Lebaran di rumah Eyang adalah medan perang yang lebih mengerikan daripada seleksi CPNS atau antrean promo sepatu diskon 90%. Bukan karena opor ayamnya yang kolesterolnya bisa bikin pembuluh darah nyanyi lagu "Kandas", tapi karena keberadaan Bude Ratna.
Bude Ratna adalah varian manusia yang tampaknya memiliki gelar S3 dalam bidang "Intervensi Masa Depan Orang Lain". Beliau punya kemampuan radar luar biasa untuk mendeteksi siapa saja keponakannya yang sudah lulus kuliah, sudah bekerja, tapi belum menggandeng makhluk bernyawa ke rumah. Dan tahun ini, target utamanya adalah aku, Arini, yang baru genap berusia 20 tahun.
Pagi itu, suasana ruang tamu sebenarnya cukup damai. Aroma ketupat beradu dengan wangi kue nastar yang baru keluar dari oven. Aku sedang asyik menyesap sirup cocopandan merah yang manisnya bisa bikin diabetes minder, sampai tiba-tiba bayangan besar menutupi cahaya matahari dari jendela.
"Arini... Ya ampun, ini Arini yang dulu suka ingusan itu ya?"
Suara melengking itu. Suara yang lebih tajam dari silet cukur bapak. Aku menoleh perlahan, memasang senyum formalitas yang sudah kulatih di depan cermin selama tiga hari.
"Iya, Bude. Selamat Lebaran, mohon maaf lahir batin," kataku sambil berusaha menyalami tangannya yang penuh dengan cincin batu akik sebesar telur puyuh.
Bude Ratna tidak menjawab salamku. Beliau malah memutar badanku, melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan seperti juri Miss Universe yang sedang bad mood.
"Wah, kamu sudah besar ya. Sudah 20 tahun kan? Kok masih sendiri aja? Itu si Sari, anaknya Pak RT sebelah, umurnya baru 19 sudah tunangan sama sersan. Kamu buruan nikah, Arin! Kamu sudah besar. Kalau nggak sekarang, mau kapan lagi? Memangnya kamu mau jadi perawan tua?"
Suara Bude Ratna menggema di ruang tamu yang tiba-tiba hening. Sepupu-sepupuku yang lain langsung pura-pura sibuk menghitung butiran wijen di kue onde-onde. Bapak yang sedang baca koran langsung pura-pura batuk, sementara Ibu mendadak sangat tertarik mempelajari pola serat kayu di meja jati.
Aku menarik napas panjang. Kalimat "perawan tua" di usia 20 tahun itu rasanya seperti dibilang "fosil" padahal baru lahir kemarin sore. Tapi Bude Ratna belum selesai. Beliau melanjutkan dengan volume suara yang naik dua desibel.
"Perempuan itu kalau sudah lewat masanya, nggak ada yang mau, Rin. Jangan pilih-pilih. Pokoknya tahun depan Bude mau lihat kamu bawa calon. Malu Bude lihat keponakan secantik ini tapi nggak laku-laku. Jangan sampai jadi perawan tua, amit-amit!"
Aku melirik ke arah Siska, anak bungsu Bude Ratna yang duduk di pojok ruangan. Siska memakai kaftan lebar yang modelnya agak janggal, menutupi perutnya yang entah kenapa terlihat lebih "makmur" daripada biasanya, padahal Lebaran baru saja dimulai. Siska langsung memalingkan wajah, sibuk main HP dengan tangan gemetar.
Sumbu kesabaranku yang memang pendek seperti sumbu petasan cabe rawit akhirnya mencapai titik ledak. Aku meletakkan gelas sirupku dengan bunyi klunting yang dramatis di atas meja kaca.
Aku tersenyum sangat manis, manis sekali, sampai-sampai kalau ada lebah lewat pasti mereka akan pingsan karena kelebihan glukosa.
"Gak apa-apa, Bude, kalau saya jadi perawan tua," kataku dengan nada tenang namun setiap katanya ditekan kuat-kuat. "Asal saya nggak hamil duluan kayak anak Bude."
JEDERRRR!
Hening. Sunyi sesunyi kuburan di malam Jumat Kliwon. Suara kunyahan kerupuk Bapak mendadak berhenti di tengah jalan, menyisakan bunyi krek yang canggung. Bude Ratna mematung. Wajahnya yang tadi merah karena semangat menceramahiku, kini berubah warna menjadi putih pucat, lalu biru, lalu ungu, mirip fitur gradasi di aplikasi edit foto.
Cincin batu akik di jarinya bergetar. "Ka... kamu bicara apa, Arin?"
"Loh, kan Siska sudah masuk bulan kelima ya, Sis?" tanyaku sambil menatap Siska dengan wajah polos tanpa dosa. "Model kaftannya bagus banget, Bude. Pinter milihnya, bisa nutupi perut yang 'nyembul' itu. Tapi kalau duduknya miring gitu, kelihatan loh dedek bayinya lagi stretching."
Siska langsung menjatuhkan HP-nya ke lantai. Prang! Layarnya retak, sedalam retakan harga diri Bude Ratna saat itu juga.
Bude Ratna megap-megap seperti ikan mas yang dikeluarkan dari akuarium. Matanya melotot ke arah Siska, lalu kembali ke arahku. Seluruh anggota keluarga yang tadi pura-pura tuli, sekarang mendadak punya pendengaran setajam kelelawar. Mereka semua menoleh ke arah Siska.
"Siska! Apa yang dibilang Arini benar?!" pekik Bude Ratna, suaranya naik menjadi oktaf paling tinggi yang pernah didengar manusia.
Siska menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan jilbabnya. "Maaf, Ma... Siska khilaf pas malam tahun baru kemarin..."
Suasana Lebaran yang harusnya penuh maaf-maafan berubah jadi acara reality show bongkar rahasia. Bude Ratna yang tadinya adalah "Singa Podium Urusan Jodoh Orang Lain" mendadak berubah jadi "Kucing Basah Urusan Rumah Tangga Sendiri". Beliau langsung menyeret Siska keluar rumah dengan kecepatan cahaya, meninggalkan piring opor yang bahkan belum sempat dicicipi.
Eyang, yang dari tadi diam sambil memegang tasbih, tiba-tiba berdeham.
"Arin," panggil Eyang.
Aku menelan ludah. Waduh, apa aku keterlaluan ya? "Iya, Eyang?"
Eyang menatapku tajam, lalu perlahan sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang berkerut. Beliau merogoh saku bajunya, mengeluarkan amplop merah tebal yang biasanya hanya diberikan kepada cucu yang sudah punya anak.
"Ini buat kamu. Bonus karena sudah bikin Bude Ratna diam. Eyang sudah capek dengar dia pamer anak-anaknya yang 'sempurna' itu selama sepuluh tahun terakhir," bisik Eyang sambil mengedipkan mata.
Bapak dan Ibu yang tadinya tegang, langsung meledak tertawa. Bapak sampai tersedak biji selasih dari es buahnya.
"Gila kamu, Rin. Berani banget," kata kakakku, memukul bahuku pelan sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Gue aja nggak berani bilang gitu meski gue tahu Siska sering main ke hotel."
Malam itu, grup WhatsApp keluarga besar mendadak sepi sesepi kota mati. Tidak ada lagi kiriman stiker "Kapan Nikah?" atau ucapan motivasi dari Bude Ratna. Aku duduk santai di teras rumah, menikmati sisa nastar sambil menatap bintang-bintang.
Lebaran tahun ini memang luar biasa. Aku tetap jomblo, tetap berusia 20 tahun, dan mungkin tetap dicap "perawan tua" oleh sebagian orang. Tapi satu hal yang pasti: setidaknya aku tidak perlu repot-repot membelikan baju bayi di hari Lebaran.
Pelajaran berharga hari ini: Jangan pernah memancing keributan dengan keponakan yang punya akses ke rahasia gelapmu, terutama di hari Lebaran, karena "Maaf Lahir Batin" tidak berlaku untuk serangan balik yang menghancurkan reputasi dalam lima detik.
Aku pun tertidur pulas dengan amplop tebal dari Eyang di bawah bantal, sambil membayangkan wajah Bude Ratna yang mungkin sedang sibuk menghitung hari menuju persalinan anaknya sendiri. Sungguh, Lebaran paling berkesan sepanjang masa.
---