Pintu kayu jati itu terbuka lebar, dan dalam hitungan detik, Kinan sudah berada di pelukan Farah. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lolos dari maut. Di ruang tamu yang hangat dengan aroma lilin terapi dan tumpukan buku tugas, Kinan ambruk. Dia tidak bisa bicara. Lidahnya kelu, hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang pucat.
Farah dan dua teman lainnya, Amel dan Rara, segera mengerumuninya. Mereka memberikan segelas air hangat, namun tangan Kinan masih terlalu gemetar untuk memegangnya. Air itu tumpah sedikit ke celana jeans-nya—tepat di bagian paha yang tadi dielus oleh tangan kasar pria itu. Kinan tersentak, dia memukul-mukul pahanya sendiri dengan histeris, seolah-olah tangan pria itu masih menempel di sana, seolah-olah kuman-kuman dari kulit dekil itu sedang merayap masuk ke dalam dagingnya.
"Gila... dia... dia megang gue, Far," bisik Kinan dengan suara yang pecah. "Dia minta 'main'. Dia bilang gue jangan pelit. Dia maksa gue jadi pacarnya di jalan tadi. Gue... gue jijik banget, gue mau muntah!"
Mendengar itu, suasana hangat di ruangan itu seketika berubah menjadi dingin dan penuh amarah. Amel menutup mulutnya karena syok, sementara Rara langsung mengepalkan tinjunya. Farah memeluk Kinan lebih erat, mencoba menyalurkan kekuatan yang dia sendiri hampir kehilangan karena mendengar cerita menjijikkan itu.
"Malam ini lo nginep di sini, Nan. Jangan pulang. Gue nggak bakal biarin lo keluar dari rumah ini sendirian," tegas Farah. "Sialan, bener-bener binatang itu orang! Lo masih simpan datanya di aplikasi?"
Kinan mengangguk lemah. Dengan jari yang masih gemetar, dia membuka ponselnya. Layar yang retak itu menampilkan profil si pengemudi. Wajah pria itu di foto terlihat datar, seolah-olah dia adalah warga sipil biasa yang taat aturan. Namun, bagi Kinan, wajah itu sekarang adalah simbol dari segala hal yang paling memuakkan di dunia ini.
"Namanya si X. Motornya Supra lama. Plat nomornya..." Kinan tidak sanggup melanjutkan.
"Sini, biar gue yang urus," Rara mengambil ponsel Kinan. "Kita laporin sekarang juga ke pusat bantuan aplikasi. Jangan kasih ampun. Orang kayak gini kalau dibiarin bakal nyari mangsa lain. Dia merasa punya kuasa karena dia yang pegang kemudi, padahal dia cuma sampah!"
Mereka mulai mengetik laporan di aplikasi ojek online tersebut. Rara mengisi kolom pengaduan dengan detail yang tajam: pelecehan seksual secara fisik dan verbal, pemaksaan hubungan, dan ancaman keamanan. Mereka melampirkan tangkapan layar perjalanan yang sengaja dibuat berputar-putar oleh si pengemudi sebagai bukti bahwa ada niat jahat sejak awal.
Namun, melaporkan ke aplikasi saja tidak cukup. Rasa muak yang menyesak di dada Kinan tidak akan hilang hanya dengan notifikasi "Laporan Anda sedang diproses". Kinan ingin dunia tahu. Dia ingin perempuan lain waspada. Dia ingin pria itu merasa tidak punya tempat untuk bersembunyi.
"Gue mau posting ini di medsos," kata Kinan tiba-tiba, suaranya kini terdengar lebih dingin dan bertekad.
"Lo yakin, Nan? Nanti banyak netizen yang malah nyalahin lo karena pergi malem-malem," Amel memperingatkan dengan nada khawatir.
"Biarin! Mau siang atau malem, nggak ada orang yang berhak ngelecehin orang lain! Kalau gue diem, dia menang," sahut Kinan.
Kinan mulai menyusun utas di Twitter (X) dan membuat video pendek untuk TikTok. Dia tidak menampilkan wajahnya yang sedang menangis, melainkan tangkapan layar profil si driver, rute perjalanan yang aneh itu, dan sebuah teks panjang yang menceritakan setiap detil kejadian. Dia menuliskan bagaimana rasanya dipaksa menjadi pacar di tengah jalan yang gelap, bagaimana rasanya dibentak saat menolak, dan puncaknya, bagaimana tangan itu merayap di pahanya sambil mengucapkan kata-kata mesum yang merendahkan martabatnya sebagai manusia.
“Tolong hati-hati dengan driver ini. Dia bukan cuma nggak sopan, dia predator. Dia ngerasa paha gue adalah hak milik dia cuma karena gue bayar jasa ojeknya. Gue ngerasa kotor, gue ngerasa muak, dan gue nggak mau ada 'Kinan-Kinan' lain yang harus ngerasain tangan kotor dia di kulit mereka.”
Video itu diunggah dengan latar suara yang sunyi, hanya detak jantung yang terasa melalui teks yang muncul perlahan. Kinan menekan tombol post dengan sisa-sisa keberaniannya.
Malam itu, mereka berempat tidak tidur. Mereka duduk melingkar di atas karpet, menjaga satu sama lain. Setiap kali Kinan memejamkan mata, dia teringat bau kopi basi dan sorot mata merah pria itu. Dia terus mencuci pahanya dengan tisu basah sampai kulitnya memerah dan perih, mencoba menghilangkan sensasi elusan yang menjijikkan itu.
Menjelang subuh, ponsel Kinan mulai meledak dengan notifikasi. Video yang diunggahnya masuk ke dalam jajaran For Your Page (FYP). Utasnya di Twitter telah dibagikan puluhan ribu kali. Ribuan komentar masuk, mayoritas penuh dengan kemarahan yang sama.
"Gue juga pernah diginiin sama driver yang sama di daerah situ!" tulis salah satu netizen.
"Ya ampun, ini mah udah sering lewat situ tapi belum pernah ada yang berani lapor sedetail ini. Makasih kak udah speak up!"
"Pecat secara tidak hormat! Laporin polisi aja kak, ini udah pelecehan fisik!"
Kekuatan massa internet mulai bergerak. Netizen yang geram mulai menandai akun resmi aplikasi ojek online tersebut, menuntut pertanggungjawaban instan. Bahkan, beberapa orang berhasil menemukan akun Facebook pribadi si pria tersebut—Agus—yang penuh dengan foto-foto motornya dan status-status yang seolah-olah dia adalah pria yang tersakiti oleh wanita.
Siang harinya, pihak aplikasi ojek online menghubungi Kinan secara pribadi. Mereka menyatakan bahwa akun mitra pengemudi atas nama Agus telah diputus kemitraannya secara permanen (putus mitra) dan pria itu telah masuk ke dalam daftar hitam nasional sehingga tidak bisa mendaftar di aplikasi mana pun. Mereka juga menawarkan bantuan hukum dan pendampingan psikologis bagi Kinan.
Kinan membaca pesan itu di depan teman-temannya. Ada sedikit rasa lega, tapi rasa muak itu masih tersisa. Dia tahu, pria itu di luar sana mungkin sedang marah atau malah mencari cara lain untuk berbuat jahat. Namun, setidaknya, hari ini dia telah memotong satu taring dari monster jalanan itu.
"Nan, liat ini," Rara menunjukkan layar ponselnya. "Si Agus ini sempat bikin status di FB-nya sebelum akunnya hilang. Dia bilang 'Cewek zaman sekarang makin sombong, padahal cuma diajak kenalan baik-baik malah dituduh macem-macem'."
Kinan mendengus jijik. "Diajak kenalan baik-baik katanya? Sambil elus paha dan ngajak tidur? Itu definisi 'baik' versi dia? Benar-benar manusia sampah."
Farah memegang pundak Kinan. "Dia cuma berusaha ngebela diri karena dia tahu dia salah. Dia pengecut, Nan. Dia berani karena lo sendirian di tempat gelap. Begitu lo bersuara dan kita semua berdiri di belakang lo, dia nggak ada apa-apanya."
Kinan bersandar di bahu Farah, menatap ke luar jendela di mana matahari bersinar terang. Dia masih merasa trauma, dia mungkin tidak akan berani naik ojol sendirian dalam waktu yang lama, tapi setidaknya dia tidak membiarkan dirinya hancur dalam diam. Dia telah mengubah rasa muaknya menjadi senjata, dan hari ini, senjata itu telah mengenai sasarannya.
Kinan mengambil napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak kejadian malam itu, paru-parunya terasa sedikit lebih ringan. Dia tahu perjalanannya untuk sembuh masih panjang, tapi dia tidak akan lagi membiarkan kegelapan di jalanan membungkam suaranya.