Dinding kamar yang terkelupas itu menjadi saksi bisu betapa nekatnya seorang pemuda yang hanya bermodalkan ijazah dan sisa-sisa keberanian. Tahun itu, kabar tentang pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) berembus seperti angin segar di tengah kemarau panjang pengangguran. Aku, yang saat itu hanya seorang pemuda dengan mimpi setinggi langit namun saku setipis lembaran tisu, mencoba peruntungan secara daring. Sebuah kesalahan teknis yang sebenarnya adalah takdir Tuhan terjadi: aku mengklik tombol kirim tanpa berpikir panjang, hanya karena rasa penasaran ingin mencoba sistem. Siapa sangka, NIK hanya bisa digunakan sekali. Pintu sudah tertutup, kunci sudah diputar, dan pilihanku hanya dua: mundur sebelum berperang atau maju menantang maut dengan segala keterbatasan.
Ketika pengumuman seleksi administrasi keluar, namaku tercantum di sana. Namun, ada satu syarat yang membuat jantungku nyaris berhenti berdetak. Seluruh berkas fisik harus dikumpulkan langsung ke kantor BKPSDM di ibu kota provinsi. Jaraknya bukan main-main, enam ratus kilometer membentang melintasi hutan, pegunungan, dan pesisir yang sepi. Di dompetku hanya ada beberapa lembar uang lusuh, dan di garasi hanya ada Shogun 125 kesayanganku yang suaranya sudah mulai batuk-batuk.
Sore itu, di bawah temaram lampu teras, Ibu mendekat. Beliau tidak bertanya apakah aku sanggup, beliau hanya menatap mataku dengan kedalaman samudera kasih sayang yang tak pernah kering. Ayah, yang biasanya irit bicara, tiba-tiba menyerahkan kunci motor Jupiter MX yang masih mengkilap. "Tukar dengan Shogun-mu," katanya pendek. Aku tertegun. Ayah tahu perjalananku akan berat. "Pakai ini, biar bisa gas kencang kalau ada apa-apa di jalan. Mesinnya lebih kuat untuk nanjak di bukit-bukit itu." Hatiku bergetar. Motor itu adalah aset berharga Ayah, tapi hari itu, beliau menyerahkannya seolah-olah itu hanyalah sebatang ranting pohon demi memuluskan jalanku.
Malam sebelum keberangkatan, suasana rumah terasa begitu khidmat. Ibu tidak banyak bicara, tapi tangannya sibuk menyiapkan bekal: nasi kuning dibungkus daun pisang dan botol air mineral yang diisi ulang berkali-kali. Tante datang berkunjung, membawa sebuah ponsel Nokia jadul yang sudah dilengkapi memori berisi lagu-lagu MP3. "Biar kamu nggak bosan di jalan, Nak. Biar ada suara yang menemani kalau sepi," bisiknya. Aku menerima ponsel itu seperti menerima harta karun. Zaman itu, memiliki perangkat yang bisa memutar musik adalah kemewahan luar biasa bagi orang sepertiku yang bahkan belum mengenal apa itu Android.
Pukul empat subuh, ketika embun masih memeluk erat bumi, aku bersiap berangkat. Di tasku, terselip sebuah buku Atlas besar. Itulah GPS-ku. Tidak ada Google Maps, tidak ada suara navigasi perempuan yang mengarahkan belokan demi belokan. Hanya ada garis-garis merah dan biru di atas kertas yang harus kuhafal setiap kali aku berhenti di bawah lampu jalan atau di warung kopi. Ibu memegang pundakku, lalu tangannya terangkat ke langit. Beliau tidak menangis, tapi aku tahu ada air mata yang tumpah di dalam sujudnya. "Berangkatlah, Nak. Doa Ibu ada di setiap putaran rodamu. Malaikat akan menjagamu sepanjang enam ratus kilometer itu."
Perjalanan dimulai. Angin dingin menusuk jaket tipisku yang sudah mulai pudar warnanya. Jupiter MX pemberian Ayah menderu stabil, membelah kegelapan jalan lintas provinsi. Setiap kali rasa lelah menyerang atau kantuk mulai menggelayuti pelupuk mata, aku memasang earphone dari Nokia pinjaman Tante. Lagu-lagu itu menjadi denyut nadi kedua bagiku. Aku melewati hutan-hutan gelap di mana hanya lampu motorku yang membelah kepekatan. Seringkali, aku harus berhenti di pinggir jalan hanya untuk membuka Atlas, meraba-raba posisi keberadaanku di tengah antah-berantah. Tak ada swafoto, tak ada video perjalanan untuk diunggah ke media sosial karena memang dunianya belum seperti itu. Dokumentasiku hanyalah memori yang terpatri kuat di ingatan—tentang bagaimana debu jalanan menyatu dengan keringat, dan bagaimana lapar seringkali kalah oleh tekad.
Ada satu momen di tengah tanjakan curam yang sepi, motorku hampir limbung karena kelelahan fisik yang luar biasa. Aku menepi, menyandarkan kepala di atas tangki motor. Di saat itulah, aku seolah mendengar suara Ibu membisikkan doa di telingaku. Aku teringat wajah Ayah yang rela menukar motornya agar aku selamat. Kekuatan itu muncul lagi, entah dari mana asalnya. Aku kembali memutar gas, menembus sisa-sisa kilometer yang melelahkan.
Ketika akhirnya aku sampai di depan gedung BKPSDM yang megah itu, tubuhku penuh debu, wajahku kusam, dan mataku merah karena kurang tidur. Namun, saat menyerahkan map berisi berkas-berkas itu, aku merasa beban seberat gunung terangkat dari bahuku. Aku telah menunaikan janji pada diriku sendiri dan pada doa-doa yang dipanjatkan di rumah. Perjalanan pulang pun tak kalah beratnya, namun hati ini jauh lebih ringan. Aku pulang membawa harapan, bukan sekadar kertas kosong.
Waktu berlalu seperti kedipan mata. Hari ini, aku berdiri di depan cermin, merapikan seragam dinas yang telah kupakai selama satu dekade. Di dadaku, tersemat sebuah anugerah, Satyalencana Karya Satya sepuluh tahun. Sebuah tanda kehormatan atas pengabdian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku menyentuh logam kecil itu dengan jemari yang dulu gemetar memegang stang motor di tengah hutan.
Tidak ada rekaman video tentang betapa kusamnya aku saat itu. Tidak ada foto digital yang menunjukkan betapa bututnya jaket yang kugunakan. Namun, jika aku memejamkan mata, aku masih bisa mencium aroma asap knalpot, merasakan getaran mesin Jupiter MX milik Ayah, dan mendengar sayup-sayup lagu dari Nokia Tante. Dan di atas segalanya, aku masih bisa merasakan hangatnya doa Ibu yang menyelimutiku sepanjang enam ratus kilometer itu. Doa itulah yang sebenarnya menjadi bahan bakarku, yang lebih kuat dari bensin manapun, yang membawaku sampai ke titik ini. Pengabdian sepuluh tahun ini bukan hanya milikku, tapi milik sepasang tangan yang menengadah di rumah, yang tak pernah lelah mengetuk pintu langit demi masa depanku.