Namanya Pak Broto. Di usianya yang kepala empat, hobinya cuma dua: kerja bakti kalau disuruh Pak RT, dan nongkrong di pos ronda sampai lupa jalan pulang. Masalahnya, hobinya yang kedua ini sering bikin istrinya, Bu Ratna, berubah jadi naga api.
Malam itu, suasana di pos ronda Kampung Sukamaju lagi panas-panasnya. Bukan karena ada maling, tapi karena skor domino antara Pak Broto dan Pak Haji Jaja sedang seri.
"Satu lagi, Pak Haji! Kalau saya menang, Bapak bayar kopi saya seminggu!" seru Pak Broto sambil membanting kartu balak enam ke meja kayu. Prak!
"Halah, Broto! Ingat umur! Ini sudah jam satu dini hari. Istrimu kalau ngunci pintu dari dalam, baru tahu rasa kamu," balas Pak Haji Jaja sambil terkekeh, meski tangannya mulai gemetar melihat kartu yang tersisa.
Pak Broto hanya menyeringai. "Tenang, Pak Haji. Ratna itu kalau tidur kayak simulasi meninggal. Mau ada petir menyambar juga nggak bakal bangun kalau belum jam lima subuh."
Tepat pukul dua pagi, Pak Broto pulang dengan langkah jumawa karena menang taruhan kopi. Namun, begitu sampai di depan gerbang rumahnya, senyum itu luntur. Pagar digembok. Pintu rumah? Jangan ditanya. Sudah dikunci grendel dari dalam.
"Aduh, alamat tidur di teras ini mah," gumamnya.
Ia mencoba mengetuk pintu pelan-pelan. "Mah... Mama... Ini Papa pulang membawa kemenangan..."
Hening. Hanya suara jangkrik yang sahut-sahutan. Pak Broto mencoba menelepon istrinya. Satu kali, dua kali, sepuluh kali. Hasilnya tetap sama: Nomor yang Anda tuju sedang berada dalam alam mimpi, silakan coba lagi saat kiamat kecil berakhir.
Pak Broto menghela napas pasrah. Matanya melirik mobil Avanza silver miliknya yang terparkir di carport yang agak remang-remang karena bohlam lampunya mati kemarin sore. Daripada digigit nyamuk di teras, lebih baik tidur di dalam mobil yang joknya empuk.
Ia masuk ke dalam mobil, memundurkan sandaran kursi pengemudi, dan mulai memejamkan mata. "Ah, lumayan. Besok pagi tinggal pasang muka melas biar nggak digoreng sama Ratna," pikirnya.
Baru saja Pak Broto hanyut dalam mimpi tentang tumpukan kartu domino emas, tiba-tiba...
Deg.
Mobilnya bergoyang. Bukan goyangan kena angin, tapi seperti ada beban berat yang menekan bagian belakang mobil secara berulang. Up, down, up, down.
"Halah, gempa kah?" gumam Pak Broto sambil mengucek mata.
Ia diam sejenak. Goyangannya berhenti. Tapi begitu ia ingin kembali tidur, mobil itu kembali bergoyang lebih kencang. Kali ini mirip orang yang lagi simulasi naik komidi putar.
"Woy! Siapa itu? Jangan becanda ya! Malem-malem mainan mobil orang!" teriak Pak Broto dari dalam. Ia pikir itu ulah pemuda mabuk atau anak tetangga yang jahil.
Dengan sisa keberaniannya, Pak Broto melirik ke arah spion tengah. Kosong. Hanya ada bayangan pohon kamboja dari rumah sebelah. Lalu, ia melirik ke spion samping kanan.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di atas bagasi mobil belakang, terlihat sekelebat kain putih yang sangat kumal—warnanya sudah bukan putih lagi, tapi abu-abu kecokelatan mirip kain pel yang nggak pernah dicuci setahun. Dan yang bikin Pak Broto lemas, kain itu bergerak-gerak mengikuti irama goyangan mobil.
"A-astagfirullah..."
Pak Broto memberanikan diri melihat ke spion kiri dengan gerakan lambat seperti slow motion film India. Di sana, jelas sekali terlihat sesosok wanita berambut panjang gimbal yang menutupi wajahnya. Dia tidak sedang duduk manis, tapi sedang berdiri di atas bemper belakang sambil... berjoget.
Iya, hantu kuntilanak itu sedang menggoyang-goyangkan badannya dengan heboh, membuat mobil Avanza itu naik-turun seirama dengan gerakannya.
"Ini kunti apa instruktur zumba?!" batin Pak Broto yang antara takut dan bingung.
Tiba-tiba, hantu itu berhenti bergoyang. Kepalanya yang tertutup rambut itu perlahan menoleh ke arah kaca jendela samping Pak Broto. Krak... krak... Suara tulang lehernya terdengar jelas di keheningan malam.
Pak Broto langsung menutup mata rapat-rapat, komat-kamit membaca doa apa saja yang ia ingat. "Al-Fatihah... Qulhu... Niat puasa... Doa makan... Ya Allah, selamatkan hamba-Mu yang hobi main domino ini!"
Pukul tiga dini hari, suara pintu rumah terbuka terdengar nyaring. Bu Ratna keluar dengan daster batik dan wajah ketus, berniat mengambil jemuran yang lupa diangkat.
Melihat pintu terbuka, Pak Broto langsung keluar dari mobil seperti orang kesurupan. Ia lari tunggang langgang menabrak istrinya sampai mereka berdua hampir terjatuh.
"MAMA! BUKAIN PINTO! ADA KUNTI ZUMBA DI MOBIL!" teriak Pak Broto histeris.
Bu Ratna yang kaget bukannya takut, malah marah. "Apa sih, Pa?! Malam-malam teriak kunti! Makanya jangan nongkrong terus! Itu bau karbol dari mana?"
"Karbol? Bukan Mah, itu bau kuntinya! Dia goyang-goyangin mobil sampe Papa hampir mual!" Pak Broto bercerita dengan menggebu-gebu, tangannya memeragakan gerakan goyang si hantu tadi.
Anaknya, panggil saja namanya Raka, terbangun karena keributan itu. "Ada apa sih, Yah? Heboh banget."
"Itu loh, Kak! Ayahmu pulang jam dua, nggak bawa kunci, terus katanya lihat setan di mobil. Alasan saja biar nggak dimarahi Mama!" ketus Bu Ratna.
Malam itu, rumah mereka jadi ramai. Pak Broto bersumpah demi kartu dominonya bahwa dia tidak berbohong. Raka dan ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala. Namun, Pak Broto tetap ketakutan sampai tidak berani tidur sendirian, memaksa tidur di tengah-tengah antara istri dan anaknya yang sudah remaja.
Beberapa tahun kemudian...
Raka menghela napas mengingat kejadian malam itu. Kini, ia duduk di meja makan hanya berdua dengan ibunya. Pak Broto sudah tidak ada di sana. Bukan karena dibawa kuntilanak zumba, tapi karena "surat sakti" dari pengadilan agama sudah keluar sebulan yang lalu.
"Ma, ingat nggak waktu Papa curhat mobilnya digoyang kunti?" tanya Raka sambil tersenyum kecut.
Bu Ratna terkekeh sambil menyuap nasi. "Ingatlah. Itu mungkin azab paling lucu buat bapakmu yang hobinya nongkrong sampai subuh. Tapi ya sudahlah, mungkin memang jalannya begini."
Raka hanya bisa tertawa getir. Ternyata, hantu di spion mobil lebih mudah dihadapi daripada kenyataan bahwa orang tuanya kini sudah punya jalan masing-masing.
"Tapi Ma, beneran loh," bisik Raka. "Kemarin pas aku mau jual mobil Avanza itu, orang yang mau beli bilang... kok di jok belakang ada bekas telapak kaki kecil-kecil warna hitam?"
Gelas di tangan Bu Ratna berdenting. Mereka saling pandang, lalu tertawa bersama. Di tengah pahitnya perceraian, setidaknya "Kunti Zumba" peninggalan Pak Broto memberikan mereka satu memori yang sulit dilupakan.