Suara riuh rendah penonton di Stadion Utama masih terngiang di telinga Elara, namun kini suara itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinganya. Di balik panggung yang megah, di dalam ruang ganti yang dipenuhi buket bunga layu dan aroma parfum mahal yang memuakkan, Elara duduk meringkuk. Gaun payet peraknya, yang dua jam lalu berkilauan di bawah lampu sorot, kini terasa seperti zirah besi yang mencekik napasnya.
Di atas meja rias, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak seperti bangkai. Surat gugatan. Kata-kata di dalamnya lebih tajam dari sembilu: *Pelanggaran Hak Cipta*, *Tunggakan Royalti*, *Gugatan Perdata 50 Miliar Rupiah*. Nama yang menggugatnya adalah Satria, sahabat masa kecilnya, lelaki yang menuliskan lagu "Napas Terakhir" di teras rumah kontrakan mereka sepuluh tahun lalu. Lagu yang melambungkan nama Elara ke langit bintang, namun kini menjadi tali gantungan yang siap menjerat lehernya.
"Aku tidak tahu, Sat... Demi Tuhan, aku tidak tahu," bisik Elara pada bayangannya sendiri di cermin yang retak. Matanya merah, kantung matanya menghitam, kontras dengan riasan *bold* yang belum sempat ia hapus.
Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Bukan Satria yang datang, melainkan Bram, manajernya selama delapan tahun terakhir. Pria itu masuk dengan langkah tegap, cerutu mahal terselip di jemarinya, dan wajah yang menampilkan keprihatinan palsu yang begitu sempurna hingga membuat Elara mual.
"Sudah kubilang, El, jangan baca surat itu sekarang. Fokus saja pada konser turmu. Masalah hukum itu urusanku," kata Bram dengan suara bariton yang menenangkan, namun di telinga Elara, suara itu kini terdengar seperti desis ular.
Elara bangkit, kakinya gemetar. "Urusanmu? Bram, Satria bilang dia tidak menerima sepeser pun royalti selama lima tahun terakhir. Lima tahun! Dia bilang rumah ibunya disita bank karena dia tidak bisa membayar cicilan. Bagaimana mungkin? Setiap bulan aku menandatangani laporan keuangan yang menyatakan royalti pencipta sudah dibayarkan!"
Bram mengembuskan asap rokoknya ke udara, menutupi wajahnya dalam kabut kelabu. "Satria itu serakah, El. Dia melihatmu sukses dan dia ingin bagian yang lebih besar. Laporan yang kau tanda tangani itu valid. Mungkin dia saja yang boros dan main judi."
"Jangan bohong padaku!" teriak Elara, suaranya pecah. "Aku pergi ke alamat kantor akuntan yang kau berikan bulan lalu. Kantor itu tidak ada, Bram! Itu hanya ruko kosong di pinggiran kota! Ke mana larinya uang itu? Ke mana larinya 40% dari setiap tiket yang terjual, setiap *streaming*, setiap lisensi iklan?"
Hening menyergap. Wajah Bram yang tadinya tenang perlahan berubah. Topeng keprihatinannya luruh, menyisakan seringai dingin yang membuat darah Elara membeku. Bram mematikan cerutunya di atas buket bunga mawar putih pemberian penggemar.
"Kau ingin tahu ke mana uangnya?" Bram melangkah mendekat, mengintimidasi. "Uang itu ada di aset-aset atas namaku di luar negeri. Uang itu yang membiayai gaya hidupmu yang mewah, jet pribadimu, dan gaun-gaun sampah yang kau pakai ini. Tapi bedanya, namamu yang tertera di kontrak dengan Satria. Secara hukum, *kau* yang berutang padanya. Bukan aku."
Elara merasa isi perutnya bergejolak. Rasa mual yang hebat menghantamnya. "Kau merampokku... Kau mengadu domba aku dengan satu-satunya orang yang tulus padaku."
"Aku tidak merampokmu, El. Aku memanen hasil kerja keras kulihat. Tanpa aku, kau hanya gadis desa yang bernyanyi di hajatan. Aku yang membentukmu. Jadi wajar jika aku mengambil upahku," Bram tertawa kecil, suara yang paling menjijikkan yang pernah didengar Elara. "Dan sekarang, saat kapal ini mulai tenggelam karena gugatan Satria, aku sudah punya sekoci. Semua rekening perusahaan atas namamu sudah kukosongkan pagi ini. Selamat menikmati kehancuranmu, Sang Diva."
Bram keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Elara dalam kehancuran yang mutlak. Elara jatuh terduduk di lantai yang dingin. Ia ingin menangis, tapi air matanya seolah sudah kering oleh api kemarahan dan pengkhianatan.
Malam itu, dunia Elara runtuh secara publik. Berita tentang gugatannya meledak di media sosial. Tagar #ElaraPencuriLagu menjadi *trending*. Orang-orang yang tadi sore memuja namanya di stadion, kini menghujatnya sebagai kacang yang lupa pada kulitnya. Mereka tidak tahu bahwa di balik dinding rumah gedongannya, Elara bahkan tidak punya uang untuk membeli sebotol air mineral karena semua kartu kreditnya diblokir.
Minggu-minggu berikutnya adalah neraka. Elara mengalami depresi berat. Setiap kali ia mendengar lagunya sendiri diputar di radio, ia ingin berteriak dan menghancurkan benda itu. Lagu yang dulu ia nyanyikan dengan penuh cinta, kini terdengar seperti kutukan. Ia mulai mengalami halusinasi; ia merasa melihat Satria berdiri di pojok kamarnya dengan wajah penuh luka, menanyakan di mana uang untuk pengobatan ibunya.
Puncaknya adalah saat sidang pertama. Elara datang dengan pakaian hitam polos, wajahnya tertutup kacamata besar. Di seberang meja, duduk Satria. Lelaki itu tampak sangat kurus, jaketnya lusuh, dan matanya memancarkan kebencian yang murni.
"Kenapa, El? Kenapa kau setega itu?" bisik Satria saat mereka berpapasan di koridor pengadilan.
Elara ingin memeluknya, ingin menjelaskan bahwa dia juga dirampok, bahwa dia juga korban. Namun, mulutnya terkunci oleh rasa malu yang teramat sangat. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa dia begitu bodoh hingga membiarkan seorang manajer mengendalikan seluruh hidupnya?
Di tengah tekanan mental yang luar biasa, Elara mulai kehilangan suaranya. Secara medis, dokter menyebutnya *psychogenic aphonia*—kehilangan suara akibat trauma psikis. Sang Diva kini tidak bisa berbicara, apalagi bernyanyi. Media massa merayakan kejatuhannya dengan tajuk berita: "Keadilan Langit: Pencuri Lagu Kehilangan Suaranya".
Elara meringkuk di apartemen kecilnya yang belum sempat disita. Ia menjual semua perhiasannya hanya untuk makan dan membayar pengacara yang tersisa. Suatu malam, di tengah kegelapan, ia menemukan sebuah buku catatan kecil di dasar koper lamanya. Buku itu berisi coretan tangan Bram—catatan rahasia tentang aliran dana ke rekening-rekening gelap. Ternyata Bram cukup ceroboh untuk meninggalkan jejak kecil itu saat mereka terburu-buru pindah hotel setahun lalu.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Elara menyerahkan bukti itu kepada pihak berwajib. Namun, proses hukum berjalan lambat, sementara publik sudah telanjur menjatuhkan vonis mati pada karakternya. Bram menghilang, kabur ke negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi, membawa lari semua harta Elara dan hak-hak Satria.
Elara merasa hidupnya sudah berakhir. Ia berdiri di balkon apartemennya di lantai dua belas, menatap lampu-lampu kota yang dulu tampak seperti panggungnya, namun kini terasa seperti lubang hitam yang siap menelannya. Ia merasa tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Ia dibenci sahabatnya, dikhianati orang kepercayaannya, dan ditinggalkan oleh penggemarnya.
Namun, di titik nadir itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel lamanya. Dari Satria.
*“Aku melihat berita tentang bukti yang kau serahkan. Pengacaraku bilang kau juga tidak punya apa-apa lagi. El... kenapa kau tidak bicara padaku sejak awal?”*
Air mata Elara tumpah. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa ada sedikit ruang untuk bernapas. Ia membalas pesan itu dengan tangan gemetar. *“Karena aku terlalu malu, Sat. Aku kehilangan suaraku, tapi yang paling menyakitkan adalah aku kehilangan kepercayaanmu.”*
Keesokan harinya, Satria datang. Mereka duduk di lantai apartemen Elara yang kosong tanpa furnitur. Tidak ada amarah, hanya ada dua manusia yang hancur oleh keserakahan pihak ketiga. Satria menceritakan bagaimana ibunya akhirnya meninggal dalam kesederhanaan, bukan karena tidak ada uang, tapi karena sedih melihat Satria stres berkelahi dengan Elara.
"Kita berdua dijadiin sapi perah oleh Bram," kata Satria pelan. "Dia mencuri uangnya, dan dia mencuri persahabatan kita."
Elara hanya bisa mengangguk, suaranya masih tertahan di tenggorokan.
Kisah Elara bukan lagi tentang kejayaan diva, melainkan tentang perjuangan bangkit dari abu pengkhianatan. Ia tidak lagi mengejar panggung megah. Bersama Satria, ia memulai proses hukum yang panjang untuk merebut kembali hak-hak mereka, meski ia tahu uang itu mungkin tidak akan pernah kembali utuh.
Setahun kemudian, di sebuah kafe kecil di sudut kota, seorang wanita dengan suara serak namun penuh jiwa mulai bernyanyi lagi. Ia tidak memakai gaun payet atau lampu sorot jutaan watt. Ia hanya memakai kaus oblong dan duduk di samping seorang pria yang memegang gitar akustik.
Mereka bernyanyi bukan untuk royalti, bukan untuk tangga lagu, tapi untuk menyembuhkan luka. Penonton di kafe itu terdiam, bukan karena kemegahannya, tapi karena kejujuran yang mengalir dari setiap nada yang pecah. Elara telah belajar bahwa suara yang paling indah bukan datang dari teknik yang sempurna, melainkan dari hati yang telah hancur namun menolak untuk mati.
Keserakahan Bram mungkin telah merampok harta mereka, tapi ia gagal merampok esensi dari musik itu sendiri. Di sela-sela nyanyiannya, Elara menatap Satria dan tersenyum—sebuah senyum yang lebih berharga dari kontrak 50 miliar mana pun. Mereka telah pulang, bukan ke puncak popularitas, melainkan ke dalam diri mereka sendiri.
---