berubah menjadi gelap seperti hati mereka yang membunuh anak-anakku. Jika aku membalas dengan kebencian, maka mereka benar-benar telah memenangkan perang ini. Cintaku pada Azmir, Almir, dan Abdulah terlalu suci untuk dikotori oleh dendam."
Hatidža menghabiskan sisa hidupnya sebagai "Ibu" bagi ribuan yatim piatu yang kehilangan orang tua dalam perang. Ia merangkul mereka, mendengarkan cerita mereka, dan memberikan kasih sayang yang seharusnya ia berikan kepada putra-putranya sendiri. Meskipun ia tidak lagi memiliki keturunan biologis, setiap anak yang selamat di Srebrenica memanggilnya ibu.
Hingga pada tahun 2018, tubuh ringkih itu menyerah pada waktu. Hatidža wafat dengan tenang. Di hari pemakamannya, ribuan orang mengantarnya menuju Potočari, menempatkannya di dekat makam suami dan anak-anaknya. Ia akhirnya pulang. Ia akhirnya tidak perlu lagi berbicara kepada pohon pinus, karena ia telah bertemu kembali dengan pemilik napas pohon-pohon itu.
Rumah di Srebrenica itu kini kosong, namun tiga pohon pinus di halamannya masih berdiri tegak. Mereka bukan lagi sekadar pohon, melainkan monumen abadi tentang seorang wanita yang kehilangan segalanya namun tetap menjaga kemanusiaannya. Siapa pun yang melintas di sana akan teringat, bahwa di balik angka 8.372, ada seorang ibu yang cintanya jauh lebih luas daripada lembah yang penuh nisan itu, dan jauh lebih kuat daripada mesin perang yang mencoba menghapusnya.
Dunia mungkin akan terus mencatat Srebrenica sebagai tragedi, namun melalui jejak langkah Hatidža, kita belajar bahwa keadilan sejati tidak butuh pedang, melainkan ketabahan untuk tetap mencintai saat dunia memberimu alasan untuk membenci. Hatidža Mehmedović telah tiada, namun suaranya tetap bergema di antara dedaunan pinus: bahwa cinta seorang ibu adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa dikuburkan oleh tanah mana pun.
---