Hujan di Lembang tidak pernah sekadar turun; ia jatuh seolah-olah langit sedang tumpah. Malam itu, Sapu Lidi diselimuti kabut tebal yang merangkak dari permukaan danau, menelan cahaya lampu temaram yang berayun ditiup angin kencang. Gemericik air bukan lagi suara yang menenangkan, melainkan bisikan riuh yang memenuhi rongga telinga.
Aku mengeratkan pegangan pada payung hitam yang seolah hendak terbang. Di sampingku, Bayu menarik koper kami dengan napas yang memburu. Kami baru saja menikah tiga hari yang lalu. Ini adalah malam pertama honeymoon kami, sebuah pelarian yang kami impikan di tengah kepenatan resepsi yang menguras energi. Namun, suasana romantis yang aku bayangkan—makan malam lilin dengan latar riak air yang tenang—sirna ditelan cuaca buruk.
"Mas, masih jauh?" tanyaku, suaraku nyaris hilang ditelan bunyi hujan yang menghantam atap bambu.
"Sebentar lagi, Han. Kata staf tadi, kamar kita memang agak masuk ke dalam. Paling ujung supaya privat," jawab Bayu. Ia mencoba tersenyum, meski aku tahu dia kelelahan.
Kami melewati jalan setapak dari kayu yang licin. Di kanan-kiri, pohon-pohon tinggi meliuk-liuk seperti raksasa yang sedang kesakitan. Sampai akhirnya, kami tiba di depan sebuah gerbang kayu besar yang berdiri sendiri. Tidak ada bangunan lain di sekitarnya. Sejauh mata memandang ke belakang, hanya ada kegelapan jalan yang baru saja kami lalui. Di depan gerbang itu, sebuah papan kecil bertuliskan nomor kamar kami bergoyang hebat.
Bayu mendorong gerbang itu. Bunyi derit kayunya yang panjang membuat kudukku meremang. Begitu masuk, kami disambut oleh sebuah pondok kayu yang megah namun terasa sunyi. Benar-benar sunyi. Di depan teras pondok itu, danau terbentang luas. Dalam kegelapan malam dan guyuran hujan, permukaan air itu tampak seperti tinta hitam yang pekat, menelan cahaya apa pun yang mencoba memantul di sana.
"Wah, bener-bener sendirian kita di sini," gumam Bayu sambil membuka pintu kamar.
Aku melangkah masuk, merasakan aroma kayu lembap dan melati yang menyengat. Kamar ini indah, sangat luas dengan kelambu putih yang menjuntai di atas tempat tidur besar. Namun, entah mengapa, luasnya ruangan ini justru membuatku merasa kecil dan terekspos. Dinding kaca besar di depan tempat tidur langsung menghadap ke danau. Tanpa tirai yang tertutup rapat, aku merasa seolah-olah kegelapan di luar sana sedang memerhatikan kami.
"Aku mandi duluan ya, Mas. Dingin banget," kataku sambil menggigil.
Bayu mengangguk, ia sibuk menyalakan pemanas air. Saat aku berada di bawah pancuran air hangat, aku mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh. Ini honeymoon, Hana. Harusnya kamu bahagia. Tapi, setiap kali bunyi petir menggelegar, aku merasa pondok ini bergetar. Dan di antara suara hujan, aku seperti mendengar suara lain. Suara seretan sesuatu di atas kayu teras. Sret... sret...
Aku mematikan pancuran. Hening. Hanya ada suara hujan. Mungkin itu hanya dahan pohon yang jatuh, pikirku menenangkan diri.
Selesai mandi, aku keluar dengan handuk melilit rambut. Bayu tidak ada di tempat tidur. Pintu kaca menuju teras sedikit terbuka, membiarkan angin dingin masuk ke dalam kamar. Jantungku berdegup kencang.
"Mas?" panggilku.
Tidak ada jawaban. Aku berjalan menuju pintu kaca. Di luar, di bawah remang lampu teras, aku melihat Bayu berdiri mematung di pinggir dermaga kecil yang menjorok ke danau. Ia tidak memakai payung. Tubuhnya basah kuyup.
"Mas Bayu! Ngapain di situ? Nanti sakit!" teriakku.
Ia tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke tengah danau yang gelap. Aku memberanikan diri melangkah ke teras. Hawa dingin langsung menusuk tulangku. Saat aku hampir menyentuh bahunya, Bayu berbalik dengan perlahan. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu.
"Han, kamu dengar itu?" bisiknya.
"Dengar apa? Ayo masuk, Mas. Kamu basah semua!"
"Ada yang manggil di tengah danau. Suaranya mirip Ibuku," katanya pelan, nyaris seperti igauan.
Darahku serasa berhenti mengalir. Ibu Bayu sudah meninggal dua tahun lalu. Aku menarik lengannya dengan paksa, membawanya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kaca rapat-rapat. Aku menyelimutinya dengan selimut tebal, memberinya teh hangat yang ada di meja. Bayu hanya diam, pandangannya kosong.
Malam semakin larut, namun kantuk tak kunjung datang. Kami berbaring di bawah kelambu, saling berpelukan. Bayu sudah mulai tenang, meski napasnya masih terasa berat. Saat aku hampir terlelap, suara itu muncul lagi. Kali ini bukan di teras. Suara itu berasal dari *bawah* lantai kayu kami.
Tok... tok... tok...
Ketukan pelan, berirama, seolah-olah ada seseorang yang berada di kolong pondok dan mencoba meminta izin untuk masuk. Aku memejamkan mata erat-erat. "Itu cuma air danau yang nabrak tiang pondok," bisikku dalam hati, meski aku tahu ketukan itu terlalu sengaja untuk disebut kebetulan.
Tiba-tiba, Bayu terbangun. Ia duduk tegak, matanya menatap ke arah ujung tempat tidur.
"Han, siapa itu?" bisiknya dengan suara gemetar.
Aku ikut melihat ke arah yang ditunjuknya. Di sudut ruangan yang gelap, di dekat lemari kayu tua, aku melihat bayangan hitam yang lebih pekat dari kegelapan malam. Bayangan itu berbentuk menyerupai manusia, namun sangat kurus dan tinggi. Ia hanya diam di sana, berdiri mematung.
Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku seolah terkunci. Aku mencoba meraih ponsel di nakas, tapi tanganku kaku. Bayangan itu mulai bergerak. Bukan berjalan, tapi bergeser pelan mendekati kelambu tempat tidur kami.
"Pergi..." bisik Bayu. "Pergi!"
Suara Bayu meningkat menjadi teriakan. Pada saat yang sama, sebuah kilat menyambar di luar, menerangi seluruh isi kamar selama satu detik. Dalam kilatan cahaya itu, aku melihatnya dengan jelas. Bukan bayangan hitam, melainkan seorang wanita dengan pakaian yang koyak-moyak, rambutnya panjang menjuntai menutupi wajah yang hancur, dan ia basah kuyup seolah-olah baru saja merangkak keluar dari dasar danau.
Lampu kamar tiba-tiba padam. Gelap total.
Dalam kegelapan itu, aku merasakan tempat tidur kami amblas di satu sisi, seolah-olah ada beban berat yang ikut naik ke atas kasur. Bau busuk air danau dan bau anyir darah menyeruak memenuhi indra penciumanku. Sesuatu yang dingin dan basah menyentuh kakiku.
Aku menjerit sekuat tenaga, sebuah jeritan yang memecah keheningan malam di Sapu Lidi.
"Hana! Hana, bangun!"
Aku tersentak. Cahaya matahari pagi menyeruak masuk melalui celah-celah gorden yang tidak tertutup rapat. Aku mendapati diriku bersimbah keringat dingin, napas tersengal-sengal. Bayu ada di depanku, wajahnya tampak sangat khawatir.
"Kamu mimpi buruk? Kamu teriak kencang banget," kata Bayu sambil mengusap keningku.
Aku melihat sekeliling. Kamar itu rapi. Tidak ada bau busuk, tidak ada genangan air. Di luar, danau tampak tenang dan indah, permukaannya berkilau terkena sinar matahari pagi. Burung-burung berkicau, dan kabut semalam telah hilang.
"Aku... aku mimpi ada perempuan di kamar ini, Mas. Dia basah, dia dari danau..." ceritaku dengan suara parau.
Bayu memelukku erat. "Hanya mimpi, Han. Mungkin karena kita kecapekan dan suasana semalam emang agak seram karena hujan deras. Udah, yuk, kita sarapan. Habis itu kita check out kalau kamu merasa nggak nyaman di sini."
Aku mengangguk, merasa sedikit lega. Mungkin benar, itu hanya manifestasi dari kelelahan dan rasa takutku pada kegelapan. Aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Namun, langkahku terhenti tepat di depan pintu kaca menuju teras.
Di sana, di atas lantai kayu yang bersih, terdapat sederet jejak kaki basah. Jejak kaki kecil, seperti milik seorang wanita, yang mengarah dari pintu kaca menuju ke arah tempat tidur kami. Jejak itu masih tampak baru, airnya bahkan belum menguap sepenuhnya.
Aku menoleh ke arah Bayu yang sedang merapikan koper di dekat tempat tidur. Di bagian bawah selimut putih yang kami gunakan semalam, terdapat noda lumpur hitam yang besar dan basah.
Rasa mual menghantamku. Aku menatap keluar, ke arah danau yang tampak begitu tenang dan damai. Di tengah danau, aku melihat sesuatu yang terapung pelan. Sebuah benda putih kecil. Saat aku menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatan, jantungku seolah copot.
Itu adalah seikat bunga melati yang diikat dengan pita merah—sama persis dengan buket bunga pengantin yang aku bawa semalam dan aku letakkan di atas meja rias. Namun sekarang, buket itu hancur, terombang-ambing di tengah air hitam yang dalam.
"Mas... kita pergi sekarang," bisikku.
Bayu melihat jejak kaki itu. Ia terdiam. Wajahnya yang tadi mencoba tenang kini berubah pucat. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar tas kami dan menggandeng tanganku keluar dari kamar itu. Kami berlari melewati gerbang kayu yang menyendiri, melewati jalan setapak yang kini terasa asing, tanpa berani menoleh ke belakang.
Sapu Lidi tetap tenang di belakang kami, menyimpan rahasia di balik riak danau dan desir bambu, sementara aku tahu, ketenangan itu hanyalah topeng bagi sesuatu yang masih menunggu di bawah sana. Sesuatu yang ikut tidur di antara kami semalam.
---