Malam itu, Jakarta terasa seperti gumpalan aspal yang bernapas. Udaranya pekat, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh residu knalpot dan keputusasaan yang mengendap setelah hujan sore tadi. Kinan menatap layar ponselnya yang retak, memperhatikan ikon motor kecil berwarna hijau yang bergerak tersendat di peta digital. Sudah pukul sepuluh malam. Seharusnya dia tidak pergi, tapi tugas kelompok di rumah Farah tidak bisa menunggu. Deadline esok pagi adalah algojo yang lebih menakutkan daripada kegelapan di luar sana.
Sebuah motor bebek tua berhenti di depan gerbang kosannya. Bunyi mesinnya kasar, seperti batuk seorang perokok berat. Pengemudinya mengenakan jaket yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu kusam, helmnya baret-baret, dan aroma apak langsung menyambar indra penciuman Kinan begitu dia mendekat.
"Atas nama Kinan?" suara pria itu serak, terselip nada malas yang mengganggu.
"Iya, Pak. Ke Jalan Melati ya, yang di dekat TPU itu," jawab Kinan singkat sambil menaiki boncengan. Dia berusaha menjaga jarak, duduk di ujung jok agar tas ranselnya menjadi pembatas di antara mereka.
Motor itu menderu, meninggalkan lampu-lampu jalan yang terang menuju rute pintas yang disarankan aplikasi. Awalnya, perjalanan itu hanya diisi oleh angin yang menampar wajah. Namun, begitu mereka memasuki area pemukiman yang mulai sepi dengan penerangan jalan yang mati satu per satu, suasana berubah. Kinan mulai merasa tidak nyaman. Getaran motor itu aneh, dan si tukang ojek mulai mengatur spionnya—bukan untuk melihat kendaraan di belakang, tapi untuk menatap mata Kinan.
"Mbak, kok malem-malem sendirian aja? Nggak ada yang nemenin?" tanya si ojek tiba-tiba. Suaranya kini tidak lagi malas, melainkan terdengar penuh selidik yang dipaksakan ramah.
Kinan berdehem, mencoba terdengar tegas. "Mau ngerjain tugas, Pak. Temen-temen udah nunggu."
Pria itu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di kayu. "Zaman sekarang bahaya, Mbak. Cantik begini kalau hilang di jalan, sayang banget. Harusnya punya cowok yang bisa jagain. Biar nggak perlu pesen ojek sembarangan."
Kinan tidak menyahut. Dia hanya mengeratkan pegangan pada tali tasnya. Perasaan muak mulai merayap di tengkuknya. Dia benci basa-basi yang menjurus pada privasi, apalagi dari orang asing di tengah malam yang buta. Namun, si tukang ojek belum selesai. Dia justru sengaja memperlambat laju motornya saat mereka memasuki jalanan yang diapit oleh tembok-tembok tinggi dan pepohonan rimbun yang menutupi cahaya bulan.
"Gimana kalau sama saya aja?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Kinan mengernyit. "Maksudnya gimana, Pak?"
"Ya jadi pacar saya. Saya kan tiap hari narik, bisa anter jemput Mbak gratis. Nggak usah bayar aplikasi. Mbak cantik, saya juga butuh orang kayak Mbak buat diurusin," kata pria itu tanpa rasa malu. Nadanya datar, namun mengandung paksaan yang membuat perut Kinan mual.
"Pak, jangan bercanda. Fokus jalan aja, saya buru-buru," sahut Kinan, suaranya mulai bergetar karena emosi yang tertahan.
"Siapa yang bercanda? Saya serius. Mbak mau kan? Jawab dong, mau ya?" Pria itu justru melepaskan satu tangannya dari stang motor dan menepuk lutut Kinan sekilas.
Kinan tersentak, menggeser duduknya hingga hampir jatuh dari motor. "Pak! Jaga sopan santun ya! Saya ini penumpang!"
"Loh, saya kan nawarin baik-baik. Mbak jangan sombong. Perempuan itu kalau dikasih hati jangan minta jantung. Ayo, bilang mau. Kalau nggak bilang mau, kita muter-muter terus di sini. Saya tahu kok jalanan tikus di sini yang nggak ada orangnya," ancam pria itu. Dia mulai memacu motornya dengan ugal-ugalan, berbelok ke gang-gang sempit yang semakin gelap, sengaja membuat Kinan ketakutan agar bergantung padanya.
Sepanjang sisa perjalanan, pria itu terus meracau. Dia menceritakan betapa sepinya hidupnya, betapa dia butuh "wanita penurut" seperti Kinan, dan bagaimana dia merasa Kinan adalah jodoh yang dikirim Tuhan di malam itu. Setiap kali Kinan memprotes, pria itu akan membentak atau sengaja mengerem mendadak agar tubuh Kinan terdorong menabrak punggungnya yang bau. Rasa muak Kinan sudah sampai di ubun-ubun. Dia merasa seperti mangsa yang sedang dipermainkan sebelum diterkam. Amarah dan ketakutan bercampur menjadi satu cairan pahit di tenggorokannya.
Setelah apa yang terasa seperti keabadian dalam neraka berjalan, motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi tua. Rumah Farah. Cahaya lampu teras rumah itu adalah satu-satunya harapan Kinan. Dia segera turun, hampir melompat, ingin segera lari dari bau apak dan suara serak pria itu.
Kinan merogoh tasnya, mengambil uang dua puluh ribu dan melemparkannya ke jok motor. "Ini uangnya. Makasih."
Namun, pria itu tidak segera pergi. Dia mematikan mesin motor. Kesunyian yang tiba-tiba terasa lebih mencekam daripada suara mesin tadi. Pria itu membuka kaca helmnya, menampakkan mata yang merah dan senyum yang menjijikkan.
"Mbak, kok buru-buru banget?"
Kinan sudah memegang pagar, tangannya gemetar hebat. "Saya sudah sampai. Bapak silakan pergi."
Pria itu turun dari motornya. Dia melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman. Kinan mundur, punggungnya menabrak pagar besi yang dingin. Pria itu kini berada tepat di depannya, napasnya yang bau kopi basi menerpa wajah Kinan. Secara perlahan, tanpa rasa bersalah sedikit pun, pria itu mengulurkan tangan.
Tangannya yang kasar dan dekil itu mendarat di paha Kinan, mengelusnya dengan gerakan memutar yang lambat dan menjijikkan. Kinan membeku. Otaknya berteriak untuk lari, tapi kakinya terasa seperti semen.
"Mbak... tanggung kalau cuma sampai sini," bisik pria itu, suaranya merendah, penuh nafsu yang vulgar. "Kita 'main' sebentar yuk di dalam? Atau di pojokan sana yang gelap? Saya mau kayak gituan sama Mbak. Sekali aja. Mbak kan cantik, pasti enak. Jangan pelit-pelit lah sama rakyat kecil kayak saya."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Kinan. Elusan di pahanya itu terasa seperti ulat bulu yang merayap di kulitnya, meninggalkan jejak kotor yang tak bisa dihapus. Pelecehan itu terjadi begitu nyata, begitu berani, di bawah cahaya lampu teras yang remang-remang. Pria itu terus menatapnya, matanya menyisir tubuh Kinan seolah-olah dia adalah sepotong daging di pasar.
"Pak, pergi... atau saya teriak," bisik Kinan dengan suara yang nyaris hilang.
Pria itu justru tertawa, tangannya semakin berani merayap naik. "Teriak aja. Paling nanti saya bilang Mbak pacar saya yang lagi berantem. Siapa yang mau percaya sama Mbak malem-malem begini?"
Rasa mual itu memuncak. Kinan merasa ingin memuntahkan seluruh isi perutnya tepat ke wajah pria itu. Di tengah rasa takut yang melumpuhkan, sebuah kemarahan yang dingin mulai bangkit. Dia menyadari bahwa orang seperti ini tidak akan berhenti hanya dengan kata-kata.
Tepat saat tangan pria itu hendak meraih lebih jauh, pintu rumah Farah, terbuka dengan suara decit yang keras. Seorang pria bertubuh tambun, Pak Kasman, Ayahnya Farah, muncul dengan wajah mengantuk yang seketika berubah menjadi waspada.
"Kinan? Ada apa?"
Pria ojek itu terperanjat. Dia menarik tangannya secepat kilat, mundur dua langkah sambil memasang wajah polos yang dibuat-buat.
"Eh, nggak apa-apa Pak. Ini Mbaknya lupa ambil kembalian," katanya dengan nada suara yang tiba-tiba kembali menjadi "tukang ojek sopan". Dia dengan cepat naik ke motornya, menyalakan mesin, dan memacu kendaraannya pergi menghilang ke dalam kegelapan malam tanpa menoleh lagi.
Kinan jatuh terduduk di depan pagar, air matanya tumpah bukan karena sedih, tapi karena rasa jijik yang luar biasa. Dia mengusap pahanya berkali-kali dengan telapak tangannya, mencoba menghapus sensasi sentuhan pria tadi, namun rasanya kulit itu sudah terkontaminasi selamanya. Malam yang muak itu belum berakhir; bayangan tangan kasar dan suara serak itu akan terus menghantui setiap sudut gelap yang akan dia lalui nanti.