Senja di sudut kota itu terasa merayap lambat, seakan enggan membiarkan malam mengambil alih kesedihan Rina. Angin sore berembus pelan, membawa aroma aspal basah setelah hujan rintik-rintik, berbaur dengan sisa-sisa aroma opor ayam yang mulai basi dari dapur. Rina duduk diam di bangku teras rumahnya, menatap nanar ke jalanan yang semakin lengang. Di genggamannya, sebuah ponsel pintar terasa begitu dingin, menyimpan rentetan pesan yang mengoyak paksa pertahanannya.
Rina, di usia tiga puluh sembilan tahun, bukanlah wanita yang lemah. Enam tahun menjanda dengan empat anak telah menempanya menjadi sosok yang tangguh, sekaligus ibu yang penuh kasih. Ia sudah terbiasa dengan sepi, dengan malam-malam panjang mengurus anak sendirian, dan dengan tanggung jawab yang menumpuk di pundaknya. Namun, kehadiran lelaki itu, delapan bulan lalu, perlahan meruntuhkan benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah.
Lelaki itu datang dengan kebaikan yang menghangatkan hati Rina yang beku. Ia duda dengan dua anak, memahami beban hidup Rina. Di hari-hari baik, ia adalah sosok pahlawan yang royal. Ia memanjakan anak-anak Rina, membawa mereka jalan-jalan, membelikan mainan, dan menunjukkan perhatian yang tulus. Binar kebahagiaan di mata anak-anaknya saat bersama lelaki itu adalah penawar lelah bagi Rina. Rina pun mulai berharap, mulai berani membayangkan masa depan yang utuh kembali.
Namun, di balik kebaikan itu, tersimpan satu sifat yang menjadi duri dalam hubungan mereka: ia sering menghilang tanpa penjelasan setiap kali mereka berselisih paham atau ada hal yang membuatnya kesal. Awalnya, Rina memakluminya sebagai cara lelaki itu menenangkan diri. Ia menurunkan egonya, mencoba mengerti, dan memaafkan setiap kali lelaki itu kembali dengan permintaan maaf yang tulus.
Puncaknya terjadi pada lebaran tahun ini, yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan dan kemenangan. Rina sudah menyiapkan segalanya dengan penuh antusias. Ia memasak rendang bumbu warisan ibunya, menata ketupat, dan yang paling menyesakkan dada untuk diingat: ia sudah menjahit baju couple untuk mereka semua. Ia membayangkan sebuah foto keluarga yang utuh, sebuah pemandangan yang absen selama enam tahun dari ruang tamunya.
Namun, hari H lebaran berlalu dengan kesunyian yang mencekik. Lelaki itu menghilang tanpa kabar. Ponselnya mati. Kursi di meja makan itu tetap kosong. Anak-anaknya, dengan baju baru yang senada, berkali-kali menanyakan, "Om mana, Bu?" Rina hanya bisa tersenyum getir, menelan ludah yang terasa sepahit empedu, sembari menahan air mata yang mendesak keluar. Ego yang biasanya ia jaga ketat, ia runtuhkan demi sebuah kata "maaf" di hari fitri. Ia mengirim pesan, anak-anaknya pun mengirim rekaman suara ceria mengucapkan selamat lebaran. Hasilnya? Nihil. Tiga hari penuh, lelaki itu menghilang dalam kabut egonya sendiri.
Tiga hari itu pula, Rina tidak menyentuh nasi. Setiap suapan terasa seperti pengkhianatan pada harga dirinya sendiri. Kecewa, kesal, dan sedih berbaur menjadi satu, menciptakan lubang besar di ulu hatinya. Inilah lebaran terburuk dalam tiga puluh sembilan tahun usianya. Pahit, perih, dan tak terlupakan.
Baru pada H+3, sebuah balasan masuk. Singkat, tanpa rasa bersalah yang memadai, hanya permintaan maaf formal dan ucapan selamat lebaran kembali. Dan hari ini, setelah komunikasi kembali terjalin meski dengan ganjalan yang menyesakkan, mereka bertemu. Rina mencoba bicara, menumpahkan semua yang mengganjal, semua rasa sakit yang ia pendam selama tiga hari itu.
"Aku hanya ingin kamu mengerti betapa hancurnya aku dan anak-anak kemarin," suara Rina bergetar, setipis kertas, menahan tangis yang siap pecah. "Kita sudah menyiapkan segalanya, tapi kamu malah menghilang tanpa kabar."
Lelaki itu menatap jauh ke depan, ke arah lampu jalan yang mulai berkedip, menghindari tatapan mata Rina. "Itu sifatku, Rin. Kalau aku marah atau ada masalah, aku butuh waktu sendiri. Aku tidak bisa bicara. Kamu harus bisa menerima itu kalau mau jalan sama aku."
Kalimat itu telak. Sebuah tuntutan untuk memaklumi luka yang sengaja ditorehkan, tanpa ada niat untuk berubah atau belajar berkomunikasi. Seolah-olah sifat menghilangnya itu adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa diubah, dan Rinalah yang harus beradaptasi dengan semua rasa sakit yang ditimbulkannya.
Di saat Rina terpuruk dalam keraguan, di tengah senja yang semakin menggelap, sebuah komentar masuk ke ponselnya. Komentar dari seseorang yang tak dikenalnya, namun kata-katanya terasa begitu menohok, begitu jujur, dan begitu menyentuh inti dari permasalahannya.
"Salam kenal kak, maaf belum kenal tapi kasih saran," tulis MawaRose. "Tapi kak percayalah bertahan hanya karena dia baik dan terbiasa ada itu tidak cukup kuat buat komitmen pernikahan."
Kata-kata itu seperti tamparan bagi Rina. Benar, kebaikan lelaki itu memang menghangatkan, tapi apakah itu cukup untuk membangun sebuah rumah tangga yang kokoh? Apakah kebaikan itu bisa menutupi semua rasa sakit dan kecemasan yang ditimbulkan oleh sifat menghilangnya?
MawaRose melanjutkan, "Kakak pernah menikah kan, bayangkan masalah sepele dia kabur-kaburan bagaimana jika sudah tinggal 1 atap dia akan pergi kemana. Apa kakak siap dia kabur dari rumah setiap kali kalian berselisih paham."
Rina tertegun. Ia mencoba membayangkan masa depan mereka. Jika sekarang saja dia sudah kabur-kaburan, bagaimana jika nanti masalah yang mereka hadapi lebih besar? Bagaimana jika ada masalah keuangan, masalah anak-anak, atau masalah kesehatan? Apakah dia akan kembali menghilang, meninggalkan Rina sendirian menghadapi segalanya?
"Satu lagi yang penting tanyakan pada dirimu sendiri apa kamu mau diperlakukan seperti itu? Apa kamu bisa? Apa kamu kuat?" tanya MawaRose dengan nada menantang.
Rina menatap jauh ke jalanan yang kini sudah gelap. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sudah ada di hatinya. Tiga hari tanpa makan, air mata yang tak henti mengalir, dan rasa kecewa yang mendalam sudah menjadi jawaban yang jelas. Ia tidak mau diperlakukan seperti itu. Ia tidak bisa bertahan dalam ketidakpastian ini. Ia tidak sekuat itu untuk terus-menerus disakiti.
"Jangan jadikan alasan anak-anak untuk terikat dengannya, kenyataannya dirimu sendiri yang enggan melepas luka digenggamanmu sekarang," lanjut MawaRose, dengan tajam menelanjangi ketakutan terbesar Rina. "Kak bahagia tidak harus dengan orang lain (laki-laki). Laki-laki makhluk logis, jika hatinya tidak ke kamu, maka dia bisa hilang timbul sesukanya. Aku lihat priamu sekarang sedang memilih-milih wanitanya, dan kamu salah satu diantaranya. Itu bukan sifatnya, tapi itu sikap yang dia ambil dari kondisinya sekarang. Yaitu sedang mencari terbaik dari yang terbaik menurut dia."
Rina terpaku membaca baris terakhir itu. Kenyataan pahit yang coba ia hindari kini terpampang jelas di depannya. Lelaki itu tidak benar-benar berkomitmen padanya. Dia hanya sedang bermain-main, memilih-milih dari beberapa pilihan yang ada, dan Rina hanyalah salah satu di antaranya. Sifat menghilangnya itu bukan karena dia butuh waktu sendiri, melainkan karena dia sedang menjajaki pilihan lain, sedang membanding-bandingkan, sedang mencari "yang terbaik dari yang terbaik" menurut versinya.
Hati Rina hancur berkeping-keping. Bukan karena dia kehilangan lelaki itu, tapi karena dia menyadari betapa murahnya harga dirinya di mata lelaki itu. Ia telah membiarkan dirinya dan anak-anaknya dijadikan pilihan, dijadikan cadangan, dijadikan bahan percobaan.
Malam telah sepenuhnya turun, menyelimuti sudut kota dalam kegelapan. Angin malam berembus lebih kencang, membawa dingin yang menusuk tulang. Rina perlahan bangkit dari bangku teras. Ia tidak lagi menatap jalanan yang lengang, melainkan menatap pintu rumahnya, tempat anak-anaknya sedang menunggunya.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan lagi membiarkan luka itu terus berada di genggamannya. Ia tidak akan lagi membiarkan dirinya dan anak-anaknya diperlakukan tidak adil. Ia berharga, anak-anaknya berharga, dan mereka berhak untuk bahagia tanpa harus bergantung pada kehadiran seorang lelaki yang tidak benar-benar menginginkan mereka.
Dengan langkah yang mantap, walau hatinya masih terasa sakit, Rina melangkah masuk ke dalam rumah. Ia akan menutup pintu ini, tidak hanya pintu rumahnya, tapi juga pintu hatinya untuk lelaki itu. Ia akan memulai kembali, membangun kebahagiaan bersama anak-anaknya, dan memastikan bahwa tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti mereka dengan cara seperti ini. Di sudut senja itu, logika Rina akhirnya menang, dan ia siap untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik, tanpa bayang-bayang lelaki yang hanya bisa memberikan luka di tengah tumpukan kebaikan semu.