Damar berdiri di depan sebuah rumah tua dengan ransel besar di punggungnya.
Rumah itu tampak sepi.
Cat temboknya sudah mulai mengelupas. Halaman depannya dipenuhi rumput liar yang tidak pernah dipotong. Pagar besinya berkarat dan berbunyi pelan ketika tertiup angin.
Namun bagi Damar, rumah itu tetap terlihat seperti keberuntungan.
Sewa rumah di kota ini sangat mahal, apalagi untuk seorang mahasiswa perantau seperti dirinya.
Ketika ia menemukan iklan rumah ini dengan harga jauh lebih murah dari yang lain, ia langsung menghubungi pemiliknya.
Tidak banyak pertanyaan.
Tidak ada proses rumit.
Pemilik rumah hanya berkata singkat lewat telepon.
“Kalau kamu mau, silakan tempati saja. Kuncinya ada di bawah pot bunga.”
Aneh memang.
Namun Damar tidak terlalu memikirkan hal itu.
Ia hanya butuh tempat tinggal.
Damar membuka pagar.
Pagar itu berderit keras.
Suara logam tua yang panjang dan menusuk telinga.
Ia berjalan menuju pintu depan.
Benar saja.
Di bawah pot bunga yang hampir mati, ia menemukan sebuah kunci kecil.
Damar tersenyum.
“Lumayan juga.”
Ia membuka pintu rumah.
Pintu kayu itu terbuka perlahan dengan suara kreeeeek panjang.
Udara lembap langsung menyambutnya.
Rumah itu terasa dingin.
Bukan dingin karena AC.
Lebih seperti dingin yang berasal dari rumah yang lama tidak dihuni.
Damar masuk sambil menyalakan lampu.
Lampu ruang tamu menyala redup.
Namun setidaknya cukup untuk melihat isi rumah.
Ruang tamunya sederhana.
Ada sofa tua, meja kecil, dan rak buku kosong.
Debu terlihat di beberapa sudut.
Namun secara keseluruhan rumah itu masih cukup layak.
Damar mengangguk puas.
“Tidak buruk.”
Ia mulai menaruh barang-barangnya.
Malam pertama berjalan cukup normal.
Damar memasak mie instan di dapur kecil.
Lalu menonton video di ponselnya sampai larut.
Sekitar pukul satu malam, ia akhirnya memutuskan tidur.
Kamar tidurnya berada di lantai bawah.
Ada satu kamar lagi di lantai atas, tetapi Damar belum sempat melihatnya.
“Besok saja,” gumamnya.
Lampu kamar dimatikan.
Rumah itu langsung tenggelam dalam keheningan.
Angin malam terdengar berdesir di luar jendela.
Beberapa menit kemudian Damar mulai tertidur.
Namun tiba-tiba…
Tok…
Damar membuka matanya.
Ia menatap langit-langit kamar.
“Hmm?”
Beberapa detik hening.
Lalu suara itu terdengar lagi.
Tok… tok…
Seperti suara langkah kaki.
Damar langsung duduk.
Langkah kaki.
Dari lantai atas.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Ia menatap pintu kamar.
Rumah ini kan kosong.
Ia satu-satunya penghuni.
Damar mencoba menenangkan dirinya.
“Mungkin tikus.”
Ia kembali berbaring.
Namun beberapa detik kemudian suara itu muncul lagi.
Tok… tok… tok…
Lebih jelas sekarang.
Seperti seseorang berjalan perlahan di lantai atas.
Damar menelan ludah.
“Tidak mungkin…”
Ia bangkit dari tempat tidur.
Perlahan ia membuka pintu kamar.
Lorong rumah gelap.
Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela.
Tangga menuju lantai atas terlihat di ujung lorong.
Damar berdiri diam beberapa detik.
Mendengarkan.
Sunyi.
Tidak ada suara apa pun.
Akhirnya ia menghela napas.
“Mungkin memang tikus.”
Ia kembali ke kamar dan mencoba tidur.
Namun malam itu, ia tidak benar-benar bisa tidur nyenyak.
Keesokan paginya, Damar pergi ke kampus.
Hari itu berjalan normal.
Namun ketika pulang sore hari, ia melihat seorang pria tua berdiri di depan rumah sebelah.
Pria itu tampak sedang menyapu halaman.
Ketika melihat Damar membuka pagar rumah kontrakan, pria itu menatapnya cukup lama.
Akhirnya pria itu bertanya,
“Kamu yang tinggal di rumah itu?”
Damar mengangguk.
“Iya, Pak.”
Pria itu mengerutkan kening.
“Kamu menyewa rumah itu?”
“Iya.”
Pria tua itu berhenti menyapu.
Wajahnya terlihat sedikit aneh.
“Sudah berapa lama?”
“Baru kemarin.”
Pria itu menghela napas pelan.
“Kamu tidak diberitahu apa-apa?”
Damar bingung.
“Diberitahu apa?”
Pria tua itu menatap rumah kontrakan itu beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Rumah itu sudah lama kosong.”
Damar tertawa kecil.
“Iya, kelihatan sih.”
Namun pria tua itu menggeleng.
“Maksud saya… tidak ada yang pernah betah tinggal di sana.”
Damar mulai merasa sedikit tidak nyaman.
“Kenapa?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata,
“Kalau kamu dengar sesuatu di malam hari… jangan terlalu dipikirkan.”
Damar mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Namun pria tua itu sudah kembali menyapu halaman tanpa menjawab.
Malam kedua.
Damar mencoba belajar di ruang tamu.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Rumah itu sangat sunyi.
Tiba-tiba…
Tok…
Damar membeku.
Suara itu lagi.
Dari lantai atas.
Tok… tok…
Langkah kaki.
Pelan.
Teratur.
Seperti seseorang berjalan.
Jantung Damar mulai berdebar keras.
Ia menatap tangga di ujung ruangan.
“Siapa…?”
Tidak ada jawaban.
Suara langkah itu berhenti.
Beberapa detik kemudian…
KREEEEK
Seperti suara pintu dibuka.
Dari lantai atas.
Damar merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia berdiri perlahan.
Tangannya mengambil senter dari meja.
Dengan langkah pelan ia berjalan menuju tangga.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tangga kayu itu berbunyi pelan ketika ia naik.
Lampu lantai atas tidak menyala.
Hanya cahaya senter yang menerangi lorong sempit.
Ada satu pintu di sana.
Terbuka sedikit.
Damar menelan ludah.
Ia mendorong pintu itu perlahan.
KREEEEK
Kamar itu kosong.
Namun di tengah lantai…
Ada sesuatu.
Sebuah buku tua.
Damar mendekat.
Ia mengambil buku itu.
Sampulnya penuh debu.
Ketika dibuka…
Ia menyadari itu adalah buku harian.
Halaman pertama bertuliskan nama.
Sari.
Tulisan berikutnya membuat napas Damar tercekat.
"Aku tidak tahan tinggal di rumah ini sendirian."
Damar membaca buku itu dengan tangan gemetar.
Halaman demi halaman.
Buku itu berisi cerita seorang wanita bernama Sari yang tinggal sendirian di rumah itu bertahun-tahun lalu.
Awalnya semuanya normal.
Namun suatu hari suaminya pergi.
Dan tidak pernah kembali.
Sari mulai merasa ada sesuatu di rumah itu.
Ia sering mendengar suara langkah kaki.
Suara pintu.
Suara seseorang berdiri di luar kamarnya malam-malam.
Namun yang paling menyeramkan adalah satu kalimat yang ditulis berulang kali di halaman terakhir.
"Aku tahu dia ada di dalam rumah ini."
"Aku tahu dia tidak pernah pergi."
"Aku tahu dia masih di sini."
Damar menutup buku itu dengan cepat.
Tiba-tiba…
Angin dingin berhembus di belakangnya.
Lampu senter berkedip.
Lalu…
Damar perlahan menoleh.
Di pintu kamar…
Seorang wanita berdiri.
Rambut panjang.
Wajah pucat.
Mata kosong.
Damar tidak bisa bergerak.
Wanita itu hanya berdiri diam.
Lalu dengan suara yang hampir seperti bisikan…
Ia berkata,
“Tolong… temukan aku.”
Detik berikutnya…
Wanita itu menghilang.
Damar berdiri terpaku.
Jantungnya berdetak sangat keras.
Namun satu hal mulai ia sadari.
Wanita itu…
Tidak terlihat marah.
Tidak terlihat menyeramkan.
Ia terlihat… sedih.
Dan seperti meminta bantuan.
Damar berdiri terpaku di tengah kamar lantai atas.
Napasnya terasa berat.
Wanita itu sudah menghilang.
Namun kata-katanya masih terngiang di kepalanya.
“Tolong… temukan aku.”
Damar menatap sekeliling kamar dengan perasaan campur aduk.
Takut.
Bingung.
Namun juga… penasaran.
Ia menatap buku harian yang masih ada di tangannya.
Nama di halaman pertama masih terlihat jelas.
Sari.
Damar duduk di lantai lalu membaca kembali halaman terakhir buku itu.
Tulisan tangan Sari semakin tidak rapi di bagian akhir.
Seolah ditulis dengan tangan gemetar.
"Aku tidak tahu harus percaya siapa."
"Dia bilang aku gila."
"Tapi aku tahu ada sesuatu di rumah ini."
Beberapa halaman berikutnya hanya berisi satu kalimat yang diulang-ulang.
"Dia masih di sini."
Halaman terakhir lebih pendek.
Namun justru membuat bulu kuduk Damar meremang.
"Kalau seseorang menemukan buku ini… tolong temukan aku."
Damar menutup buku itu perlahan.
Ia merasa sesuatu yang buruk pernah terjadi di rumah ini.
Sesuatu yang tidak pernah diselesaikan.
Dan entah kenapa… roh wanita tadi meminta bantuannya.
Malam itu Damar tidak bisa tidur.
Pikirannya terus memikirkan satu hal.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Sari?
Pagi harinya, Damar mendatangi rumah tetangga tua yang kemarin berbicara dengannya.
Pria itu sedang duduk di teras ketika Damar datang.
“Pak… saya mau tanya sesuatu.”
Pria itu menatapnya.
“Kamu masih tinggal di sana?”
“Iya.”
Damar ragu sejenak.
“Pak… Bapak pernah dengar nama Sari?”
Wajah pria tua itu langsung berubah.
Matanya terlihat terkejut.
“Kamu tahu nama itu dari mana?”
Damar menjelaskan tentang buku harian yang ia temukan.
Pria tua itu terdiam cukup lama.
Lalu ia berkata pelan.
“Perempuan itu dulu tinggal di rumah itu.”
“Dia tinggal dengan suaminya.”
“Awalnya mereka terlihat seperti pasangan biasa.”
Damar mendengarkan dengan serius.
“Lalu?”
Pria tua itu menghela napas panjang.
“Suaminya tiba-tiba menghilang.”
“Menghilang?”
Pria itu mengangguk.
“Orang-orang bilang dia pergi meninggalkan Sari.”
“Setelah itu Sari tinggal sendirian di rumah itu.”
Damar merasakan jantungnya berdebar.
“Terus?”
Pria tua itu menatap rumah kontrakan itu dari jauh.
“Beberapa bulan kemudian… Sari juga menghilang.”
Damar menegang.
“Menghilang?”
“Iya.”
“Tidak ada yang tahu dia pergi ke mana.”
Polisi sempat menyelidiki.
Namun tidak pernah menemukan apa pun.
Sejak saat itu…
Rumah itu mulai ditinggalkan.
Pria tua itu menatap Damar dengan serius.
“Dan sejak saat itu juga… orang-orang mulai mendengar suara aneh dari rumah itu.”
Malam berikutnya.
Damar kembali naik ke kamar lantai atas.
Ia berdiri di tengah ruangan sambil memegang buku harian itu.
“Kalau kamu memang ada di sini…”
Suara Damar sedikit gemetar.
“...aku ingin membantu.”
Ruangan itu sunyi.
Beberapa detik tidak ada apa-apa.
Lalu…
Angin dingin kembali berhembus.
Lampu di lorong berkedip pelan.
Damar menelan ludah.
Perlahan ia menoleh.
Wanita itu berdiri lagi di pintu kamar.
Wajahnya masih pucat.
Namun kali ini matanya menatap langsung ke arah Damar.
Damar mencoba menenangkan dirinya.
“Kamu Sari… kan?”
Wanita itu tidak menjawab.
Namun perlahan ia mengangkat tangannya.
Menunjuk sesuatu.
Ke arah… dinding kamar.
Damar mengikuti arah tangannya.
Dinding itu terlihat biasa saja.
Namun Sari terus menunjuk ke sana.
Lalu perlahan… sosoknya menghilang lagi.
Damar mendekati dinding itu.
Ia mengetuknya pelan.
Tok…
Suara normal.
Ia mengetuk bagian lain.
Tok…
Normal juga.
Namun ketika ia mengetuk bagian tengah dinding…
TOK.
Suaranya berbeda.
Lebih kosong.
Jantung Damar langsung berdebar.
Ia berlari turun mengambil palu kecil dari dapur.
Dengan tangan gemetar ia kembali ke kamar atas.
“Semoga aku tidak gila…”
Ia memukul dinding itu perlahan.
Tak.
Plester tembok mulai retak.
Ia memukul lagi.
Tak!
Sedikit bagian tembok runtuh.
Debu jatuh ke lantai.
Damar berhenti sejenak.
Lalu dengan napas berat ia memukul lagi.
BRAK.
Sebagian dinding akhirnya jebol.
Dan sesuatu terlihat di dalamnya.
Damar mundur satu langkah.
Jantungnya terasa berhenti berdetak.
Di balik dinding itu…
Ada tulang manusia.
Kerangka.
Terjebak di dalam tembok.
Damar merasakan kepalanya berputar.
Tangannya gemetar hebat.
Lalu perlahan ia melihat sesuatu yang lain.
Sebuah kalung kecil masih tergantung di tulang leher kerangka itu.
Kalung dengan huruf kecil.
S.
Damar langsung sadar.
Itu Sari.
Polisi datang malam itu juga setelah Damar melaporkan temuannya.
Dinding kamar dibongkar sepenuhnya.
Kerangka itu akhirnya dikeluarkan.
Beberapa hari kemudian hasil penyelidikan keluar.
Sari ternyata tidak pernah pergi.
Ia dibunuh oleh suaminya sendiri.
Suaminya membunuhnya setelah pertengkaran besar.
Lalu menyembunyikan jasadnya di dalam dinding rumah.
Setelah itu ia melarikan diri.
Kasus itu akhirnya kembali dibuka.
Namun suaminya tidak pernah ditemukan lagi.
Seminggu kemudian.
Damar kembali ke rumah itu.
Rumah itu terasa berbeda sekarang.
Tidak lagi terlalu dingin.
Tidak lagi terasa menekan.
Malam itu Damar duduk di ruang tamu.
Tiba-tiba…
Angin lembut berhembus melewati ruangan.
Lampu berkedip sekali.
Damar menoleh ke arah tangga.
Sesaat ia melihat sosok wanita berdiri di sana.
Sari.
Namun kali ini wajahnya berbeda.
Tidak pucat.
Tidak sedih.
Ia tersenyum kecil.
Seolah mengucapkan terima kasih.
Beberapa detik kemudian…
Sosok itu perlahan menghilang.
Dan sejak malam itu…
Rumah kontrakan itu akhirnya benar-benar kosong.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.