Fero tidak pernah tahu apa salahnya. Kenapa dia dibawa oleh warga desa ke tengah hutan terisolir dan dipasung di sebuah gubuk kecil di dalam hutan. Kaki, tangan, leher di pasung dengan rantai baja yang tebal dan kuat. Menancap ke dalam tanah hingga ratusan meter dalamnya. Ada sebuah sihir yang mengunci gembok dari rantai itu. Rasanya sudah puluhan tahun dia berada di sini tapi dia tidak pernah mati. Padahal tidak pernah ada yang datang untuk memberinya makan. Setiap hari dia berdoa pada Tuhan untuk dicabut saja nyawanya. Ia sudah tidak sanggup hidup dalam kesendirian dan kesunyian yang teramat lama. Namun anehnya ia selalu terbangun di pagi hari. Hanya tubuhnya saja yang lemas tapi ia tak pernah mati.
Hingga pada suatu hari, ada dua orang pemuda menjelajahi hutan bersama seekor anjing menemukan gubuk kecil di tengah hutan yang terisolir dari dunia luar. Mungkin kah di dalam gubuk itu ada manusia tinggal? Stuart tidak berani mendekati gubuk itu karena auranya sangat mencekam. Walau tidak bisa melihat hal hal yang diluar nalar, tapi dirinya sangat peka terhadap makhluk makhluk yang tidak kasat mata. Bulu kuduknya sejak awal melihat gubuk itu sudah berdiri. Merinding merinding tak karuan. Namun Steven sahabatnya malah semakin penasaran, padahal anjing miliknya sudah menggonggong gonggong seraya menarik narik celana Steven.
"Tenanglah Bany, itu hanya sebuah gubuk. Tidak akan ada apa apa."
"Ayolah Steve pergi saja dari sini, bahkan Bany saja tahu jika ini tidak akan baik."
"Hei Bro kenapa jadi penakut begini sih? Itu hanya sebuah gubuk. Kenapa harus takut?"
"Tapi Steve firasatku tidak enak."
"Ya sudah kalau kamu takut tunggu disini saja bersama Bany, aku akan masuk sendiri."
"Steve, Steven hei!" Steven sudah tidak mendengarkan sahabatnya lagi. Ia berjalan terus pantang mundur. Ia teramat penasaran dengan gubuk dihadapannya. Ia memberanikan diri membuka pintu gubuk yang nampak sudah lapuk. Baru disentuh saja pintu itu sudah ambruk.
Brakk
Hingga Steven, Stuart, dan Bany terjingkat kaget. Begitu pun dengan Fero. Gadis itu pun kaget, namun ia tidak bisa bergerak sedikit pun. Tubuhnya lemas tidak berdaya. Anehnya rantai rantai baja yang memasungnya telah hilang ketika Steve menyentuh pintu gubuk itu. Melihat seorang gadis lemah, Steven pun berlari menghampiri gadis itu.
"Nona, kamu tidak apa apa?" Fero tidak bisa menjawab, suaranya seperti hilang karena energi dalam tubuhnya telah habis.
"Stuart kemarilah ada orang disini!" Pekik Steven memanggil sahabatnya. Stuart segera berlari masuk ke dalam gubuk menghampiri Steven. Diikuti Bany dibelakangnya.
"Astaga." Stuart terkejut. Bany pun meringkuk takut di depan gubuk.
"Kenapa ada seorang gadis ditengah hutan begini?" tanya Stuart heran.
"Lebih baik kita bawa ke mobil kita dulu." Mereka pun menggotong Fero sampai pada mobilnya yang terletak dipinggiran hutan. Sebelum hari menjadi gelap mereka harus membawa gadis itu ke penginapan mereka di dekat hutan. Sampailah mereka disana, lalu segera membawa Fero ke dalam kamar. Steven segera memberi gadis itu makan dan minum. Segera saja Fero menghabiskan semua makanan itu dengan lahap. Dua pemuda itu sampai heran. Kenapa gadis bertubuh kecil itu mampu memakan lima piring nasi dan meminum lima liter air. Setelah dirasa Fero sudah bertenaga lagi Steven mulai menanyai gadis itu.
"Bagaimana apa kamu sudah kenyang?"
"Sudah Tuan, terima kasih banyak Anda sudah menolong saya tadi."
"Iya sudah seharusnya kita menolong wanita yang sedang kesusahan. Oh iya siapa namamu?"
"Feronika."
"Oh iya kenapa kamu sampai ada di dalam gubuk di tengah hutan seperti tadi."
"Saya di kurung oleh warga desa, Tuan." Stuart dan Steven saling memandang merasa heran terhadap gadis dihadapan mereka saat ini.
"Memangnya apa yang kamu lakukan sampai dikurung seperti itu?"
"Saya tidak tahu apa salah saya." jawab Fero sedih, ia jadi teringat perlakuan warga desa padanya puluhan tahun lalu. Steve mendengarnya menjadi merasa iba. Tiba tiba hatinya bergetar ketika matanya tak sengaja beradu pandang dengan pemilik kornea berwarna coklat terang itu.
"Lalu sejak kapan kamu dikurung disana?" Tanya Steve penasaran.
"Sudah lama sekali. Saya tidak ingat." Stuart semakin merasa curiga pada Fero. Gadis macam apa yang masih bisa hidup ketika dikurung didalam hutan dalam waktu yang sangat lama. Beda dengan Steven yang merasa sudah jatuh hati dengan gadis muda, berwajah cantik, dan berkulit putih bersih itu. Stuart segera menarik lengan sahabatnya keluar dari kamar dimana Fero berada.
"Ada apa sih Bro sampai narik narik begitu?"
"Lebih baik kita jauhi dia, aku merasa ada yang tidak beres dengan dia."
"Apa kamu tidak bisa melihatnya Stuart? Fero hanya gadis malang yang terkurung di tengah hutan. Seharusnya kita menolongnya bukan menjauhinya."
"Steve dengarkan saran aku kali ini saja aku mohon. Dia itu gadis yang aneh."
"Gadis itu punya nama. Namanya Feronika."
"Hei Steve jangan bilang kamu jatuh cinta pada gadis itu?"
"Kalau benar kenapa?"
"Astaga Steve, apa kamu gila? Dia itu gadis yang tidak jelas asal usulnya. Bisa bisanya kamu main jatuh cinta saja." Steve sudah tidak mau menjawab. Ia merasa marah pada Stuart kenapa sahabatnya bisa kejam seperti itu. Tidak merasa kasihan sama sekali pada gadis yang malang seperti Feronika.
"Oh baik jika kamu keras kepala. Lebih baik aku pergi sekarang. Jangan menyesal nanti jika ternyata dia itu gadis yang tidak benar." Stuart pun segera keluar penginapan dengan kesal. Membawa pergi mobilnya dari sana meninggalkan sahabatnya dengan wanita tak jelas asal usulnya. Melihat Stuart pergi Bany berlari sampai di pintu gerbang menggong gonggong kearah mobil Stuart melaju pergi. Steven pun mengikuti Bany dan mengelus ngelus anjingnya agar bisa tenang.
"Ayolah Bany, biarkan dia pergi. Dia sedang ngambek sekarang. Nanti jika sudah reda marahnya Stuart pasti akan kembali lagi kemari." Bujuk Steven pada anjingnya. Untung Bany segera diam karena menurut pada majikannya.
"Maaf Tuan, gara gara saya teman anda menjadi marah." Tiba tiba Fero sudah ada di belakangnya. Membuat pemuda itu kaget seraya berbalik badan. Begitu pun pada Bany yang sudah meringkuk takut di dekat kaki Steven.
"Tidak apa, nanti jika amarahnya sudah reda dia akan kembali lagi. Karena biasanya juga begitu. Ayo lebih baik kita masuk, sudah larut malam." Steven mengajak Fero dan anjingnya masuk ke dalam rumah. Mempersilahkan gadis itu beristirahat duluan di kamarnya. Steven memilih tidur di sofa bersama anjingnya. Ia merasa Bany bersikap sedikit aneh, anjing itu akan meringkuk takut jika berada didekat Fero. Menurutnya apa yang perlu ditakutkan dari gadis lemah dan malang itu. Semakin dipikir pikir di mana letak keanehannya, Steve malah semakin kasihan pada Fero. Ketika ia mencoba memejamkan mata, ponsel di kantung bajunya bergetar. Panggilan masuk dari rumah sakit untuk operasi mendadak. Ia harus datang karena dia adalah dokter yang sangat dibutuhkan saat ini. Padahal saat ini dia sedang berlibur, tapi dia harus datang. Ia tidak bisa menutup mata jika soal menolong nyawa orang lain. Sebelum pergi Steve mengetuk pintu kamar Fero. Ternyata gadis itu belum tidur, setelah pamit untuk pergi karena ada urusan mendadak pada Fero. Steven pun pergi namun sebelum ia berhasil melangkah keluar dari penginapan Bany menghalangi jalannya karena ingin ikut dengan Steven.
"Bany kamu disini saja menjaga Nona Fero. Aku hanya sebentar, jangan seperti ini tolonglah."
"Hei Bany, jangan takut. Aku tidak menggigit loh, ayo sini aku gendong." Fero pun menggendong Bany dipelukannya. Mengelus anjing itu dengan lembut. Bany langsung diam dan menurut. Bukannya menurut tapi anjing itu lebih pada takut hingga tidak bisa berkutik didekapan Fero.
"Pergilah Tuan, saya akan menjaga Bany untukmu."
"Terima kasih Fer. Kalau begitu aku pergi dulu, mungkin aku akan kembali lagi pagi." Steven pun melajukan mobilnya pergi dari penginapan. Fero mengajak Bany masuk ke dalam. Meletakan anjing itu di lantai. Namun Bany tetap tidak bergeming, anjing itu masih tertunduk lesu di lantai.
"Hei Bany apa kamu sakit? Kenapa lesu sekali? Atau apa kamu lapar? Sebentar ya aku akan mengambilkan makanan untuk mu." Fero berjalan ke arah kulkas untuk mengambilkan daging untuk Bany. Fero menyodorkan daging mentah yang kebetulan ada di dalam kulkas.
"Makanlah Bany, aku sudah mengantuk. Aku tidur duluan ya?" Fero pun kembali masuk ke kamarnya. Matanya berat rasanya ia ingin segera terpejam dan tidur. Setelah menyentuh kasur yang empuk Fero pun terlelap.
😴😴😴😴😴😴
"Hoam." Fero menguap, pagi ini tubuhnya terasa segar. Seperti sedikit energinya masuk kedalam tubuhnya. Bugar kembali seperti dahulu sebelum ia di kurung. Mungkin ini efek karena sudah terbebas dari kurungannya. Tapi dia jadi heran kenapa rantai yang memasung tubuhnya tiba tiba menghilang ketika Steven memasuki gubuk itu. Ah dia tidak perduli yang terpenting dia sudah bebas sekarang. Dengan wajah ceria penuh semangat Fero membuka pintu kamar itu. Namun sesuatu mengejutkan dirinya. Penginapan itu sudah hancur berantakan. Fero memperhatikan sekeliling. Terdapat noda darah berceceran di atas lantai. Membentuk tanda garis tak beraturan menuju kolam renang yang terdapat di penginapan itu. Fero kaget setengah mati. Tubuh dari anjing besar yang harusnya ia jaga sudah terkoyak menjadi beberapa bagian di dasar kolam. Warna dari kolam itu sampai berubah keruh karena darah dari Bany bercampur dengan air. Gadis itu pun jatuh terduduk dilantai sambil menangis.
Tak lama Steven datang, pemuda itu tidak kalah terkejutnya dengan Fero. Yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak adalah anjing kesayangannya Bany telah mati dengan cara mengenaskan. Dia mencoba tegar dengan lebih memilih menenangkan Fero yang tengah menangis tersedu sedu. Memeluk gadis itu berharap gadis itu bisa cepat berhenti menangis.
"Ma-afkan saya Tu-an. Saya tidak bisa menjaga Bany untuk Anda. Saya sungguh sungguh tidak tahu. Karena semalam saya tidur dengan nyenyak."
"Sudah jangan dipikirkan. Mungkin ini ulah beruang liar yang kelaparan. Aku yang harusnya minta maaf, tidak bisa menjaga kalian. Untung saja kamu tidak terluka jika kamu yang terluka entah apa yang terjadi padaku. Pasti hatiku akan sangat sakit." Jantung mereka sama sama berdebar keras. Rasa cinta yang hadir di hati mereka menghangatkan dada mereka masing masing. Fero merasa beruntung bertemu dengan Steven, orang baik dan tampan yang mau menolongnya. Dan baru pertama kali ini juga memdapatkan perlakuan baik dari seseorang.
Fero membantu Steven mengumpulkan bagian tubuh anjing kesayangannya di dasar kolam. Untuk dikuburkan di perkarangan belakang penginapan. Setelah itu mereka melanjutkan bersih bersih penginapan lagi. Hingga tak terasa hampir seharian penuh. Kebersamaan dan kekompakan itu membuat kesedihan di hati Steven berkurang. Tergantikan rasa bahagia dan cinta yang teramat dalam pada Fero. Hingga kedekatan mereka itu membawa mereka pada pergumulan panas malam ini. Memadu kasih hingga kelelahan. Sungguh membahagiakan hati keduanya. Hingga mereka pun tertidur bersama sambil berpelukan.
Steven terganggu dari tidurnya, ketika sesuatu yang tajam mencoba melukai wajah dan lehernya. Dia pun membuka matanya lebar lebar karena terkejut. Seseorang berwajah menyeramkan dengan gigi tajam dan mata berwarna merah berada diatasnya. Kuku kuku tajam dan panjang itu mencengkram dagu Steven. Pemilik wajah seram bak monster itu tersenyum lalu tertawa dan kemudian berkata dengan suara serak lagi berat.
"TERIMA KASIH SUDAH MEMBEBASKANKU HAHAHA!!!"
Tawa itu menggelegar di tengah malam yang sunyi. Kemudian disusul suara memilukan milik Steven yang terdengar merintih memanggil nama Feronika.
Cahaya mentari menyilaukan matanya, memaksa gadis itu untuk bangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa bugar kembali seperti batrai yang dicas hingga full. Namun, ia bingung ketika melihat noda merah di bajunya dan di seprei. Baunya amis seperti bau darah. Perasaannya mulai was was. Karena ia tidak melihat Steven di sampingnya. Ia kembali melihat noda darah yang tergeret memanjang menuju kolam renang.
"Tidakkkkkk, Stevennnnnn!!!"
Tubuh Fero limbung jatuh terjerembab ke lantai pinggir kolam. Ketika orang yang ia cintai sudah terkoyak di dasar kolam. Ingatan puluhan tahun lalu ketika para warga desa menghujaninya dengan batu, parang, pisau, dan benda benda tajam lainnya namun tidak mati. Mereka mengatai dirinya gadis terkutuk pembawa sial. Hingga seorang dukun memasungnya di dalam gubuk gaib di tengah hutan. Dukun itu berkata,
"Hanya seseorang berhati baik yang mau menerimamu apa adanya yang mampu membuka segel gaib ini. Dialah jodohmu kelak, namun kalian tidak akan bersama karena pada akhirnya pria itu akan menjadi mangsamu juga. Namun itu tidak akan pernah terjadi, karena kamu sudah kukurung di tengah hutan yang tidak mungkin orang mau memasukinya."
"Aaakkkkhhhh!" Fero berteriak frustasi. Jadi benar kata warga desa dulu bahwa dia adalah monster. Tapi Fero tidak pernah merasa menjadi monster karena memang ia tidak pernah melihat dirinya berubah menjadi monster. Tapi ia baru menyadari sekarang, ternyata diakan berubah jika ia mulai tertidur, namun anehnya ia tidak pernah merasakan apapun. Tidurnya selalu terasa nyenyak, dibalik tidurnya yang nyenyak itu ternyata ia tengah membunuh orang. Ia terus menyalahkan takdirnya yang amat kejam. Kenapa dia harus terlahir menjadi monster? Tapi dia tidak pernah tahu rasanya menjadi monster itu seperti apa.
Di rumah sakit perasaan Stuart semakin tidak nyaman. Dia selalu memikirkan sahabatnya, mungkin lebih baik malam ini dia kembali ke penginapan, melihat bagaimana keadaan sahabatnya. Pertengkaran dua hari yang lalu lebih baik disudahi saja, dia akan mengalah dan meminta maaf. Setelah jam kerjanya selesai, malam ini ia akan kembali ke penginapan. Sesampainya disana penginapan terasa sepi. Biasanya jika dia datang Bany akan menggonggong gonggong menyambut dirinya. Bahkan Steven juga tidak terlihat keberadaannya, gadis itu juga sama. Kemana mereka pergi? Nomor Steven juga sudah tidak aktif. Stuart mencoba melihat cctv yang tersambung ke ponselnya. Karena penginapan ini memang milik dirinya.
"Apa ini?"
Gambarnya masih belum terlihat jelas, ada pergerakan disana namun sangat cepat. Ia memperlambat video itu lalu di perbesar. Terlihat jelas semuanya. Bagaimana monster berbulu lebat berwajah seram dengan taring dan kuku tajam menatap kearah cctv di kamar Fero dengan mata merahnya yang menyala. Hingga perubahan fero yang tertidur hingga berubah menjadi monster. Bagaimana Fero membunuh Bany dan Steven dengan kejam. Mengoyak tubuh mereka dengan taring dan kuku.
"Stuart?" Suara dari seorang wanita lemah tak berdaya memanggil namanya. Stuart berbalik dengan kaki yang terus bergetar.
"Ka-kamu Mon.. mon.. mon..."
"Iya benar, saya adalah monster." Fero berjalan mendekati Stuart sambil membawa pisau di tangannya.
"Jangan mendekat! Mau apa kamu dengan pisau itu Hah? Mau membunuhku seperti yang kamu lakukan pada Bany dan Steven?" Fero menggeleng. Dia semakin berjalan cepat mendekati Stuart memindahkan pisau itu dari tangannya ke tangan Stuart.
"Bunuh aku Stuart! Aku mohon, aku lebih baik mati saja hiks hiks." Tidak pikir panjang lagi Stuart segera menancapkan pisau itu ke perut Fero hingga tangannya berlumuran banyak darah. Dia terkejut. Dia baru saja membunuh seseorang. Ia menjadi takut lalu berlari keluar masuk ke mobilnya dan pergi dari sana meninggalkan pisau itu yang masih menancap di perut Fero. Fero masih menangis, bukannya mati. Pisau itu malah terpental ke lantai. Luka diperutnya seketika mengering lalu sembuh tak berbekas.
"Percuma, percuma percuma! Aku tidak bisa mati! Kenapa Tuhan? Apa salah ku? Kenapa aku harus menjadi monster. Hiks hiks hiks" Fero kembali ke tengah hutan yang terisolir. Disanalah tempat yang tepat untuk dirinya. Si gadis terkutuk, manusia setengah monster!
Selamat ulang tahun untuk kamu yang berulang tahun hari ini!
TAMAT