"Naru, Jadilah lembaran bukuku dan aku akan menjadi pena yang akan menulis kisahku pada dirimu," pinta Nuha.
"Dulu, di sebelah sini," Nuha menunjuk ke arah deretan bangunan itu, "adalah belantara pohon yang rimbun. Aku sering ketakutan saat melewatinya karena tempat itu terasa seperti hutan yang mencekam dan gelap."
Nuha terhenti sejenak, matanya menerawang menembus dinding-dinding bangunan itu. "Tapi, bersama Ayah, aku seperti melihat keajaiban. Cerita Ayah mampu menghidupkan imajinasiku hingga hutan itu berubah menjadi taman yang indah. Di mataku, daun-daun itu mendadak menghijau dengan burung-burung yang berkicau riang. Aku bahkan bisa melihat kelinci melompat di pinggir jalan ini, dan bunga-bunga di sekelilingnya penuh dengan kupu-kupu."
Nuha terkekeh kecil, ada nada haru dalam suaranya. "Bagi orang lain, itu semua nggak ada. Mereka hanya melihat lahan gersang yang menyeramkan. Tapi Ayah ... Ayah bisa melukis semuanya menjadi jauh lebih indah hanya dengan kata-katanya."
Lalu, Nuha mendongak, menunjuk ke arah langit luas di atas lapangan yang masih kosong. "Dan di langit sana ... Ayah pernah melukis seekor paus raksasa. Aku benar-benar melihatnya hidup, berenang di antara awan-awan. Ayah bisa menciptakan ikan yang nggak bisa kulihat di laut, menjadi makhluk megah yang bisa kulihat terbang di angkasa."
Betapa indahnya dunia yang diciptakan ayah Nuha. Sebuah dunia yang kini ingin ia jaga agar tidak lagi dihancurkan oleh ketakutan mana pun.
Penceritaan Nuha semakin dalam, mengungkap bagaimana benih kreativitas dan persahabatannya dengan Rafly tumbuh dari "kesepian" yang puitis.
Naru mendengarkan dengan khidmat, menyadari bahwa di sinilah akar dari kepribadian Nuha yang sekarang.
Nuha perlahan melabuhkan tubuhnya, duduk di pinggir jalan setapak yang menjorok ke arah lapangan luas di bawahnya. Padang rumput itu masih asli, satu-satunya petak hijau yang tersisa dari gempuran beton di sekitarnya.
"Lalu, saat Ayah sedang asyik melukis di pinggir sini," Nuha mengusap permukaan aspal di sampingnya, seolah masih bisa merasakan jejak kanvas Ayahnya, "Rafly datang. Dia anak pertama yang berani mendekat dan memuji lukisan Ayah dengan tulus. Aku ingat betapa senangnya aku saat itu. Dengan bangga, aku memamerkan lukisan-lukisan kecil Ayah yang selalu kusimpan di dalam paper bag kepadanya."
Nuha tersenyum mengenang momen itu. "Sejak hari itu, kami jadi akrab. Kami sering bermain di pinggiran lapangan ini. Padahal lapangan ini selalu ramai oleh anak-anak lain, tapi entah kenapa, kami seolah punya dunia sendiri dan hanya bermain berdua."
Sorot mata Nuha sedikit meredup. "Tapi Ayah ... ayah mulai merasa nggak nyaman. Ayah nggak suka dikelilingi terlalu banyak orang. Keramaian di lapangan ini perlahan membuatnya enggan untuk keluar lagi. Akhirnya, kami hanya bermain di taman rumah."
Nuha menghela napas, seolah kembali merasakan kesepian masa kecilnya. "Aku sempat merasa kehilangan karena sudah terlanjur senang punya teman main seperti Rafly. Melihatku murung, Ayah kemudian mengambil kuasnya. Dia melukis sosokku, tapi Ayah membuatnya menjadi dua."
Cobalah! Bayangkan momen magis itu.
"Aku langsung paham maksud Ayah. Kami memang sudah benar-benar 'nyambung'. Aku menyetujui keberadaan sosok di lukisan itu dan memberinya nama Hawa," lanjut Nuha. "Hawa sangat menyenangkan. Dia seolah-olah hidup dan menemaniku. Sampai suatu hari, Hawa-lah yang memberitahuku, 'Nuh, lihat! Bukannya itu Rafly?'"
Nuha menunjuk ke arah jalanan di depan rumah lamanya. "Benar saja, Rafly sedang berjalan pulang sekolah melewati rumahku. Aku memanggilnya, dan sejak saat itu kami kembali akrab. Bahkan lebih akrab dari sebelumnya karena kami hanya bermain di taman rumah yang sepi. Rafly nggak keberatan, karena dia juga sangat tertarik dengan lukisan Ayah. Di taman itulah, dia mulai belajar memegang kuas dan belajar melukis dari Ayah."
Rafly bukan sekadar teman masa kecil, tapi saksi dari lahirnya "Hawa" dan pelarian kreatif Nuha.
Note: "Hawa" adalah manifestasi imajinasi Nuha yang dipicu oleh lukisan ayahnya. Sebuah cara indah untuk menjelaskan bagaimana Nuha mengatasi kesepiannya.
Ikatan Nuha & Rafly: Menunjukkan bahwa ketertarikan mereka pada seni adalah jembatan yang menyatukan mereka di tengah keterbatasan sosial ayah Nuha.
Suara Nuha sedikit bergetar, "Mungkin karena aku udah terlalu jauh terpengaruh oleh dunia Ayah, aku jadi dijauhi teman-teman di SMP. Aku sering dibilang aneh karena setiap kali mengobrol, aku selalu mengaitkan segala hal dengan sesuatu yang nggak nyata. Seperti saat hujan, aku bilang itu bukan air, tapi lelehan perak dari istana awan yang sedang menangis. Atau saat melihat bayangan pohon di dinding kelas, aku berteriak karena melihatnya sebagai tangan raksasa yang ingin memeluk kita."
Nuha menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Teman-temanku ketakutan. Mereka mulai menjauh. Ada yang terang-terangan mengataiku, 'Apa otakmu sedang miring, Nuh?' atau 'Kamu seperti orang kesurupan, kurang obat ya?' Dan yang paling menghancurkanku adalah saat mereka berbisik, 'Kamu seperti orang gila.'"
"Tapi saat itu, aku bukannya sadar diri," lanjut Nuha lirih. "Aku justru menyalahkan mereka. Aku pikir, mereka hanya orang-orang buta yang nggak ngerti keindahan. Dan anehnya, Ayah selalu menyetujui pikiranku itu. Saat aku menangis pulang sekolah, Ayah hanya menatapku dengan tatapan kosong namun dalam, lalu membisikkan sesuatu yang misterius..."
Nuha terdiam sejenak, mencoba mengingat kalimat persis yang keluar dari bibir Ayahnya yang saat itu sudah mulai digerogoti skizofrenia yang belum terdiagnosis.
"Jangan menangis untuk mereka yang hanya melihat dengan mata, Nuha. Mereka terpenjara dalam kenyataan yang membosankan. Dunia ini hanyalah kanvas kosong yang menunggu kita untuk menghidupkannya. Biarkan mereka menganggap kita gila, karena hanya orang gila yang punya kunci untuk keluar dari penjara dunia yang gersang ini."
"Kata-kata Ayah itu seperti mantra bagiku," bisik Nuha. "Beliau membuatku percaya bahwa menjadi 'berbeda' adalah sebuah kasta yang lebih tinggi, padahal sebenarnya kami berdua hanya sedang tersesat semakin dalam di labirin yang kami ciptakan sendiri."
Suara Nuha merendah, seolah-olah angin sore yang lewat pun tidak boleh mendengar rahasia kelam yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Kenangan ini bukan lagi tentang paus di langit, melainkan tentang bayang-bayang yang mulai menelan kewarasan mereka.
"Lalu Rafly pindah," bisik Nuha. "Katanya dia harus ikut pamannya dinas ke luar kota. Aku kehilangan satu-satunya teman yang bisa mengerti duniaku tanpa menghakimiku. Tapi saat itu, aku nggak terlalu peduli. Aku tetap asyik bersama Ayah. Tanpa Rafly sebagai penengah, imajinasi kami makin liar. Aku dan Ayah semakin larut dalam dunia yang hanya kami berdua yang tahu pintunya."
Nuha menarik napas panjang, matanya bergetar menatap hamparan lapangan di bawah sana. "Tapi, perlahan... imajinasi Ayah mulai membuatku celaka. Skizo Ayah yang nggak terdiagnosis mulai bermanifestasi menjadi sesuatu yang berbahaya, dan aku sebagai anak yang memuja dunianya ikut terjun ke dalamnya tanpa ragu."
Nuha menyingsingkan sedikit lengan bajunya, menunjukkan bekas luka pudar yang hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.
"Suatu malam, Ayah berteriak bahwa lantai kamar kami berubah menjadi sungai lava yang mendidih. Beliau bilang satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan melompat dari satu perabot ke perabot lain. Aku percaya sepenuhnya, ikut melompat panik. Aku terjatuh dari atas lemari tua, bahuku menghantam sudut meja kayu hingga berdarah. Ayah nggak menolongku, dia malah menangis karena mengira kakiku sudah hangus terbakar lava itu."
"Pernah juga," lanjut Nuha dengan suara yang nyaris hilang, "Ayah memberikan aku sebilah pisau kecil. Beliau bilang ada serangga-serangga hitam yang merayap di bawah kulitku dan aku harus mengeluarkannya agar warnaku nggak pudar. Aku hampir saja menggores lenganku sendiri jika tidak segera dihentikan oleh ibu yang tiba-tiba datang."
Tatapan Nuha sangat rapuh. "Ayah nggak bermaksud menyakitiku, Naru. Baginya, dia sedang menyelamatkanku. Tapi di mata dunia, kami adalah dua orang gila yang sedang menghancurkan diri sendiri di dalam rumah yang sunyi itu."
Note: Delusi Skizo bisa menyebabkan kecelakaan fisik yang nyata. Dan Formikasi adalah Salah satu gejala klasik gangguan kejiwaan berat di mana penderita merasa ada sesuatu yang merayap di tubuhnya, memicu tindakan self-harm.
"Lalu Ibu menyerah," bisik Nuha. "Ibu nggak sanggup lagi menjadi saksi bisu keanehan kami yang makin di luar kendali. Ibu menelepon Kak Muha, memintanya pulang paksa dari asrama kampusnya. Dan benar saja, sejak Kakak ada di rumah, dialah yang selalu menjadi tameng sebelum kecelakaan-kecelakaan itu merenggut nyawaku."
Nuha memejamkan mata, memanggil kembali satu memori yang paling membuatnya merinding.
"Suatu malam yang sangat tenang, Ayah membangunkanku dengan tatapan yang sangat cerah, namun kosong. Ayah membawaku ke balkon lantai atas dan menunjuk ke arah kegelapan malam. Ayah bilang, 'Nuha, lihat! Jembatan pelangi itu sudah turun. Kita bisa berjalan di atasnya untuk memetik bintang agar kamarmu tidak gelap lagi.'"
Nuha menarik napas pendek yang gemetar. "Aku, yang sudah terbiasa hidup dalam dongeng Ayah, sudah mengangkat satu kakiku ke pagar balkon. Aku benar-benar percaya ada jembatan di sana. Namun, tepat sebelum aku melangkah ke kehampaan, sebuah tangan kekar menyentak kerah bajuku hingga aku jatuh terjungkal ke lantai balkon."
Itu Kak Muha. Wajahnya pucat pasi, napasnya memburu antara marah dan ketakutan yang luar biasa.
"Kak Muha langsung berdiri di depanku, membentengi tubuhku dari Ayah. Untuk pertama kalinya, aku melihat Kakak membentak Ayah dengan suara yang menggelegar," lanjut Nuha.
"Ayah! Cukup!" suara Kak Muha seolah bergema kembali di telinga Nuha. "Ini bukan lukisan, Yah! Ini nyata! Kalau Ayah mau mati, jangan ajak Nuha! Dia adikku, bukan kuas atau cat warna yang bisa Ayah mainkan sesuka hati! Lihat dia, Yah! Dia ketakutan!"
Nuha terisak kecil. "Ayah hanya diam, menatap tangannya sendiri seolah bingung kenapa dunianya yang indah ditolak oleh anak laki-lakinya sendiri. Sejak saat itu, Kak Muha tidak pernah membiarkanku berduaan lagi dengan Ayah. Dia memaksaku kembali ke dunia nyata, meski itu artinya dia harus menghancurkan semua imajinasi yang sudah kubangun bertahun-tahun."
Note: Halusinasi Berbahaya skizo Menggambarkan betapa tipisnya batas antara imajinasi indah dan bahaya fatal.
Suara Nuha melemah, seolah kekuatannya terkuras habis hanya untuk mengingat puncak dari tragedi yang menghancurkan dunianya. Kenangan ini adalah titik di mana "dongeng" ayahnya berubah menjadi horor yang nyata.
"Akhirnya Kak Muha meyakinkan Ibu," bisik Nuha, matanya berkaca-kaca menatap aspal jalanan. "Teman Kakak merekomendasikan spesialis kejiwaan, dan dari sanalah kata itu muncul: Skizofrenia. Aku nggak ngerti apa artinya saat itu, sampai aku sadar bahwa kata itu telah merenggut Ayah dan menggantinya dengan sosok asing yang berbahaya."
Nuha menarik napas pendek yang gemetar. "Meski aku mulai dipaksa sadar oleh Kak Muha, Ayah nggak berhenti. Beliau terus menarikku kembali ke dalam delusinya, seolah-olah aku adalah satu-satunya jangkar yang tersisa bagi dunianya yang runtuh. Dan suatu siang ... Kak Muha terlambat."
Nuha menyentuh bekas luka kecil di pelipisnya yang tertutup rambut. "Ayah menarikku ke dapur. Wajahnya sangat gembira, tapi matanya liar. Beliau bilang, 'Nuha, lihat! Lantainya berubah menjadi kolam kristal. Ada permata di dasarnya, kita harus menyelam untuk mengambilnya!' Ayah nggak lihat lantai semen yang keras, dia melihat air yang dalam."
"Sebelum aku sempat menghindar, Ayah mendorongku dengan kuat. Beliau ingin aku 'menyelam'. Kepalaku menghantam pinggiran meja makan dengan keras, lalu tubuhku tersungkur ke lantai. Darah mulai mengucur, membasahi wajahku. Tapi Ayah ... Ayah justru tertawa. Beliau bilang, 'Lihat, Nuha! Airnya berubah jadi merah mawar, cantik sekali!'"
Tepat saat itu, pintu depan terbanting. Kak Muha masuk dan melihat adiknya tergeletak bersimbah darah sementara ayahnya menari-nari kecil di samping tubuhnya yang lemas.
"Aku belum pernah melihat Kak Muha semarah itu," isak Nuha pecah. "Amarahnya membuncah, melampaui batas kesabarannya selama ini. Dia menerjang Ayah, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menghentikan kegilaan itu. Kakak memelukku dengan satu tangan yang gemetar hebat karena ketakutan, sementara tangannya yang lain menunjuk ke arah pintu."
"Cukup, Ayah! Cukup!" raung Kak Muha, suaranya pecah oleh tangis frustrasi. "Ayah hampir membunuhnya! Ayah bukan pelukis lagi, Ayah adalah monster bagi anakmu sendiri! Besok ... tidak, hari ini juga, aku akan membawamu ke tempat yang seharusnya. Ayah harus pergi!"
"Sore itu juga, dengan bantuan beberapa tetangga, Kak Muha membawa Ayah pergi ke rumah sakit jiwa," lanjut Nuha. "Aku melihat Ayah dibawa masuk ke mobil, wajahnya tampak bingung seolah dia nggak ngerti kenapa 'jembatan pelangi' yang dia ceritakan justru membawanya ke balik jeruji besi putih yang dingin."
Note: Reaksi Ayah yang Inapropriat itu mnunjukkan gejala skizofrenia di mana emosi tidak sesuai dengan situasi (tertawa melihat darah), yang membuat trauma Nuha semakin dalam.
Suara Nuha mendadak hilang, seolah tenggorokannya tercekik oleh bayangan putih lorong rumah sakit yang dingin dan bau antiseptik yang menyengat. Kenangan ini adalah puncak dari segala horor yang menghancurkan persepsinya tentang kasih sayang dan medis.
"Beberapa bulan aku nggak bertemu Ayah," bisik Nuha, jemarinya meremas lengan jas Naru hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya mengalir, "Ada rasa lega yang aneh karena aku merasa aman dan aku nggak perlu takut didorong ke 'kolam kristal' lagi. Tapi... rasa kangen itu jauh lebih besar. Aku merindukan dongengnya. Aku merindukan cara Ayah melihat dunia."
Nuha terisak, air matanya jatuh membasahi kain kemeja Naru. "Aku menangis berhari-hari, memohon pada Kakak untuk membawaku menengok Ayah. Aku hanya ingin melihatnya sekali saja."
Namun, apa yang ditemukan Nuha di balik jeruji besi putih itu bukanlah Ayah yang ia kenal.
"Aku melihatnya, Naru... Aku melihat Ayah disetrum berkali-kali," suara Nuha bergetar hebat, membayangkan prosedur ECT (Electroconvulsive Therapy) yang kasar di masa itu. "Tubuhnya mengejang hebat di bawah aliran listrik, matanya membelalak kosong. Di koridor, para dokter dan perawat lewat sambil berbisik dingin, seolah Ayah hanyalah subjek eksperimen yang gagal."
Nuha memejamkan mata rapat-rapat, namun bisik-bisik itu seolah bergema kembali di telinganya.
"Delusinya semakin parah," tiru Nuha dengan nada datar yang mengerikan. "Mereka bilang, Pak Mahesa sampai menyayat dadanya sendiri dengan kuku dan benda tajam apa pun yang dia temukan. Dia bilang dia mencari putrinya... dia yakin aku bersembunyi di dalam jantungnya agar tidak diambil orang. Ayah harus menjalani operasi darurat untuk menjahit kembali luka menganga di dadanya itu."
Nuha menatap Naru dengan tatapan yang sangat kosong. "Bisik-bisik itu bilang... orang skizo memang nggak mengenal rasa sakit. Tapi mereka salah, Naru. Ayah bukannya nggak merasa sakit, dia hanya merasa kerinduannya jauh lebih menyakitkan daripada pisau yang menyayat kulitnya sendiri."
Note: Horor Medis yang menggambarkan ECT membuat ketakutan Nuha pada psikiater. Bagian dari trauma.
Betapa hancurnya kondisi mental Pak Mahesa, cintanya pada Nuha berubah menjadi delusi yang mengerikan dan bersifat self-destructive.
Suara Nuha pecah, isaknya yang tertahan sejak tadi kini meluap menjadi tangis yang menyesakkan dada. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Naru, pundaknya berguncang hebat seiring dengan runtuhnya benteng pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun.
"Dan saat segalanya mulai tenang," bisik Nuha di sela tangisnya, "akhirnya aku bisa memeluk Ayah kembali. Aku sangat merindukannya, Naru. Aku sangat menyayanginya meski dunia bilang dia berbahaya. Tapi... segalanya sudah berubah. Ayah nggak bisa sembuh dengan cepat. Kami belajar untuk menerima bahwa kesembuhan Ayah adalah siklus yang melelahkan. Kadang ayah sadar dan membelai rambutku, kadang ayah kambuh dan menatapku seolah aku adalah orang asing."
Nuha menarik napas pendek yang terasa tajam di parunya. "Ayah jadi terlihat sangat rapuh dan kesepian. Obat-obatan itu merenggut warna dari matanya. Dia nggak bisa lagi bermain dengan delusinya, dan aku... aku sudah dilarang keras oleh Kakak untuk ikut masuk ke dunianya lagi. Ayah kehilangan dunianya, dan dia kehilangan aku sebagai satu-satunya orang yang memercayainya."
Puncak dari kesepian itu berubah menjadi tragedi yang tak terbayangkan. "Hingga akhirnya, Ayah frustrasi. Di satu sore yang mendung, tiba-tiba Ayah mengambil kunci mobil dan pergi entah ke mana. Kami mencarinya ke mana-mana, sampai kabar itu datang... Kecelakaan lalu lintas di sebuah jalan raya. Ayah... Ayah memilih untuk mengakhiri hidupnya di sana, menabrakkan dirinya ke dalam keabadian yang mungkin menurutnya lebih indah daripada dunia nyata yang menyiksanya."
Nuha meremas kemeja Naru, suaranya parau oleh kepedihan. "Hancur sudah hatiku, Naru. Aku menutup memori ini bukan karena aku benci pada Ayah, tapi karena kenangan itu terlalu menakutkan dan menyedihkan untuk diputar kembali. Aku takut jika cerita ini terdengar orang lain, vonis bahwa Ayahku 'gila' akan benar-benar menghantuiku. Padahal Ayah nggak... Ayah hanya... dia hanya ingin melukis dunia yang lebih baik untukku..."
Note: Itulah kenapa Nuha juga tidak suka minum obat dari psikiater. Baginya, obat membuat ayah Nuha kehilangan "percikan" dirinya, yang justru membuatnya merasa asing di dunia nyata.
Nuha merasa bersalah karena kesembuhan ayahnya (kehilangan delusi) justru membawa ayahnya pada keputusan untuk mengakhiri hidup.
Nuha menutup diri bukan karena malu, tapi karena ingin menjaga kesucian sosok ayahnya dari label "gila" yang kasar dari masyarakat.
Dan sosok Hawa ternyata adalah "jangkar" terakhir yang menghubungkan Nuha dengan kewarasannya setelah sang ayah pergi.
"Aku hampir nggak lulus SMP," bisik Nuha, suaranya parau namun lebih stabil. "Kepergian Ayah yang tragis itu menghisap seluruh semangat hidupku. Aku terpuruk dalam lubang gelap yang sangat dalam. Tapi Kak Muha dan Ibu... mereka nggak pernah melepaskan tanganku. Mereka terus menyangga tubuhku saat aku benar-benar nggak punya tenaga untuk berdiri."
Nuha tersenyum getir mengenang masa-masa sulit itu. "Akhirnya aku lulus dengan nilai yang sangat pas-pasan. Kak Muha hanya mengusap kepalaku, dia bilang nggam apa-apa. Katanya, 'Berusahalah minimal sedikit di atas rata-rata, Nuha. Itu sudah cukup untuk menjadi pijakanmu menyongsong masa depan.' Dia nggak menuntutku menjadi juara, dia hanya ingin aku tetap tumbuh."
Nuha terdiam sejenak, memandang jemarinya yang masih bergetar dalam genggaman Naru.
"Dan kepergian Ayah ternyata nggak membawa pergi segalanya. Ayah masih menyisakan Hawa. Hanya Hawa yang tetap tinggal, menjadi satu-satunya jiwa imajiner yang menemaniku melewati masa-masa abu-abu di SMK. Saat dunia terasa terlalu nyata dan menyakitkan, Hawa ada di sana."
"Hawa selalu punya cara untuk menghiburku," lanjut Nuha dengan binar mata yang sedikit lebih cerah. "Dia bisa menjadi sangat konyol sampai aku bisa tertawa sendirian di kamar. Dia adalah sahabat, saudara, sekaligus pelindung bagi mentalku yang rapuh."
Nuha menatap Naru, seolah mencari pemakluman. "Satu hal yang membuatku sangat lega saat itu adalah ketika Kak Muha akhirnya mau menerima keberadaan Hawa. Dia berhenti memintaku 'menghilangkan' Hawa, asalkan aku mematuhi satu syarat mutlak darinya. Hawa boleh tetap ada, tapi aku nggak boleh lagi bermain-main dengan imajinasi, ilusi, apalagi delusi yang membahayakan nyawaku. Hawa harus tetap menjadi teman bicara, bukan penuntun langkahku ke tepi balkon lagi."
Note: Hawa menjadi mekanisme koping yang sehat bagi Nuha untuk menjaga memori ayahnya tanpa harus terjerumus ke dalam bahaya skizofrenia yang sama.
Kebijaksanaan Kak Muha, menunjukkan kedewasaannya yang memahami bahwa memaksa Nuha membuang Hawa justru akan menghancurkan adiknya. Ia memilih "berdamai" dengan imajinasi itu selama ada batasan keamanan.
"Tunggu, Naru..." Nuha tiba-tiba terkekeh kecil di sela sisa isaknya. "Aku baru ingat sesuatu. Saat aku baru masuk sekolah dan terlambat di hari pertama MOS, Hawa terus berteriak di telingaku memintaku ngebut. Aku mengayuh sepeda sekuat tenaga sampai hampir menabrak seseorang di belokan jalan. Orang itu... ternyata kamu, kan?"
Naru mengerutkan kening, mencoba menggali memori masa remajanya. "Hah? Masa sih?"
"Iya! Kamu yang sedang berdiri di samping mobil hitam yang bannya bocor," lanjut Nuha. "Hawa terus berteriak di telingaku, 'Nuh, cepat! Gerbangnya mau tutup! Tabrak saja apa pun yang menghalangimu!' Dan ya... korbannya adalah kamu."
Naru terdiam sejenak, lalu tawa maskulinnya pecah. "Ya ampun! Akhirnya ada alur yang masuk ke ingatanku!" Naru mencubit gemas hidung Nuha. "Iya, aku ingat sekarang. Jadi siswi SMP yang mengamuk di atas sepeda jengki itu... itu kamu? Dan itu karena hasutan Hawa? Bukannya minta maaf karena hampir membuatku terjungkal, kamu malah membentak pelakunya. 'Mas! Kalau jalan lihat-lihat dong! Aku lagi buru-buru nih!'"
Naru menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. "Wah, degil juga ini cewek, pikirku waktu itu. Aku sengaja menambah lawakan untuk membalasmu. 'Iya, maaf ya, Nona... Ini kaki memang nggak bisa diam karena menunggu Pak Sopir nggak kelar-kelar mengurus ban bocor.'"
"Lalu, saat aku mencoba membaca namamu yang tercetak besar di papan kardus atribut orientasi yang jadi kalungmu itu kamu malah menutupinya dengan sangat protektif," lanjut Naru menirukan gaya ketus Nuha. Aku baru baca Nuuu... kamu malah bentak, jangan sok kenal! Minggir!' Setelah itu kamu langsung menggenjot sepedamu sekencang-kencangnya. Kabur begitu saja."
Nuha menyembunyikan wajahnya di dada Naru karena malu. "Aku benar-benar takut saat itu. Hawa bilang kalo aku telat kakak kelas yang galak itu bakal suruh aku makan batu."
😅, lanjut gk nih...