Setelah penipuan itu, si laki-laki itu merasa menang. Dia melihat saldo rekeningnya bertambah, sementara Rosia ditinggalkan dalam puing-puing kehancuran. Dia merasa cerdik, merasa tak tersentuh karena ada Resna Revitita di sampingnya yang selalu setia membela, dan anak perempuannya yang tumbuh tanpa tahu ayahnya adalah seorang pencuri harapan orang lain.
Namun, karma tidak bekerja seperti kilat yang menyambar seketika; ia bekerja seperti rayap. Pelan, sunyi, tapi merobohkan segalanya dari dalam.
Tahun-tahun berlalu. Si laki-laki ini mulai membangun "kerajaannya" dari uang haram itu. Tapi, satu per satu mulai retak. Bisnis yang ia bangun dengan fondasi penipuan mulai digerogoti pengkhianatan dari orang kepercayaannya sendiri—persis seperti yang ia lakukan pada Rosia. Ia merasakan perihnya dikhianati saat ia merasa di puncak.
Lalu, tibalah ujian sesungguhnya: Kesetiaan.
Resna, sosok yang ia banggakan sebagai pelabuhan terakhirnya, mulai berubah. Saat uang mulai menipis dan nama baik suaminya hancur karena skandal yang terungkap ke publik, Resna tidak bertahan. Cinta yang dibangun di atas tumpukan kebohongan ternyata rapuh.
Rosia benar—kesetiaan itu hanya sebatas selama ada keuntungan. Di titik terendah suaminya, Resna pergi meninggalkan luka yang lebih dalam dari sekadar materi.
Tapi yang paling menghancurkannya adalah saat ia melihat putri kesayangannya.
Putrinya tumbuh dewasa menghadapi dunia yang keras.
Suatu hari, sang anak pulang dengan tangisan yang membelah jantung ayahnya. Ia ditipu, dipermalukan, dan dikhianati oleh laki-laki yang sangat ia percayai. Sang ayah melihat pantulan Rosia di mata anaknya sendiri. Ia sadar, doa-doa orang yang ia sakiti dulu telah menemukan jalannya pulang.
Si laki-laki itu kini menua dalam kesepian. Setiap kali ia melihat cermin, ia tidak melihat seorang pemenang, melainkan seorang pengecut yang telah menghancurkan masa depan darah dagingnya sendiri karena keserakahannya di masa lalu.
Sementara itu, Rosia Natasha? Dia tidak lagi menoleh ke belakang. Luka itu memang meninggalkan bekas, tapi bekas luka itu kini menjadi tameng baja. Dia bangkit, jauh lebih kuat dan lebih bersinar, karena dia tahu bahwa pada akhirnya, langit tidak pernah tidur.