Sinta Azhab pulang ke rumah setelah sekian tahun bekerja dikota. Ia pulang bersama anggota keluarganya, dengan perasaan bersalah turun dari mobil berjalan menuju rumah orang tuanya.
“Bicara pelan-pelan sama mereka," pesan Dausi suami Sinta.
Sinta mengangguk menatap suaminya sambil menarik napas dalam, mengetuk pintu sedikit keras. Seseorang membukakan pintu, beberapa detik keduanya terkejut dan saling menatap. Ada perasaan rindu yang selama ini tersimpan dilubuk hati. Namun, disisi lain ada rasa benci menyelinap.
Sinta berlutut dikaki seorang perempuan tua yang sudah berkeriput namun, tubuhnya masih berdiri tegak. Perempuan tua itu terkejut melihat Sinta bersujud dikakinya lalu melangkah mundur sedikit menjauh, kenangan masa silam terngiang dikepalanya.
“Kalau ibu tidak memberikan warisan kepadaku, aku akan pergi dari rumah," bentak Sinta waktu itu.
"Sinta, jaga ucapanmu. Ibu masih hidup, jangan meminta warisan dan jangan sekalipun mengharap warisan sedikitpun, karena kamu sudah mencoreng nama keluarga kami," balas Yanti kakak Sinta.
Sinta menoleh menatap kakaknya seolah mengajak perlawanan. "Aku berhak atas warisan, dan sampai kapanpun aku minta bagian,"
"Jangan harap, lebih baik kamu angkat kaki dari rumah ini,“ usir Zahira ibu mereka.
Zahira menatap Sinta dengan napas memburu, hatinya kecewa karena Sinta sudah membuat keluarganya malu, hamil diluar nikah dengan kekasihnya dan sekarang meminta warisan, membuatnya sangat marah.
Sinta tertegun mendengar perkataan ibunya, airmatanya menetes deras, hatinya sangat sakit, ia tidak menyangka ibunya tega mengusirnya. Ia tahu kesalahannya dan ingin memperbaikinya. Tapi, ibunya dengan terang mengusirnya dengan nada kasar. Memohon pun percuma ibunya tidak akan memaafkannya.
Setelah pengusiran Sinta, Zahira sering sakit-sakitan dan dibawa ke rumah sakit. Hanya Yanti anak pertamanya yang merawatnya sampai sembuh. Sekarang Sinta pulang sambil berlutut meminta maaf, sedangkan hatinya belum juga menerima atas perilaku Sinta dulu.
Dausi dan kedua anaknya melihat Sinta ikut berlutut sambil memohon kepada Zahira agar memaafkan mereka. Zahira terkejut melihat pria dan dua anak kecil ikut berlutut. Ada rasa ingin tahu tentang mereka.
"Masuklah," perintah Zahira sambil berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk diruang tamu dengan langkah tegap.
Sinta beserta suami dan kedua anaknya berdiri, berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan bersalah dan menyesal. Zahira menatap ketiga orang di depannya dengan rasa penasaran.
“Siapa kamu dan siapa dua anak kecil itu?" tanya Zahira dengan wajah tidak suka.
Sinta memberi kode kepada suami dan kedua anaknya. Mereka paham segera memperkenalkan diri kepada Zahira. Mereka merasa canggung juga takut melihat wajah Zahira nampak menyiratkan tidak suka pada diri mereka.
“Saya Dausi suami Sinta," sapa Dausi dengen senyum ramah.
“Saya Daud, anak pertama," jawab Daud dengan ramah sedikit senyum.
“Saya Sayidan, anak kedua," jawab Sayidan dengan senyum ramah.
Zahira mendengar nama dua anak laki-laki itu teringat nama suaminya bernama Shauzan, wajah Sayidan mirip almarhum suaminya membuatnya sedih. Wajah Zahira berubah sendu mengingat suaminya. Lalu kembali fokus dengan kehadiiran mereka.
"Sekian tahun kamu tidak pernah ada kabar, begitu pulang membawa keluargamu. Bagus sekali, apa kamu sudah merasa sukses dan melupakan tanggung jawabmu?" Zahira menahan rasa sesak didalam dadanya.
Ingin sekali Zahira memeluk kedua cucunya tapi gengsinya terlalu besar dan sungkan , ia hanya menatap lekat. Ada perasaan menggelitik diruang hatinya menyuruhnya mendekat dan menciumnya. Zahira tidak bisa meneteskan airmatanya meskipun sedikit yang jatuh mampu membuat Sinta terharu melihatnya.
"Maaf, Bu. Sama sekali aku tidak melupakan ibu dan mbak Yanti. Aku selalu mendoakan kalian, bagaimanapun juga kalian adalah keluargaku. Aku takut ibu tidak akan memaafkan ku, karena kesalahan yang sudah aku perbuat." jelas Sinta sesenggukan sisa tangisnya.
Yanti baru pulang ke rumah setelah bekerja, ia melihat ada banyak orang diruang tamu bergegas masuk. Yanti terkejut ketika matanya menangkap sosok perempuan yang sudah lama tidak bertemu, hatinya merasa benci juga rindu namun, saat matanya melihat seorang pria dan dua anak laki-laki perasaan itu menjadi keingintahuan.
Semua mata diruang tamu menoleh ke arah pintu melihat perempuan kurus tapi tubuhnya segar dan tegas nampak diwajahnya. Sinta berdiri dengan perasaan rindu dan haru lalu mendekat, sejenak kedua kakak beradik itu saling menatap diam dengan sejuta perasaan yang sudah menumpuk didalam benaknya.
“Mbak, Yanti. Aku minta maaf...," Sinta sambil menangis.
Yanti meraih tubuh Sinta ke dalam pelukannya. Yanti pun menangis sampai tubuhnya bergetar sangat kencang. Sinta membalas pelukan kakaknya dengan erat. Suasana haru menyelimuti ruang tamu, Zahira dan suami beserta kedua anak Sinta ikut merasa haru,
"Apakah mereka keluargamu?“ tanya Yanti melihat pria dan dua anak laki-laki diruang tamu.
Sinta mengangguk membenarkan pertanyaan Yanti kakaknya sambil melepaskannya pelukannya. QSinta dan Yanti duduk berdekatan sambil menggenggam tangan dan tersenyum, rasa canggung mencair seketika.
Zahira masih diam tidak menyahut perkataan anak-anaknya yang sedang bercanda. Suami dan kedua anaknya langsung akrab dengan Yanti. Mereka saling memperkenalkan diri dan berbincang ringan.
Menjelang sore Sinta dan Yanti memasak untuk buka bersama. Kedua anak Sinta dan anak Yanti berbicara dengan Zahira di ruang tengah sambil menunggu waktu berbuka sedangkan, sesekali terdengar suara tawa mereka karena candaan mereka yang lucu.
Sementara suami Sinta berkeliling kampung melihat suasana pedesaan. Ia merasa senang dengan kehidupan kampung halaman istrinya, terlihat sangat sejuk dan nyaman. Baru kali ini ia merasakan alam pedesaan. Karena ia hidup di kota sekalian tahun lamanya.
Waktunya berbuka puasa tiba semua anggota keluarga berkumpul diruang makan menikmati berbuka bersama. Sasana kebersamaan yang sudah lama sepi kini kembali terasa ramai apalagi ditambah anak dan cucu Zahira. Suasana haru menyelimuti rumah Zahira penuh kebahagiaan
Selama bulan ramadhan di kampung Sinta merasa bahagia sambil bernostalgia bersama suami dan kedua anaknya . Suami Yanti baru pulang dari tempat kerja ikut bergabung bersama anggota keluarga yang lain dirumah Zahira. Di rumah sederhana itu semua anggota keluarga berkumpul nampak bahagia diwajah mereka .
Malam menjelang hari raya idul Fitri Sinta duduk bersama Zahira ibunya dan juga Yanti kakaknya diteras rumah. Mereka berbincang ringan mengenang masa kebersamaan dulu yang pernah mereka lewati. Suka duka sejak ditinggal sang ayah tak pernah ada keluh diantara mereka.
"Maafkan aku, Bu. Maaf dari tubuh hati paling dalam dengan segenap penyesalan dalam diri yang penuh dosa pada ibu. Aku sangat menyesal dan aku berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah aku lakukan pada ibu juga mbak Yanti," ucap Sinta dengan sesenggukan.
“Maafkan aku juga, Bu. Aku sering membuat ibu kecewa dan sakit hati. Karena kebohongan yang aku lakukan pada ibu. Sebenarnya waktu itu aku pernah mencuri untuk kebutuhan kita sehari-hari, juga aku sempat melakukan hal bodoh menuruti keinginan pak Hadi untuk menjadi istri siri, namun, tidak berlangsung lama kami pun memutuskan bercerai dan aku menikah dengan mas , Adi yang mau menerimaku apa adanya.
Zahira terkejut mendengar pengakuan kedua anaknya, tidak menyangka jika selama ini mereka juga sama halnya menderita, pikirannya kembali ke masa dimana mereka bertiga meluapkan amarah dan tidak menemukan solusi. Akhirnya Sinta meninggalkan rumah dan Yanti pergi entah kemana namun, tidak berselang lama Yanti pulang bersama seorang pria yang sekarang menjadi suaminya.
Satu persatu menantu dan cucu Zahira mendekat dan meminta maaf kepada Zahira. Suasana kembali haru, hati Zahira yang beku lambat laun mencair melihat sikap anak, menantu dan cucu-cucunya. Mereka memeluk perempuan yang sudah tidak lagi muda dengan perasaan bahagia.
Sinta dan suaminya mengambil sesuatu didalam kamarnya dan memberikan sebuah bungkusan kepada Zahira ibunya. Zahira melihat bungkusan menatap heran Sinta dan suaminya.
“Apa ini?" tanya Zahira sambil membolak -balikkan bungkusan.
“Hadiah dari kami, untuk ibu," jawab Sinta dengan senyum senang.
Zahira membuka bungkusan dengan tangan bergetar, setelah terbuka sempurna mengambil sebuah benda dari dalam sebuah gaun beserta jilbab instan warna putih senada. Zahira menangis lalu memeluk Sinta dengan erat.
“Maafkan ibu, Sinta. Maaf ternyata kamu masih ingat keinginan ibu membeli gaun ini. Padahal jaman sudah berubah bahkan ibu sudah melupakan semuanya. Justru kamu masih mengingatnya, kamu tidak seharusnya melakukan semua ini. Ibu minta maaf," ucap Zahira penuh penyesalan.
"Ibu tidak bersalah, ibu selalu memberiku nasehat dan selalu memberi contoh yang baik hanya saja aku yang selalu melawan perintah ibu, Maafin Sinta, Bu," ucap Sinta sambil menghapus airmata.
"Terimakasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doaku, doa ibuku, dan doa kami sekeluarga. Engkau juga merubah hati ibuku menerima ku pulang ke rumah," ucap Sinta berdoa dalam hati.
Satu keluarga saling memaafkan dan saling menerima keadaan masing-masing, kebersamaan kembali utuh tali silaturahim terjalin dengan erat tanpa sungkan dan canggung. Suasana idul Fitri begitu damai dan menyenangkan.
EVENT GC RUMAH MENULIS