Arga berdiri di depan pintu rumahnya sambil memegang sebuah kotak kue kecil.
Di atas kotak itu tertulis dengan krim cokelat:
“Selamat Ulang Tahun Maya.”
Ia tersenyum sendiri ketika membaca tulisan itu lagi. Sedikit berantakan memang, tapi ia sengaja memesan kue itu di toko kecil dekat kantor agar terasa lebih personal.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Arga tahu ia pulang agak terlambat. Pekerjaan di kantor benar-benar menumpuk hari ini. Namun ia tetap memaksakan diri keluar sebentar hanya untuk membeli kue ulang tahun untuk istrinya.
Hari ini ulang tahun Maya yang ke-30.
Arga menarik napas pelan sebelum membuka pintu rumah.
“Semoga dia belum tidur,” gumamnya.
Ia membayangkan Maya akan terkejut melihatnya membawa kue.
Mungkin mereka akan makan bersama.
Mungkin Maya akan tersenyum seperti dulu.
Arga membuka pintu rumah.
“May?”
Tidak ada jawaban.
Rumah terasa sunyi.
Lampu ruang tamu menyala, tetapi tidak ada suara televisi. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara dari dapur.
Arga masuk sambil mengerutkan kening.
“Maya?”
Ia berjalan ke ruang makan.
Kosong.
Ia menuju dapur.
Kosong.
Arga mulai merasa ada sesuatu yang aneh.
Biasanya Maya selalu ada di rumah malam-malam seperti ini.
Ia berjalan menuju kamar mereka.
Pintu kamar setengah terbuka.
Arga mendorongnya perlahan.
“May—”
Kalimatnya terhenti.
Di atas meja kecil dekat tempat tidur, ada sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Sebuah cincin.
Cincin pernikahan Maya.
Dan di sampingnya ada selembar kertas.
Arga mendekat perlahan.
Tangannya sedikit gemetar ketika mengambil kertas itu.
Tulisan tangan Maya.
Pendek.
Sangat pendek.
“Aku sudah lelah berpura-pura bahagia.”
Arga membeku.
Beberapa detik ia hanya berdiri di sana, menatap tulisan itu tanpa benar-benar memahaminya.
Lelah?
Berpura-pura bahagia?
Apa maksudnya?
Arga segera mengambil ponselnya.
Ia menelepon Maya.
Nada sambung.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak diangkat.
Arga mencoba lagi.
Masih tidak diangkat.
Ia mulai berjalan mondar-mandir di kamar.
“Maya… ini apa maksudnya?”
Ia membuka lemari.
Beberapa pakaian Maya hilang.
Tas favoritnya juga tidak ada.
Arga mulai panik.
Arga duduk di sofa ruang tamu hampir satu jam.
Pikirannya kacau.
Ia mencoba mengingat apakah ada tanda-tanda aneh dari Maya beberapa hari terakhir.
Namun semuanya terasa normal.
Maya masih memasak seperti biasa.
Masih mengirim pesan menanyakan apakah Arga sudah makan.
Masih tersenyum ketika Arga pulang.
Atau… mungkin Arga yang tidak benar-benar memperhatikan.
Ia membuka galeri ponselnya.
Foto terakhir mereka bersama muncul di layar.
Foto itu diambil hampir satu tahun lalu.
Di pantai.
Maya tersenyum ke arah kamera.
Namun sekarang Arga memperhatikan sesuatu yang dulu tidak ia sadari.
Senyum itu… terlihat sedikit dipaksakan.
Jantung Arga berdebar lebih cepat.
Ia berdiri.
“Aku harus mencarinya.”
Tempat pertama yang ia datangi adalah kafe kecil di pusat kota.
Tempat di mana ia pertama kali bertemu Maya delapan tahun lalu.
Kafe itu masih sama seperti dulu.
Lampu-lampu kuning hangat.
Musik akustik pelan.
Arga masuk dengan langkah cepat.
Matanya langsung menyapu seluruh ruangan.
Namun Maya tidak ada di sana.
Seorang pelayan mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Arga ragu sejenak.
“Apakah… ada perempuan bernama Maya datang ke sini malam ini?”
Pelayan itu berpikir sebentar.
Lalu menggeleng.
“Sepertinya tidak, Pak.”
Arga mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Ia keluar dari kafe dengan langkah berat.
Kenangan lama mulai bermunculan di kepalanya.
Malam pertama ia bertemu Maya.
Maya menumpahkan kopi ke mejanya karena gugup.
Mereka tertawa bersama.
Arga dulu berpikir Maya adalah perempuan paling ceria yang pernah ia temui.
Lalu kapan semuanya berubah?
Tempat kedua yang Arga datangi adalah taman kota.
Tempat di mana ia melamar Maya.
Malam itu taman cukup sepi.
Lampu jalan menerangi jalur pejalan kaki.
Angin malam terasa dingin.
Arga berjalan perlahan menuju bangku tempat mereka dulu duduk bersama.
Kosong.
Tidak ada siapa pun di sana.
Ia duduk di bangku itu.
Tangannya menutupi wajah.
“Kenapa aku tidak sadar…”
Ia mulai mengingat beberapa kejadian kecil.
Beberapa bulan lalu Maya pernah berkata:
“Arga… kita sudah lama tidak pergi bersama ya.”
Saat itu Arga hanya menjawab cepat.
“Iya, lagi sibuk kerja.”
Maya hanya mengangguk.
Tidak memaksa.
Tidak marah.
Hanya diam.
Arga menggigit bibirnya.
Selama ini ia selalu berpikir bekerja keras adalah cara terbaik membahagiakan Maya.
Ia bekerja lembur.
Mengejar promosi.
Mengumpulkan uang untuk masa depan mereka.
Namun mungkin Maya hanya ingin sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Waktu.
Perhatian.
Kehadiran.
Dan Arga tidak pernah benar-benar memberikannya.
Tempat ketiga yang ia datangi adalah rumah orang tua Maya.
Rumah itu berada di pinggir kota.
Arga mengetuk pintu dengan cepat.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Ibu Maya berdiri di sana.
“Arga?”
Wajah wanita itu terlihat sedikit terkejut.
“Maaf Bu… Maya ada di sini?”
Ibu Maya terlihat bingung.
“Tidak. Bukannya dia di rumah?”
Jantung Arga terasa jatuh.
“Dia pergi.”
Ibu Maya mengerutkan kening.
“Pergi?”
Arga mengangguk pelan.
“Dia meninggalkan rumah.”
Beberapa detik mereka terdiam.
Lalu ibu Maya berkata pelan,
“Masuk dulu.”
Arga duduk di ruang tamu dengan gelisah.
Ibu Maya menuangkan segelas air.
“Arga… kalian sedang ada masalah?”
Arga menunduk.
“Saya tidak tahu.”
Ibu Maya menatapnya lama.
Lalu berkata dengan suara lembut,
“Maya sering datang ke sini beberapa bulan terakhir.”
Arga terkejut.
“Sering?”
Wanita itu mengangguk.
“Dia tidak pernah mengeluh tentang kamu.”
Arga merasa dadanya semakin sesak.
“Tapi… dia sering terlihat sedih.”
Arga menutup matanya.
“Mungkin aku terlalu sibuk…”
Ibu Maya menghela napas.
“Maya itu perempuan yang sabar.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Tapi orang yang paling sabar pun bisa lelah.”
Arga keluar dari rumah itu hampir tengah malam.
Ia berdiri di samping mobilnya.
Tidak tahu harus pergi ke mana lagi.
Ia mencoba menelepon Maya sekali lagi.
Kali ini…
Nada sambung berhenti.
Seseorang mengangkat telepon.
“Arga.”
Suara Maya.
Jantung Arga langsung berdebar kencang.
“Maya! Kamu di mana?”
Beberapa detik hening.
Lalu Maya menjawab pelan.
“Di stasiun.”
Arga langsung masuk ke mobilnya.
“Aku datang sekarang.”
Stasiun itu hampir kosong ketika Arga tiba.
Kereta terakhir akan berangkat dalam tiga puluh menit.
Arga berjalan cepat menyusuri peron.
Lalu ia melihatnya.
Maya duduk di bangku kayu.
Tas kecil di sampingnya.
Arga berhenti beberapa meter dari sana.
Maya menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Arga akhirnya mendekat.
“Kenapa kamu pergi?”
Maya menatap lantai.
“Aku cuma ingin melihat sesuatu.”
“Apa?”
Maya mengangkat matanya.
“Apakah kamu akan mencariku.”
Arga terdiam.
Air mata mulai muncul di mata Maya.
“Selama ini aku selalu merasa sendirian, Arga.”
Kata-katanya pelan.
Tapi terasa sangat berat.
“Kamu selalu sibuk.”
“Aku tahu kamu bekerja keras.”
“Tapi aku tidak pernah benar-benar merasa ada di hidupmu.”
Arga merasakan sesuatu menusuk di dadanya.
“Aku salah.”
Ia berkata dengan suara serak.
“Aku pikir aku melakukan semua ini untuk kita.”
Maya menggeleng.
“Aku tidak butuh rumah besar.”
“Aku tidak butuh mobil baru.”
Yang ia butuhkan hanya satu hal.
“Kamu.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Arga.
“Aku mencari kamu ke mana-mana malam ini.”
Maya menatapnya.
“Ke mana saja?”
Arga tersenyum pahit.
“Kafe tempat kita pertama bertemu.”
“Taman tempat aku melamarmu.”
“Rumah ibumu.”
Mata Maya perlahan melebar.
Arga melanjutkan,
“Aku baru sadar betapa banyak kenangan yang kita punya.”
Ia menarik napas dalam.
“Aku tidak mau kehilangan semua itu.”
Maya menatapnya lama.
Air mata juga mengalir di pipinya.
Arga mengambil cincin dari sakunya.
Cincin yang ia temukan di meja kamar.
“Aku tidak tahu apakah aku pantas memintanya lagi…”
Ia mengulurkan tangannya.
“Tapi kalau kamu masih mau… aku ingin memperbaiki semuanya.”
Beberapa detik terasa sangat lama.
Maya menatap cincin itu.
Lalu menatap Arga.
Perlahan…
Ia mengulurkan tangannya.
Arga memasang cincin itu kembali di jari Maya.
Kereta di kejauhan mulai berbunyi.
Namun Maya tidak berdiri.
Ia justru memeluk Arga erat.
“Jangan buat aku merasa sendirian lagi.”
Arga memeluknya lebih erat.
“Tidak akan.”
Malam itu…
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Arga benar-benar memahami arti pulang.