Sepucuk surat putih tergeletak di atas meja belajarku, dihiasi setangkai bunga mawar merah yang masih segar. Kelopaknya tampak lembut dengan warna merah yang pekat, seolah menyimpan sesuatu yang ingin disampaikan. Dengan langkah tergesa-gesa, aku segera mengambil surat itu. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.
Aroma mawar yang khas langsung menyeruak masuk ke indra penciumanku. Harumnya lembut… menenangkan… dan entah mengapa terasa seperti rindu yang sudah lama kupendam.
Rindu pada seseorang yang sudah tiga tahun tidak kupeluk.
Dengan senyum yang tak bisa kusembunyikan, aku membuka amplop itu perlahan.
“Putriku sayang, maaf mamah tidak bisa pulang ke Indonesia untuk merayakan ulang tahun kamu. Maaf ya, putriku yang manis. Sebagai gantinya, kamu rayakan ulang tahun sama nenek di kampung ya. Kasihan, nenek rindu sama anak mamah yang manis ini. Nomor telepon mamah ada di belakang surat ini. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi mamah ya sayang.”
Senyuman yang tadi menghiasi wajahku perlahan memudar. Huruf-huruf di kertas itu terasa seperti pisau kecil yang menusuk pelan ke dalam hati.
Aroma mawar yang tadi terasa menenangkan, kini seperti menghilang begitu saja.
Yang tersisa hanyalah hampa.
Dan kesedihan.
Aku menyeret langkah menuju kamar, mencoba menenangkan diri. Begitu sampai, tubuhku langsung ambruk di atas kasur. Pandanganku kosong menatap langit-langit kamar yang bernuansa biru muda.
“Padahal sudah tiga tahun ini aku tidak bertemu dengan mamah…” gumamku lirih.
“Ngapain sih harus berjanji kalau nggak ditepati…”
Keluhan-keluhan kecil keluar begitu saja tanpa arah. Hingga akhirnya, rasa lelah mengalahkan segalanya. Aku tertidur dengan sisa air mata yang masih membekas di pipi.
Perjalanan menuju kampung nenek terasa lebih panjang dari biasanya.
Kini aku berdiri di depan sebuah rumah kayu yang tampak tua dan lusuh. Catnya sudah memudar, beberapa bagian dindingnya terlihat rapuh dimakan usia. Yakin tak yakin, aku mengangkat tangan dan mengetuk pintu.
Tok… tok… tok…
“Assalamualaikum… Nek… ini Cika…”
Tak ada jawaban.
Aku kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras.
“Assalamualaikum… Nek… ini Cika…”
Sambil menunggu, aku memperhatikan sekitar. Halaman rumah yang dulu penuh bunga kini tampak sepi. Rumput liar tumbuh di mana-mana.
“ternyata aku sudah selama itu tidak mengunjungi nenek…” gumamku pelan.
Krek…
Pintu terbuka perlahan.
Seorang nenek tua berdiri di baliknya. Tubuhnya kini membungkuk, bajunya tampak lusuh, dan rambutnya yang memutih diikat sederhana. Namun sebelum aku sempat berkata apa-apa, nenek langsung menghamburkan pelukan hangat.
Pelukan yang sudah lama tidak kurasakan.
Aku membalasnya. Entah sejak kapan, air mata ini jatuh dengan sendirinya.
Begitu lalainya aku sebagai seorang cucu.
Nenek menatapku dengan mata yang penuh kasih.
“Cika sudah besar sekali… dan juga cantik,” ucapnya lembut.
Aku tersenyum kecil, meskipun pikiranku masih mencoba mencerna semuanya. Kenapa kondisi nenek jadi seperti ini? Kenapa rumah ini terlihat tak terurus?
Aku mendorong koper pelan saat nenek menuntunku menuju kamar untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan, aku melihat ruangan-ruangan yang kami lewati. Debu menempel di banyak tempat. Meja dan kursi tua di pojok ruangan masih tampak kokoh, namun terlihat sangat jarang digunakan.
“Hacihh!”
Hidungku terasa gatal. Aku bersin beberapa kali.
Nenek segera bergegas ke dapur dan kembali dengan segelas air panas di tangannya.
“Nih, diminum dulu, Nak.”
Aku menerimanya dan meminum air itu perlahan. Rasanya… tidak enak. Namun aku tetap tersenyum ke arah nenek.
Di balik semua kesederhanaan ini, ada kehangatan yang selama ini kurindukan.
Mungkin… ulang tahun kali ini memang tanpa pelukan ibu.
Tapi setidaknya…
Aku tidak merayakannya sendirian,gumamm ku pada sore ituu.
Sore itu, cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela kamar yang terbuat dari kayu tua. Aku terbangun dari tidur singkatku. Perjalanan yang cukup jauh tadi membuat tubuhku terasa lelah, namun entah mengapa hatiku masih terasa sesak.
Aku duduk di tepi kasur, memperhatikan kamar yang kini kutempati. Dindingnya masih sama seperti dulu—papan kayu yang tersusun rapi, meski beberapa bagian terlihat mulai rapuh. Di sudut ruangan, terdapat lemari tua berwarna coklat dengan ukiran sederhana.
Kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak.
Dulu, setiap liburan sekolah aku selalu menghabiskan waktu di rumah ini. Bermain di halaman, membantu nenek memasak di dapur, bahkan tidur ditemani dongeng sebelum terlelap.
Kini semuanya terasa berbeda.
Rumah ini masih sama.
Namun waktu telah mengubah banyak hal.
Perlahan aku berjalan keluar kamar. Dari arah dapur, terdengar suara panci yang beradu pelan. Aku mengintip dan melihat nenek sedang memasak sesuatu.
“Nenek lagi masak apa?” tanyaku sambil mendekat.
Nenek menoleh dan tersenyum hangat.
“Masak makanan kesukaan Cika. Sup ayam sama perkedel kentang,” jawabnya.
Aku terdiam sejenak.
Sudah lama sekali tidak ada yang memasakkan makanan kesukaanku.
Bahkan aku sendiri hampir lupa kalau sup ayam dan perkedel kentang adalah menu favoritku sejak kecil.
Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat.
Malam pun tiba.
Angin dari luar berhembus pelan, membuat tirai tipis di ruang tengah bergerak perlahan. Aku duduk sendirian di kursi kayu, menatap keluar jendela.
Hari ini adalah ulang tahunku.
Namun tidak ada ucapan.
Tidak ada kue.
Tidak ada pelukan dari mamah.
Aku menghela napas panjang.
Tiba-tiba—
“Cika…”
Suara nenek memanggil dari arah dapur.
“Iya, Nek?”
“Coba ke sini sebentar.”
Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju dapur. Namun saat sampai di ambang pintu, langkahku terhenti.
Lampu dapur dimatikan.
Ruangan itu hanya diterangi cahaya kecil dari beberapa lilin yang menyala di atas meja.
Di sana…
Terdapat sebuah kue sederhana.
Bukan kue dari toko terkenal. Hanya kue buatan rumahan dengan hiasan krim yang sedikit berantakan. Namun di atasnya tertancap lilin kecil yang menyala terang.
Nenek berdiri di samping meja dengan senyum hangat.
“Selamat ulang tahun, Cika…”
Dunia seakan berhenti sejenak.
Dadaku terasa sesak, namun kali ini bukan karena sedih.
Air mataku kembali jatuh.
“Maaf ya… nenek cuma bisa buat yang sederhana begini,” lanjutnya pelan.
Aku menggeleng cepat.
“Ini… ini sudah lebih dari cukup, Nek…”
Suaraku bergetar.
Selama tiga tahun terakhir, ini adalah pertama kalinya aku merasakan ulang tahun yang benar-benar berarti.
Nenek menggenggam tanganku.
“Ayo, tiup lilinnya. Jangan lupa berdoa.”
Aku menutup mata.
Di dalam doa itu, hanya ada satu harapan sederhana.
Semoga suatu hari nanti…
Aku bisa merayakan ulang tahun dengan pelukan mamah.
Aku meniup lilin-lilin itu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak surat itu datang—
Aku tersenyum dengan tulus.