namaku lisa anak tertua dari 3 bersaudara. hidup dalam keluarga yang sederhana membuatku mandiri. selalu berusaha memenuhi semua kebutahan hidup dengan bekerja di dua tempat sekaligus. hari - hariku ku lalui seperti para gadis umumnya. hingga suatu malam aku merasa ada yang menyeretku ke suatu tempat di mana hanya ada cahaya yang suram hingga sulit untuk melihat jelas kearah manapun.
" bukannya aku tadi sedang mandi mengapa bisa berada di tempat seperti ini " ketakutan mulai menyelimuti ku.
sebuah tangan terasa memegang pundakku. dengan keberanian yang cukup aku mulai memegang tangan itu. sungguh tangan yang teramat dingin. bahkan tercium bau anyir dan amis darah. hanya diam membeku bahkan hanya untuk sekedar melangkahkan kakiku terasa sangat berat. telingaku mulai mendengar suara aneh. jeritan yang seakan merasa putus asa hingga tangisan.
" aku menunggumu. ulurkan tanganmu kita akan bersama selamanya " suara serak dengan nada yang tinggi.
tak ada perlawanan dariku. aku hanya mengikuti langkahnya dari belakang. mengamati sekelilingku yang penuh dengan sosok yang aneh. tidak ada satupun mahluk yang mendongakan kepala mereka. semuanya menunduk dan tanpa expresi apapun.
perasaan takut mulai menyelimuti pikiranku, bahkan dadaku terasa sesak untuk bernafas, seperti ada yang mencekik leherku.perlahan aku mulai sadar mungkinkah aku berada di tempat lain?
" hai... hai... kerja-kerja bengong melulu " tegur Lia sahabatku
" kok aku di sini ?" tanyaku
" terus kita mau dimana ? di pantai berjemur seperti kemarin " ucapnya
" kemarin, di pantai? " untuk kedua Kalinya aku bertanya dengan perasaan yang campur aduk. bukannya selama tiga hari ini aku berada di tempat yang bahkan tidak aku tau sama sekali.
*
Berada di dalam kamar dengan tidak menyalakan lampu. aku semakin di buat pusing dengan semua kejadian yang ahir-ahir ini membuatku seperti orang gila. mulai merasa ada yang selalu mengikuti. mengawasiku. serta penampakan orang mati yang kebanyakan ku kenal mereka. yang lebih parahnya mereka seakan ingin menarikku agar ikut bersama. tapi entah kemana?
" aku menunggu lebih dari 17 tahun. dan kini saatnya kita menjadi satu " bisikan yang ku dengar seakan nyata. aku menutup kedua telingaku, namun lebih berusaha aku menutupi lebih jelas suara itu ku dengar. dan aku mulai tidak tahan.
"aaaaaaaaaaa........" teriakkanku yang membuat kedua orang tuaku berlari menuju kamarku. melihat aku tersungkur di lantai dengan mengengam kedua tangan. bahkan mataku terlihat merah seakan penuh dengan amarah.
" ada apa? kamu kenapa? " tanya bapakku dengan kebingungan.
" pak, kenapa ini? " ibuku pun mulai merasa khawatir melihat keadaanku yang tidak seperti biasanya.
" bu. tangannya menggenggam dengan sangat erat, susah untuk di lepas "
" lah terus gimana ini pak? " ibuku mulai merasa kalut.
merasa tidak wajar dengan sikapku saat ini ibuku berlari menuju rumah saudaraku terdekat untuk minta tolong. sampai semuanya berkumpul di kamarku aku sedikit demi sedikit mulai tersandar saat mereka menyuruh untuk Istigfar. dan keadaan mulai terkendali.
aku tidak berangkat berkerja dengan alasan kurang enak badan. sehari penuh aku hanya terdiam membisu di dalam kamar. beberapa kali hp,ku berbunyi namun tak ada keinginan sama sekali untuk mengangkat telfon masuk. ibu ku pun sering masuk dan menawarkan makan dan sgala hal. tapi sedikit pun aku tidak menggubrisnya.
terdengar azan magrib yang bersahutan dari beberapa Masjid yang ada di lingkungan Desaku.
hati semakin kacau mengetahiu hari mulai gelap.
namun berusaha untuk tetap tenang dengan duduk meringkuk di tempat tidur.
" makan yuk ?seharian tidak makan nanti sakit " bujuk bapakku.
tak menjawab apapun. aku hanya keluar dari kamar dan menuju ke dapur. kedua adikku yang melihatku dengan pandangan aneh membuat amarah yang tidak dapat ku bendung.
" Bodoh tundukkan kepalamu " bentakku pada mereka dengan suara seperti seorang lelaki. keduanya berlari tidak menyelesaikan makan.
bapakku langsung meraih tanganku dan memelukku.
" kita duduk di depan yuk " ajaknya kemudian
aku hanya menurut saja. di ruang tamu sudah menunggu sesosok Lelaki yang cukup tampan berumur 23 tahun. pandangan mata yang ramah ku balas dengan rasa benci seakan ingin mencekiknya. perlahan aku mulai menguasai tubuhku lagi. membuka genggaman tangan yang membuatku syok. kedua tanganku mengenggam belatung dibasahi darah segar. yang tak di lihat orang lain tapi pemuda itu sepertinya juga melihat apa yang ku lihat, membuatku berteriak sekencang mungkin.
pemuda itu langsung menarikku dan mengusap rambutku. terdengar samar seperti membaca doa.
" kita hanya bisa menunggu. apakah bisa di pisahkan atau tidak " ucapnya saat mengetahui keadaanku.
" maksud nak Ali ?" ibuku langsung bertanya
" ini bawaan dari salah satu keluarga, tapi dari mana asalnya saya juga kurang paham. yang terpenting sekarang kita mencari cara untuk yang terbaik "
penjelasan tadi membuat tubuh ibu lemas. bapakku pun juga tidak dapat berkata apa-apa. keduanya seakan pasrah dengan apa yang terjadi.
Dua hari sudah berlalu, belum ada perubahan dariku. hanya saja aku merasa sedikit tenang bila ada pemuda itu di rumah. tapi bila dia pulang aku seperti tertekan. bahkan mahluk itu lebih sering menampakan wujudnya yang ternyata juga seorang lelaki.
" bagaimana nak Ali? apa sudah ketemu caranya "
" selama tujuh hari ini, saya melakukan sholat Istihoro, saya sebenarnya juga sangsi. saya takut bapak salah dalam mengartikan maksud saya " wajahnya terlihat sangat serius.
" katakan saja, insyaallah bila itu yang terbaik kita bisa menerima " jawab bapakku di sambung anggukan kepala oleh ibuku
" Nikahkan segera putri bapak dan ibu "
" tapi dengan siapa? memang banyak pemuda yang datang. tapi Lisa slalu berkata mereka hanyalah temannya " bapakku merasa sangat binggung.
" kita tidak punya banyak waktu, sebelum hari kelahirannya "
orang tuaku semakin binggung karena batas waktu yang tidak genap satu bulan. siapa yang akan menjadi calonku kelak?
" Biarkan saya yang menjadi calonnya. bila ibu dan bapak tidak menolak " tiba-tiba Ali mengatakan hal di luar dugaan. namu bila melihat waktu yang di tentukan sudah kurang dari 2 minggu. ahirnya kedua orang tuaku setuju dan mempersiapkan pernikahan sederhana untukku.
Hari senin, tanggal 12 desember 2020 , aku resmi di nikahi oleh orang yang bernama MUH, Ali Syakieb.
apakah mahluk itu tidak mengikutiku lagi ? Dia tetap mengikutiku kemana langkah kakiku berjalan, namun dia tidak berani mendekatiku hanya menampakan wujudnya dari jauh. dan suamiku adalah satu-satunya tembok yang dapat memberi jarak antara aku dan mahluk yang bernama KHOLIL.